Ye Fan adalah seorang psikopat yang menjadikan orang-orang jahat sebagai target eksekusinya. Ia menikmati perburuan tersebut tanpa rasa bersalah.
Sebelum kematiannya, Ye Fan menghabiskan waktu dengan sebuah game kultivasi yang menurutnya sangat menarik, karena di dalamnya ia bisa memburu dan membunuh para penjahat tanpa batas.
Namun, hidupnya berakhir ketika ia tewas ditembak polisi. Saat membuka mata kembali, Ye Fan mendapati dirinya telah bereinkarnasi ke dalam dunia kultivasi—dunia yang persis seperti game yang pernah ia mainkan, tempat hasrat lamanya kini dapat terwujud sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Penghakiman Sang Malaikat Maut (Bagian 1)
Pagi hari di Sekte Pedang Patah seharusnya menjadi hari kompetisi yang megah. Panggung-panggung kayu besar telah didirikan, dan para tetua duduk dengan angkuh di kursi-kursi tinggi mereka. Namun, Ye Fan berdiri di pojok lapangan, bukan untuk mendaftar, melainkan untuk mengakhiri semuanya.
Sebuah notifikasi merah menyala muncul di depan matanya, memberikan pilihan yang jauh lebih menggoda daripada sekadar gelar "Murid Dalam".
[DING!]
[Pencapaian Terdeteksi: Akumulasi Esensi Kebencian Mencapai Ambang Batas]
[Hadiah Spesial: Kartu Manifestasi Jiwa Sejati (Durasi: 5 Menit)]
[Efek: Host akan melompati ranah Arus Qi, Inti Qi, Penyatuan Roh, dan Manifestasi Roh langsung menuju ranah Jiwa Sejati Level 1]
“Jiwa Sejati...” Ye Fan menyeringai. Di dunia ini, ranah tersebut adalah legenda yang hanya dicapai oleh para leluhur kuno. Dengan kekuatan itu, ia tidak perlu lagi bersembunyi.
“Batalkan pendaftaran murid dalam,” perintah Ye Fan pada sistem. “Hari ini, aku tidak akan menjadi murid mereka. Aku akan menjadi algojo mereka.”
Ye Fan mulai berjalan menuju tengah lapangan latihan. Setiap langkahnya membuat tanah retak. Rambutnya yang panjang dan kotor perlahan memutih, dan aura hitam pekat mulai keluar dari pori-pori kulitnya, membentuk bayangan naga raksasa yang melilit tubuhnya.
"Hei! Si bisu! Apa yang kau lakukan di tengah arena?! Pergi dari sana!" teriak seorang instruktur dengan marah.
Ye Fan berhenti. Ia mengangkat kepalanya, menatap deretan tetua dan murid-murid sombong itu dengan tatapan predator yang telah dilepaskan dari rantainya.
“Gunakan Kartu Jiwa Sejati,” desisnya.
[DING! Kartu Jiwa Sejati Diaktifkan!]
[Menghitung Mundur: 05:00... 04:59...]
BOOOOOM!!!
Ledakan energi yang begitu dahsyat menghantam seluruh area sekte. Langit yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi gelap gulita, disambar petir berwarna merah darah. Tekanan gravitasi meningkat ribuan kali lipat, membuat para murid luar dan dalam langsung jatuh tersungkur, memuntahkan darah karena paru-paru mereka remuk oleh tekanan udara.
"A-apa ini?! Kekuatan ini... Jiwa Sejati?!" Tetua Agung sekte berdiri dengan wajah pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat. "Siapa kau?! Siapa kau sebenarnya?!"
Ye Fan melayang perlahan ke udara. Jubah budaknya yang compang-camping hancur, digantikan oleh jubah esensi hitam yang berkobar. Suaranya kini menggema seperti guntur yang datang dari dimensi lain.
"Aku adalah akhir dari kemunafikan kalian." suara Ye Fan menggetarkan jiwa setiap orang yang mendengarnya.
Ia menggerakkan tangannya. Menggunakan fitur sistem, ia melakukan Penyaringan Moral. Setiap orang di sekte itu ditandai oleh sistem: Merah untuk mereka yang memiliki jiwa busuk dan penuh dosa, dan Putih untuk mereka yang hatinya masih bersih—seperti Xiao Mei dan beberapa pelayan lainnya.
Hampir 80% orang di lapangan itu bercahaya Merah.
"Hari ini, aku akan membersihkan tempat ini," Ye Fan mengepalkan tangannya. "Hanya yang murni yang boleh melihat matahari besok."
Dengan satu lambaian tangan, ribuan bilah pedang hitam muncul dari langit-langit dimensi sistem, mengincar setiap orang yang bertanda merah.
"TIDAAAK! TOLONG!"
"AMPUN!"
Jeritan memilukan pecah seketika. Pembantaian massal yang belum pernah terjadi dalam sejarah dunia kultivasi dimulai. Ye Fan tidak lagi membunuh satu per satu secara sembunyi-sembunyi; ia memanen nyawa mereka seperti memotong rumput liar di kebun yang terbengkalai.
Di tengah hujan darah itu, Ye Fan melihat Xiao Mei yang berdiri mematung di kejauhan dengan tanda Putih di atas kepalanya. Ia menjentikkan jarinya, menciptakan kubah pelindung transparan di sekitar gadis itu agar tidak setetes darah pun mengotori pakaiannya.
“Tiga menit tersisa,” batin Ye Fan dingin. “Masih banyak sampah yang harus dibuang.”