Masih ingatkah kalian dengan pasangan fenomenal Satria dan Sarah?
Kini mereka sudah memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Arkana.
Ya, kehidupan Arkana tiba-tiba saja berubah 360° saat dia harus bertanggungjawab dan menikahi seorang gadis yang tidak di kenalnya sama sekali.
Lalu bagaimana kehidupan mereka, akankah Arkana bisa menjadi suami yang baik, atah malah sebaliknya.
Simak cerita mereka dan sebelum itu baca dulu cerita sebelumnya oke.
My Wife Is, My sugar mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batu Akik
Arkana baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan bertemu client. Saat dia melewati sebuah toko perhiasan ternama, tiba-tiba saja dia teringat Rania di rumah.
Iseng dia memasuki toko tersebut dan lansung dia sambut oleh staffnya. "Cari apa ya mas-nya?" tanya staffnya pada Arkana.
"Cari cincin deh. Yang bagus!" titah Arkana.
Staff tadi langsung memberikan cincin tersebut. Menunjukkan jejeran cicin tersebut. Tapi tidak ada satupun yang sesuai dengan seleranya.
"Kecil banget. Yang gedean dikit gak ada berliannya gitu? Kalau gue beliin ini buat binik gue, bisa habis gue di ejek mami. Kasih gue yang lebih gede, tapi gak norak!"
"Oh, mas udah nikah toh. Sebentar ya mas, kita keluarin sesuatu yang mungkin cocok untuk istri mas. Saya pikir tadi buat pacar mas." Arkana tidak menanggapinya.
Dia menunggu mereka memberikan koleksi mereka padanya, dan tatapan Arkana tertuju pada sebuah cincin yang paling mencolok disana.
"Gue ambil ini aja. Pasti mahal kan? tapi tenang aja, duit gue masih lebih buat beli ini toko!" ucapnya di sertai kesombongan di dalamnya.
Staff tadi hanya tersenyum saja. Mereka tau orang-orang seperti ini. Jadi biarkan saja mereka mengatakan kesombongannya, karna memang itu nyata.
Setalah berbelanja tadi, Arkana langsung menuju rumahnya dan di depan ada Rania tang sedang bermain dengan seekor kucing yang entah sejak kapan ada di rumah mereka.
"Cantik banget istri akuhh...cium sini." ucap Arkana melihat istrinya yang langsung tersipu malu di buatnya.
"Sini, aku bawain jasnya." ucap Rania meminta jas Arkana.
"Ah, manis banget istri gue ya ampun. Sini kiss dulu,."
Cup!
"Kak, ih. Malu di liatin orang." ujar Rania saat Arkana mengecup pipinya.
"Halah, mereka juga udah biasa ngeliat mami sama papi. Jadi santai aja, cil. Udah yuk, masuk. Kangen gue sama lu."
Blush...
Pipi Rania bersemu merah saat Arkana mengatakan rindu padanya.
"Elah, baru gue bilang rindu elu udah salting gitu. Gemesin banget sih ah. Pengen gue cipok tau gak."
Plak!
"Kakak, ih!" Rania kesal dengan suaminya yang selalu saja bicara sesuka hatinya begitu.
"Oh iya, gue ada sesuatu buat lu." Arkana merogoh saku celananya, dan memberikan sebuah kotak berwarna putih untuk Rania.
"Apa ini kak?" tanya Rania pada suaminya.
"Buka dong, kalau gue bilang gak seru. Lu buka, terus liat sendiri isinya." kata Arkana.
Rania membuka kotak pemberian Arkana dan melihat isinya. Lihat, betapa terkejutnya Rania saat melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut.
"Kak, ini apa? ini berlian kan?" tanya Rania menatap takjub pada cicin indah tersebut.
Ini pertama kalinya dia melihat bentuk cincin berlian sebesar itu. Di bandingkan nya dengan cicin pernikahan mereka yang sengaja dia pilih paling sederhana waktu itu.
"Bukan, itu batu akik pancawarna!" jawab Arkana malas.
"Kakak, aku serius. Ini berlian kan?"
"Nah, lu udah tau kenapa tanya lagi? Emangnya ada batu akik putih bening begitu?" sungut Arkana.
Istrinya ini terlalu polos sekali menurutnya. "Tapi, kak-"
"Ih, bawel banget sih lu. Sini gue pakein. Biar ku nampak istri orang kayanya cil. Lagian kenapa sih kemaren milih cincin kawin yang diamond-ya kecil banget. Malu gue di kira mami pelit sama elu." gerutu Arkana lagi.
"Kak, bukan gitu maksudnya. Aku cuma gak mah ngerepotin aja,"
"Nah, kan bagus. Cantik banget."
Cup...
Arkana mengecup jari istrinya, tempat di mana benda berkilau itu tersemat.
"Jangan di lepas! Kalau sampai lu lepas, gue marah!"
"Tapi ini gede banget loh kak. Yang kecil aja gak ada? Aku gak pede pakai yang gede gini. Apalagi ini mahal banget." ujar Rania yang merasa tidak enak dengan suaminya.
"Besok deh gue beliin yang lebih kecil dikit. Itu simpan aja. Tapi pamerin dulu ke mami. Biar mami tau, kalau anaknya ini gak pelit sama menantu kesayangannya."
"Kak, mana boleh begitu." tegur Rania, karena Arkana bersikap seperti itu pada maminya.
"Boleh kalau itu sama mami. Udahlah, ayo masuk. Lagian ini murah. Mami punya koleksi siluman ular di lemarinya. Apalagi siluman ular putih itu. Gue yakin elu merinding kalau liat koleksi ular-ular punya mami nanti." papar Arkana.
Dia sengaja memberitahu istrinya tentang koleksi sang mami yang di luar nalar itu.
"Hah? Mami piara ular kak?" tanya Rania dengan begitu polosnya.
"Iya. Tanya aja sama mami kalau gak percaya. Udah yuk masuk. Gue mau mandi, udah gerah banget ini cil. Kayak lagi nahan nafsu liat lu pakai baju begini."
"Kakak..." rengeknya dengan manja karena Arkana terus saja bicara begitu.
"Jangan merengek disini, nanti kedengeran orang. Nanti malam aja kalau mau merengek, tapi di bawah kungkungan gue ya."
Ser..
Darahnya berdesir hebat saat Arkana berbisik di telinganya. Apalagi membicarakan tentang pertempuran panas mereka. Entahlah, Rania benar-benar harus menguji mentalnya berhadapan dengan Arkana.
***
next my