NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:39k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Mayat Berbicara Lebih Keras dari yang Hidup

Cahaya matahari pagi yang pucat menerobos celah-celah anyaman bambu di pesanggrahan rahasia itu, membawa aroma tanah basah dan sisa embun.

Sawitri baru saja selesai membersihkan jemarinya dari sisa bau obat-obatan saat suara derap kuda yang terburu-buru membelah kesunyian hutan perbatasan.

Seorang pria dengan pakaian lurik melompat turun, napasnya tersengal seolah paru-parunya nyaris meledak.

"Ndara... Ndara Ayu," panggil pria itu, tersungkur di depan tangga pesanggrahan. "Kulo utusan Adipati Sasongko. Ada temuan di Kali Tuntang, Ndara. Mayat. Kondisinya mboten lumrah."

Sawitri hanya menatap pria itu datar, tanpa riak keterkejutan sedikit pun di wajahnya. Ia mengambil secarik kain bersih, mengelap tangannya dengan gerakan yang sangat tenang.

Di belakangnya, Nyi Inggit langsung muncul dengan wajah pucat pasi, meremas selendangnya kuat-kuat.

"Napa malih, Gusti? Baru saja kita selamat dari kejaran prajurit Demak, sekarang sudah ada urusan mayat," keluh Nyi Inggit, suaranya gemetar. "Ndara Ayu, mboten pareng ke sana. Itu wilayah tak bertuan, banyak begal dan sisa-sisa prajurit bayaran."

"Nyi, mayat itu mboten bisa membegal saya," sahut Sawitri pendek sambil meraih tas kulit kecilnya. "Justru orang hidup yang harus diwaspadai. Di mana lokasinya?"

"Di pinggir sungai, Ndara. Dekat tikungan air yang dalam," jawab si utusan dengan suara serak. "Luka di lehernya... mboten kados sabetan pedang biasa. Adipati bilang hanya Panjenengan yang bisa mengerti."

Cakrawirya muncul dari balik pintu kayu, sudah mengenakan pakaian ringkas dengan keris yang terselip kokoh di pinggangnya. Ia memperhatikan interaksi itu dengan tatapan yang sulit dibaca, namun tangannya sudah memberi isyarat pada kusir untuk menyiapkan kuda.

"Kulo ikut," ucap Cakrawirya singkat, suaranya rendah namun penuh otoritas.

"Panjenengan punya urusan lain, Raden," balas Sawitri tanpa menoleh, sibuk memeriksa stok jarum dan pisau kecilnya.

"Kulo hanya butuh pengawal biasa, mboten perlu seorang komandan pasukan bayangan."

"Justru karena kulo komandan, kulo tahu bahwa mayat di perbatasan mboten pernah berarti hal baik," Cakrawirya melangkah mendekat, aroma kayu cendana dan keringat tipis menguar dari tubuhnya.

"Ayo. Jangan buang waktu untuk berdebat soal protokol sing mboten kau pedulikan itu."

Mereka berangkat dalam keheningan yang tegang, membelah hutan jati yang meranggas di perbatasan Demak-Mataram.

Perjalanan itu memakan waktu hampir satu jam hingga aroma amis yang khas mulai menyerbu indra penciuman mereka.

Sawitri secara otomatis mengatur napasnya, sebuah refleks dari kehidupan lamanya saat mendekati tempat kejadian perkara.

Sungai itu mengalir tenang, namun di tepiannya, beberapa penduduk desa berdiri menjauh dengan wajah ketakutan. Adipati Sasongko tampak berdiri di bawah pohon beringin besar, wajahnya terlihat lebih tua sepuluh tahun dari terakhir kali Sawitri melihatnya.

"Ndara Ayu," sambut Sasongko dengan nada lega yang dipaksakan. "Kulo mboten wani menyentuhnya lebih jauh. Wonten sing aneh dengan polanya."

Sawitri turun dari kuda tanpa bantuan siapa pun, mengabaikan uluran tangan Cakrawirya.

Ia melangkah menuju mayat yang tertutup daun pisang di atas pasir sungai yang basah.

Dengan gerakan mantap, ia menyingkap daun itu.

Sesosok mayat pria, kemungkinan usia tiga puluhan, kulitnya sudah mulai memucat dan membengkak karena air.

Lividitas pascamati di bagian punggung menunjukkan dia meninggal dalam posisi terlentang sebelum akhirnya dibuang ke sungai, batin Sawitri cepat. Matanya menyipit saat melihat ke arah leher.

"Nggih, ini memang mboten biasa," gumam Sawitri, berjongkok tanpa rasa jijik sedikit pun.

"Apa yang kau temukan?" Cakrawirya berdiri di belakangnya, menjaga jarak namun tetap waspada.

"Lihat insisi ini," Sawitri menunjuk luka horizontal di bawah jakun dengan ujung jemarinya yang terbungkus kain tipis. "Satu sayatan bersih. Kedalamannya konstan. Niki mboten dilakukan oleh prajurit yang sedang kalap atau perampok amatir."

"Maksudmu?" tanya Sasongko penasaran.

"Seseorang dengan pengetahuan anatomi yang sangat presisi," jawab Sawitri dingin. "Pelakunya tahu persis letak arteri karotis dan vena jugularis. Dia memotongnya tanpa merusak trakea secara berlebihan di awal, agar korban tidak bisa berteriak tapi darah langsung memancar keluar."

Sawitri terdiam sesaat, jantungnya tiba-tiba berdenyut lebih kencang, bukan karena takut, tapi karena sebuah pengenalan yang mengerikan.

Ia menyentuh pinggiran luka itu, merasakan pola sayatan kecil di bagian ujung yang berbentuk seperti kait.

*Pola ini... teknik 'Sabetan Merak'.*

Ingatan tubuh Raden Ajeng Sawitri tiba-tiba membanjirinya seperti air bah yang dingin. Ia melihat bayangan seorang wanita cantik, ibu kandung tubuh ini, tergeletak di lantai kamar dengan darah yang menggenang.

Saat itu, semua orang bilang ibunya jatuh tertusuk hiasan sanggulnya sendiri karena kecelakaan. Namun, di balik kalung emas yang melingkar di leher jenazah ibunya dulu, Sawitri kecil sempat melihat pola sayatan yang sama.

"Ndara Ayu? Panjenengan mboten apa-apa?" suara Sasongko memecah lamunan Sawitri.

Sawitri berdiri tegak, wajahnya kembali menjadi topeng es yang sempurna, meski tangannya sedikit mengepal di samping tubuh. "Kulo mboten apa-apa. Adipati, mayat ini sudah berapa lama di air?"

"Mungkin sejak semalam, Ndara. Penduduk baru menemukannya saat fajar," jawab Sasongko.

"Bawa mayat ini ke tempat tertutup. Kulo butuh melakukan pemeriksaan lebih dalam," perintah Sawitri, nadanya mboten menerima bantahan.

"Tapi Ndara, ini sudah masuk wilayah abu-abu. Jika pihak Demak tahu kita mengambil mayat di sini—"

"Demak mboten bakal peduli pada satu mayat batur kecuali mayat ini membawa pesan," potong Sawitri tajam. "Dan mayat ini sedang bicara sangat keras pada kulo sekarang."

Cakrawirya melangkah maju, menghalangi pandangan penduduk desa yang mulai berbisik-bisik. Ia menatap Sawitri dengan intens, menyadari ada perubahan mikro dalam ekspresi gadis itu—sesuatu yang lebih personal dari sekadar profesionalisme seorang tabib.

"Kau mengenal pola itu, kan?" bisik Cakrawirya tepat di samping telinga Sawitri.

Sawitri menoleh sedikit, menatap mata pangeran itu dengan keberanian yang menantang. "Jika dugaan kulo benar, ibu kulo mboten mati karena sakit seperti yang diceritakan Romo."

"Sawitri, ini berbahaya. Jika kau membuka peti mati yang sudah dikubur sepuluh tahun lalu, kau mboten hanya akan menemukan tulang, tapi juga ular," peringat Cakrawirya pelan.

"Kulo seorang dokter forensik, Raden. Kulo sudah biasa berurusan dengan ular dan ulat di dalam tubuh manusia," balas Sawitri sinis. "Kulo mboten butuh perlindungan, kulo butuh kebenaran. Dan mayat ini adalah kunci yang dikirimkan takdir atau siapa pun itu."

Sawitri kembali menatap mayat itu, otaknya bekerja seperti mesin yang sedang membedah data. Rigor mortis sudah lengkap di seluruh tubuh. Estimasi waktu kematian sepuluh hingga dua belas jam yang lalu. Lokasi pembuangan primer kemungkinan mboten jauh dari sini karena pembengkakan jaringan belum ekstrem.

"Pangeran," panggil Sawitri tanpa menoleh. "Apa Panjenengan punya catatan soal prajurit keraton yang hilang atau 'dibersihkan' dalam satu bulan terakhir?"

Cakrawirya terdiam sejenak, wajahnya mengeras. "Ada beberapa. Kenapa?"

"Karena pria ini mboten mati sendirian," Sawitri menunjuk ke arah kuku mayat yang membiru. "Ada sisa serat kain sutra ungu di bawah kukunya. Sutra jenis itu hanya dipakai oleh selir tingkat tinggi atau keluarga inti kadipaten."

"Sukmawati," gumam Cakrawirya, giginya bergelatuk kecil.

"Mungkin. Atau seseorang yang ingin kita berpikir itu dia," tambah Sawitri rasional.

"Variabelnya terlalu banyak. Namun, satu yang pasti, sayatan ini adalah tanda tangan. Sebuah pesan yang ditujukan untuk siapa pun yang cukup pintar untuk membacanya."

1
Astuti Puspitasari
Apakah salah nulis..yg di maksud istri sultan yg mau ngasih racun di wedang jahe itu Nyai Selir Wetan, ibuknya Jatmiko?
Astuti Puspitasari
Sukmawati itu istrinya Tumenggung Danurejo ibuknya Ratih kan? atau istri Sultan ya? kok aku jadi bingung kak 😄
INeeTha
iya Ka, itu Miss, harusnya jalur distribusi ke kraton dari Danurejan yang diserahkan, makasih. sudah diperbaiki, masih di review. 🙏🙏🙏
Astuti Puspitasari
Sukmawati yang memegang paviluan medis keraton selama ini? kok dia yang menyerahkan? bukankah selama ini dia hanya istri tumenggung?
Darti abdullah
luar biasa
Astuti Puspitasari
selalu sambil tahan nafas ketika baca setiap babnya 😄 seruuu sekali
sahabat pena
yah sesuai dengan analisis mu pangeran.. pangeran angka Wijaya lah.. yg sdh bikin hati tabib ini merasakan nano2 🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
pertahanan nya sdh dibobol.. salah sendiri sultan dikit-dikit masukin ke sel ga langsung dihukum ditempat. sdh tau byk penghianat.. hayukk semangat berangkat penghianat.
gina altira
👍👍👍
gina altira
Sawitri ini tenang banget, yg lain lg ketar ketir
fredai
miris banget nasip kau🤣🤣🤣
sahabat pena
yaelah di kasih senyum joker pangeran perang aja sawitri jantung nya dag dug ser🤣🤣🤣🤣apalagi klo pangeran menyatakan cinta. wkwkwk 🤣🤣🤣 sawitri kesemsem sama pangeran 🤣🤣😱
sahabat pena: iya ya betul kak🤣🤣🤣
total 2 replies
gina altira
Sukmawati blicin bener otaknya itu licik luar biasa.
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "sedih banget pastinya"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "nyalinya tinggi juga ya"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "haha, galak bener sih"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/NosePick/ "lebih bagus yang sekarang atau sebelumnya?"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Toasted/ "belum lega nih pastinya"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Speechless/ "sakit banget tuh pasti, apalagi dipukul bagian belakang kepala"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sly/ "hayooo, coba pikir pakai logika"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!