Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 24
"Bu, tunggulah aku akan membalaskan semua rasa sakit yang diberikan pria itu kepadamu selama ini. Aku tahu selama ini ibu juga selalu menutupinya dariku. Tapi setelah ini aku tidak akan memberi akun kepadanya. Restuilah setiap langkahku untuk membalaskan dendam kepadanya. Aku juga akan membawa Arkha setelah ini dari neraka pria itu," ucapan Aruna menatap foto mereka bertiga.
Dulu mereka pernah bahagia hidup bersama-sama. Dulu mereka pernah tertawa bersama, walau pria itu tidak pernah memberikan senyum Dan takwa untuknya. Tapi setidaknya mereka pernah melewati hari-hari bahagia. Sebelum pada akhirnya wujud asli pria itu terlihat dan neraka boleh mereka rasakan.
Aruna sudah berjuang sangat keras untuk kebebasannya selama ini. Dari tujuh tahun akhirnya dia bisa terbebas hanya empat setengah tahun. Semua berkat usahanya, bahkan rela bertaruh nyawa agar bisa mengurangi masa penjaranya. Entah berapa puluh, ratus dan ribuan kali seluruh badannya terlu-ka. Bukan hanya didapat dari lu-ka saat bertarung, tapi juga lu-ka yang dibuat oleh ayahnya sendiri. Itu adalah lu-ka yang paling menyakitkan dan tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
"Besok hari terakhirku bertemu dengan pria itu. Aku pastikan akan membalas semua perbuatannya lebih ke-/ji dari yang dia lakukan kepada kita, Bu! Tak peduli Jika dia adalah Ayah kandungku sendiri, karena dia juga tidak peduli kalau aku anak kandungnya!" ucap Aruna kembali mengepalkan tangannya dengan keras.
Tak lama ponselnya berbunyi, Arkha mengirim pesan padanya. Aruna selama ini selalu bertukar pesan dengan kakaknya tanpa diketahui oleh Bima. dia menulis nama kakaknya dengan sebutan nama temannya. Sehingga Bima tidak mencurigainya. Senyum Aruna terbit saat melihat pesona dari adiknya. Sekarang hanya dia yang menjadi alasan dia menjadi kuat. Dia tak sabar untuk membawa Arkha dari cengkraman pria itu.
"Sabarlah dek, udah tunggu Kakak datang untuk menjemputmu!" ucap Aruna pelan menatap layar ponsel membaca kembali pesan yang dikirimkan oleh adiknya.
Arkha tidak bisa terus mengirimkan pesan kepada kakaknya, agar membuat orang Bima tidak mencurigainya. Pagi menjelang, Aruna datang ke sekolah adiknya dengan cara menyelinap dan menyamar. Selama ini, begitulah cara Aruna bertemu dengan adiknya. selama ini tidak pernah ketahuan oleh Bima dan anak buahnya yang selalu ditempatkan di sekitar sekolah karena khawatir karena akan menemui dan membawa Arkha. Sehingga dia melakukan penjajahan ketat kepada Arkha.
Arkha melihat pergerakan Aruna dan dia keluar dari dalam kelas menemui kakaknya dengan binar bahagia. Dia tak pernah kehilangan kasih sayang kakaknya, Aruna tak pernah membenci adiknya karena lebih disayang oleh Bima. Karena Arkha tak salah, dan semua itu terjadi karena keegoisan dari Bima saja. Hati mereka masih tetap sama seperti dulu. Apalagi ibunya selalu memberikan kasih sayang luar biasa kepada mereka. Dan mengajarkan untuk terus saling menyayangi dan menjaga satu sama lain. Walau kebanyakan selama ini Aruna yang selalu menjaga Arkha.
"Dek," panggil Aruna membuat Arkha berhambur memeluk erat sang kakak.
"Aku kangen sekali Kak, apa pria itu meminta Kakak untuk bertarung lagi, dan mengurangi masa tahanan Kakak dari dia?" tanya Arkha mengusap lu-ka di wajah kakaknya.
Aruna mengangguk, adiknya sudah tahu semuanya, dia juga sudah besar dan mengerti. Hanya saja sampai sekarang Arkha tidak diperbolehkan untuk melakukan atau mengerjakan kegiatan yang berbahaya seperti Aruna. Dia hanya diperbolehkan untuk belajar dasar-dasar bela diri saja tak lebih dari itu. Tujuan Bima adalah agar bisa mengendalikan Arkha sepenuhnya.
"Kakak sudah bebas, Dek. Hari ini kakak akan bertemu dengan pria itu dan hari ini juga Kakak akan pergi. Apa kamu akan pergi bersama kakak hari ini?" tanya Aruna.
"Kalau aku ikut dengan kakak sekarang. Maka akan sangat berbahaya untuk kakak, kita lakukan saja rencana sebelumnya, Kak. Aku percaya kalau Kakak akan kembali dan membawaku bersama Kakak nanti," jawab Arkha.
Dia tak mau membuat keadaan kakanya semakin sulit apalagi sekarang dia belum memiliki kekuatan apapun. Aruna mengangguk paham.
"Jaga dirimu baik-baik dek, berbaliklah dek. mungkin akan sedikit menyakitkan. Tapi Kakak harus melakukan hal ini agar terus bisa memantau dan juga mengetahui keadaan kamu dek," ucap Aruna.
"Baik Kak!" jawab Arkha.
Aruna memasukkan chip secara manual ke dalam punggung Arkha yang berguna untuk melacak keberadaan adiknya itu. Kemudian dia juga mengambil ponsel milik adiknya. Dan juga memasukkan aplikasi pelacak di sana. aplikasi yang disamarkan sehingga tidak akan membuat Bima curiga. Selain itu dia juga menyimpan alat perekam yang kecil di sana.
"Kalau kamu bisa dan sempat simpan benda-benda sini di tempat yang tak kan terlihat oleh siapapun. Katakan kepada Bibi agar dia tak membuangnya. Dia akan mengerti karena dia berada di pihak kita. Ingat ini adalah kamera kecil, bisa kamu simpan di vas bunga. Dan ini adalah alat perekam bisa kamu simpan di bawah meja atau bawah kursi. Pokonya di tempat yang tak terduga. Kakak tak bisa lama-lama karena pria itu akan datang ke markas!" Aruna menjelaskan sedetailnya kepada Arkha, setelahnya dia memeluk ke arah adiknya kemudian mencium kepalanya dan pergi dari sana.
Tak banyak kata yang diucapkan oleh mereka berdua, tapi cukup dengan kontak mata mereka saling paham dan mengerti. Arkha kembali ke kelasnya seperti biasa. Mengabaikan rasa sakit di punggungnya. Menyimpan dengan tenang semua yang si berikan oleh kakaknya. Sedangkan Aruna segera pergi dari sana menuju ke markas. Karena Bima akan datang ke sana untuk melihat Dave yang berhasil mereka tangkap. Aruna tiba lebih dahulu sebelum rombongan Bima dayang ke markas.
"Astaga, kamu dari mana Runa? Hampir saja kamu telat tiba di sini!" Ramon terlihat khawatir saat Aruna baru saja memarkirkan motornya.
"Aku berpamitan kepada Arkha Bang! Yang penting aku datang tepat waktu. Rombongan pria itu masih berada jauh. Jadi aku bisa santai lebih dahulu," jawab Aruna sambil terkekeh.
"Dasar bocah sableng! Aku udah sangat khawatir tau!" kesal Ramon tapi Aruna malah terkekeh dan melemparkan minuman kaleng kepada Ramon.
"Minum dulu Om, biar adem dan nggak tegang seperti itu," jawab Aruna santai duduk di sebelah Edwin yang sedang sibuk dengan laptopnya.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/