NovelToon NovelToon
Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."

Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..

Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.

Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Kontrak Es

Bab 2: Kontrak Es

Pagi di kediaman Wijaya dimulai dengan ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Kenzi berdiri di selasar lantai dua, tepat di depan pintu kamar Alana. Tubuhnya tegak, kedua tangannya tertaut di depan—posisi istirahat di tempat yang sempurna—namun matanya bekerja seperti pemindai laser.

Dia tidak hanya melihat kemewahan; dia melihat titik lemah. Langit-langit setinggi lima meter dengan ornamen gips itu adalah tempat persembunyian sempurna untuk mikrofon induksi. Lantai parket jati ini akan berderit jika ditekan dengan beban lebih dari 70 kilogram di sudut tertentu.

Struktur yang buruk untuk pertahanan internal, batin Kenzi sinis. Jika aku diperintahkan meledakkan tempat ini, aku hanya butuh tiga titik muatan pada pilar penyangga utama di lantai bawah. Seluruh kemegahan ini akan runtuh dalam empat detik.

Pintu kamar terbuka dengan sentakan kasar. Alana muncul dengan gaun selutut berwarna biru navy, rambutnya dibiarkan tergerai berantakan, dan wajahnya menunjukkan permusuhan yang belum padam sejak semalam.

"Masih di sini?" tanya Alana dingin. Dia menatap Kenzi dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan. "Kira-kira berapa gaji yang Ayah berikan sampai kau rela berdiri seperti patung penjaga kuburan pagi-pagi begini?"

"Cukup untuk membuat saya tetap profesional, Nona," jawab Kenzi tanpa menoleh. Pandangannya lurus ke depan, melewati bahu Alana.

Alana mendengus. Dia mulai berjalan menuju tangga, dan Kenzi mengikuti dengan jarak tepat dua meter di belakangnya. Kecepatan langkah Kenzi sinkron dengan Alana, seolah-olah mereka dihubungkan oleh tali yang tak terlihat.

"Berhenti menguntitku! Aku mau ke ruang makan," bentak Alana sambil berbalik mendadak.

Kenzi berhenti seketika. Jarak dua meter itu tidak berkurang satu sentimeter pun. "Tugas saya adalah memastikan Anda sampai di meja makan dalam keadaan hidup. Mengingat insiden gerbang belakang semalam, tingkat ancaman Anda naik ke level kuning."

Alana menyipitkan mata, merasa terhina oleh logika robotik pria itu. "Level kuning? Kau pikir aku ini objek simulasi? Dengar, Kenzi—atau siapa pun namamu—aku punya penawaran. Aku akan memberimu uang dua kali lipat dari gaji bulananmu jika kau pergi sekarang, buat laporan palsu bahwa aku sangat sulit dikawal, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku."

Kenzi menatap mata Alana untuk pertama kalinya pagi itu. Tidak ada binar keserakahan, tidak ada keraguan. Hanya kekosongan yang membuat Alana bergidik.

"Kontrak saya bukan dengan uang Anda, Nona. Kontrak saya adalah dengan keselamatan Anda. Dan dalam dunia saya, kontrak hanya berakhir dengan dua cara: misi selesai, atau kematian."

"Kau gila," desis Alana. "Kau benar-benar psikopat yang terobsesi pada aturan."

"Saya menyebutnya efisiensi," balas Kenzi datar. "Sekarang, silakan lanjutkan perjalanan Anda. Omelet Anda akan dingin dalam tiga menit, dan Tuan Wijaya tidak suka menunggu."

Di ruang makan, Tuan Wijaya sudah duduk dengan koran digital di tangannya. Begitu melihat Kenzi masuk di belakang putrinya, dia mengangguk puas.

"Duduk, Alana. Kenzi, kau juga bisa bergabung atau berjaga di area perimeter dalam, sesukamu," ujar Wijaya.

"Saya lebih memilih sudut ruangan, Tuan. Sudut pandang 180 derajat lebih efektif untuk memantau pintu masuk dan jendela samping," jawab Kenzi. Dia mundur ke sudut ruangan, berdiri dalam diam, menjadi bagian dari bayangan.

Alana membanting garpunya ke piring porselen. "Ayah, dia mengikutiku sampai ke depan pintu kamar mandi. Ini gila! Aku merasa seperti tahanan di rumah sendiri."

"Dia melindungimu, Alana," sahut Wijaya tanpa mengalihkan pandangan dari beritanya. "Kemarin, kantor cabang kita di Surabaya disatroni orang tak dikenal. Mereka mencari data keluarga. Kenzi adalah investasi terbaikku saat ini."

Kenzi mendengarkan setiap kata dengan teliti. Data keluarga. Itu artinya organisasi sudah mulai bergerak di lini kedua. Sambil berdiri diam, Kenzi melakukan analisis struktur bangunan melalui monolog internal yang dingin.

Pintu kaca di sebelah kiri Tuan Wijaya adalah kaca tempered standar. Sekali tembak dengan kaliber .45, seluruh ruangan ini akan terekspos. Aku harus menyarankan pemasangan film antipeluru minggu depan. Tapi, jika aku melakukan itu, aku akan mempersulit timku sendiri untuk masuk nanti.

Inilah dilema yang sebenarnya. Kenzi sedang membangun benteng untuk orang yang harus dia hancurkan. Dia memastikan targetnya tetap aman, hanya agar dia sendiri yang bisa menarik pelatuknya di waktu yang tepat.

"Kenzi," suara Wijaya memecah lamunannya. "Hari ini Alana ada jadwal di kampus. Aku ingin kau memastikan tidak ada satu pun orang asing yang mendekat dalam radius lima meter."

"Dimengerti, Tuan."

Alana berdiri, wajahnya penuh skema baru. "Oh, jangan khawatir, Ayah. Aku akan memastikan 'pengawal hebat' ini mendapatkan pengalaman kampus yang tidak akan pernah dia lupakan."

Gadis itu melirik Kenzi dengan senyum menantang—jenis senyum yang menjanjikan masalah. Kenzi hanya merespons dengan anggukan kecil yang kaku. Baginya, provokasi Alana hanyalah kebisingan latar belakang. Yang jauh lebih penting adalah mendeteksi siapa yang saat ini sedang mengawasi rumah ini dari luar tembok tinggi itu.

Saat mereka menuju mobil limosin di depan lobi, Alana sengaja menjatuhkan kopinya ke arah sepatu Kenzi. Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat, Kenzi menggeser kakinya satu inci, membuat cairan hitam itu tumpah sepenuhnya di lantai marmer yang bersih.

"Aduh, maaf. Tanganku licin," ujar Alana dengan nada yang dibuat-buat, meski matanya berkilat senang.

Kenzi menatap tumpahan kopi itu, lalu menatap Alana. "Reaksi motorik Anda melambat, Nona. Mungkin karena kurang tidur akibat mencoba memanjat gerbang semalam. Saya sarankan konsumsi vitamin B kompleks untuk menjaga koordinasi tangan."

Alana ternganga. Dia mengharapkan kemarahan, atau setidaknya rasa kesal. Tapi pria ini justru memberinya saran medis dengan wajah yang datar seperti papan penggilasan.

"Kau benar-benar tidak punya perasaan, ya?" tanya Alana, suaranya merendah karena frustrasi.

"Perasaan adalah variabel yang tidak stabil, Nona. Dalam profesi saya, perasaan hanya akan membuat Anda terbunuh," jawab Kenzi sambil membukakan pintu mobil untuknya.

Alana masuk ke mobil dengan hentakan kasar. Begitu pintu tertutup, Kenzi tidak langsung masuk ke kursi depan. Dia berdiri di samping mobil selama lima detik, matanya memindai deretan pohon di seberang jalan.

Di sana.

Pantulan cahaya kecil dari lensa kamera di balik rimbunnya pohon kamboja. Seseorang sedang mengambil gambar. Bukan dari organisasinya—teknik penyamarannya terlalu amatir. Ini adalah pihak ketiga. Musuh bisnis Wijaya.

Kenzi masuk ke kursi penumpang depan di samping sopir. "Jalan," perintahnya singkat.

"Ada masalah, Pak Kenzi?" tanya sopir itu dengan nada segan.

"Tidak ada yang tidak bisa saya tangani," jawab Kenzi.

Sambil mobil meluncur keluar dari gerbang, Kenzi membuka ponsel terenkripsinya di bawah dasbor. Dia mengirimkan satu pesan singkat ke pusat data organisasinya: Target sedang dipantau oleh faksi amatir. Saya akan membiarkan mereka melakukan langkah pertama untuk menguji reaksi keamanan Wijaya sebelum saya mengambil alih.

Di kursi belakang, Alana menatap punggung kaku Kenzi melalui kaca spion tengah. Dia merasa seperti sedang berhadapan dengan dinding es yang mustahil ditembus. Namun, Alana Wijaya bukan tipe wanita yang mudah menyerah. Jika pria ini adalah es, maka dia akan menjadi api yang membakarnya.

Dia tidak tahu bahwa es yang sedang dia hadapi bukanlah es biasa, melainkan gunung es yang di bawah permukaannya menyimpan pisau tajam yang siap merobek hidupnya dalam sekejap.

Selamat datang di duniaku, Nona Muda, batin Kenzi saat melihat bayangan Alana di spion. Semoga Anda cukup kuat saat kebenaran itu akhirnya terungkap.

1
Cut Founna
terimakasih😍
Dewa Naga 🐲🐉
awal yg menarik.....👍
Dewa Naga 🐲🐉
cerita yg menarik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!