“15 menit, lakukan semuanya untuk membuatmu hamil dalam kurun waktu itu! Saya tidak menerima waktu lebih dari itu”
Layla Anabella, wanita yang diselingkuhi oleh suaminya itu memilih menjadi ibu pengganti pasangan kaya raya yang tidak bisa punya anak karena sang istri mandul untuk membayar biaya pengobatan ibunya.
Namun, sang istri risih dengan keberadaan Layla dan menjebaknya sehingga Layla diusir karena melanggar perjanjian tanpa tahu kalau dirinya sudah mengandung benih pria itu.
7 tahun kemudian Layla berniat melamar kerja untuk biaya hidupnya dan putranya namun ternyata bos perusahaanya adalah pria itu.
Apa yang akan terjadi setelahnya? Apakah pria itu tahu kalau dia punya seorang putra yang sangat mirip dengannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon serena fawke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Klub mewah di pusat kota itu dipenuhi musik yang berdentum pelan, cahaya temaram membaur dengan aroma alkohol mahal. Saka duduk di sofa VIP dengan tenang, satu tangannya memegang gelas whiskey, sementara matanya menatap tumpukan dokumen di meja.
Sudah hampir 4 jam dia membahas masalah pekerjaan tapi itu masih tetap tidak bisa menghapus kejadian yang terjadi pagi tadi saat di kantor.
Resepsionis kantornya mengatakan ada paket dari orang tidak dikenal yang terus menerus dikirim untuk Saka. Sebagai kepala perusahaan yang terkenal tentunya tidak semua surat dan pesan itu asli.
Ada yang jahil bahkan sampai berniat buruk dan lebih parahnya lagi kemungkinan palsu. Namun pesan ini berbeda. Walau sudah ditolak karena tanpa nama pengirim, orang ini terus gencar mengirimkannya dan akhirnya resepsionis mengatakannya pada Saka.
Karena cukup mencurigakan Saka membukanya tanpa tahu isinya akan membuatnya termenung di ruangannya selama beberapa jam sangat lama, bahkan dia tanpa sadar menghiraukan Layla.
Hingga saking kalutnya, Saka memilih menemui Johan di club tempatnya biasa bercerita walau di siang bolong seperti ini.
Di hadapannya, Johan menatap dengan ekspresi tidak percaya. Johan sebenarnya sudah curiga dengan Saka yang tiba tiba mengajaknya ke club saat tidak weekend dan dia menebak pasti ada hal yang sangat penting dan benar saja tebakannya tidak meleset.
Setelah 4 jam berusaha mengalihkan topik akhirnya kini Saka baru siap menceritakan hal yang sangat menganggunya sejak pagi tadi.
Saka mengeluarkan sebuah amplop putih dari jasnya. Johan tentunya tidak langsung membukanya dia bertanya terlebih dahulu, ”Tentang apa ini sebenarnya? Kau tidak sedang sekarat dan mencoba memberitahuku umurmu masih tinggal beberapa hari kan?”
Saka terkekeh pelan. Walau ada senyuman kecil di wajah tampan pria itu tapi Johan dapat melihatnyta. Ada beban yang sangat besar disana hingga dia beranggapan Saka sedang sakit keras
Johan akhirnya mengambil amplop itu dan membukanya cepat. Betapa terkejutnya dia saat melihat apa isi amplop itu.
Matanya melotot tajam dan dia hampir menjatuhkannya. ”A-apa ini? Ini benar?” tanyanya syok.
Saka menegak minuman alkoholnya sekali lagi sebelum mengangguk pelan. Johan kembali melihatnya berharap dia salah lihat.
"J-jadi ini semua bukti perselingkuhan Meira?" Johan meraih salah satu foto, rahangnya mengeras saat melihat wajah Meira dengan pria lain. "Kau benar-benar sudah menyelidikinya sejauh ini, Saka? Apa yang akan kau lakukan?"
Saka hanya menaikkan alisnya, menyeruput whiskey tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. "Aku tidak perlu menyelidikinya, Johan. Semua ini datang kepadaku tanpa aku harus mencari."
Johan melempar dokumen itu ke meja dengan kasar, matanya penuh emosi yang tertahan. "Dia memperlakukanmu seperti ini dan kau masih bersikap setenang ini? Kau sadar betapa keterlaluannya Meira?"
Saka menghela napas panjang, meletakkan gelasnya ke meja dengan gerakan santai. "Aku hanya bertanya-tanya, Jo. Apakah aku benar-benar pernah mencintai Meira atau hanya menjalankan kewajiban?"
Johan menatapnya lekat-lekat, wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa sekaligus marah. "Kau bicara seolah pernikahanmu hanya sebuah bisnis, Saka. Meira mengkhianatimu berkali-kali dan kau masih memikirkan apa kau pernah mencintainya atau tidak?"
Saka tersenyum kecil, tetapi tidak ada kehangatan di sana, hanya kelelahan yang tersamar. "Kau tahu bagaimana pernikahan ini terjadi. Bukan aku yang memilih Meira, melainkan Kakek."
Johan mengusap wajahnya, mendengus frustasi sebelum kembali menatap Saka dengan tajam. "Dan sekarang? Apa kau akan terus membiarkan dia menguras rekeningmu setiap menit seperti ini? Kau lihat transaksi ini? Meira tidak ada di rumah, dia entah di mana, dan kau tidak peduli?"
Saka meraih ponselnya dan membuka aplikasi perbankan, melihat riwayat transaksi yang terus berjalan. "Dia bisa mengambil semuanya kalau dia mau. Aku tidak keberatan."
Johan mendekat, nada suaranya merendah tetapi penuh ketegasan. "Kau hanya berkata begitu karena kau sudah menyerah, bukan? Bukan karena kau benar-benar tidak peduli."
Saka menatap kosong ke dalam gelasnya sebelum mengangkat bahunya ringan. "Mungkin. Atau mungkin aku hanya ingin melihat sampai sejauh mana dia bisa bertahan dengan permainan ini."
Johan mendecak kesal, lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan helaan napas berat. "Malam ini ada pertemuan keluarga, kau mau ikut?"
Saka menatapnya dengan tatapan datar sebelum mengangkat gelasnya sekali lagi. "Tidak tertarik. Biarkan mereka bermain drama tanpa aku."
Johan menggelengkan kepalanya, mengambil dokumen perselingkuhan Meira dan memasukkannya kembali ke dalam map. "Aku hanya berharap kau segera bertindak, Saka. Sebelum semuanya terlambat."
Saka hanya tersenyum samar sebelum melirik arlojinya. "Aku ada janji dengan Dokter Gilang. Aku harus pergi."
Johan mengangguk, meski ekspresi khawatirnya tidak sepenuhnya hilang. "Baiklah, tapi pikirkan ini, Saka. Meira tidak pantas mendapatkan kesabaranmu."
Saka tidak menjawab, hanya melangkah pergi dengan langkah tenang, meninggalkan Johan yang masih memikirkan semua yang baru saja terjadi.
Di dalam mobilnya, Saka menerima panggilan dari Dokter Gilang yang mengubah arah perjalanannya. "Saya tidak bisa ke rumah sakit, Saka. Saya harus menjemput putra saya. Apa kita bisa bertemu di kafe dekat sekolahnya?"
Saka menatap jalanan malam yang dipenuhi lampu-lampu kota. "Tidak masalah. Saya akan ke sana sekarang."
Saat tiba di lokasi, sekolah itu masih ramai dengan beberapa orang tua yang menjemput anak mereka. Saka turun dari mobil, melangkah menuju kafe yang dimaksud, tetapi langkahnya terhenti saat seorang bocah laki-laki berlari ke arahnya.
"Hey kamu siapa?" Saka akhirnya bertanya, suaranya tenang namun berwibawa karena semua anak-anak kelas 2 SD sudah pulang hanya anak-anak kelas tinggi yang tersisa. Saka berpikir mungkin anak ini belum dijemput?
Bocah itu tidak langsung menjawab. Ia malah menautkan kedua tangannya di depan dada, meniru gaya Saka tanpa sadar. "Om yang siapa?"
Saka menyipitkan mata, terkejut dengan jawaban anak ini. "Biasanya anak-anak tidak membalas pertanyaan dengan pertanyaan."
"Biasanya orang dewasa tidak menanyakan nama tanpa memperkenalkan diri lebih dulu," sahut bocah itu cepat.
Saka terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat, hampir seperti senyum. "Saka Hirawan." Saka akhirnya berucap sambil mengulurkan tangannya dan berjongkok agar sepadan dengan bocah itu.
Bocah itu menatapnya dengan mata berbinar. "Aku Farrel." Saka terdiam menatap mata bocah itu. Entah kenapa wajahnya terlihat mirip seperti dirinya.
Saka mengamati Farrel lebih lama. Ada sesuatu dalam cara bicara bocah ini yang tidak seperti anak-anak kebanyakan. "Berapa usiamu?"
"Tujuh."
"Dan kau sudah suka berdebat sejak kecil?"
Farrel menyeringai. "Nenek bilang aku mewarisi kecerdasan dari Papa."
Saka mengangkat alis. "Benarkah? Siapa papamu?” tanyanya tertarik.
Namun, tiba tiba wajah Farrel berubah murung membuat Saka kebingungan. ”Hey kenapa?” tanya Saka namun Farrel hanya menggeleng.
”Tidak papa, aku hanya tidak pernah bertemu papaku sebelumnya.” Ucapan Farrel membuat Saka terdiam. Apa ayah anak ini sudah meninggal? Pikirnya.
Sebelum Saka sempat melanjutkan ucapannya Dokter Gilang memanggilnya.
Hai, maaf ya kemaleman updatenya. Jangan lupa tinggalkan jejak