NovelToon NovelToon
Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Younglord

Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.

Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.

Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.

Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.

Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

Lantai arena bergetar lebih hebat saat Tingkat 3 dimulai. Dari balik kabut sihir, muncul sesosok Armored Bear setinggi tiga meter dengan baju zirah baja hitam yang melekat di dada dan bahunya.

Beruang itu menggeram, menciptakan tekanan udara yang membuat jubah Leon berkibar.

Leon segera mengaktifkan Appraisal Eye.

...[ MONSTER: ARMORED BEAR ]...

...[ TIPE: PETARUNG ]...

...[ KEKUATAN: 26 ]...

...[ KETAHANAN: 28 ]...

Leon mendecit pelan. Statistik monster ini berada di atasnya. Jika ia terus mengadu otot seperti sebelumnya, ia bisa hancur. Beruang itu menerjang maju, mengayunkan cakar raksasanya yang dibalut energi mana.

DHUARR!

Lantai arena hancur berkeping-keping akibat hantaman cakar tersebut. Leon berhasil melompat mundur, namun gelombang kejutnya membuat dadanya terasa sesak.

Monster itu sangat cepat bagi makhluk seukurannya. Leon mulai terdesak, terus menghindar sementara cakar monster itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.

"Dia mulai terdesak," gumam salah satu murid di luar dengan nada lega. "Sudah kuduga, Rank D punya batas."

Kaizen tertawa kecil. "Melihatnya lari-lari seperti tikus itu cukup menghibur."

Namun, di tengah tekanan itu, mata Leon berkilat tajam. Ia tidak lagi punya pilihan selain menggunakan kemampuannya.

"Phantom Step."

Seketika, tubuh Leon menjadi kabur. Saat beruang itu kembali mengayunkan cakarnya secara horizontal, tubuh Leon seolah terbelah menjadi dua bayangan. Cakar itu hanya menembus udara kosong.

Sret! Sret!

Dalam sekejap mata, Leon sudah berada di belakang tengkuk sang beruang. Gerakannya begitu cepat hingga menciptakan efek bayangan yang tertinggal di udara.

BOOM!

Leon menghantamkan tinjunya ke titik lemah di celah zirah leher beruang itu. Monster raksasa itu meraung kesakitan, tubuhnya terjerembap ke depan sebelum akhirnya hancur menjadi debu.

Suasana di luar arena mendadak sunyi senyap. Kecepatan yang baru saja diperlihatkan Leon sama sekali tidak masuk akal bagi seorang Rank D.

"Apa... apa itu tadi?" tanya seorang murid dengan suara bergetar. "Dia menghilang?"

Thalia sampai menutup mulutnya dengan tangan, sementara Mathias menyipitkan mata dengan serius. "Itu bukan sekadar kecepatan fisik. Dia menggunakan teknik langkah yang sangat tinggi," bisik Mathias pelan.

Di tribun kehormatan, Profesor Seraphina hampir berdiri dari kursinya. "Teknik itu!!"

Grandmaster Alaric matanya yang bijak menatap lurus ke arah Leon yang masih berdiri tenang di tengah arena, seolah baru saja melakukan pemanasan ringan.

Waktu di artefak mencatat: 00:05:10.

Lantai arena kembali bergemuruh, bersiap untuk Tingkat 4 yang legendaris.

Udara di arena mendadak berubah. Suhu turun drastis, disusul dengan munculnya gumpalan asap hitam yang membentuk sosok kerangka melayang dengan jubah compang-camping.

​Lich Apprentice.

​Monster tipe sihir tingkat menengah itu mengangkat tongkat kayunya, memicu lingkaran sihir ungu di udara. Sesuai sistem Tingkat 4, Leon yang terdaftar sebagai Swordsman harus menghadapi lawan yang menyerang dari jarak jauh.

​Leon menghela napas pendek. "Main jauh-jauh ya?"

​Ia menggerakkan tangannya ke samping. Dalam sekejap, sebuah pedang bermata dua yang berkilau muncul begitu saja di genggamannya.

​"Apa?!" teriak murid-murid di luar. "Cincin penyimpanan lagi? Dia juga punya?!"

​"Tunggu, bukankah alat ruang dimensi hanya bisa digunakan oleh mereka yang memiliki kapasitas mental Rank A?" bisik yang lain dengan wajah pucat.

​Mereka tidak tahu bahwa Leon hanya mengambilnya dari inventory sistem. Bagi mereka, Leon baru saja menunjukkan bukti bahwa kekuatan mentalnya jauh melampaui Rank D yang tertulis di papan.

​Wush! Wush!

​Lich itu menghujani Leon dengan panah es dan bola api secara beruntun. Leon berlari, namun serangan itu terlalu rapat.

​"Shield."

​Seketika, sebuah kubah cahaya transparan menyelimuti tubuh Leon. Serangan sihir itu meledak tepat di permukaan perisai, namun Leon tidak bergeming.

​Di tribun kehormatan, Profesor Seraphina benar-benar berdiri dari kursinya. "Dual Class?! Dia menggunakan sihir pelindung saat tangannya memegang pedang?"

​Grandmaster Alaric menyipitkan mata, raut wajahnya yang tenang kini tampak serius. "Seorang Swordsman yang bisa merapalkan sihir pertahanan tingkat tinggi tanpa mantra... itu hampir mustahil. Dua class dalam satu tubuh?"

​Di luar, Adel semakin panik. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.

Sepertinya tebakanku benar, batin Adel gemetar. Dia benar-benar sudah memakan buah iblis itu. Itulah kenapa dia yang seharusnya tidak punya mana, tiba-tiba bisa menggunakan sihir!

​Pertarungan di dalam arena semakin intens. Saat durasi Shield habis dan memasuki masa jeda, Lich itu merapalkan sihir area tingkat tinggi.

​"Phantom Step!"

​Leon menghilang, meninggalkan bayangan semu yang hancur terkena ledakan es. Ia muncul di sisi kiri, lalu menghilang lagi dan muncul di sisi kanan. Ia menggunakan kombinasi Shield untuk menangkis dan Phantom Step untuk memangkas jarak.

​Lich itu mencoba terbang lebih tinggi, namun Leon sudah berada di jangkauannya.

​"Sudah selesai."

​Leon melompat tinggi. Pedangnya terayun dalam satu garis lurus yang bersih.

​SLASSH!

​Tubuh sang Lich terbelah menjadi dua. Jubah hitamnya robek dan jasad sihirnya hancur berkeping-keping sebelum sempat merapalkan mantra pelarian.

​Waktu berhenti di: 00:09:45.

​Seluruh lapangan hening. Tidak ada lagi tawa. Tidak ada lagi ejekan. Hanya ada keheningan yang mencekam saat mereka melihat seorang Rank D berdiri tenang di tengah sisa-sisa partikel cahaya monster tingkat 4 itu.

1
Mr. Wilhelm
Emm ... Keknya ini termasuk Plot armor gk sih? 🤔
Manstor
Nih aku kasih bintang 5 ya thor untuk ceritanya, aku harap novelnya bisa sampai tamat ya~ soalnya seru banget👍👍
SilentLore: Tentu aja pasti, Makasih banyak yaa🙏
total 1 replies
Manstor
waduh🙈
Manstor
Wah seru nih🤩👍
SilentLore: Maksih kaka🙏 udah tertarik baca
total 1 replies
Ryukia
ceritanya menarik
SilentLore: Terima kasih banyak!
Senang sekali kalau ceritanya bisa bikin kakak tertarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!