Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.
Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Mereka meningkatkan kewaspadaan hanya karena arahan Miguel. Pasukan Alexander memiliki kepercayaan yang sangat tinggi pada Miguel. Ini menarik." Pemimpin pasukan menoleh pada anggota yang sudah berdatangan. Ia melirik informasi di layar, berkata, "Kita sudah melakukan pemindaian hingga berkali-kali, tetapi hasil yang kita dapatkan tidak berubah. Kita akan menunggu perintah dari markas pusat."
Xander terbangun saat bermimpi buruk. Ia memijat kepala, menyeka keringat di dahi. Pria itu menoleh pada Lizzy, bangun dari ranjang.
"Aku merasakan firasat buruk." Xander berjalan menuju jendela, mengamati keadaan halaman dan danau. Ia melihat para pengawal mengecek danau.
"Miguel," gumam Xander saat melihat pria itu di sisi danau, memberi perintah hanya dengan gerakan tangan.
Xander berniat menghubungi Govin, tetapi ia urung setelah melihat jam di dinding. "Aku yakin Govin sudah melakukan hal yang seharusnya dilakukan."
Xander terdiam saat melihat awan bergerak pelan di langit. Ia merasakan dadanya sesak, mengelus kristal merah di balik bajunya. "Meski aku belum sepenuhnya percaya pada sihir, tetapi aku tetap memakai kristal ini untuk menghormati Xylorr."
Xander menutup jendela. "Keadaannya sempat memburuk dan untungnya kondisinya mulai membaik sekarang. Dia terus mengatakan soal cucunya yang hilang."
Sementara itu, Draco tengah mengamati informasi di layar. "Tidak ada hal aneh dan mencurigakan pada Xander, keluarganya, dan para pengawalnya. Dia memang bekerja sama dengan Osvaldo Tolliver dalam rangka pengembangan alat canggih untuk memenuhi target dari UltraTech."
Draco mengepalkan tangan erat-erat. "Akan tetapi, aku merasakan firasat jika dia memang berhubungan dengan orang-orang aneh itu."
Draco sontak terdiam, memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut. Beberapa bayangan bergerak sangat cepat dalam pikirannya.
Draco perlahn membuka mata setelah keadaannya kembali seperti semula. "Aku tampaknya harus turun tangan untuk mengungkap hal ini. Xander, kau adalah orang baik, tetapi sayangnya kita berada di jalan yang berbeda. Meski begitu, aku akan memberikan kesempatan terakhir untukmu. Jika kau menolak, aku terpaksa menghabisimu dan keluargamu."
Draco menekan tombol, mengamati sosok Osvaldo Tolliver di dalam tabung.
Di waktu yang sama, Luc dan Graham akhirnya bertemu setelah sekian lama terpisah. Mereka saling bertukar informasi, bergerak menuju sebuah tempat.
Matahari tampak bersinar terang di langit yang biru. Angin berembus kencang beberapa kali. Di saat para penjaga tengah sibuk berjaga dan memeriksa keadaan, Xander sedang menemani Alexis bermain di taman. Anak kecil itu tampak ceria setelah sebelumnya mengalami demam tinggi. Lizzy sendiri tengah memeriksakan kandungannya bersama Lydia dan para pelayan wanita.
Xander melirik para pengawal yang berada di sampingnya. "Aku sudah mendengar dari Miguel soal firasatnya semalam. Aku juga sudah memerintahkan Govin untuk meningkatkan keamanan hingga ke level maksimal. Meski begitu, aku masih merasakan firasat yang buruk."
Xander mengepalkan tangan erat-erat. "Aku harus tenang."
"Ayah!" Alexis berteriak sambil berlari menghindari kejaran Larson. "Paman Larson sangat lambat. Dia tidak bisa mengejarku."
"Apa yang kau katakan, bocah nakal?" Larson berlari lebih cepat. Dalam satu tarikan, ia menyekap Alexis.
"Aku sengaja membuat diriku tertangkap, Paman." Alexis tertawa.
Xander membalas lambaian tangan, tersenyum. Ia menoleh saat melihat Lizzy datang dengan Lydia dan para pengawal wanita. "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku dan calon anak kita baik-baik saja." Lizzy mengelus perutnya. "Aku tidak sabar melihatnya secara langsung."
"Aku senang mendengarnya." Xander menggandeng tangan Lizzy. "Aku akan menemanimu berjalan-jalan."
Alexis berlari menuju Xander dan Lizzy, sedangkan Larson akhirnya bisa bersantai.
"Dasar anak nakal! Kau pasti mengadu pada orang tuamu," ujar Larson.
Larson mengamati para pengawal, menatap Larvin yang duduk di kursi taman. Ia sudah merasakan hal tak biasa dari para pengawal yang berjaga sejak pagi. "Keamanan meningkat dibandingkan kemarin. Aku yakin sudah terjadi sesuatu. Aku harus waspada."
Larson melirik Govin dan Miguel, beralih pada Xander, Lizzy, dan Alexis. "Ya aku memang harus waspada. Keadaan ini seperti keadaan sebelum badai datang."
Larson menoleh pada anggota suku pedalaman yang baru muncul dari arah hutan. "Apa yang ingin mereka lakukan? Aku dengar pemimpin mereka sakit keras kemarin? Apa mungkin dia mati?"
Xander berbincang dengan anggota suku pedalaman di dekat danau. Mereka mengabarkan soal kondisi Xylorr yang sudah membaik. Selain itu, mereka menyampaikan pesan jika Xylorr ingin berbincang dengan Xander secara langsung.
"Ayah, aku ingin ikut denganmu. Aku juga ingin bertemu dengan Suhni, Jyrik dan yang lain. Aku sudah lama tidak berjumpa dengan mereka," kata Alexis.
Xander terdiam sesaat, melirik Larson sekilas. "Baiklah, kau boleh ikut setelah mendapat persetujuan dari ibumu."
"Tentu, Ayah. Aku juga akan mengajak Paman Larson. Dia akan sangat senang bertemu dengan teman-temanku."
"Aku tidak ingin bertemu dengan teman-teman anehmu, Alexis. Kau selalu saja membuatku kerepotan." Larson berdecak. Ia mengembus napas panjang saat Larvin memelototnya dari jauh. "Dasar tua bangka sialan!"
Larson menemani Alexis menemui Jyrik, Suhni, dan yang lain di hutan. Sementara itu, Xander yang memasuki tenda di mana Govin, Miguel, Mikael, dan para pengawal utama tetap berjaga di luar.
Xylorr tengah berbaring di sebuah tikar. Karnu duduk di sampingnya, sedangkan anggota yang lain bergegas keluar. Suasana di gubuk mendadak ramai. Para anggota suku pedalaman berjaga di sekeliling gubuk.
"Alexand," ujar Xylorr dengan suara lemah. Ia memegang tangan Xander seerat mungkin. Bibirnya bergerak-gerak, tetapi tidak ada kata-kata yang terucap.
Xander mengelus tangan Xylorr. Semua kenangan kebersamaannya dengan pria itu seketika bermunculan. Ia merasa iba dengan keadaan Xylorr saat ini. "Aku akan melakukan semua hal yang aku bisa untuk membantumu."
Xylorr terdiam dan tiba-tiba saja menangis. Karnu tampak khawatir meski ia kembali menjauh saat Xylorr memberikan tanda padanya untuk tenang. Suasana menjadi sangat hening, hanya terdengar embusan napas berat Xylorr dan tawa anak-anak di luaran sana.
Di tengah keheningan yang meruang, Edward baru saja sadarkan diri. Pria itu bergegas duduk, mengawasi keadaan sekeliling. Ia terkejut saat melihat Edison, Caesar, Franklin, dan yang lain berada di dekatnya.
"Edison." Edward seketika memeriksa anak kecil itu, mengembus napas lega saat tahu putranya itu hanya tertidur. "Kau membuat ayahmu sangat ketakutan, Edison."
Edward kembali mengamati keadaan sekeliling, turun dari ranjang. Pria itu berjalan menuju jendela, tersentak kaget. "Di mana aku sebenarnya? Aku hanya melihat ruangan putih di dalam dan keadaan gelap gulita di luar. Apakah aku sedang bermimpi?"
Edward tiba-tiba meringis saat merasakan sakit. Pria itu memeriksa tubuhnya, terdiam saat melihat beragam luka lebam. Seketika saja ingatannya terbang ke kejadian di penginapan, terjatuhnya ia ke jurang, pertemuannya dengan ketiga orang aneh hingga ia bisa bertemu dengan Edison, Caesar, dan yang lain.
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍