NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Mahkota Berduri

Hujan badai mengguyur kota dengan intensitas yang seolah ingin membasuh semua noda darah di aspal Menara Obsidian. Di sebuah rumah aman ( safe house ) yang tersembunyi di balik perbukitan pinus, suasana justru terasa lebih dingin daripada cuaca di luar. Rumah ini adalah prototipe benteng modern—dinding baja yang disamarkan dengan kayu oak, jendela antipeluru, dan sistem sensor gerak yang mampu mendeteksi napas penyusup dalam radius lima ratus meter.

​Dante terbaring di ranjang medis di dalam kamar utama. Wajahnya pucat, nyaris menyatu dengan warna sprei sutra putihnya. Namun, meski tubuhnya dikhianati oleh rasa sakit, matanya tetap terjaga, mengawasi setiap gerak-gerik di ruangan itu melalui pantulan kaca jendela.

​Aruna duduk di tepi ranjang, tangannya dengan telaten mengganti kompres di dahi Dante. Ia tidak lagi mengenakan jas putih gading yang megah; kini ia kembali ke pakaian yang lebih praktis, namun kalung berlian hitam pemberian Dante tetap melingkar di lehernya—sebuah simbol otoritas yang kini tidak berani dipertanyakan oleh siapa pun di rumah itu.

​"Kau harus tidur, Dante. Obat biusnya akan segera bekerja," bisik Aruna lembut.

​Dante meraih pergelangan tangan Aruna, cengkeramannya lemah namun penuh penekanan. "Pesan itu... Enzo memberitahuku bahwa kau menerima pesan setelah kita meninggalkan menara. Jangan bohong padaku, Aruna."

​Aruna terdiam sejenak. Ia tahu tidak bisa menyembunyikan apa pun dari pria yang telah membangun kekaisaran informasi ini. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pesan singkat dari nomor tak dikenal itu.

​“Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Aruna Valerius.”

​Dante memejamkan matanya, napasnya terasa berat. "Julian..." gumamnya lirih.

​"Julian? Siapa dia?" tanya Aruna, rasa ingin tahu bercampur dengan ketakutan.

​"Julian Thorne. Dia adalah 'pemilik' bayangan dari sebagian besar aset Marco. Marco hanyalah wajah yang kasar untuk bisnis yang sangat halus. Julian adalah seorang bankir, seorang diplomat, dan seorang sosiopat yang tidak suka tangannya terkena darah secara langsung. Jika dia sudah mengirim pesan padamu, artinya dia tidak lagi menganggap ini sebagai urusan bisnis. Ini adalah hiburan baginya."

​Dante terbatuk, membuat luka di perutnya berdenyut. "Aruna, dengarkan aku. Organisasi ini... para pria di luar sana... mereka tidak akan mengikuti seorang pemimpin yang hanya bisa terbaring di ranjang. Mereka butuh wajah. Mereka butuh seseorang yang bisa memberikan perintah tanpa keraguan."

​"Aku tidak bisa, Dante. Aku hanya seorang janda dari Jalan Kenanga," tolak Aruna cepat.

​"Kau adalah wanita yang menampar Bianca, menantang Marco di sarangnya, dan menyelamatkan nyawaku. Kau lebih dari cukup," Dante menatap mata Aruna dalam-dalam. "Enzo sudah kuberitahu. Mulai hari ini, setiap keputusan logistik, keuangan, dan eksekusi keamanan harus melewati persetujuanmu. Pakailah cincin Valerius ini."

​Dante melepas cincin perak berat dengan ukiran burung bangkai dari jarinya yang kurus dan memberikannya pada Aruna. "Cincin ini adalah suaraku. Siapa pun yang menentangmu, berarti menentang maut itu sendiri."

​Pukul sepuluh malam, di ruang strategi lantai bawah.

​Enzo dan empat kepala divisi—Logistik, Keamanan, Pencucian Uang, dan Intelijen—telah berkumpul. Mereka tampak gelisah. Kabar tentang jatuhnya Marco dan kematian Bianca telah menyebar, menciptakan kekosongan kekuasaan yang berbahaya di kota.

​Aruna masuk ke ruangan itu. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi menggema di atas lantai beton halus. Ia duduk di kursi utama, posisi yang biasanya ditempati Dante. Ia meletakkan tangan kirinya di atas meja, memperlihatkan cincin Valerius yang tampak terlalu besar di jarinya, namun cahayanya cukup untuk membungkam keraguan di ruangan itu.

​"Tuan Valerius sedang dalam masa pemulihan," Aruna memulai, suaranya jernih tanpa getaran. "Mulai malam ini, saya yang akan bertanggung jawab atas semua operasional. Ada keberatan?"

​Hening. Para pria itu saling lirik. Pimpinan Divisi Keamanan, seorang pria bertubuh raksasa bernama Branko, berdeham. "Nyonya, dengan segala hormat, Julian Thorne sudah mulai membekukan rekening-rekening kita di luar negeri. Marco mungkin sudah kalah, tapi Thorne punya akses ke sistem perbankan yang tidak kita miliki. Jika kita tidak menyerahkan flashdisk itu padanya dalam dua puluh empat jam, kita akan bangkrut."

​Aruna menatap Branko datar. "Kita tidak akan menyerahkan apa pun. Jika dia membekukan rekening kita, maka kita akan membekukan jalannya kota ini."

​"Maksud Anda?" tanya Enzo penasaran.

​"Gunakan data di flashdisk itu untuk mengancam pemasok listrik dan air yang berada di bawah kendali Thorne. Jika uang kita tidak cair dalam dua belas jam, matikan seluruh aliran listrik ke Menara Obsidian dan semua properti Thorne. Biarkan dia melihat bagaimana rasanya menjadi buta di tengah kemewahan," perintah Aruna.

​"Itu deklarasi perang terbuka, Nyonya!" seru kepala divisi keuangan.

​"Perang sudah dimulai sejak dia menyentuh anakku," balas Aruna dingin. "Enzo, siapkan tim kecil. Kita tidak akan menunggu serangan Thorne. Kita akan menyerang titik terlemahnya malam ini: pelabuhan pengiriman emasnya yang tidak tercatat."

​Enzo sedikit terkejut dengan keberanian Aruna, namun ia mengangguk patuh. "Siap, Nyonya."

​Sementara itu, di sebuah griya tawang ( penthouse ) yang menghadap ke arah pelabuhan, seorang pria dengan setelan jas custom-made berwarna abu-abu muda sedang berdiri menatap hujan. Julian Thorne menyesap anggur merahnya dengan tenang. Di belakangnya, seorang asisten memberikan laporan.

​"Tuan, Aruna Valerius tidak menyerah. Dia justru mengancam infrastruktur kita."

​Julian tersenyum kecil. Senyum yang tidak sampai ke matanya yang berwarna biru es. "Menarik. Dante biasanya lebih suka menggunakan peluru. Wanita ini lebih suka menggunakan tuas kendali. Dia pintar. Dia tahu bahwa di dunia modern, informasi lebih mematikan daripada mesiu."

​"Apa perintah Anda, Tuan?"

​"Jangan ganggu dia dulu. Aku ingin melihat sejauh mana seorang merpati bisa belajar menjadi pemangsa. Biarkan dia mengambil pelabuhan emas itu. Emas bisa dicari lagi, tapi hiburan seperti ini sangat langka," Julian memutar gelas anggurnya. "Kirimkan bunga ke rumah amannya. Pastikan dia tahu bahwa aku bisa menemukannya kapan pun aku mau."

​Kembali ke safe house.

​Aruna baru saja selesai memberikan instruksi terakhir saat seorang penjaga masuk membawa karangan bunga lili putih yang sangat besar. Aruna membeku. Tidak ada kartu nama, hanya sebuah aroma parfum mahal yang sangat kuat menempel di kelopaknya.

​Ia segera menghampiri kamar Dante, namun di tengah lorong, ia bertemu dengan Bumi yang sedang menggendong boneka beruangnya.

​"Ibu... ada orang baik yang memberikan permen ini padaku di depan jendela," Bumi menunjukkan sebuah cokelat mahal dengan kemasan emas.

​Aruna segera menyambar cokelat itu dan membuangnya ke tempat sampah. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa sakit. Julian Thorne telah masuk ke dalam benteng mereka tanpa memecahkan satu kaca pun. Dia tidak menyerang dengan senjata, dia menyerang dengan rasa takut.

​Aruna menyadari bahwa kekuasaan yang ia pegang sekarang adalah sebuah mahkota berduri. Semakin keras ia mencengkeramnya, semakin dalam duri itu akan menusuknya. Namun, ia tidak punya pilihan. Jika ia melepaskannya, mereka semua akan mati.

​Ia masuk ke kamar Dante, melihat pria itu sedang tertidur pulas akibat pengaruh obat. Aruna duduk di kursi di samping ranjang, memegang pistol yang diletakkan Dante di bawah bantalnya. Ia menatap kegelapan di luar jendela.

​"Kau ingin bermain, Julian?" bisik Aruna pada kegelapan. "Maka mari kita lihat siapa yang akan bertahan saat seluruh kota ini terbakar."

​Aruna mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan untuk Enzo: "Batalkan rencana pelabuhan. Kita tidak akan mencuri emasnya. Kita akan meledakkan seluruh gudangnya malam ini. Tanpa sisa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!