NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ITEM SURGAWI

PEMBALASAN ITEM SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: PELEBURAN DALAM KEHAMPAAN

Dunia tidak berakhir dengan ledakan bagi Tian Feng, melainkan dengan keheningan yang menyesakkan. Saat petir hitam dari langit menghantam bumi, kesadaran Feng terlempar ke dalam sebuah dimensi yang tidak memiliki arah. Tidak ada atas, tidak ada bawah; hanya ada kegelapan tak berujung yang dipenuhi dengan jutaan garis tulisan emas yang melayang-layang seperti rasi bintang yang jatuh.

Ini adalah Penjara Karma—ruang hampa yang diciptakan oleh hukum alam semesta untuk mengurung mereka yang mencoba mencurangi takdir.

Feng merasa tubuhnya hancur. Bukan sekadar tulang yang patah, melainkan keberadaannya yang mulai memudar. Ia bisa melihat lengannya perlahan menjadi butiran cahaya kelabu. Rasa sakitnya melampaui fisik; itu adalah rasa sakit jiwa yang sedang dipreteli oleh "tagihan" yang tak terbayar.

"Jadi, ini akhirnya," bisik Feng. Suaranya tidak terdengar oleh telinga, melainkan bergema di dalam pikirannya sendiri. "Bunga hutang yang akhirnya membakar habis sang penghutang."

Tiba-tiba, dari kegelapan yang pekat, sesosok entitas muncul. Makhluk itu tidak memiliki wajah, hanya jubah panjang berwarna abu-abu tua yang terbuat dari jalinan asap. Di tangannya, ia memegang sebuah timbangan raksasa yang tidak seimbang.

"Tian Feng, keturunan ketujuh dari aliran Tao sejati," suara makhluk itu berat, bergetar seperti gesekan lempengan tektonik. "Kau telah menggunakan Teknik Arus Balik untuk mencuri esensi langit. Kau telah mengumpulkan beban yang tidak sanggup dipikul oleh dunia fana. Sekarang, saatnya neraca ini diseimbangkan dengan jiwamu."

"Seimbangkan saja," jawab Feng sambil tersenyum pahit, meskipun wajahnya sudah nyaris menghilang. "Tapi sebelum kau mengambil jiwaku, beri tahu aku satu hal. Apakah Surga memang sekejam ini? Memberikan warisan yang hanya akan membunuh pemiliknya?"

Entitas itu terdiam. Timbangannya bergetar. "Surga tidak memberi, ia hanya meminjamkan. Dan kau, Bocah, telah meminjam tanpa niat mengembalikan."

Tepat pada saat entitas itu mengangkat tangannya untuk menghancurkan sisa kesadaran Feng, sesuatu terjadi di dalam Dantian Feng. Kotak giok berisi sisa-sisa Inti Buah Salju yang ia hancurkan tadi meledak. Energi es murni yang sangat dingin memancar keluar, membekukan proses peluruhan jiwa Feng untuk sesaat.

Di saat yang sama, Liontin Giok di dadanya dan Perkamen Rahasia di dalam jubahnya bereaksi terhadap tekanan petir hitam yang masih menyelimuti sisa-sisa eksistensi Feng.

TRANG!

Suara dentingan logam yang sangat keras memecah kesunyian Penjara Karma. Liontin giok itu retak sepenuhnya, namun bukan hancur. Dari retakannya, cahaya hijau zamrud yang sangat murni keluar, menarik Perkamen Rahasia yang kini bercahaya emas terang. Kedua benda itu saling melilit, berputar seperti pusaran naga di tengah kegelapan.

"Apa ini?" entitas penjaga itu mundur selangkah, suaranya mengandung nada keheranan. "Penyatuan benda surgawi?"

Energi petir hitam yang tadinya bertujuan untuk menghancurkan Feng, kini justru tersedot ke dalam pusaran tersebut. Petir itu tidak lagi menjadi penagih hutang, melainkan menjadi "api tempa". Dalam suhu yang mustahil dan tekanan yang bisa menghancurkan gunung, Liontin Giok dan Perkamen itu melebur, menyatu, dan masuk kembali ke dalam tubuh Feng yang sedang sekarat.

Feng merasakan sensasi yang belum pernah ia alami. Seluruh meridiannya, yang sebelumnya penuh dengan residu kimia dan racun karma, kini terbakar habis. Namun, di tempat meridian lama yang hancur, tumbuh jalur energi baru yang berkilau perak kehijauan. Jalur ini jauh lebih lebar, lebih kokoh, dan tampak menyatu seutuhnya dengan daging serta tulangnya.

Pesan Sistem Terintegrasi: Reset Karma Berhasil.

Penyatuan Inti Tao: Selesai.

Status Baru: Alam Pembentukan Tulang Sejati - Tercapai.

Hutang Karma: DIHAPUS. Hukum Keseimbangan: AKTIF.

Feng membuka matanya. Ia tidak lagi melayang sebagai cahaya yang pudar. Ia berdiri tegak di tengah kehampaan. Tubuhnya memancarkan aura yang sangat tenang—bukan aura kultivator yang haus kekuatan, melainkan aura alam itu sendiri. Ia tidak lagi meminjam energi dari sekitarnya; ia telah menjadi bagian dari aliran energi itu.

"Hutangku... dihapus?" Feng menatap tangannya yang kini terlihat sangat bersih, seolah-olah terbuat dari giok yang paling murni.

"Kau tidak menghapus hutangmu, Bocah," suara entitas penjaga itu kini terdengar lebih rendah, hampir seperti bisikan hormat. "Kau telah meleburkan sang penagih ke dalam dirimu. Kau tidak lagi berhutang pada Surga, karena kau telah membawa 'Hukum Surga' di dalam dadamu. Pergilah. Penjara ini tidak bisa lagi menahan seseorang yang memegang neracanya sendiri."

Dengan satu lambaian tangan dari entitas itu, dunia hampa itu pecah berkeping-keping seperti kaca.

Sementara itu, di dunia nyata, matahari pagi hari ketiga Turnamen Awan Berdarah telah naik tinggi. Alun-alun utama penuh dengan spekulasi yang liar. Arena Nomor Empat, tempat di mana seharusnya Tian Feng bertanding di babak penyisihan terakhir, tampak kosong.

Di tribun kehormatan, Tetua Lu tersenyum sangat lebar. Ia sesekali melirik ke arah Guru Lin yang duduk dengan wajah pucat pasi dan tangan yang bergetar hebat saat memegang cangkir tehnya.

"Sepertinya 'Kelinci Percobaan'-mu terlalu takut untuk muncul, Lin," sindir Tetua Lu. "Atau mungkin ledakan kimia semalam benar-benar telah mengubahnya menjadi debu. Sayang sekali, padahal aku ingin melihatnya merangkak di bawah kaki putraku siang ini."

Guru Lin tidak menjawab. Pikirannya melayang pada kawah hangus yang ia temukan di hutan bambu tadi subuh. Tidak ada jejak Feng. Hanya aroma belerang dan sisa energi petir yang sangat kuat. Ia tahu Feng tidak akan lari, tapi ia juga tahu tidak ada orang yang bisa selamat dari sambaran petir hitam yang ia lihat dari kejauhan semalam.

Wasit berdiri di tengah arena, memegang gulungan daftar peserta. "Panggilan ketiga untuk Tian Feng dari Paviliun Pengobatan! Jika dalam sepuluh hitungan peserta tidak muncul, maka lawannya, Lu Chen dari Puncak Disiplin, akan dinyatakan menang WO!"

"Satu!"

"Dua!"

Penonton mulai bersorak. Nama Lu Chen diteriakkan dengan penuh semangat. Lu Chen sendiri sudah berdiri di tengah arena dengan pedang perak terhunus, wajahnya penuh dengan kepuasan yang keji.

"Sembilan!" Wasit mengangkat tangannya. "Sepuluh! Dengan ini, Tian Fen—"

"Tunggu dulu! Aduh, jangan buru-buru. Jalannya cukup menanjak, kau tahu?"

Sebuah suara malas dan serak memotong teriakan wasit. Seluruh alun-alun mendadak sunyi. Dari arah gerbang masuk yang tertutup kabut tipis, sesosok pemuda berjalan perlahan.

Itu adalah Tian Feng.

Namun, ada yang berbeda. Ia tidak lagi mengenakan jubah abu-abu yang kotor dan robek. Ia mengenakan jubah kain kasar berwarna biru gelap yang sangat sederhana. Wajahnya tidak lagi pucat dan penyakitan; kulitnya tampak sehat, meskipun matanya masih terlihat mengantuk seperti biasanya. Yang paling mencolok adalah ketenangannya. Ia berjalan seolah-olah sedang berjalan-jalan di taman, bukan menuju arena hidup-mati.

Guru Lin hampir menjatuhkan cangkirnya. "Bocah itu... auranya..."

Lu Chen menyipitkan mata. "Kau masih hidup? Bagaimana mungkin?"

Feng melangkah masuk ke dalam arena, berdiri tepat di depan Lu Chen. Ia menguap lebar, lalu menggaruk lehernya yang kini memiliki sebuah tanda kecil berbentuk pusaran giok yang tersembunyi di balik kerah jubahnya.

"Maaf terlambat. Semalam saya ada urusan dengan 'penagih hutang' yang sangat cerewet," kata Feng santai. Ia tidak lagi membawa botol-botol kimia atau bubuk racun. Ia hanya berdiri dengan tangan kosong.

"Kau tampak lebih bersih, Feng," desis Lu Chen, ia merasakan instingnya berteriak waspada, sesuatu yang belum pernah terjadi saat menghadapi Feng sebelumnya. "Tapi itu tidak akan mengubah hasil hari ini. Aku akan membedahmu untuk melihat apa yang kau dapatkan dari ledakan semalam."

"Silakan coba," Feng tersenyum tipis. "Tapi saya sarankan, gunakan seluruh kekuatanmu sejak awal. Saya ingin segera menyelesaikan ini agar bisa tidur siang tepat waktu."

Wasit, yang sempat tertegun, segera berdeham. "Karena peserta telah hadir, pertandingan babak penyisihan terakhir antara Tian Feng dan Lu Chen dimulai!"

Ting!

Lu Chen tidak membuang waktu. Ia langsung melepaskan teknik andalannya, Pedang Bulan Pemecah Jiwa. Energi perak melesat dari pedangnya, membentuk sabit raksasa yang membelah lantai batu arena menuju Feng. Serangan ini jauh lebih kuat daripada yang ia gunakan di hutan bambu semalam.

Feng tidak melakukan Langkah Bayangan Mabuk. Ia hanya berdiri diam. Saat sabit energi itu berada hanya satu inci dari dadanya, Feng mengangkat satu jarinya.

DING!

Suara itu terdengar seperti lonceng kuil yang jernih. Sabit energi yang bisa membelah baja itu mendadak berhenti, hancur menjadi butiran cahaya perak, dan—yang membuat semua orang terkesiap—energi itu bukannya menghilang, malah terserap ke dalam ujung jari Feng dengan halus.

Tidak ada ledakan. Tidak ada benturan. Hanya penyerapan yang sempurna.

"Apa?!" Lu Chen terbelalak. "Kau... kau menelan energiku?"

Feng menghela napas, merasakan energi itu mengalir masuk ke Dantiannya tanpa hambatan karma sedikit pun. Penyatuan Giok dan Perkamen telah memberinya Seni Transmutasi Sunyi—kemampuan untuk menetralkan dan menyerap serangan lawan secara instan.

"Energi bulanmu agak sedikit hambar, Kakak Senior Lu," kata Feng sambil melangkah maju satu langkah. "Mungkin kau kurang bermeditasi di bawah sinar matahari."

Lu Chen yang panik melepaskan serangkaian tebasan cepat. "Mati! Mati! Mati!"

Feng bergerak di antara tebasan itu dengan gerakan yang sangat minim namun efektif. Ia tidak lagi terlihat seperti orang mabuk; ia bergerak seperti air yang mengalir di antara celah batu. Setiap kali pedang Lu Chen nyaris mengenainya, Feng hanya memiringkan tubuhnya sedikit, dan setiap kontak kecil antara pedang dan jubah Feng menyebabkan Lu Chen merasakan sensasi aneh seolah-olah kekuatannya sedang dihisap keluar.

Di tribun, para tetua mulai berdiri. Tetua Agung, yang selama ini hanya diam, kini mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dia tidak menggunakan Chi... dia menggunakan Hukum Alam. Siapa bocah ini sebenarnya?"

Han Shuo, yang memperhatikan dari tribun klan Han, mengepalkan tangannya. "Identitas aslinya... dia bukan sekadar murid medis. Dia adalah Taois yang sudah mencapai pemurnian tingkat tinggi. Tapi bagaimana mungkin dalam satu malam?"

Kembali di arena, Lu Chen sudah kehabisan napas. Seluruh cadangan Chi-nya hampir habis hanya karena mencoba menyentuh Feng. Ia tampak frustrasi dan mulai kehilangan akal sehatnya.

"Ini tidak mungkin! Aku adalah jenius Klan Lu! Kau hanya sampah!" Lu Chen mengeluarkan sebuah pil merah dari sakunya—Pil Pembakar Darah—dan hendak menelannya untuk mendapatkan kekuatan instan.

Namun, sebelum pil itu menyentuh bibirnya, Feng sudah berada di depannya. Kecepatannya tidak bisa ditangkap oleh mata fana. Feng memegang pergelangan tangan Lu Chen dengan lembut.

"Cukup, Kakak Senior. Jangan meminjam sesuatu yang tidak bisa kau bayar," bisik Feng.

Feng menyentil pergelangan tangan Lu Chen. Seketika, Lu Chen merasakan seluruh meridiannya mati rasa. Pil di tangannya jatuh ke lantai dan hancur. Lu Chen terjatuh berlutut, menatap Feng dengan ketakutan yang murni. Di mata Lu Chen, Feng tidak lagi tampak seperti manusia; ia tampak seperti jurang yang tak berdasar yang siap menelan apa pun.

Feng berbalik dan berjalan menuju wasit yang masih membeku. "Saya rasa dia sudah tidak bisa melanjutkan. Apakah saya sudah bisa pergi sekarang? Saya benar-benar mengantuk."

Wasit melihat ke arah Lu Chen yang gemetar di lantai, lalu ke arah Feng. "Pemenang... Tian Feng!"

Hening. Tidak ada sorakan seperti kemarin. Hanya keheningan yang penuh dengan rasa hormat dan ketakutan. Tian Feng telah berubah. Ia bukan lagi anomali medis; ia adalah misteri yang membuat seluruh sekte gemetar.

Saat Feng melewati tribun Guru Lin, ia berhenti sejenak dan melemparkan kantong kecil berisi Buah Salju yang sudah hancur namun energinya masih tersisa. "Guru, gunakan ini untuk sup malam ini. Saya ingin sesuatu yang segar."

Guru Lin hanya bisa mengangguk pelan, menatap punggung muridnya dengan perasaan campur aduk antara bangga dan ngeri.

Namun, saat Feng hendak keluar dari alun-alun, langkahnya terhenti. Di atas gerbang keluar, berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah hitam berlambang naga emas. Kehadirannya membuat seluruh udara di alun-alun terasa berat, seolah-olah gravitasi meningkat sepuluh kali lipat.

Itu adalah Tetua Agung Sekte Kunci Langit, orang yang selama ini hanya menjadi legenda.

"Anak muda," suara Tetua Agung itu bergetar dengan kekuatan yang bisa menghancurkan jiwa. "Simpan tidur siangmu. Kau punya penjelasan yang harus diberikan di Aula Puncak Utama... sekarang."

Feng menghela napas panjang, menatap langit biru dengan wajah datar. "Satu masalah selesai, masalah lain datang. Surga, kau benar-benar tidak ingin melihatku malas-malasan, ya?"

Tian Feng dipanggil menghadap otoritas tertinggi sekte. Apakah ia akan dipaksa mengungkap identitas Tao-nya? Dan apa yang akan dilakukan Klan Lu setelah putra mahkota mereka dipermalukan habis-habisan di depan publik?

1
Raden Saleh
Bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!