"Lepasin...sakit tahu!!!"
Teriak seorang gadis yang di seret paksa oleh seorang pria tampan namun bringas.
Arabella Jenevile Dirgantara terjebak atas kecerobohannya sendiri.
Dia tak sengaja melihat hal yang seharusnya tak dia lihat.
"Jangan coba coba lari dariku gadis nakal. Nyawamu ditanganku!" Seringai pria bernama Dariush Cassano.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Cynthia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Dariush
Sudah tiga hari Bella dan Dariush berada di Rumania, kini mereka akan kembali pulang ke Milan. Mata Bella melirik ke setiap sudut jika banyak pengawal yang mengawal mereka sampai ke rumah utama.
"Kenapa kita pulang kesini? Ini kan_"
"Aku tahu sayang, di rumah ini tempat kamu di tawan. Tapi disini aman sayang. Kamu istirahat dulu di dalam, besok Sean akan kembali kesini bersama Natasha." Ucap Dariush lembut.
Bella mengangguk pelan dan ke dalam duluan bersama bibi Lusy kepala pelayan di rumah itu. Sedangkan Dariush tengah membicarakan sesuatu yang penting dengan Fabio dan Jack.
Tangan Bella membuka kamar utama itu perlahan dengan langkah yang ragu. Ia masuk ke dalam dan melihat sekeliling kamar itu.
Kamar yang menyekap dirinya pertama kali. Tapi ada satu yang menarik perhatiannya. Ternyata di dalam kamar itu sudah terpampang photo pernikahan dirinya bersama Dariush.
Senyum simpul Bella terbit di wajahnya. Cukup lama ia memandangi photo itu, hingga ada tangan yang melingkar di perutnya juga kecupan manis mendarat di lehernya.
Bella sampai tak menyadari jika suaminya sudah ada di kamarnya. "Lihat! Kita serasi bukan? Cantik dan tampan." Celetuk Dariush dengan percaya dirinya.
"Serasi? Hmm oke deh, karena aku sudah mencintaimu jadi kita serasi." Sahut Bella sambil meledek suaminya.
Dariush membalikkan tubuh istrinya menghadapnya. Ia membelai lembut wajah cantik itu. "Maafkan aku karena sudah menyekap mu disini. Tapi di di siinilah cinta itu tumbuh."
Namun Bella tak menjawabnya, ia berjalan ke arah jendela. Dan rupanya sudah tidak terpasang teralis besi disana. Tangan Bella membuka jendelanya dan menghirup udara segar.
"I love you." Ucap Dariush dengan suara paraunya di telinga istrinya. Ia memeluk lagi istrinya dari belakang.
Bella menyandarkan kepalanya di tubuh suaminya. "Hmm aku juga mencintaimu sayang. Apa ada yang ingin di bicarakan?" Tanya Bella.
"Maksudmu?"
"Bahaya apa yang akan menimpaku?" Tanya Bella lagi dengan wajah sendunya.
Akhirnya mau tak mau dengan terpaksa, Dariush jujur akan keadaan yang sebenarnya. Air mata Bella menetes di pipinya. "Lalu aku harus gimana? Apa kamu akan meninggalkan ku?" Lirih Bella.
"Tidak! Kamu aman bersama ku sayang."
Keduanya berpelukan dan Bella masih menangis di pelukan suaminya. Dariush semakin mendekapnya erat juga mencium keningnya lama.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mu sayang. Sebelum mereka menyentuhmu, akan ku lenyapkan lebih dulu." Ucap Dariush dengan suara beratnya yang mematikan.
Tanpa mereka sadari rupanya anak buah Revaldi sudah mengintai kediaman mereka. Tapi sayangnya Dariush dan Fabio jauh lebih pintar dari anak buah Revaldi.
Dariush membawa istrinya beristirahat sampai Bella terlelap. Ia berdiri berjalan ke meja kerjanya. Dariush menghubungi seseorang yang sangat ia percaya.
"Long time no see brother. Wow ada angin apa kau menghubungi? Bagaimana kabar Sean?" Tanya seorang pria di sebrang telepon yang Dariush hubungi.
"Hmm baik, Sean sudah menikah. Aku butuh bantuan mu." Ucap Dariush.
"Oke besok aku ke tempatmu."
Selesai berbincang dengannya, Dariush segera bergabung dengan istrinya di tempat tidur.
-
-
-
"Sudah siap sayang?" Tanya Sean.
"Sudah, butik aman. Mommy Lorraine yang akan mengawasinya langsung." Jawab Natasha sambil memasukan pakaian ke dalam koper.
"Good, kita berangkat malam ini. Kamu akan suka disana, sekalian kita bulan madu." Kata Sean dengan menciumi pucuk kepala istrinya.
Natasha merasa geli akan tingkah suaminya. Menikah dengan bule Italy bukan impiannya. Bahkan Sean bukan tipe idamannya. Tapi bersama Sean, wanita cantik ini merasakan di hargai dan bahagiakan olehnya.
Sean mampu mengobrak-abrik hati Natasha. Di dekat istrinya, Sean bak anak kecil yang meminta di manja. "Apa kamu sudah hamil?" Tanya Sean tiba tiba.
DEG
Tubuh Natasha tiba tiba menegang dan menatap bola mata suaminya. Ia menundukkan kepalanya. "Hei sayang... Jangan menangis, apapun yang terjadi itu anak ku. Semua orang pernah salah, semua orang punya masa lalu, begitu pun aku." Ucap Sean.
"Aku memang wanita bodoh! Karena di butakan cinta aku menyerahkan segalanya." Tangisan Natasha pecah detik itu juga.
Sean meminta maaf atas perkataannya, sungguh ia tidak bermaksud menyakiti istrinya. Ia hanya ingin memiliki seorang anak dari Natasha. Tak perduli masa lalu yang di miliki istrinya, yang jelas ia mulai mencintai Natasha.
Jika kembali ke masa lalu, mungkin Sean lebih parah di banding Dariush. Sejak kematian orang tuanya, hidupnya tidak karuan. Setiap malam Sean selalu party bersama teman temannya. Tak jarang ia menyewa perempuan di luar sana untuk memuaskan hasratnya.
Tapi sejak bertemu Natasha, kehidupan Sean berubah. Baginya, Natasha adalah malaikat yang di kirim Tuhan untuknya.
"Di sana tidak terlalu dingin, tapi jika musim dingin mungkin kamu akan menggigil." Kata Sean sambil merapihkan coat istrinya.
"Kan ada kamu yang memeluk ku."
"Of course! Tangan ini yang akan melindungi mu sampai kapan pun. Terima kasih sayang sudah memberi ku kesempatan untuk menikahimu! Aku mencintai mu sayang." Sean memagut bibir keriting Natasha dengan lembut.
Natasha memejamkan matanya merasakan kelembutan suaminya. Baju yang sudah terpakai rapih di tubuh mereka kini berserakan di lantai karena ulah Sean.
"Aahh Sean... Aaahh" Natasha terus mendesah saat suaminya semakin mendesaknya.
"Oh my God...! Sempit sekali sayang... F*ck! Tubuhmu membuatku kecanduan."
Mereka sama sama menikmati moment ini. Selesai dengan ritualnya, Sean dan Natasha bersiap berangkat menuju Italy. Jay sudah menjemputnya dari tadi.
Rupanya Jay bersama Justin, asisten pribadi orang tua Sean dan Dariush. Dan Sean cukup terkejut siapa yang ada di hadapannya.
"Kenapa kau baru muncul hah? Jawab brengsek!" Sean membentak Justin dengan penuh amarah.
Natasha mencoba menahan tubuh suaminya agar tak emosi. Terlebih ini di bandara. "Tuan Damian berpesan agar saya menjaga keluarga tuan Dave dan menjaga bukti kecelakaan beliau." Jawab Justin.
"Harusnya kau memberitahu kami. Lalu apa rencana mu?" Tanya Sean.
"Kita bicarakan setelah bertemu tuan Dariush!" Sahut Justin dengan tenang.
"Ck.. Asisten macam apa kau! Syalan!" Sean semakin emosi di buatnya.
"Udah donk ayo masuk kita istirahat dulu." Ucap Natasha lembut.
Mau tak mau Sean mengalah demi istrinya. Mereka semua masuk ke dalam pesawat pribadi milik keluarga Bella.