Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.
Tidak ada yang berani menentangnya.
Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.
Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:
kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.
Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.
Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sesuai kesepakatan, Lucane tiba di Klub “Velvet Noir” malam itu dipenuhi cahaya temaram, dentuman jazz lembut mengalun dari panggung kaca di tengah ruangan. Aroma cerutu premium dan bourbon mahal bercampur dalam udara, menyelimuti setiap meja bundar berlapis marmer hitam.
Lucane melangkah masuk mengenakan jas hitam dengan kemeja putih yang dikancing setengah, tanpa dasi. Aura dinginnya langsung menarik pandangan beberapa wanita di ruangan itu tapi pria itu hanya melirik sekilas, lalu berjalan menuju ruangan VIP di lantai dua.
Di dalam ruangan itu sudah ada tiga orang menunggunya.
“Lihat siapa yang akhirnya datang juga,” ujar Damien Holt, seorang dokter bedah saraf paling terkenal di New York, dengan senyum menggoda sambil menepuk bahu Lucane.
Damien tampak santai dengan jas putih bergaya kasual di atas kemeja biru muda, jam tangan Richard Mille melingkar di pergelangan tangannya.
“Macet, dan kalian tahu aku tidak suka disuruh nunggu,” jawab Lucane datar, meletakkan jasnya dan duduk di sofa kulit hitam.
“Seperti biasa, dingin dan sombong,” sahut Ethan Cross, seorang investor teknologi yang memiliki startup AI terbesar di Silicon Valley. Di tangannya, segelas whiskey berputar pelan. “Tapi tetap saja kita butuh otak dingin di dunia yang penuh panas seperti sekarang.”
Sementara itu, Marcus LeBlanc, pengacara korporat internasional yang juga keturunan bangsawan Prancis, hanya tersenyum sambil mengetik cepat di ponselnya. “Aku baru saja menutup kasus merger senilai 2 miliar dolar. Dunia bisnis makin gila saja.”
Lucane tersenyum tipis. “Dan kalian kira dunia finansial lebih tenang? Aku baru menendang keluar tiga dewan direksi yang mencoba main di belakangku.”
Damien tertawa pendek. “Aku kira cuma pasienku yang berdarah, ternyata direksi mu juga.”
Mereka semua tertawa, gelas-gelas whiskey saling beradu.
Nada percakapan berubah ketika pelayan wanita datang membawa botol wine langka dan menaruhnya di meja.
Ethan menatap Lucane. “Jadi, gimana soal proyek real estate di Miami yang kau pegang? Katanya kau butuh partner investor?”
Lucane menatapnya dengan mata tajam, lalu mencondongkan tubuh ke depan.
“Bukan butuh, Eth. Aku cuma pengen pastikan orang yang ikut main bukan pengecut. Sekali masuk lingkaranku, tidak ada jalan keluar.”
Marcus mengangkat alis. “Kedengarannya lebih seperti peringatan daripada ajakan bisnis.”
Lucane hanya menyeringai tipis, meneguk minumannya. “Kau mengenalku cukup lama untuk tahu, aku tidak main-main.”
Mereka semua terdiam beberapa detik hening, tapi tidak canggung.
Hanya ada bunyi lembut denting gelas dan alunan saxophone dari bawah.
Damien menepuk bahu Lucane. “Kau masih sama seperti dulu, bung. Selalu pegang kendali, bahkan saat dunia berusaha menjatuhkanmu.”
Lucane menjawab pelan, “Kalau aku berhenti pegang kendali… dunia ini akan menelanku.”
Suasana menjadi tenang. Dari luar kaca, terlihat langit malam Manhattan berpendar oleh lampu kota.
Keempat pria itu miliarder di bidangnya masing-masing terlihat seperti raja-raja modern yang sedang membagi dunia di antara mereka.
Ethan lalu tersenyum nakal. “Baiklah, cukup tentang bisnis. Ada pesta di lantai bawah, model Victoria’s Secret baru datang dari Paris.”
Marcus tertawa. “Kau tidak pernah berubah, Ethan.”
Lucane berdiri, menegakkan tubuhnya dengan wibawa yang dingin.
“Pergilah. Aku datang bukan untuk pesta. Aku datang untuk memastikan kita semua masih di sisi yang sama.”
Ia mengambil jasnya, melangkah keluar meninggalkan mereka.
Sementara Damien menatap punggung Lucane dan bergumam pelan,
“Pria itu... bahkan dalam ruangan penuh cahaya, tetap membawa bayangan.”
* * * *
Di sebuah markas bawah tanah yang tersembunyi di pinggiran Chicago, lampu-lampu neon biru berpendar dingin di sepanjang lorong sempit. Suasana malam itu berat bukan karena misi gagal, tapi karena satu nama yang baru saja menghilang dari daftar anggota.
Spectre.
Nama yang bahkan musuh pun takut ucapkan.
Para anggota berkumpul di ruang briefing. Wajah-wajah mereka tegang, beberapa menunduk, beberapa saling berbisik semua tidak percaya.
Kapten mereka, Reiner, berdiri di depan layar hologram. Tatapannya tajam, tapi ada gurat kecewa yang sulit disembunyikan.
“Bagaimana lagi kita harus menghargai keputusan Spectre?”
Suara Kapten Reiner memotong keheningan. Dalam nada itu, ada rasa hormat… dan kehilangan.
“Dia sudah memberikan sepuluh tahun hidupnya untuk organisasi ini.
Lima ratus misi. Nol kegagalan. Satu legenda.”
Para anggota hanya diam. Mereka tahu itu benar.
Lalu salah satu rekan Spectre, Mira, maju selangkah. Suaranya pecah menahan emosi
“Tapi Kapten… dia yang paling terbaik di antara kami semua.
Tanpa dia, siapa yang akan menangani misi kelas A dan S?
Tidak ada yang bisa menggantikan Spectre.”
Beberapa anggota mengangguk setuju.
Spectre bukan hanya nama itu standar yang tidak bisa mereka capai.
Kapten Reiner menghela napas panjang, menutup file hologram dengan satu ketukan.
Ia memandang anak-anak didiknya satu per satu, dengan berat hati namun tegas.
“Spectre membuat keputusan sendiri.
Dan keputusan itu harus kita hormati.”
“Dia bukan milik organisasi ini. Dia manusia.”
“Dan manusia… berhak memilih hidupnya sendiri.”
Kata-kata itu membuat ruangan semakin hening.
“Mulai sekarang, kalian harus menggantikan posisi Spectre.”
Kapten melanjutkan suaranya kini dingin dan penuh tekad
“Mulai sekarang, tidak ada lagi ketergantungan pada satu orang.”
“Kalian semua, kita semua harus bekerja lebih keras.”
“Kita harus membuktikan bahwa organisasi ini tidak runtuh hanya karena satu legenda pergi.”
Mira mengepalkan tangan.
Leon, rekan senior lainnya, mengangguk dalam.
Namun jauh di sudut ruangan, seseorang berbisik:
“Dia akan kembali. Dunia luar tidak pernah benar-benar membiarkan seorang pembunuh elit hidup tenang.”
Dan kata-kata itu menjadi bayangan yang menempel di dinding markas.
Saat ruangan mulai bubar, Kapten Reiner menatap foto kecil di meja foto Jema muda, penuh luka tetapi dengan mata penuh harapan.
“Jema… kalau kau butuh kembali, markas ini selalu terbuka.”
“Aku hanya berharap dunia baru yang kau pilih tidak menghancurkanmu.”
Karena ia tahu satu hal yang tidak dikatakan pada siapapun
Spectre adalah satu-satunya yang organisasi tidak ingin musnah.
Dan satu-satunya yang benar-benar tidak boleh menjadi musuh.
* * * *
Lucane duduk di ujung tempat tidurnya, napasnya masih sedikit tersengal. Keringat dingin menetes di pelipisnya, membuat rambutnya yang berantakan menempel di dahi.
“Lagi-lagi mimpi itu…” gumamnya pelan dengan nada kesal, kedua tangannya menutupi wajah sejenak seolah ingin menghapus bayangan dari mimpi yang terus menghantui.
Ia bangkit perlahan dan melangkah menuju balkon kamarnya. Udara malam menyapa kulitnya, dingin tapi menenangkan. Dari kejauhan pemandangan kota terlihat hidup lampu-lampu jalan berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Namun bagi Lucane, semua itu terasa hampa.
Ia bersandar pada pagar balkon, menatap jauh ke arah langit yang separuh tertutup awan. Sekilas, bayangan dari mimpinya kembali melintas suara langkah kaki di lorong gelap, aroma besi darah, dan tatapan sepasang mata yang penuh amarah.
Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia memejamkan mata, mencoba menepis semuanya. Tapi potongan-potongan mimpi itu terus muncul, seperti film rusak yang berulang tanpa henti.
Lucane menarik napas panjang, lalu menghembuskannya berat. “Sampai kapan mimpi ini akan terus datang?” bisiknya pelan.
Malam kian larut, dan di balik cahaya lampu kota, tatapan Lucane tetap kosong seolah ia tahu, mimpi itu bukan sekadar bunga tidur, melainkan bagian dari masa lalu yang belum benar-benar mati.
* * * *