NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

BAB 12

 BELATI DI BALIK SENYUM SOSIALITA

​Lampu kristal di aula utama Aratama Tower memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun atmosfer di sekitar meja bundar nomor satu terasa mencekam. Bianca memutar gelas kristal berisi Moët & Chandon di jemarinya yang lentik, dihiasi kuku-kuku panjang berwarna merah marun. Matanya yang tajam, dipoles dengan riasan smokey eyes yang dramatis, tidak lepas dari sosok Aisha yang sedang berdiri di depan maket gedung.

​Bagi Bianca, kehadiran Aisha bukan sekadar gangguan estetika di pesta mewahnya; itu adalah penghinaan terhadap hierarki sosial yang ia anut. Di dunia Bianca, nilai seorang wanita ditentukan oleh seberapa mahal gaunnya dan seberapa banyak perhatian pria yang bisa ia kumpulkan. Dan malam ini, seorang wanita yang menutupi seluruh tubuhnya dengan kain gelap justru menjadi pusat gravitasi perhatian Adrian.

​"Tante, apakah Adrian memang selalu mempekerjakan... orang-orang yang eksentrik seperti itu?" tanya Bianca kepada Ibu Widya, ibu Adrian, yang duduk di sampingnya.

​Widya Aratama, wanita dengan sanggul sempurna dan kalung mutiara seharga satu unit apartemen, menyesap tehnya dengan bibir terkatup rapat. "Adrian bilang dia ahli, Bianca. Tapi aku setuju dengamu, ini tampak tidak pantas untuk citra Aratama."

​Melihat dukungan dari calon ibu mertuanya, Bianca bangkit berdiri. Ia merapikan gaun sutra Versace-nya yang memeluk tubuh dengan ketat, lalu melangkah menuju area maket tempat Adrian sedang berbicara dengan dua investor asal Jerman.

​Aisha baru saja selesai menjelaskan sistem filtrasi udara saat Bianca masuk ke dalam lingkaran percakapan itu.

​"Luar biasa sekali," potong Bianca dengan nada yang manis namun beracun. "Desain yang sangat... hijau. Tapi saya jadi penasaran, Nona Aisha. Apakah desain ini terinspirasi dari kebutuhan Anda untuk selalu 'bersembunyi'? Begitu banyak koridor tertutup dan ruang-ruang gelap."

​Adrian menghentikan bicaranya. Ia menatap Bianca dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun. "Bianca, kami sedang membahas teknis. Jika kau tidak punya pertanyaan tentang koefisien beban, sebaiknya kau kembali ke meja dessert."

​Bianca tertawa, suara tawa yang sengaja dibuat nyaring agar didengar oleh tamu di sekitar mereka. "Oh, Adrian, jangan terlalu serius. Saya hanya mencoba mengenal arsitekmu lebih dekat. Sulit sekali menjalin komunikasi dengan seseorang yang wajahnya saja tidak kita ketahui. Bukankah begitu, Tuan-tuan?"

​Dua investor Jerman itu tampak canggung, mencoba tersenyum sopan tanpa ingin terlibat dalam drama domestik.

​Bianca melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Aisha, menembus batas ruang pribadi yang biasa dijaga ketat oleh Aisha. "Katakan padaku, Aisha. Di balik kain ini, apakah ada sesuatu yang memalukan? Luka bakar? Atau mungkin kau hanya terlalu tidak percaya diri untuk bersaing dengan wanita-wanita cantik di ruangan ini?"

​Aisha menarik napas panjang. Ia bisa merasakan detak jantungnya meningkat, bukan karena takut, tapi karena merasa lelah dengan serangan yang dangkal. Ia menatap Bianca tepat di matanya—satu-satunya bagian wajahnya yang terlihat, namun mampu memancarkan otoritas yang luar biasa.

​"Nona Bianca," suara Aisha terdengar jernih dan berwibawa, menggema pelan di antara kerumunan. "Kecantikan adalah hak prerogatif setiap wanita. Beberapa memilih untuk memamerkannya sebagai bentuk ekspresi, dan saya memilih untuk menyimpannya sebagai bentuk privasi. Bagi saya, wajah saya adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk menjadi konsumsi publik. Dan sejauh yang saya tahu, kontrak saya dengan Aratama Group adalah tentang kemampuan intelektual saya, bukan tentang seberapa baik saya bisa menghias ruangan ini dengan fisik saya."

​Beberapa tamu di sekitar mereka mulai berbisik, terkesan dengan ketenangan Aisha.

​Bianca merasa wajahnya memanas. Ia merasa baru saja ditampar secara verbal di depan publik. "Berharga? Itu kata yang sangat halus untuk menyebut 'kuno'. Di duniaku, wanita yang bersembunyi adalah wanita yang tidak punya apa-apa untuk ditawarkan."

​"Dunia Anda mungkin sempit jika hanya berisi apa yang bisa ditangkap oleh mata, Nona," balas Aisha dengan nada yang hampir terdengar seperti rasa kasihan.

​"Cukup, Bianca!" Suara Adrian kini terdengar seperti guntur yang tertahan. Ia melangkah ke tengah, berdiri tepat di antara Aisha dan Bianca. Tubuh tegapnya menjadi pembatas yang nyata. "Kau sedang mempermalukan dirimu sendiri."

​"Aku mempermalukan diri sendiri? Aku mencoba menjagamu dari pengaruh asing ini, Adrian!" pekik Bianca pelan namun penuh emosi. "Ibumu juga merasa ini tidak benar!"

​Adrian melirik ke arah meja ibunya, lalu kembali menatap Bianca. "Ibuku tidak menjalankan perusahaan ini. Aku yang menjalankannya. Dan di perusahaanku, standar kecantikan tertinggi adalah kejujuran dalam bekerja dan ketajaman dalam berpikir. Sesuatu yang tampaknya tidak kau miliki malam ini."

​"Kau membelanya lagi?" Bianca menunjuk Aisha dengan jari gemetar. "Wanita ini bahkan tidak mau menyentuh tanganmu, Adrian! Dia tidak akan pernah bisa mendampingimu di depan media tanpa membuatmu tampak konyol!"

​"Maka aku akan dengan senang hati terlihat konyol di samping wanita paling cerdas yang pernah kutemui," sahut Adrian tanpa ragu. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, mengejutkan dirinya sendiri, namun ia tidak menyesalinya.

​Aisha terpaku di belakang punggung Adrian. Ia bisa melihat bahu pria itu yang tegang, merasakan kemarahan yang meluap demi membelanya. Ada sesuatu yang hangat menjalar di hatinya—sesuatu yang ia tahu berbahaya.

​"Keluar, Bianca. Sebelum aku memanggil keamanan untuk mengantarmu ke mobil," perintah Adrian dingin.

​Bianca menatap Adrian dengan kebencian murni, lalu beralih ke Aisha. "Kau pikir kau menang? Kau hanya sebuah tren sementara bagi Adrian. Begitu dia bosan dengan teka-tekimu, kau akan dibuang kembali ke bayang-bayang tempatmu berasal."

​Dengan hentakan kaki yang kasar, Bianca membalikkan badan dan pergi meninggalkan aula, diikuti oleh tatapan sinis dari beberapa kolega bisnis Adrian yang lebih menghargai etika daripada status sosial.

​Keheningan sesaat terjadi sebelum Adrian berbalik menghadap Aisha. Kerumunan mulai kembali ke percakapan masing-masing, meski sesekali masih melirik ke arah mereka.

​"Kau tidak apa-apa?" tanya Adrian, suaranya melunak dalam sekejap.

​Aisha menunduk, merapikan khimarnya yang sedikit tertiup angin dari sistem pendingin ruangan. "Saya tidak apa-apa, Pak. Tapi perdebatan ini... ini akan menjadi masalah bagi Anda dan ibu Anda."

​"Jangan khawatirkan ibuku. Dia hanya terjebak pada tradisi lama yang tidak masuk akal," Adrian mengembuskan napas panjang. Ia menatap Aisha, ingin sekali menyentuh bahunya untuk menenangkan, namun ia menahan diri. "Maaf kau harus mendengar kata-kata kasarnya."

​"Dia hanya mengatakan apa yang dipikirkan dunia tentang saya, Pak Adrian. Saya sudah kebal," ucap Aisha pelan.

​"Dunia salah," tegas Adrian. "Dan aku tidak peduli pada dunia yang tidak bisa melihat apa yang kulihat."

​"Dan apa yang Anda lihat, Pak?" tanya Aisha, memberanikan diri menatap mata Adrian yang dalam.

​Adrian terdiam. Ia ingin menjawab bahwa ia melihat masa depan yang lebih baik. Ia ingin menjawab bahwa ia melihat seorang wanita yang membuat logikanya yang keras menjadi lembut. Namun, ego dan gengsinya masih menahan kata-kata itu di tenggorokan.

​"Aku melihat mitra bisnis yang paling kompeten," jawab Adrian akhirnya, kembali ke topeng profesionalnya meski suaranya sedikit goyah. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Bianca, mengganggu aset terbaikku."

​Aisha mengangguk, sedikit kecewa namun juga lega. "Terima kasih, Pak. Saya rasa saya sebaiknya pulang sekarang. Acara ini sudah cukup menguras tenaga saya."

​"Aku akan mengantarmu," tawar Adrian cepat.

​"Tidak perlu, Pak. Saya sudah memesan taksi. Dan saya rasa, kehadiran Anda di sini jauh lebih dibutuhkan untuk meredakan amarah Ibu Widya."

​Adrian hanya bisa menatap punggung Aisha yang menjauh dengan langkah yang tetap anggun dan tenang. Ia berdiri di tengah kemewahan pesta itu, merasa bahwa meskipun ia adalah pemilik gedung ini, dialah yang sebenarnya sedang terjebak dalam bayang-bayang, sementara Aisha adalah cahaya yang berjalan keluar menuju kebebasan.

​Di pojok ruangan, Widya Aratama memperhatikan putranya dengan tatapan tajam. Ia tahu bahwa Bianca gagal, dan itu artinya, ia sendiri yang harus turun tangan untuk menyingkirkan "bayangan hitam" itu dari kehidupan Adrian.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!