Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Senyum Yang Mengganggu
Bab 5
Senyum Yang Mengganggu
Wajah bahagia Ibra terlihat jelas bersama kedua orang tuanya. Hari itu ia dibawa ke tempat pusat bermain juga berbelanja barang-barang yang dia inginkan. Senyum bocah berusia 7 tahun itu tak hentinya mengembang. Sudah lama ia menanti jalan-jalan seperti ini dan baru bisa terwujud hari ini.
"Kita makan di situ saja. Ibra mau?"
"Iya Pa. Ibra mau."
Mereka lalu memasuki sebuah tempat makan di dalam Mall. Ibra duduk di sebelahnya ibunya, sedangkan Dika duduk sendiri berhadapan dengan anak istrinya.
"Mas mau pesan apa?" Tanya Novia dengan lembut.
"Samain aja sama punya mu. Ibra, kamu mau makan apa? Ikut Mama saja pesan disana."
"Pesan banyak boleh nggak Pa?"
"Boleh. Asal dimakan."
"Nanti nggak habis loh Mas." Sela Novia mengingatkan.
"Nanti biar di bungkus kalau nggak habis. Pakai uangmu dulu, Nanti Mas transfer."
"Ya sudah. Ayo Ibra, kita pesan makanan dulu di kasir."
Ibra mengikuti langkah ibunya menuju kasir tempat memesan makanan dan langsung bayar. Sedangkan Dika mengeluarkan handphonenya untuk memberi kabar kepada Lyra.
Tadi malam Dika lupa mengabari Lyra dan pasti membuat kekasihnya itu cemas. Apalagi pesan yang baru di baca pagi tadi pun belum sempat ia balas karena sudah ia hapus tak ingin mengambil resiko.
Dika berbalas pesan sambil tersenyum bahkan sesekali terkekeh. Lyra begitu membuatnya candu walau hanya sekedar berbalas pesan dengannya. Dika sudah merasakan rindu yang menggebu kepada kekasihnya itu. Padahal baru dua hari saja mereka tidak bertemu.
Tanpa sadar Dika di perhatikan Novia dari kejauhan. Ada sedikit kegelisahan yang ia rasakan di hatinya tapi ia sendiri pun tidak tahu entah kenapa. Novia merasa tidak suka melihat Dika tersenyum menatap layar handphonenya. Apalagi ia tahu, handphone itu hanya Dika sendiri yang tahu passwordnya.
"Balas pesan siapa sih Mas, sampai tersenyum begitu?" Sindir Novia yang sangat ingin tahu dan sudah tidak tahan melihat senyum bahagia suaminya yang hanya lelaki itu saja yang tahu perihalnya.
Dika buru-buru mematikan layar handphonenya dan memasukannya ke dalam saku celananya.
"Oh, sudah selesai memesan sayang?" Dika mengalihkan topik pembicaraan.
"Mas wa an sama siapa?" Tanya Novia, tidak sabar.
"Bercanda dengan Pak Joko. Bilang rindu ke Mas, Mas kan jadi geli. Laki-laki kok rindu laki-laki. Hehehe... Pak Joko kalau bercanda suka aneh-aneh." Jawab Dika, lancar.
Novia tahu siapa Pak Joko dari cerita-cerita Dika setiap suaminya itu pulang ke rumah. Pak Joko adalah teman Dika di tempat kerja. Punya istri dua, dan dua-duanya tinggal satu rumah. Pak Joko sering bercerita dengan suaminya, terkait masalah rumah tangganya. Karena itu, mendengar nama Pak Joko disebut, seketika amarah di hati Novia sedikit mereda.
"Oh ya Mas, kenapa kunci pola di hape Mas ganti lagi sih?"
Dika sedikit terkejut namun dengan cepat berusaha menutupinya.
"Kenapa nggak bilang kamu mencoba buka hape Mas?"
"Bukan gitu. Tadi malam handphone ku low dan di cas. Terus pengen pinjam hape Mas buat browsing sebentar. Eh malah polanya udah di ganti." Sungut Novia, beralasan.
"Mas harus sering ganti pola. Kadang hape Mas di pinjam sama temen. Terus sering main ambil tanpa bilang-bilang. Jadi polanya Mas ganti terus." Kilah Dika.
"Mereka nggak punya hape sendiri apa? Kok pinjam punya Mas terus?"
"Ya, mana Mas tahu. Mungkin hape Mas lebih enak di gunakan kali."
"Mana sini hapenya Mas, aku mau pinjam."
"Buat apa sayang, hape mu kan ada."
"Buat temen Mas pinjamin, buat aku kok nggak?" Tanya Novia yang mulai menatap tajam Dika.
Dika mati kutu. Lalu perlahan dengan ragu ia memberikan handphonenya kepada Novia.
Novia menyambar dengan cepat.
"Apa polanya Mas?"
"Sini, Mas aja yang bukain." Ujar Dika.
"Apa Mas?" Tanya Novia lagi tidak mengindahkan saran Dika.
Dika membuang napas. Lalu menunjukkan polanya di depan Novia, bahkan Ibra yang sejak tadi terdiam pun melihat.
Dengan cepat Novia segera melihat pesan-pesan yang masuk. Pesan terbaru memang dari Pak Joko dan isinya membuat Novia mengerutkan dahi.
Pak Joko : Mas Dika, aku rindu...
Dika : Wah hahahaha...
Hanya dua baris yang ada di percakapan itu. Memang persis sama dengan apa yang di katakan Dika.
Tapi apakah hanya ini saja? Batin Novia bertanya-tanya.
Pasalnya ia memperhatikan dika berbalas pesan lebih dari 5 menit lamanya sambil tersenyum senang.
Lalu Novia mencari pesan yang di terima tengah malam tadi. Semua pesan ia baca satu persatu dan melihat percakapan terakhir untuk menyamakan tanggal dan jam berapa pesan itu di kirim. Tetapi nihil. Tidak ada pesan yang masuk di tengah malam, baik itu grup maupun obrolan pribadi. Hati Novia kembali gelisah.
"Apa sih yang kamu cari sayang? Nggak ada yang aneh-aneh kan di hape Mas? Yang aneh cuma pesan Pak Joko saja." Kata Dika yang sejak tadi juga gelisah dalam hatinya.
"Tapi Mas, kenapa Pak Joko nggak memasang foto profilnya?"
"Oh itu... itu nomornya yang lain sayang. Nomornya ada dua yang satu sering di pake istrinya. Jadi katanya pengen punya privasi dari istri. Makanya punya nomor satu lagi." Ucap Dika lancar.
"Pesanannya Bu, Pak..."
Dika membuang napas lega, pesanan mereka tiba di saat yang tepat.
"Nih."
Novia memberikan hape Dika kembali kepada empunya. Dika menerimanya dengan santai dan kembali tersenyum seperti sebelumnya.
Lalu mereka pun menikmati makanan mereka dengan keceriaan Ibra yang mencairkan suasana. Dan tiba di rumah, Dika mentransfer dengan lebih uang istrinya yang ia pinjam untuk membayar makanan tadi.
"Tumben banyak lebihnya Mas?" Tanya Novia tapi wajahnya tersenyum.
"Selebihnya ucapan terima kasih, buat servis malam nanti." Ucap Dika menggoda Novia.
"Mas ah, bisa aja."
Dika tertawa senang akhirnya keadaan kembali aman sentosa. Malam itu pun tempat tidur bergoyang dengan hebatnya dan tidak ada pesan lagi yang merusak suasana.
-
-
-
"Jum'at depan Mas pasti pulang kan?" Tanya Novia yang akan melepas kembali suaminya yang akan berangkat dinas keluar kota seperti sebelum-sebelumnya.
"Iya sayang." Jawab Dika, lalu mencium kening istrinya.
"Ya sudah, hati-hati ya Mas. Kabari aku kalau sudah sampai."
"Ya sayang. Mas berangkat dulu ya. Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Novia memandangi Dika yang masuk ke dalam mobil. Lalu mengundurkan kendaraannya. Dan berbelok ke arah jalur keluar komplek.
Dika mengklakson Novia yang memberikan lambaian perpisahan sementara padanya. Lalu Dika mulai melajukan kendaraannya menuju tempat dinas yang berada jauh dari pinggiran kota.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam sayang, Mas kangen. Temani Mas nyetir ya biar nggak ngantuk di jalan."
"Iya Mas. Hehehe..."
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra