Sekuel off 'Pesona Mama Mertua Muda'
Wajib baca season satu duluan ya ≧∇
"Duniaku ikut mati tanpamu."
Kehidupan Javas hancur saat wanita yang paling dicintainya meninggal. Ia mencoba melarikan diri, menyingkir dari tempat yang menenggelamkan banyak jejak kenangan tentang wanita itu.
Namun, ia tak bertahan lama, Isvara selalu tinggal di kepalanya, sehingga pria itu memutuskan kembali.
Hanya saja, apa jadinya jika Isvara yang mereka pikir telah meninggal—justru masih hidup? Bisakah Javas menggapai dan melanjutkan hidupnya bersama wanita itu lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donacute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 | Belum Siap Menikah
Yara tersenyum. "Aamiinin aja dulu nggak sih, gue mah tergantung sama sahabat lo, Nan. Kalau Dion mau ngajak gue ke jenjang yang lebih serius, gue nggak nolak."
"Tuh, denger Yon. Kapan nih ngajak Yara ke pelaminan? Yara bilang kalau lo ngajak serius, dia nggak akan nolak."
"Lo duluan aja nggak papa, Nan. Gue akui gue cinta sama Yara, cinta banget malah. Tapi untuk menikah, gue harus persiapkan diri gue dulu. Untuk sekarang gue belum siap, lagi pula gue masih terlalu muda buat nikah," jawab Dion dengan santai, Dion sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan sahabatnya yang menyinggung masalah pernikahannya.
Dion memang masih muda, bahkan usianya baru 22 tahun. Jadi rencananya menikah pun masih sangat lama, walaupun Dion sendiri sudah mapan.
"Kok jadi gue, pasangan aja nggak punya gimana mau nikah? Nikah sama patung gitu?" selorohnya yang langsung membuat semua orang tertawa.
"Kalau kamu siap menikah? Saya bisa langsung nikahin kamu, bahkan sekarang juga pun bisa," ujar Javas dengan santainya yang langsung mendapatkan pelototan dari Isvara. Sedangkan Dion sendiri menatap sang kekasih dengan tatapan yang sulit diartikan. "Yang, kamu bisa 'kan sabar dulu. Nunggu aku siap segalanya, aku pasti akan menikah sama kamu."
"Iya, aku akan sabar. Kamu tenang aja, yang." Amara sangat muak melihat kedua pasangan itu yang terus mengumbar kemesraan, sedangkan gadis itu sendiri saat ini tidak bersama dengan kekasihnya.
Awan— Kekasih Amara sekarang sudah tidak lagi menjadi bodyguard atau orang suruhan Dion, pria itu sekarang sedang fokus membesarkan usahanya yang telah dimodali oleh Dion. Saking sibuknya Awan, pria itu jadi jarang ada waktu untuk Amara.
"Ini kita mau berangkat jam berapa, nanti kesorean terus malam. Nggak jadi berangkat deh," ujar Amara dengan wajah cemberutnya.
"Iya, ayo berangkat. Kalian semua cepat naik mobil gih, sebelum Amara tambah ngamuk," titahnya sambil bercanda. Mereka berlima segera masuk mobil, mobil mulai berjalan. Isvara melambaikan tangannya pada ketiga sahabatnya, Chilla dan Yara.
Mobil Dion sudah tidak terlihat lagi, Isvara langsung masuk ke rumahnya. Javas ikut masuk ke rumah mengikuti gadis pujaan hatinya.
"Om mau ngapain ikut masuk rumah? Kenapa Om nggak pulang aja?" tanyanya dengan malas.
"Terserah saya dong, masa masuk ke rumah istri sendiri nggak boleh." Saat awal-awal kedatangan Javas, warga jelas bertanya-tanya siapa Javas dan mengapa pria itu terus mendatangi rumah Isvara.
Sampai akhirnya, ada salah satu warga yang mengira Javas adalah suami Isvara sekaligus Ayahnya Sheva. Karena dulu Isvara pernah menunjukan video pernikahan pura-pura mereka, Javas yang tahu hal itu malah memaafkannya. Ia jadi bisa bebas datang ke tempat Isvara, tanpa ada warga yang menganggap Isvara bukan perempuan baik-baik.
Isvara sendiri sebenarnya menyesali perkataannya sendiri, ia tidak tahu bahwa Javas akan pergi ke desa.
Jika orang bertanya mengapa selama dua tahun Javas terlihat tidak pulang ke desa, pria itu menjawab bahwa ia kerja di kota dan sekarang baru bisa pulang. Sedangkan untuk pertanyaan mengapa Javas tidak tinggal di rumah Isvara saja, Javas mengatakan istrinya sedang merajuk karena ia sudah terlama tidak pulang.
Para warga percaya, selain video pernikahan. Javas dan Isvara punya buku nikah palsu, yang sengaja Javas tunjukkan sebagai bukti.
"Ngaco deh, emang siapa yang mau jadi istri Om?"
"Banyak yang mau, tapi saya maunya kamu."
Tiba-tiba mereka terdengar tangisan, keduanya jelas langsung tahu itu adalah suara tangisan Sheva. Mereka berdua langsung pergi ke kamar untuk memastikan keadaan Sheva.
"Hiks-hiks-hiks Papa sama Bunda dari mana? Kenapa tinggalin aku sendirian di kamar?" tanya Sheva sambil menangis, Isvara langsung mendekati putrinya. Isvara mengusap pelan air nata putrinya. "Sudah jangan nangis lagi, sayang. Bunda sama Papa nggak kemana-mana kok, kita cuma ke depan buat anterin Ante-ante sama Om kamu yang mau pulang. Kami nggak akan pernah ninggalin kamu sayang, jadi nggak usah takut. Kalau misalnya Sheva nggak lihat Bunda sama Papa, Sheva cari dulu atau tanya siapa yang Sheva liat. Jangan langsung nangis ya, sayang."
Biasanya Sheva tidak seperti ini, tetapi setelah sakit anak itu begitu takut ditinggalkan oleh Isvara maupun Javas.
"Iya, Bunda. Sheva nggak akan nangis lagi."
"Bukan Bunda nggak bolehin Sheva nangis, tapi kalau kayak tadi Sheva bangun nggak ada Bunda. Langsung cari aja ke depan atau ke toko ya, sayang. Jangan langsung menangis, tahu nggak tadi dengar Sheva nangis Bunda sama Papa kaget banget takut terjadi sesuatu yang buruk sama kamu sayang."
"Maafin Sheva, Bun."
"Kamu nggak salah, nggak usah minta maaf. Sheva mau makan sate lagi? Atau mau makan apa biar Bunda buatkan?" tanya Isvara dengan lembut.
"Belum lapar, Bun. Nanti aja makannya." Isvara memilih tidak memaksa, toh sebenarnya sebelum tidur tadi Sheva sudah makan dengan sate yang dibelikan oleh Dion semalam.
"Ante Amara, Ante Friska, Ante Yara, Kak Chilla sama Om Dion udah pulang ya, Bun?" tanya gadis kecil itu.
"Iya, sayang. Baru aja tadi pulangnya."
"Kok nggak bangunin Sheva, Bun? Padahal Sheva juga mau liat pas mereka mau pulang," ujarnya dengan memanyunkan bibirnya.
"Sheva sayang, tadi itu kamu tidurnya nyenyak banget. Ante sama Om kamu nggak mau gangguin tidur kamu, sayang. Jadi mereka nggak bolehin Bunda bangunin kamu, apalagi kamu juga tidurnya belum lama. Sheva belum benar-benar sembuh jadi masih perlu banyak istirahat, sayang. Jangan marah ya, sayang. Masa anak cantik Bunda suka marah-marah, 'kan nggak boleh kayak gitu." Gadis kecil itu mengangguk paham, tidak susah bagi Isvara untuk menasehati putrinya.
Javas sejak tadi terdiam menyaksikan perlakuan lembut Isvara kepada Sheva, Isvara benar-benar keibuan sekali.
"Hai Princess baru bangun tidur ya?" tanya Javas dengan ramah, Sheva terdiam karena ia tidak merasa namanya princess.
"Kok nggak dijawab sib pertanyaan Papa," ujarnya dengan cemberut. Sheva akhirnya sadar, bahwa dirinya yang dipanggil princess oleh sang Papa. "Namaku Sheva, Papa. Bukan Princess."
"Papa tahu kok, sayang. Cuma bagi Papa kamu itu princess–nya Papa, kamu tau 'kan princess itu apa?" Sheva menggeleng pelan.
"Princess itu anaknya raja, dia sangat cantik. Bagi Papa, Sheva seperti itu. Jadi mau 'kan Sheva dipanggil princess sama Papa?"
"Mau, Papa." Javas langsung merentangkan tangannya seolah ingin dipeluk oleh Sheva, Sheva sendiri langsung berlari ke pelukannya Javas.
"Giliran ada Papa aja, Bundanya langsung dilupain," ucapnya dengan pura-pura merajuk. Sheva menarik tangan sang Bunda agar ikut berpelukan, akhirnya Sheva bisa memeluk Bunda dan Papanya sekaligus. Gadis kecil itu merasa sangat bahagia.
Isvara langsung melepaskan pelukannya, ia sadar bahwa hal itu salah. Dirinya tidak ingin semakin tenggelam dalam pesona Javas, jadi mau tidak mau harus bisa membatasi dirinya sendiri.