Karena pengkhianatan yang dilakukan oleh kekasihnya, Bumi terlempar ke dunia penyihir, tempat dimana kekuatan sangat di perlukan untuk bertahan hidup.
Bumi diangkat menjadi anak seorang penyihir wanita paling berbakat era itu. Hidupnya mulai mengalami perubahan, berpetualang menantang maut dan berperang.
Meski semuanya tak lagi sama, Bumi masih menyimpan nama kekasihnya dalam hatinya, dia bertekad suatu hari nanti akan kembali dan meminta penjelasan.
Namun, gejolak besar yang terjadi di dunia penyihir membuat semuanya menjadi rumit. Masih banyak rahasia yang di simpan rapat, kabut misteri yang menyelimuti Bumi enggan menghilang. Lantas saat semuanya benar-benar tidak terkendali, masih adakah setitik harapan yang bisa diraih?
*
cerita ini murni ide author, jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu hanyalah fiktif belaka.
ig: @aca_0325
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Matahari barangkali baru terbenam saat aula akademi dipenuhi oleh sekelompok murid berbakat. Bumi, Trixy, Alpha, dan Ivander terpaksa ikut karena sudah terlanjur di daftarkan oleh Zavion.
Alasan kenapa Zavion ikut mendaftarkan mereka adalah karena misi kali ini adalah misi kelompok, untuk bisa ikut harus ada kelompok.
Trixy yang duduk di ujung sejak tadi melirik Zavion sinis, rasanya ingin sekali memukul pria itu, merobek mulutnya dan mematahkan kakinya. Trixy masih belum ingin pergi keluar akademi karena ia sadar sihir nya belum kuat, sekarang ulah tindakan bodoh Zavion ia harus ikut.
Bumi lebih santai daripada ketiga temannya, sudah terlanjur dan tidak ada yang bisa di ubah meskipun ia memulai keributan dengan Zavion. Lebih baik memikirkan rencana terbaik dan menyelesaikan misi.
"Selamat malam anak-anak," Ambaraga yang bertanggung jawab atas hilangnya Donovan mengetuk pelan pengeras suara, meminta atensi semua orang dalam aula.
"Malam guru." Jawab para murid kompak.
" Di luar dugaan ternyata banyak yang mendaftar. Baiklah, saya akan langsung ke intinya, Donovan berhasil melarikan diri, kami para guru meyakini dia belum lari jauh. Kalian yang sudah mendaftar harus berhasil membawanya ke akademi dalam keadaan hidup. Waktu penyelesaian misi tujuh hari, berhasil atau gagal pada hari ketujuh semua kelompok sudah harus berada di akademi."
"Jika ada yang tidak kembali tepat waktu, kamu tidak perlu kembali kesini. Artinya kamu di keluarkan dari akademi."Ambaraga menjelaskan dengan wajah tanpa ekspresi.
Untuk sesaat terjadi keributan, beberapa orang menyesal telah mendaftar dan sebagian lainnya tidak mengatakan apa-apa namun wajah mereka penuh ambisi.
" Kalau sampai kita di keluarkan ini salahmu!"Trixy menunjuk Zavion marah.
"Tenang saja. Aku pastikan kita tidak akan di keluarkan,"jawab Zavion tenang.
"Sudahlah, jangan ribut lagi. Lagipula apapun yang kita lakukan sekarang tidak ada yang berubah, kita akan tetap berangkat." Ivander menengahi.
Trixy mendengus tapi tidak mengatakan apa-apa, dia memalingkan wajah tidak mau melihat Zavion.
" Kalian bisa berangkat besok pagi." Setelah mengatakan itu Ambaraga menggunakan sihirnya untuk menerbangkan cincin hitam pada setiap orang. Cincin yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan Donovan.
Jika target yang dicari berada dalam jarak 2 km maka cincin tersebut akan mengeluarkan sinar hitam. Sinar itu akan langsung melesat menuju target.
Bumi menggenggam erat cincin itu, dia bisa merasakan ada energi sihir yang sangat besar dalam cincin.
"Boleh bergabung dalam kelompok kalian?" Seorang gadis berselendang ungu menghampiri mereka.
"Raina? Kenapa tiba-tiba kau ingin bergabung dengan kami? Kau bisa membentuk kelompok sendiri bersama anak-anak emas itu."Dengus Trixy tidak suka.
Bumi heran dengan Trixy yang suka sekali mengajak orang bertengkar, sifat pemarahnya terkadang menimbulkan masalah yang tidak perlu.
" Kau merasa tersaingi, Trixy?" Tanya Raina disertai senyum mengejek.
" Tidak."bantah Trixy.
"Sudah, sudah. Raina bisa bergabung," Zavion langsung menyambut anggota baru mereka dengan senyum lebar.
"Zavion!kau benar-benar ingin berperang denganku!"bentak Trixy marah, tangannya di dorong ke depan mengeluarkan sinar hitam, hawa panas menguar keluar, menyebar ke seluruh aula.
Zavion masih tersenyum, dia dengan santai menyambut cahaya itu dengan tangan terbuka tetapi dipenuhi sihir hijau yang bersifat tenang.
Terjadi gelombang kejut luar biasa saat kedua elemen sihir yang berbeda itu bertabrakan.
Hanya pertukaran singkat namun mampu menarik perhatian semua orang termasuk Ambaraga yang dalam sekejap sudah berada diantara Trixy dan Zavion.
" Berhenti!"
Keberadaan Ambaraga membuat Trixy bergerak mundur dan tidak lagi mencoba untuk mengeluarkan sihir.
"Kenapa kalian saling bertarung? Jelaskan dengan singkat dan masuk akal. Jika tidak, terpaksa aku kirim kalian ke ruang Exsilium." Kata Ambaraga datar.
Ruang Exsilium adalah salah-satu ruang kedisiplinan akademi. Menurut beberapa murid yang pernah di kirim kesana, ruangan itu sangat mengerikan.
Trixy menjadi gugup, dia melirik Zavion yang biasa saja. Ini semua gara-gara dia! Trixy semakin kesal saja dengan Zavion.
"Kalian diam saja? Apakah ada dewan akademi disini?" Suara Ambaraga tidak keras tetapi terdengar ke seluruh aula.
Sepuluh orang mendekat, mereka memakai jubah hitam berlambang burung Phoenix di dada kanan. Dewan akademi. Suatu organisasi yang bertugas mendisiplinkan murid-murid nakal.
Seorang murid tahun ketiga yang tempo hari juga membawa Bumi dan Trixy ke pengadilan sihir berjalan dengan langkah tegap, dia Alfred Brayan.
" Untuk malam ini biarkan mereka menempati ruang Exsilium."perintah Ambaraga.
"Guru, kami tadi hanya bercanda," Trixy berusaha menjelaskan dengan panik.
"Benar guru. Karena besok kami akan pergi untuk menjalankan misi jadi tidak ada salahnya sedikit menguji kekuatan." Kata Zavion, lalu menyikut perut Bumi sebagai isyarat agar dia juga mengatakan sesuatu yang bisa meyakinkan guru kedisiplinan itu.
" Aku dan Ivander bahkan sudah menyarankan untuk menguji kekuatan diluar, tapi Trixy dan Zavion terlalu bersemangat untuk besok." Ucap Bumi menambahkan.
"Benar guru. Lagipula tidak akan menimbulkan kerusakan jadi menurut Trixy tidak akan masalah. Mohon maafkan kami, guru. Untuk kedepannya kami tidak akan mengeluarkan sihir selama berada dalam ruangan tertutup."Ujar Ivander tidak ketinggalan.
Ambaraga menatap mereka cukup lama. Dia ingat anak-anak nakal inilah yang melawan Hunter dan berhasil selamat, tadi malam juga anak bermata hazel itu mengetahui kedatangan Donovan.
Dalam hati Ambara tetap menganggap kelimanya sebagai kelompok aneh, juga segelintir anak nakal yang mencoba untuk menjadi populer.
"Baiklah. Lain kali jangan di ulangi." Pada akhirnya Ambaraga memberi mereka kesempatan, "Semuanya boleh keluar dan kembali ke kamar masing-masing. Jangan ada yang berkeliaran di luar."perintah nya.
Sebelum pergi Ambaraga kembali memperhatikan kelompok aneh itu, terutama Zavion. Anak itu sejak tadi selalu cengar-cengir.
"Baiklah, besok pagi kita bisa bertemu di-"
"Kita harus merencanakan segala sesuatunya malam ini."potong Ivander cepat.
" Guru killer itu melarang kita untuk berada di luar," kata Trixy mengingatkan.
" Dia tidak akan tahu. Aku punya tempat rahasia yang tidak diketahui siapapun,"ujar Raina.
"Dimana?"kompak mereka bertanya.
"Ikut aku!"
Lalu mereka keluar dari aula, setelah memastikan tidak ada penjaga diluar Raina segera menuju suatu tempat dengan diikuti oleh lima orang lainnya. Mereka mengendap-endap dan bersembunyi dengan panik saat ada penjaga yang patroli.
...***...