"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Tinta yang Tak Pernah Basah
Minggu pertama di St. Jude’s Academy berlalu seperti kabut abu-abu bagi Achell. Jadwal pelajaran di sini sangat padat; mulai dari etika, sastra Prancis, hingga tata krama di meja makan. Setiap malam, setelah lampu asrama dipadamkan, Achell akan bersembunyi di bawah selimut dengan sebuah senter kecil dan kertas surat.
Ia menulis segalanya. Ia menulis tentang Sophie yang hobi menyelundupkan cokelat ke kamar, tentang Julian yang meminjamkannya buku puisi Lord Byron, hingga tentang betapa ia benci rasa sup kacang polong di kantin. Namun, di setiap akhir paragraf, kalimatnya selalu bermuara pada hal yang sama.
“Uncle Victor, apa kau merindukan suara tawaku di taman? Aku sedang belajar menjadi wanita dewasa seperti yang kau minta. Apa kau akan bangga padaku kalau aku mendapat nilai sempurna?”
Achell melipat surat itu dengan rapi, menyemprotkan sedikit parfum bunga melati kegemarannya, dan mengirimkannya setiap hari Sabtu. Ia menunggu dengan jantung berdebar setiap kali tukang pos datang membawa tumpukan surat untuk para siswi.
"Masih menunggu surat dari 'Paman' itu?" Sophie bertanya sambil mengunyah apel, duduk di tepi jendela kamar mereka.
Achell tersenyum tipis, matanya terpaku pada kotak surat di lobi bawah yang sedang dikerumuni gadis-gadis lain. "Dia sangat sibuk, Sophie. Perusahaannya sedang ekspansi ke Asia. Aku yakin dia hanya belum sempat memegang pena."
Sophie memutar bola matanya. "Rachel, pria sesibuk apa pun akan punya waktu lima detik untuk menulis 'aku baik-baik saja'. Kau terlalu membela pria yang bahkan tidak mau melambaikan tangan saat kau pergi."
Tak lama kemudian, seorang pengawas asrama masuk dan membagikan surat. "Gabriella Rachel, ini untukmu."
Tangan Achell gemetar saat menerima amplop tebal dengan stempel lilin berlogo keluarga Edward. Ia segera membukanya dengan harapan yang meluap. Namun, saat kertas itu terbuka, bahunya merosot seketika.
Bukan tulisan tangan Victor yang tegas dan miring ke kanan. Itu adalah ketikan mesin tik yang rapi, dingin, dan kaku.
“Nona Gabriella Rachel, Tuan Edward telah menerima surat-surat Anda. Beliau meminta saya untuk menyampaikan bahwa beliau sangat menghargai semangat belajar Anda. Terlampir adalah cek tambahan untuk kebutuhan buku dan pakaian musim dingin Anda. Tuan Edward saat ini sedang berada di New York untuk urusan bisnis yang tidak bisa ditinggalkan.”
— Tertanda, Sekretaris Pribadi Victor L. Edward.
"Lagi?" Sophie melongok ke arah surat itu dan mendengus jijik. "Dia bahkan tidak menulis namamu sendiri. Dia menyuruh orang lain untuk membalas cintamu dengan uang."
Achell meremas surat itu pelan. Rasa malu mulai membakar pipinya. Di depan Sophie, ia merasa seperti lelucon yang nyata. Ia memberikan hatinya dalam bentuk kata-kata manis, dan Victor membalasnya dengan cek bank.
"Mungkin... mungkin dia benar-benar di New York," bisik Achell, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada menjawab Sophie.
Sore itu, Achell melarikan diri ke perpustakaan sayap barat. Di sana sepi, hanya ada bau buku tua dan debu yang menari di bawah sinar matahari yang temaram. Di sudut ruangan, ia menemukan Julian yang sedang duduk dengan tumpukan buku tebal.
"Kau terlihat seperti seseorang yang baru saja menelan duri, Rachel," ucap Julian tanpa mendongak dari bukunya.
Achell duduk di hadapan Julian, menyembunyikan wajahnya di balik lengannya yang terlipat di atas meja. "Julian... apa aku memang terlihat sekecil itu di mata orang dewasa?"
Julian meletakkan penanya. Ia menatap Achell dengan tatapan yang sangat dewasa untuk laki-laki seusianya. "Orang dewasa sering kali sombong, Rachel. Mereka pikir, karena mereka sudah hidup lebih lama, mereka punya hak untuk menentukan mana perasaan yang nyata dan mana yang tidak. Tapi mereka lupa, hati tidak mengenal usia."
Julian mengulurkan sebuah buku kecil bersampul kulit tua ke arah Achell. "Bacalah ini. Ini tentang seorang ksatria yang menunggu di bawah menara selama bertahun-tahun, hanya untuk menyadari bahwa pintu menaranya sebenarnya tidak pernah dikunci."
Achell menerima buku itu. "Lalu apa yang dilakukan ksatria itu?"
"Dia pergi, Rachel," jawab Julian pelan. "Dia pergi untuk menemukan kerajaan lain yang benar-benar menginginkannya untuk menjadi raja, bukan sekadar penjaga menara yang diabaikan."
Achell terdiam, meresapi kata-kata Julian. Ia menatap cek dari Victor yang masih terselip di saku seragamnya. Untuk pertama kalinya, uang itu terasa menjijikkan baginya.
Malam itu, Achell tidak menulis surat. Ia duduk di meja belajarnya, menatap kertas kosong selama berjam-jam. Ia ingin berhenti, ia ingin menyerah, tapi hatinya yang naif masih membisikkan satu harapan bodoh: Mungkin kalau aku lebih pintar lagi, dia akan menuliskan namaku dengan tangannya sendiri.
Achell mengambil pena, tapi kali ini ia tidak menulis surat untuk Victor. Ia mulai menulis di buku harian pemberian Julian.
Hari ini, aku menyadari bahwa tinta Uncle Victor sangat mahal. Terlalu mahal untuk sekadar menulis namaku.
Di London, Victor berdiri di balkon kantornya, menatap gedung-gedung pencakar langit New York yang sedang ia kunjungi. Di atas mejanya, ada tumpukan surat dari Achell yang belum ia buka. Ia tahu apa isinya. Ia tahu betapa tulusnya kata-kata di sana. Dan justru karena itulah, ia tidak sanggup membacanya.
Baginya, Achell adalah gangguan yang manis yang harus ia lupakan demi kebaikan gadis itu sendiri. Atau begitulah Victor mencoba membohongi nuraninya.