"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Napas berat terdengar di seberang panggilan, disertai sedikit rasa dingin yang tak dapat dijelaskan.
Seana terdiam sejenak karena terkejut, sekaligus bingung. Ia melirik ponselnya lagi. Tetapi saat melihat kearah layar dan membaca nama kontak si penelpon, jantung Seana seakan bisa copot saat itu juga. "Bos galakk"
Seana segera berdeham dan bersikap sopan. "Selamat pagi, Pak Zio."
"Berangkat ke kantor sekarang juga," kata Zio dengan nada dinginnya, lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, pria itu langsung menutup sambungan telepon.
Seana kembali menatap layar ponselnya yang gelap dan raut wajahnya berubah menjadi cemberut sedih. Liburan singkatnya kembali harus dipersingkat. Pada akhirnya, Seana dengan terpaksa kembali ke apartemennya untuk berganti pakaian, tetapi sebelum masuk ke lift, Seana menyempatkan diri untuk mampir direstoran bawah, dan memesan pasta untuk Velia.
Tak lama kemudian, sesampainya Seana di apartemennya. Velia mengernyitkan dahinya mendapati Seana yang pulang begitu cepat. "Lo ga jadi pergi ke tempat servis?."
Seana duduk, sembari mengatur napasnya setelah berlari. "Baru juga selesai ambil hp, Pak Zio tiba-tiba nelfon dan nyuruh aku berangkat kerja sekarang juga." jawabnya, kemudian meletakkan pasta di atas meja dan bergegas masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian kerja.
Sanzio adalah atasan yang suka memilih. Dia melarang para karyawannya bekerja dengan mengenakan pakaian santai dikantor.
Setelah beberapa saat kemudian, Seana keluar dari kamarnya dan mendengar Velia yang masih mengeluh atas kelakuan bos Seana.
"Bos lo emang bener-bener se-nyebelin itu, ya? Kalian berdua kemarin baru pulang dari perjalanan bisnis selama sebulan, loh! Seharusnya bukan masalah kalau lo ambil cuti untuk dua hari ini aja, supaya lo bisa istirahat dengan nyaman tanpa ada yang memerintah. Tapi ini, tiba-tiba nelfon dan nyuruh lo masuk kerja, emangnya dia sendiri ngga butuh istirahat, ya? Astaga, seharusnya gue dulu ngga merekomendasikan lo kerja didepartemen penjualan."
"Kamu jangan heran, deh. Dimana pun tempatnya, bos mereka pasti juga bertingkah seenaknya kayak Pak Zio. Beruntungnya aja Pak Zio bukan orang yang banyak omong."
"Tapi suka memerintah seenaknya." Saut Velia, menimpali.
"Seenggaknya aku pasti dapat gaji lembur," Seana tersenyum tipis, sebelum akhirnya meraih tasnya. "Aku berangkat dulu, ya. Itu makanan kamu di meja. Jangan lupa kunci pintu kalo pergi." Katanya sembari berlari keluar dari pintu dan berjalan dengan tergesa-gesa.
Beruntungnya jarak apartemen khusus karyawan ke kantor hanya sepuluh menit berjalan kaki. Justru karena alasan itulah, Seana memilih untuk tidak tinggal di rumahnya sendiri, meskipun dia punya rumah. Apartemen milik perusahan sudah cukup nyaman baginya, selain itu dia juga bisa menghemat biaya transportasi.
Seana berlari menuju perusahan dan langsung masuk ke kantor presiden. Saat membuka pintu, dia melihat Sanzio tengah berdiri didekat jendela besar yang tingginya dari lantai hingga langit-langit ruangan. Sinar matahari menerangi wajahnya yang tampan, membuatnya tampak sangat elegan dan berwibawa.
Perlahan, Seana berjalan mendekat dan dengan hormat menyapa. "Selamat pagi, Pak. Apa Bapak perlu saya melakukan sesuatu?."
Sanzio berbalik dan menatap Seana dengan tatapan dinginnya. Seana menduga itu mungkin karena rasa bersalahnya sendiri, tetapi setiap kali Sanzio menatapnya seperti ini, dia selalu merasa bahwa tatapan pria itu menyimpan makna yang lebih dalam.
Untungnya, pria itu hanya menatap sesaat. Sanzio akhirnya mengalihkan pandangannya. "Bawakan dokumen kontrak PT. Cahaya kesini."
Seana terdiam tanpa kata.
Mengapa Sanzio tiba-tiba peduli dengan kontrak itu? Sebelumnya dia tidak pernah peduli dengan kontrak itu. Lagipula, jika dia membutuhkan seseorang untuk mengambilkan dokumen kontrak untuknya, dia bisa meminta seseorang dari departemen hukum untuk mengirimkannya secara langsung. Seana seharusnya sedang beristirahat hari ini, jadi mengapa Sanzio harus membuatnya rela berlari jauh dan datang ke kantor setelah Seana sudah mengambil izin cuti?
Meskipun Seana merasa kesal, dia tidak berani mengeluh didepan Sanzio. Wanita itu pun memilih untuk bergegas pergi ke departemen hukum dan memberikan kontrak kepada Sanzio sesuai yang diminta.
Sanzio mengambil pena dan membuat beberapa modifikasi disana sini. Kemudian dia mengembalikannya kepada Seana. "Secepatnya kamu terapkan perubahan sesuai dengan yang sudah saya tandai itu."
Seana mengangguk, mengerti. "Baik, Pak," dia mengambil kontrak itu dari atas meja kerja Sanzio dan segera kembali ke ruang kerjanya sendiri. Begitu Seana mendudukkan pantatnya, Velia mengiriminya pesan yang menanyakan berapa lama lagi Seana akan pulang dari kantor. Velia ingin mengajak Seana pergi berbelanja bersama hari ini.
Seana yang secara teknis masih dalam masa cuti, jadi dia segera menjawab pesan tersebut. "Aku masih harus ngerjain beberapa perubahan disurat kontrak PT. Cahaya. Tapi, karena ini cuma sedikit, mungkin aku butuh waktu setengah jam."
Seana memperkirakan waktu tiga puluh menit akan cukup untuk menyelesaikan perubahan tersebut. Namun, dia tidak menyangka bahwa akan ada perubahan lebih lanjut setelah itu.
Meskipun Seana memiliki kesabaran yang luar biasa, dia hampir memilih menyerah saja.
Baru setelah dua jam kemudian, Sanzio yang suka memerintah itu akhirnya tampak puas dengan perubahan isi kontrak yang sudah Seana kerjakan. "Bagus. Ini sudah cukup untuk sekarang." Katanya sembari memperhatikan lembar demi lembar kontrak tersebut.
Seana tersenyum tipis, menerima uluran kontrak tersebut. "Pak, maaf sebelumnya. Apa nanti perwakilan dari perusahan cahaya datang untuk tanda tangan di kontrak itu?."
Jika seseorang dari perusahaan cahaya datang untuk menandatangani kontrak itu, maka mustahil baginya untuk menikmati hari liburnya.
Sanzio terdiam sejenak, terlihat sedang memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya buka suara. "Seseorang akan datang mendatangi surat kontrak ini senin depan."
Seana terkejut mendengar jawaban itu, napasnya seakan tersangkut di tenggorokan.
Jika kontrak itu dijadwalkan akan ditandatangani senin depan, mengapa Sanzio memanggil untuk datang ke kantor dihari liburnya? Tetapi meskipun begitu, Seana tetap tidak berani menyuarakan ketidakpuasannya.
Tentu saja, Seana takut dipecat dan setelah dikeluarkan dari perusahan ini, kemungkinan besar perusahan lain akan berpikir dua kali untuk menerimanya bekerja diperusahaan mereka.
Saat bertemu dengan tatapan acuh tak acuh yang Sanzio tunjukkan, Seana dengan tegang bertanya. "Apa ada lagi yang perlu saya lakukan, Pak?."
Bunyi 'klik' dari korek api yang nyalakan dan disusul bau asap rokok yang tercium diudara. Membuat ruangan terasa sedikit menyesakkan.
Jantung Seana berdebar kencang. Dia jelas tahu bahwa Sanzio sedang kesal saat ini, tetapi Seana tidak tahu apa yang membuat pria itu kesal. Ketika Seana sedang dilanda kebingungan, Sanzio tiba tiba buka suara. "Apa tadi chatingan sama pacar kamu?." Tanya Sanzio dengan nada rendah.
Ruang kerja Sanzio dan Seana hanya di batasi sebuah kaca besar, tetapi meski begitu kaca itu bisa diprogram agar terlihat buram, dan agar tidak ada yang bisa melihat apa yang sedang terjadi didalamnya.
Kebetulan, Sanzio tadi melihat Seana yang sedang membalas pesan chat dari Velia yang tidak sabar menunggunya pulang.
"Apa?." Sesaat, Seana terkejut dengan pertanyaan mendadak itu. Tetapi dia justru teringat dengan percakapan canggung ketika dia mengira sedang membentak adiknya di telepon, ternyata justru Sanzio-lah yang menelponnya.
Seana tidak memeriksa nama kontak penelepon dengan benar sebelum mengangkat panggilan dan membentak tanpa berpikir. Seana benar-benar malu saat itu. Tepat ketika Seana hendak menjelaskan, sekaligus meminta maaf, Sanzio kembali buka suara. "Kamu tahu kan, karyawan yang bekerja diperusahaan saya tidak boleh pacaran?."
Sejujurnya, Seana tidak tahu bahwa ada aturan seperti itu, dia berusaha mengingat kembali semua pelatihan dari departemen SDM sebelum bergabung di perusahaan ini, tetapi Seana hampir yakin bahwa aturan ini tidak pernah diberitahukan padanya.
Lagipula, Seana memang tidak sedang menjalin hubungan asmara dengan siapa pun. "Kalau soal itu, bapak tenang aja. Saya ngga punya pacar dan ngga lagi deket sama siapa pun kok, Pak. Dan saya juga belum menikah." tegasnya, merasa lega karena Sanzio tidak membahas ketika Seana membentaknya secara asal tadi.
Anehnya setelah Seana selesai berbicara, suasana mencekik yang sebelumnya terasa, kini telah menghilang.