"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sepanjang perjalanan pulang, Ryan terus memikirkan ucapan Dani. Memilih diantara dua pilihan. Merelakan cinta pertamanya yang selama ini bertepuk sebelah tangan, atau merelakan bahtera yang mulai kokoh.
Iya, sekuat apapun bahtera yang kita bina, semuanya akan binasa oleh tangan kita sendiri. Bukan pihak lain yang menghancurkan, tapi salah satu pemiliknya lah yang tega meruntuhkan.
Ryan memijat kepalanya yang pening. Ryan mengetahui bahwa Maeta bukanlah gadis baik-baik, ia juga gadis urakan seperti dirinya. Tapi Maeta tahu cara mempertahankan harga dirinya. Tentu saja, karena Maeta lahir dari keluarga terpandang. Etika remeh seperti itu sudah menjadi santapan sehari-harinya.
Namun images yang Ryan bangun tentang pria sejati dan anti mendua itu hancur di hadapan Maeta. Ryan seolah berkhianat atas ucapannya dulu pada Maeta. Tentang menjadi lelaki idaman yang selalu setia hanya pada satu wanita.
Gila, lelaki memang susah untuk di tebak. Hilang tanpa kabar tahu-tahu sudah mendua dan beranak pula.
Ryan terus saja mengutuk dirinya sendiri. Menyesali setiap langkah yang ia lalui. Andaikan, pikiran Ryan di selimuti kata andaikan.
Andaikan dulu ia tak mengikuti olahraga ekstrem.
Andaikan dulu ia hati-hati dan tidak keluar jalur.
Andaikan ia dulu dapat menahan nafsunya.
Andaikan dulu ia tak menuruti ego untuk menikahi Naina.
Namun semua itu percuma. Meski kata andaikan itu terwujud, Ryan tak akan pernah bisa mendengar suara yang memanggilnya "Ayah". Suara yang selalu merengek minta di gendong. Suara yang selalu mengatakan "Aku sayang Ayah", dan suara-suara lembut dari gadis kecil yang menjadi penyemangat hidupnya.
Tanpa sadar air mata menetes di sudut mata Ryan yang terpejam. Hatinya sakit bila memikirkan hal buruk yang nantinya akan menimpa anaknya.
Sebajingannya Ryan, ia tak ingin putrinya mengalami nasib yang sama seperti Ibunya. Mendapatkan laki-laki bajingan bahkan bisa lebih dari itu. Ryan tak menginginkan hal tersebut.
Sesampainya di rumah, Ryan langsung masuk ke kamarnya. Matanya sembab, wajahnya pucat, suhu badannya pun tinggi.
"Nay, yang patuh ya. Ayah sedang sakit, jadi Nay jangan merengek yang tidak-tidak pada Ayah." Naina mencoba berdiskusi dengan anak semata wayangnya.
"Baik, Ibu."
"Anak pintar." Naina mengelus rambut Nayla.
Naina kembali pada pekerjaannya, selepas membereskan rumah, Naina menengok Ryan dan mulai mengelap badan Ryan yang mulai keringetan.
Naina semalaman terjaga, karena Ryan beberapa kali mengigau tak karuan dan menangis seperti orang kesakitan.
"Apa yang sebenarnya Bapak alami? Tidak bisakah kita saling terbuka dan berbagi cerita?" Lirih Naina memegang tangan dan pipi Ryan.
Saat pagi tiba, rasa kantuk itu mulai menghinggapi mata. Rasa tak kuat dan lelah serempak datang menyerang.
"Jam setengah 6, tidur sebentar bisa saja deh." Naina berjalan menuju sofa yang berada di ruang keluarga.
Naina sengaja tidur di tempat yang tak nyaman agar mudah terbangun dan bisa mengerjakan aktivitas lainnya. Yang penting sekarang istirahat badan dulu, pejamkan mata sebentar, lalu kembali bekerja. Itu yang Naina inginkan.
Baru saja memejamkan mata beberapa menit teriakan melengking membangunkan Naina dari tidurnya.
"Naina!!! Apa kamu tuli?? Dimana kamu?" Teriak Ryan dengan nada kesal dan marah.
Naina terperanjat dari tidurnya dan buru-buru mendatangi sumber suara. Betapa terkejutnya Naina saat mendapati Nayla memecahkan gelas dan sedikit menggores luka pada betis kirinya.
"Kamu kemana saja? Anak di biarkan begitu saja, becus gak sih kamu ngurus anak? Kalau gak bisa ngurus anak mending kamu pergi dari sini!" Bentak Ryan dengan nada tinggi dan memaki.
"Dari tadi gue manggil-manggil, lu budek atau emang b*go?" Kembali Ryan memaki Naina dengan kata-kata yang begitu menyakitkan.
Naina tidak biasa dengan panggilan lu dan gue, baginya kata-kata itu seperti umpatan dan teriakan rasa jijik.
"Liat anak gue jadi terluka, lu jadi Ibu becus gak sih jada anak? Ngurus satu anak saja kagak bisa. Apalagi ngurus orang sakit kayak gue. Dasar benalu."
Makian itu membuat Naina hanya bisa diam tak bersuara. Naina langsung membawa Nayla dan mengobatinya. Tangisnya terus mengalir tak bisa berhenti. Baru kali ini Naina merasa di hinakan oleh orang yang di sayang.
"Ibu minta maaf ya." Naina mengobati luka yang tak seberapa itu.
"Nay bisa nurut, gak?" Tanya Naina dengan suara gemetar menahan sakit dan emosi.
"Iya, Bu. Maafkan, Nay."
"Kenapa Nay datang ke kamar Ayah?"
"Tadi Ayah teliak-teliak minta minum, Nay cuma mau bantu. Tapi tangan Nay tiba-tiba di hinggapi nyamuk. Nay gatal, akhilnya gelas itu jatuh." Jelas Nay dengan suara nyaringnya.
"Kenapa Nay tidak bangunkan Ibu?"
"Nay kasihan sama Ibu. Ibu balu aja tidul."
Bagaimana pun ini memang salah Naina. Harusnya semalam dia ikut tidur saja dari pada memikirkan hal-hal aneh yang membuatnya tersiksa.
Jika semalam Naina tertidur mungkin kejadian ini tak akan terjadi. Naina memeluk Nayla, meminta kekuatan agar bisa tetap sabar menahan perihnya dunia yang mereka hadapi.
"Nay manut, ya. Diam dan jangan ganggu Ayah."
Nayla hanya mengangguk lemah.
"Anak pintar. Ibu buatkan sarapan dulu, ya."
Naina membuat bubur dan sarapan buat Nayla. Meski ucapan Ryan menyakitkan tapi sepenuhnya bukan salah Ryan. Ini juga salah satu keteledoran Naina sendiri.
Naina memblender nasi agar cepat lembut sebelum ia masak jadikan bubur. Selain itu Naina juga membuat omelette kesukaan Nayla.
Pagi ini Naina sangat sibuk dan tak ada waktu untuk bernafas lega. Belum selesai memasak panggilan darurat yang memekakkan gendang telinga pun bergema.
"Naina ...." Teriak Ryan tak sabar dan penuh emosi.
"Iya Pak."
"Lu budek ya? Harus berapa kali gue teriak baru lu denger?"
Naina hanya diam, meski sudut hatinya sakit dan nyeri.
"Lu denger, gak?" Bentak Ryan membuat Naina terperanjat.
"Iya, Pak. Bapak butuh apa?"
"Gue mau kopi, buatkan gue kopi."
"Bapak lagi sakit, gimana kalau minum air hangat saja?"
Ryan menatap Naina dengan tajam dan kesal.
"Lu mulai ngelunjak ya?"
"Aku bawakan sarapan dulu buat Bapak dan Nay, ya."
Naina pergi meninggalkan Ryan tanpa menanggapi ocehan Ryan yang semakin membuat hati Naina sakit.
Apakah orang sakit emosinya suka meluap-luap? Atau jangan-jangan di tempat kerjanya kemarin Ryan di ganggu makhluk halus? Naina terus berpikir aneh-aneh karena melihat tingkah laku Ryan yang tidak seperti biasanya.
Naina kembali lagi dengan membawakan semangkuk bubur hangat dan air hangat.
"Mau di suapin atau makan sendiri?" Tanya Naina ramah dan perhatian.
"Gue bisa sendiri."
"Pak, rasanya aneh mendengar perkataan gue lu. Saya tidak biasa." Ucap Naina yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ryan.
"Iya gak biasa, karena lu anak kampung, gadis desa."
Naina hanya bisa terdiam. Ia tak bisa marah. Sejatinya memang begitu. Naina memang anak kampung dan gadis desa. Tak ada yang salah dengan ucapan itu, hanya intonasi yang keluar dari mulut Ryan sukses membuat hati Naina semakin sakit.
"Dapatkah aku bertahan bersama mu dalam waktu satu bulan saja?" Batin Naina menerka keadaan.
Apa hatiku akan sanggup menerima setiap kali cacian dan hinaan yang kamu berikan? Tak sedikit pun kamu bisa menghargai ku. Aku tak mempersoalkan itu, asal kamu masih bisa berkata lebih baik.
Ada atau tidaknya pihak ketiga di antara kita, aku tak mempersoalkan itu selama kamu tak mempertemukan aku dengannya. Aku bisa menahannya meski sakit.
Tapi jika terus-menerus kamu mengikis pertahankan yang susah payah aku jaga demi bisa bersamamu. Lama-kelamaan hatiku akan hancur dan balik membenci mu.
Tolong hentikan keegoisan mu, Pak Ryan. Tolong pilih satu diantara banyaknya pilihan di hidup mu. Demi menjaga kewarasan anak orang dan kedamaian anakmu juga.
Naina terus bergumam dan memohon dalam diam. Semoga suatu saat nanti Ryan dapat memilih yang terbaik untuk dirinya dan juga Naina.