Kabur dari perjodohan toksik, Nokiami terdampar di apartemen dengan kaki terkilir. Satu-satunya harapannya adalah kurir makanan, Reygan yang ternyata lebih menyebalkan dari tunangannya.
Sebuah ulasan bintang satu memicu perang di ambang pintu, tapi saat masa lalu Nokiami mulai mengejarnya, kurir yang ia benci menjadi satu-satunya orang yang bisa ia percaya.
Mampukah mereka mengantar hati satu sama lain melewati badai, ataukah hubungan mereka akan batal di tengah jalan?
Yuk simak kisahnya dalam novel berjudul "Paket Cinta" ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imamah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Rindu Kamu
Jangan berhenti tertawa.
Bukan permintaan maaf atau pengakuan yang Nokiami harapkan. Namun, sebuah permohonan yang tersembunyi di balik fasad tulisan tangan Reygan yang tegas.
Kehangatan menjalari dada Nokiami dan melelehkan bongkahan es kekecewaan yang ditinggalkan Reygan di ambang pintu. Pria itu tidak lari karena jijik atau kesal. Ia lari karena takut. Takut pada tawa yang begitu lepas, pada momen yang begitu nyata, pada sesuatu yang tidak bisa ia kategorikan di dalam buku catatannya yang penuh dengan angka utang dan jadwal pengiriman.
Nokiami meremas kertas struk itu di tangannya, merasakan teksturnya yang tipis dan rapuh, sama seperti gencatan senjata mereka. Ia kembali ke dapur yang kini terasa hampa. Aroma saus tomat yang hampir gosong masih menggantung di udara, sebuah pengingat akan bencana kecil yang melahirkan tawa paling tulus yang pernah ia dengar dari Reygan. Ia membuang pasta yang sudah lembek ke tempat sampah, lalu duduk di sofa, memeluk lututnya.
Keheningan apartemen itu kini terasa berbeda. Bukan lagi keheningan yang menenangkan dari sebuah tempat persembunyian, melainkan keheningan yang memekakkan dari sebuah panggung yang ditinggalkan aktor utamanya. Ia merindukan suara ketukan sepatu bot Reygan yang berat di lantai. Ia merindukan dengusan sinisnya. Ia merindukan cara pria itu mengerutkan kening saat berkonsentrasi pada tumpukan kertas. Ia merindukan keberadaannya.
Sebuah ide gila, impulsif, dan mungkin bodoh, mulai terbentuk di benaknya. Ini bukan lagi soal strategi melawan Leo atau menganalisis utang. Ini soal sesuatu yang lebih mendasar. Kebutuhan.
Dengan gerakan cepat, ia meraih ponselnya, membuka aplikasi pesan-antar. Jarinya menari di atas layar, melewati restoran-restoran sehat yang selama ini ia coba. Tujuannya jelas. Ia mencari lawan dari semua hal yang pernah Reygan komentari. Ia berhenti pada sebuah gerai burger cepat saji yang terkenal dengan porsinya yang jumbo dan sausnya yang melimpah. Ia memesan paket paling tidak sehat yang ada: burger keju ganda dengan ekstra bacon, kentang goreng ukuran besar, dan segelas besar milkshake cokelat.
“Ayo, kritik ini,” gumamnya pada layar ponselnya, seolah menantang hantu Reygan.
Ia membayar, lalu menunggu. Setiap menit terasa seperti satu jam. Jantungnya berdebar-debar, bukan karena takut pada Leo, tetapi karena antisipasi akan konfrontasi yang ia ciptakan sendiri. Setengah jam kemudian, notifikasi yang ditunggu-tunggu muncul.
Kurir Reygan sedang dalam perjalanan.
Nokiami tersenyum tipis. Ia sudah hafal jadwal pria itu.
Ketika bel pintu berbunyi, ia menarik napas dalam-dalam sebelum membukanya. Di sana, Reygan berdiri di bawah cahaya lorong yang temaram. Jaket hijaunya yang familier, wajahnya yang datar, dan di tangannya ada kantong kertas cokelat besar yang berembun.
“Pesanan Anda,” katanya, suaranya monoton, matanya menatap lurus ke dinding di belakang Nokiami, menghindari kontak mata sepenuhnya.
Nokiami mengambil kantong itu, sengaja membiarkan jari-jari mereka bersentuhan sesaat. Reygan menarik tangannya seolah tersengat.
“Cuma itu?” tanya Nokiami, nadanya dibuat sesantai mungkin.
Reygan akhirnya menatapnya, alisnya sedikit terangkat. “Cuma itu apa?”
“Komentarmu,” lanjut Nokiami. “Nggak ada ceramah soal kalori? Nggak mau bilang kalau makanan ini cuma akan menambah lemak di tubuhku yang sudah kau anggap menyedihkan ini?”
Rahang Reygan mengeras. Ia melihat menembus sandiwara Nokiami. “Kau sengaja, kan?”
“Sengaja apa? Memesan makan malam?” Nokiami bersandar di kusen pintu, menyilangkan lengannya. “Memangnya salah kalau aku lapar?”
“Berhenti main-main, Nokia,” desis Reygan, nadanya rendah dan berbahaya. “Kau tahu persis apa yang kau lakukan. Kau memesan dari restoran ini, di jam ini, karena kau tahu sembilan puluh persen kemungkinannya aku yang akan dapat orderannya.”
“Wah, analisismu tajam juga,” puji Nokiami dengan sarkasme.
“Ini bukan lelucon!” sentak Reygan, frustrasinya akhirnya meluap. “Kau pikir ini apa? Permainan? Kau buang-buang uang untuk burger sialan ini cuma untuk memancingku datang ke sini? Untuk apa? Kepuasan emosionalmu?”
“Mungkin,” jawab Nokiami, menatap lurus ke matanya, menolak untuk gentar.
“Sialan,” umpat Reygan pelan, ia memijat pangkal hidungnya. “Aku nggak punya waktu untuk ini. Aku harus kerja. Aku punya target yang harus kukejar, nggak seperti orang-orang sepertimu yang bisa duduk-duduk dan memesan makanan untuk iseng.”
Kata-kata itu, ‘orang-orang sepertimu’, tidak lagi terasa menyakitkan. Nokiami tahu itu hanya perisai.
“Ini bukan iseng,” kata Nokiami, suaranya melembut. “Dan ini bukan soal makanan.”
“Lalu soal apa?” tantang Reygan. “Mau memberiku ulasan bintang satu lagi karena aku nggak tersenyum cukup lebar saat menyerahkan milkshake-mu?”
Nokia menggeleng pelan. Ia mengambil satu langkah maju, mempersempit jarak di antara mereka. “Aku kangen kamu.”
Reygan membeku. Seluruh cemoohan dan kemarahan di wajahnya lenyap, digantikan oleh keterkejutan total. Ia tampak seperti rusa yang tersorot lampu depan mobil, bingung dan rentan.
“A-apa?”
“Aku merindukanmu,” ulang Nokiami, lebih jelas, lebih tegas. “Aku rindu berdebat denganmu soal hal-hal bodoh. Aku rindu suara motor bututmu yang berisik itu di pagi hari. Aku rindu caramu mengernyitkan dahi saat membaca klausul kontrak. Apartemen ini… terlalu sepi tanpamu.”
Keheningan yang canggung menyelimuti mereka. Reygan membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Ia tampak benar-benar kehilangan kata-kata. Pengakuan jujur Nokiami adalah senjata yang tidak pernah ia perhitungkan. Tembok pertahanannya yang terbuat dari sinisme dan sarkasme tidak dirancang untuk menahan serangan seperti ini.
“Aku… aku bukan penghiburmu, Nokia,” katanya akhirnya, suaranya serak dan goyah. “Aku bukan badut yang bisa kau panggil setiap kali kau merasa kesepian.”
“Kau bukan badut,” sahut Nokiami cepat. “Kau… sekutuku. Temanku.”
“Teman tidak saling memanipulasi jadwal kerja seperti ini!” balas Reygan, mendapatkan kembali sedikit pijakannya, meskipun suaranya tidak lagi sedingin tadi. “Ini salah. Kau memanfaatkan sistem, memanfaatkan aku.”
“Aku tidak memanfaatkanmu!” seru Nokiami, frustrasi. “Aku hanya… butuh kamu ada di sini. Sebentar saja. Apa itu salah?”
“Ya, itu salah!” kata Reygan, suaranya meninggi. “Fokusku cuma satu, Nokia. Lunasin utang. Nggak ada ruang untuk yang lain. Nggak ada waktu untuk… ini.” Ia menggerakkan tangannya dengan liar ke arah mereka berdua. “Aku harus bekerja. Aku nggak bisa terus-menerus terseret ke dalam drama emosionalmu!”
“Jadi ini cuma drama bagimu?” tanya Nokiami, rasa sakit mulai merayap kembali. “Tawa kita di dapur, janji-janjimu, semua rencana kita… itu semua cuma drama?”
“Itu… rumit,” elak Reygan, membuang muka. “Dan aku nggak punya kemewahan untuk menghadapi hal-hal rumit. Aku harus pergi.”
Ia berbalik dengan gerakan tiba-tiba, siap melarikan diri untuk kedua kalinya dalam dua hari.
“Bohong!” seru Nokiami, suaranya tajam, menghentikan langkah Reygan di tempat.
Pria itu berhenti, punggungnya menegang, tapi ia tidak menoleh.
“Ini bukan soal kerja! Ini bukan soal utang!” lanjut Nokiami, tangannya merogoh saku dan mengeluarkan kertas struk yang sudah lecek itu. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi. “Ini soal ini!”
Reygan berbalik perlahan. Matanya terpaku pada sobekan kertas di tangan Nokiami. Wajahnya yang biasanya keras kini pucat pasi. Kepanikan yang tadi sempat ia sembunyikan kini terpampang jelas di matanya.
Nokiami menatapnya lekat-lekat, hatinya berdebar kencang, menumpahkan semua rasa sakit dan kebingungannya dalam satu pertanyaan terakhir yang menusuk.
“Kenapa kau tulis ‘Jangan berhenti tertawa’,” bisiknya, suaranya bergetar karena emosi, “kalau kau sendiri yang berusaha paling keras untuk membunuh tawa itu, Reygan?”