Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang Sama — Bangun yang Perlahan
Pagi datang tanpa suara keras, seolah sengaja memberi waktu. Cahaya matahari menyelinap perlahan melalui celah tirai, jatuh lembut di lantai kamar utama. Udara masih dingin sisa hujan semalam, membawa aroma tanah basah yang menenangkan—dan sekaligus menipu.
Elisabet terbangun lebih dulu.
Matanya terbuka pelan, refleks pertama yang ia lakukan adalah menahan napas. Ia menunggu. Mendengar. Memastikan tidak ada suara asing, tidak ada langkah, tidak ada getaran halus yang hanya ia kenal dari mimpi buruknya.
Hening.
Ia menghela napas, lalu menoleh ke samping.
Armand masih terlelap. Wajahnya terlihat lebih tua dalam tidur, garis tegas di dahinya belum sepenuhnya hilang. Elisabet memperhatikan suaminya beberapa detik lebih lama dari biasanya—seperti ingin memastikan ia benar-benar ada di sana.
Ia menyentuh lengan Armand pelan.
“Mand…” bisiknya.
Armand membuka mata seketika. Terlalu cepat untuk seseorang yang baru bangun tidur.
“Kenapa?” tanyanya refleks.
“Pagi,” ujar Elisabet sambil tersenyum kecil.
Armand menatap sekeliling kamar, lalu mengendur.
“Ah… iya.”
Ia duduk, mengusap wajahnya.
“Kau tidur?”
“Cukup,” jawab Elisabet. Itu jawaban jujur yang paling aman.
Armand bangkit, membuka tirai sepenuhnya. Cahaya pagi membanjiri ruangan, menyingkirkan sisa gelap malam.
“Hari ini,” katanya sambil menatap keluar jendela, “kita buat sederhana.”
Elisabet mengangguk.
“Kita bangunkan anak-anak.” ujar nya semangat yang di setujui langsung oleh armand
Membangunkan yang Penuh Karakter
Kamar Clarissa
Clarissa tidur rapi, seperti ia selalu mengatur segalanya—even saat tidak sadar.
Elisabet mengetuk pelan.
“Kak?”
Tak ada jawaban.
Armand membuka pintu sedikit.
“Kau yakin dia tidur?” tanya nya tak percaya
Elisabet tersenyum, lalu berkata lebih keras,
“Kita mau keluar.”
Mata Clarissa langsung terbuka.
“Jam berapa ibu?” tanyanya cepat.
“Masih pagi,” jawab Armand.
Clarissa duduk, rambutnya masih rapi, tatapannya sudah fokus.
“Ke mana yah?” tanya Clarissa penasaran
“Mall,” ujar Elisabet.
Clarissa terdiam dua detik.
“…Baik.”
Armand menoleh ke Elisabet, berbisik,
“Dia ini anak kita, kan?” tanya nya kembali yang langsung mendapat pukulan halus di bahu nya.
’’Kau ini ada ada saja dia putri kita sayang, sekarang ayok kita bagun kan anak gadis mu ’’ ujar elisabet kembali.
Keduanya pun bergegas pergi
Kamar Safira
Safira tidur meringkuk, selimut menutup hampir seluruh tubuhnya.
Elisabet duduk di tepi ranjang, mengelus rambut putrinya lembut.
“Nak bangun…”
Safira bergumam tidak jelas dan menarik selimut lebih tinggi.
“Safira Grace Bastian,” ujar Armand dengan nada resmi.
Safira membuka satu mata.
“Kalau ini tentang jadwal, aku izin mati dulu.” guman nya tanpa sadar
Elisabet menahan tawa.
“Kita mau jalan-jalan.”
Safira membuka mata sepenuhnya.
“…Serius?”
“Iya.”
Safira duduk perlahan.
“Oke. Tapi aku mandi terakhir.” ujar nya bersemangat.
Kamar Adrian
Di kamar Adrian, suasana berbeda.
Kasur berantakan. Sepatu latihan di sudut. Jam alarm mati—dipukul.
Armand berdiri di ambang pintu.
“Adrian.”
Tidak ada respons.
“Taruna Adrian Bastian.”
Masih diam.
Armand menarik napas, lalu berteriak,
“Bangun! Lima menit lagi apel pagi!”
Adrian langsung melompat duduk.
“SIAP—!”
Ia terdiam saat menyadari suasana kamar dan wajah orang tuanya.
Safira yang mengintip dari balik pintu tertawa terbahak.
“Kena refleks.”
Elisabet menepuk dada.
“Maaf, Nak. Ibu refleks juga.”
Adrian mengusap wajahnya, setengah malu.
“Kalian jahat.” ujarnya
“Tapi efektif,” balas Clarissa dari lorong. Yang membuat semuanya kembali tertawa.
Awal Hari yang Dipilih
Tak lama kemudian, rumah kembali hidup.
Bunyi air kamar mandi.
Aroma kopi.
Suara langkah kaki tergesa, diselingi canda kecil.
Elisabet berdiri di dapur, menatap satu per satu anaknya yang berlalu-lalang. Clarissa dengan ponsel di tangan. Safira masih menguap. Adrian yang mencari kaus bersih sambil mengomel.
Ia menoleh ke Armand.
“Kau sadar tidak,” ucapnya pelan, “kita sedang mencuri pagi.’’ Ujar elisabet
Armand menatap mereka, lalu tersenyum tipis.
“Kalau begitu… biar terasa berharga.”
Di luar, matahari naik perlahan.
Dan pagi itu—
sebelum dunia mengingatkan mereka tentang masa lalu—
keluarga Bastian memilih untuk bangun, bersama.
Pagi yang Berlanjut — Sebelum Pintu Ditutup
Sarapan berlangsung sederhana, tapi penuh suara.
Adrian duduk paling ujung, menumpuk roti di piringnya.
“Kalau di tempat latihan, ini cuma pemanasan,” katanya santai.
Clarissa melirik.
“Kau mau ke mall atau mau lomba makan?”
“Mall itu medan tempur,” balas Adrian cepat. “Butuh energi.”
Safira tertawa kecil sambil menuang teh.
“Yang ada kamu ngabisin anggaran keluarga.”
Elisabet memperhatikan mereka sambil menata piring. Sesekali ia berhenti, hanya untuk memastikan—ini nyata. Bau kopi. Bunyi sendok. Suara tawa kecil yang tidak dibuat-buat.
Armand berdiri di dekat jendela, memeriksa halaman depan. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada kendaraan asing. Tidak ada bayangan yang terlalu lama diam.
Ia berbalik.
“Kita berangkat setelah ini. Jangan lupa jaket.” ucap nya kepada anak anak nya.
Adrian mengangkat alis.
“Cuaca cerah, Pak.”
“Kebiasaan,” jawab Armand singkat.
Clarissa menangkap nada itu. Ia tidak berkomentar, hanya mengambil tasnya dan menepuk bahu Safira.
“Ayo. Sebelum Adrian kembali disiplin.”
Perjalanan — Di Antara Candaan dan Kebiasaan Lama
Mobil kembali dipenuhi percakapan. Kali ini, Adrian memegang kendali musik.
“Tidak ada lagu sedih,” perintahnya. “Hari ini libur.”
Safira mengangguk setuju.
“Setuju. Lagu sedih bikin mikir.”
Clarissa menyandarkan kepala ke sandaran kursi.
“Kadang mikir itu perlu.”
“Tidak hari ini,” potong Elisabet lembut.sembari membelai halus rambut putri sulung nya itu
Clarissa membuka mata, menatap ibunya sesaat, lalu tersenyum kecil.
“Tidak hari ini.” ucapnya kembali tanda setuju
Armand menyetir dengan tenang, namun matanya tetap bergerak—spion kiri, kanan, depan. Bukan panik. Hanya waspada. Seperti seseorang yang tahu ketenangan bisa rapuh.
Mall — Waktu yang Dijalani, Bukan Dikejar
Begitu memasuki mall, dunia terasa berbeda. Terang. Ramai. Penuh orang-orang yang hidup dengan urusan kecil mereka masing-masing.
Safira berhenti sejenak di pintu masuk.
“Aneh ya,” gumamnya. “Di sini semua orang kelihatan… ringan.”
Elisabet menggenggam tangannya.
“Karena mereka tidak tahu apa yang kamu bawa.” ucap elisabet yang terdengar ambigu
Safira menoleh.
“Apa yang aku bawa?”
Elisabet tersenyum.
“Hati yang masih mau percaya.”
Di dalam, mereka berpencar sebentar. Clarissa memilih toko buku. Safira tertarik ke toko peralatan seni. Adrian—tentu saja—kembali ke etalase sepatu.
Armand berdiri di tengah, sedikit bingung, lalu tertawa kecil.
“Kita ini keluarga atau patroli terpisah?”
Elisabet menarik lengan suaminya itu.
“Kita ikut Safira.”
Kejadian Kecil yang Membuat Hari
Di toko seni, Safira memegang satu set cat air.
“Bagus, tapi mahal.”
Clarissa muncul dari belakang.
“Ambil saja.” perintah nya
Safira menggeleng.
“Tidak perlu.”
Adrian menyela sambil menunjuk rak lain.
“Kalau kamu beli itu, aku beli sepatu. Seimbang.” ucapnya enteng
Clarissa menatapnya tajam.
“Itu tidak seimbang.”
Armand terkekeh.
“Baiklah. Kita kompromi.”
Elisabet mengangguk.
“Kita beli dua-duanya.”
Safira terkejut.
“Bu—”
“Anggap ini suvenir pagi,” kata Elisabet cepat. “Dari hari yang baik.”
Safira memeluk ibunya spontan.
“Terima kasih.”
’’Sama sama sayang’’ ujar Elisabet
Elisabet memejamkan mata sejenak.
Ia menyimpan pelukan itu dalam-dalam.
Setelah berbelanja dan hari mukai siang mereka pun memilih untuk mengisi kembali energi yang hilang.Mereka memilih restoran sederhana. Adrian kembali mengeluh soal porsi, Safira mengejek, Clarissa pura-pura tidak kenal.
“Aku serius,” kata Adrian sambil menunjuk piring. “Ini tidak manusiawi.” ujar nya kesal dan terbawa suasana saat menjalani pelatihan
Pelayan lewat, tersenyum canggung.
Armand menepuk meja.
“Adrian.”
“Iya, Pak?”
“Makan. Jangan laporan.” ujar armand sedikit kesal dengan putra satu satunya itu.
Tawa pecah. Bahkan Clarissa ikut tertawa lepas—jarang, tapi nyata.
Safira memperhatikan semuanya, matanya berbinar.
“Kalau nanti kita pulang,” katanya pelan, “boleh kita nonton bareng?”
Elisabet dan Armand saling pandang.
“Boleh,” jawab Armand.
“Selama tidak film perang.”
Adrian mengangkat tangan.
“Protes.”
Sore yang Tidak Ingin Berakhir
Saat mereka berjalan keluar, matahari mulai condong. Bayangan memanjang di lantai mall.
Elisabet berjalan di tengah-tengah, anak-anak di sekelilingnya. Ia sadar—ia sedang menghitung waktu. Bukan dengan jam. Dengan detak jantung.
Armand mendekat, berbisik,
“Kita pulang sebentar lagi.”
Elisabet mengangguk.
“Ya.”
Namun sebelum itu, ia menoleh ke anak-anaknya.
“Kita foto.” ajaknya
Adrian terkejut.
“Hah? Foto?”
Clarissa tersenyum tipis.
“Jarang-jarang.”
Safira mengeluarkan ponsel. Mereka berdiri berdekatan. Sedikit canggung. Sedikit tidak rapi.
Klik.
Momen itu tertangkap
bukan sempurna,
tapi utuh.
Di kejauhan, seseorang berhenti berjalan.
Melihat.
Mengingat.
Karena hari ini dibiarkan berjalan normal.
Agar ketika malam datang lagi,
segala sesuatu yang normal itu
punya arti yang jauh lebih besar.
Sore Menjelang — Pulang dengan Tangan Penuh
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi, tapi bukan hening yang canggung. Sunyi yang nyaman—diisi oleh napas teratur, dengungan mesin mobil, dan sisa tawa yang masih tertinggal.
Safira menyandarkan kepala ke kaca jendela, kantong belanja di pangkuannya. Clarissa sibuk membalas pesan singkat—sekilas tampak santai, meski jari-jarinya bergerak cepat seperti biasa. Adrian di kursi belakang memejamkan mata setengah, jaketnya menutupi wajah.
“Kau tidur taruna?” tanya Armand lewat spion.
“Tidak,” jawab Adrian cepat. “Aku siaga.”
Clarissa terkekeh.
“Siaga di mall?”
“Itu latihan mental kak,” balas Adrian tanpa membuka mata.
Elisabet tersenyum kecil. Ia menatap jalanan yang mulai berubah warna—sore yang meredup, langit keemasan perlahan digantikan bayangan panjang. Ada rasa syukur yang aneh di dadanya. Seolah hari ini diberikan, bukan diminta.
Sekitar 30 menit perjalanan akhirnya mereka tiba di depan sebuh rumah mewah , satpam pun membuka pagar untuk majikanya Begitu pintu rumah terbuka, udara sore menyambut mereka. Sunyi yang familiar. Aman—setidaknya di permukaan.
Safira langsung melepas sepatu dan meregangkan tubuh.
“Rasanya capek, tapi capeknya enak.”ujar nya kembali.
“Capek karena tertawa,” jawab Elisabet sambil menaruh tas.
Adrian mengangkat kantong belanja sepatunya seperti piala.
“Misi berhasil.”
Clarissa melirik.
“Belum. Kita belum nonton.”
Armand menutup pintu dan menguncinya, lalu menoleh.
“Kalian mandi dulu. Nanti kita pilih film.”perintah nya yang langsung di lakukan oleh semuanya.
Menjelang Malam — Waktu yang Dipeluk
Ruang keluarga kembali hidup. Lampu dinyalakan setengah. Sofa diisi. Selimut dibagi tanpa diminta.
Safira duduk di lantai, menyusun cat air barunya. Clarissa mengambil posisi di ujung sofa, kaki terlipat rapi. Adrian rebah sembarangan, satu lengan di sandaran, satu di perut.
“Film apa?” tanya Adrian.
“Bukan perang,” jawab Armand cepat.
“Bukan tragedi,” tambah Elisabet.
Safira mengangkat tangan.
“Film keluarga.”ucapnya bersemangat
Clarissa mengangguk.
“Yang ringan.”
Adrian mendesah.
“Kalian kompak sekali menolak aku.” ujar nya kesal tetapi tetap mengalah dengan kedua kakak nya.
Akhirnya mereka memilih film lama—tidak terlalu lucu, tidak terlalu berat. Cukup untuk menemani.
Tawa muncul di tempat yang tidak diduga. Komentar-komentar kecil saling lempar. Untuk sesaat, waktu melunak.
Elisabet memperhatikan anak-anaknya satu per satu.
Clarissa yang akhirnya menyandarkan kepala.
Safira yang sesekali bertepuk tangan kecil.
Adrian yang tertawa terlalu keras.
Ia memejamkan mata, mengingatkan dirinya: ingat ini.
Di tengah film, Armand berdiri.
“Aku ambil minum.”
Ia berjalan ke dapur, lalu berhenti di dekat jendela. Tirai bergoyang pelan. Halaman tampak biasa—terlalu biasa.
Ia menajamkan pandangan. Tidak ada siapa-siapa. Namun dadanya terasa berat, seperti ada sesuatu yang baru saja lewat.
Armand kembali ke ruang keluarga dengan dua gelas.
“Elisabet.”
“Iya?”
“Kita tidur agak awal.”
Elisabet menangkap nada itu. Ia mengangguk tanpa bertanya.