"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran. Ternyata bukan musuhnya yang membuat anak ku mati, tapi dia sendiri!"
Sagara pulang dengan kecewa, diketahui sang istri adalah seorang paranormal dengan bayaran selangit, kekuatannya tak di ragukan lagi. Ternyata....
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara, putus asa.
"Tahu Tuan, kebetulan kekasihku di kampung merupakan tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari."
Sagara tertarik, menatap Alang penuh arti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Gendis yang mengerikan
"Dimana Mak Puah?" teriak Saga.
Hampir semua pekerja di rumah itu berkumpul di ruang tamu rumah besar, menunggu kepulangan Saga.
"Mbak!" panggil Niken, Dewi sedang duduk di lantai menyandarkan kepalanya di kursi, lemas.
"Apa yang terjadi?" tanya Saga, menghampiri Mak Puah yang terbaring di sofa, perempuan tua itu pingsan, keningnya memar, hidungnya berdarah.
"Jatuh." jawab Arimbi, tanpa melihat ke arah lain, ia menatap Mak Puah dengan kening berkerut.
Saga menoleh gadis itu, matanya menyipit kala melihat dari samping, hidung runcing Arimbi menarik perhatiannya. Tapi kemudian kembali fokus kepada Mak Puah.
"Bawa Mak Puah ke rumah sakit!" titahnya kepada Didit, salah seorang pembantu pun ikut membantu Didit.
"Siapa yang melakukannya?" Saga menatap setiap orang yang berdiri, satu persatu wajah mereka menunjukkan ekspresi ketakutan. Tapi salah satu dari mereka menyita perhatian Saga, dia tersenyum sinis. "Sepertinya, setan di rumah ini semakin bertambah." melirik Nina.
Nina beringsut, sembuh memang bisa. Tapi rasa timah panas menembus kulit masih membayang di ingatannya. Ia bergidik ngeri.
Saga melewatinya, mencari Gendis yang tak muncul dalam keramaian. Saga menggedor kamar Gendis yang terkunci rapat. Aneh, tak biasanya Gendis mengunci kamar di malam lain, kecuali selasa dan Jum'at kliwon
"Gendis!" teriak Saga, ia mendobraknya.
Tentu saja sulit, kamar yang di desain kokoh mana mungkin sekali hempas akan dapat terbuka. Saga mencari kunci serep kesana-kemari. Ia mengacak-acak semuanya tanpa terkecuali.
"Nina! Berikan kuncinya, jika tidak ingin mati!" teriak Saga, wajahnya sangar penuh marah, mengacungkan pelatuk senjata api kepada Nina.
Dengan gemetar Nina memberikan kuncinya kepada Saga.
Saga mendengus, tahu begini sudah sejak tadi ia mengancam Nina. Saga meraihnya, kemudian berlari membuka kamar Gendis.
Alangkah terkejutnya Saga, melihat Gendis sedang berguling, merintih tanpa pakaian. Tangannya mencengkeram kasur begitu kuat, ia kesakitan tapi sesekali ia menggeliat nikmat.
Saga menggelengkan kepalanya yang tiba-tiba terasa Pening, menepuk kepalanya agar tersadar, matanya pedih mengabur. Dan sekilas bayangan terpampang jelas menggantikan. Keanehan yang di lihatnya, kini semakin menakutkan karena Gendis sedang di setubuhi oleh sosok mengerikan dengan brutal. Bagian bawahnya mengeluarkan darah kental hitam bercampur merah. Saga bergidik ngeri melihatnya.
Tak hanya itu, darah yang keluar sengaja di alirkan ke dalam wadah plastik. Saga ingat, darah itu yang dipaksa gendis untuk meminumnya. Darah menstruasi yang kotor agar Saga menurut.
Saga berlari menjauh, tak tahan dengan pemandangan menjijikkan. Tak jadi melampiaskan kemarahannya terhadap Gendis.
"Kalian semua, pergilah dari rumah ini!" titah Saga, membuat semua orang saling pandang.
"Sekarang!" bentak Saga, marah dan takut menjadi satu sehingga sulit mengatakan segalanya, khawatir waktu mereka sudah tak banyak.
"Cepatlah!" Arimbi mendorong para pembantu wanita yang sudah lebih tua, mereka berjalan menuju rumah belakang.
Sementara Niken sendiri, menatap seluruh ruangan besar itu, tampak menyeramkan, kabut hitam berkeliling seperti mengunci keberadaan mereka.
"Ayo Mbak!" Niken meminta Dewi berdiri, mendorongnya menuju pintu.
"Ayo!" Arimbi membantunya.
Baru diambang pintu, tubuh mereka bertiga di dorong keras hingga jatuh terjerembab di teras.
Brak!
Pintu di tutup rapat, Niken baru sadar kalau di dalam sana masih ada Saga.
"Mas! Mas! Buka pintunya!" Niken menggedor, berteriak keras memanggil Saga.
"Niken, biarkan saja. Kita harus pergi." ucap Dewi.
"Nggak! Aku tidak bisa meninggalkan suamiku sendiri di dalam sana." Niken menggedor jendela, merayapi dinding mencari celah sambil berteriak.
"Mas!" Niken memanggil Saga, salah satu jendela sudut tak tertutup oleh gorden, membuat ia dapat melihat Saga sedang berdiri sambil siaga.
"Niken, pergilah." ucap Saga, ucapnya tak terdengar, tapi gerak bibirnya dapat di baca.
"Nggak!" Niken menggeleng.
"Niken! Ayo kita pergi, jangan biarkan pengorbanan Paman Saga jadi sia-sia!" teriak Dewi, meraih tangan Niken.
Niken berbalik, menatap Dewi kesal. "Dia suamiku Mbak." marah Niken.
Arimbi tercengang untuk kedua kalinya, menatap wajah Niken yang sangat khawatir terhadap Saga.
Niken tak peduli, ia kembali memanggil Saga meskipun sia-sia. Saga telah naik ke lantai dua, entah untuk apa.
Di dalam sana, Gendis berjalan dengan gaun merahnya yang indah. Wajah yang meringis kini telah cerah dan kembali bercahaya. Aroma kemenyan bercampur anyir menguar memenuhi rumah itu. Angin bertiup memutar di dalam ruangan luas, Saga merasa kedinginan. Aura yang ditimbulkan Gendis membuatnya sedikit menciut. Ia mengikuti kemana Gendis berjalan, ternyata menuju ruangan khusus miliknya.
Tangan Saga tak pernah lengah, peluru yang tersisa dipastikan cukup untuk melawan Gendis. Tapi, sepertinya Gendis tak berniat melakukan sesuatu kepadanya.
Gendis membawa nampan berisi dua gundukan berlumuran darah. Kemudian duduk bersila di depan mangkuk sesaji yang mengepul halus. Gerakan-gerakan aneh pun di lakukannya, dan di akhiri memakan dua gumpalan itu dengan lahap.
"Gendis!" Saga sudah tak tahan, ia mengarahkan pelatuk senjatanya kepada Gendis. Wanita itu mendongak, tampaklah matanya yang indah kini hitam semua, menyorot tajam seperti setan.
Hanya sekali lirikan, tangan Saga lunglai tak dapat bergerak. Kekuatan Gendis sedang berada di puncak. Ia melanjutkan aktifitas makannya dengan rakus, tak peduli mulutnya kini berlumuran darah, dia menjilat sekeliling bibirnya, lidahnya memutar membersihkan semua warna merah yang tersisa.
"Iblis!" gumam Saga, ia terduduk di pintu, beringsut.
Gendis terkikik, mengangkat tangannya dengan gerakan tarian aneh, melempar sesuatu ke dalam mangkuk sesaji hingga apinya menyala.
"Matilah kau Yusuf!"
Saga terkejut, ritual tak biasa yang Gendis lakukan malam ini, ternyata untuk menghabisi kiyai Yusuf.
Dor! Satu tembakan melesat di bahu Gendis, mata Saga yang mengabur membuat bidikannya meleset.
"MAS SAGA!!"
Di luar sana, Niken berteriak kencang. Apalagi kini bukan hanya satu, tapi ledakan lain juga menyusul lebih besar, asap mengepul di bagian sudut atas rumah itu. Apa yang terjadi?
"Aaargghhh!!!" suara jeritan gendis terdengar.
Di dalam sana Gendis terpental, wajahnya yang telah bersih kini kembali berdarah oleh muntahnya sendiri.
"Yusuf! Kurang ajar!" dia memekik.
Gendis menatap Saga penuh amarah, ia mendekati Saga dan mengangkat kerah bajunya. Sekali lempar, Saga terpental.
Di luar sana, Dewi sedang berusaha membuka gerbang yang tiba-tiba terkunci rapat.
"Tolong!" teriak Dewi, bahkan tak ada yang dapat mendengarnya. Orang berlalu lalang malam itu seperti tak melihat apa-apa.
Niken dan Arimbi pun kesana kemari mencari jalan keluar.
"Mbak." panggil Arimbi tiba-tiba, ia meraih tangan Niken dan menggenggam jarinya.
"Ya." jawab Niken, menoleh heran kepada gadis bernama Arimbi.
Sejenak mereka saling bertatapan, ada rasa begitu dekat, hangat menjalar ke dalam hati. Ketakutan ini, membuat mereka merasa saling memiliki.
"Kalau sesuatu terjadi_"
Brak! pintu rumah besar itu terbuka kasar, membuat keduanya menoleh ke belakang.
Gendis datang dengan darah segar masih mengalir di sudut bibirnya. Tatapannya tertuju lurus kepada Niken.
Secepat kilat ia mendorong Niken hingga jauh. Matanya hitam berkilat penuh nafsu, kukunya memanjang, bersiap mencengkeram perut Niken.
Bugh!
jangan jangan Sagara mau sama Niken karena dia wanita tulang wangi
tinggal Alang nih ....
apakah dia mau menyerahkan Niken ke Sagara 🤔
emang kalau paranormal ga bisa punya anak ??
Niken sendirian di rumah kayu itu
ditinggalkan tanpa ikatan yang jelas
hanya memegang janji manusia
bukan suami istri
tapi ......
apa yg sebenarnya terjadi hayoo
smg di di sini kya yusuf bisa menyadari nya krn 2 anak di besarkan bukan dr tngan sndri melainkan di titipkan
nahh kek mana oraan ne
setelah tau anak2 nya menemukan jalan masing2
selamat menjalankan ibadah puasa thor
niken ngidam nya hiiii aq bayangin aja udh ngerasa gigi ngilu
dulu aq ngidam buah tp semua buah harus manis
klo g manis aq ogah
🙈🙈🙈🙈
kyo lagune kae lho lho
tresno iku esek3
okeh isine lancar traksine
trsno iku esek3
kosong isi ne ora ono regone
urip butuh duit
tresno iku g keno di kresit
akan menikah secara resmi
di pesantren ,bareng Arimbi & imam
semoga lancar sampai hari kemenangan
aamiin
merencanakan kejahatan mereka
jgn2 kebakaran rumah haji Ibrahim juga perbuatan mereka
layaknya saudara angkat donk
Krn di asuh kiyai Hasan