Key, gadis kota yang terpaksa pindah ke kampung halaman yang sudah lama ditinggalkan ayahnya. Hal itu disebabkan karena kebangkrutan, yang sedang menimpa bisnis keluarga.
Misteri demi misteri mulai bermunculan di sana. Termasuk kemampuannya yang mulai terasah ketika bertemu makhluk tak kasat mata. Bahkan rasa penasaran selalu membuatnya ingin membantu mereka. Terutama misteri tentang wanita berkebaya putih, yang ternyata berhubungan dengan masa lalu ayahnya.
Akankah dia bisa bertahan di desa tertinggal, yang jauh dari kehidupan dia sebelumnya? Dan apakah dia sanggup memecahkan misterinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiya cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Mia
"Miaaaaa.......", teriakku sekencang-kencangnya. Dan suasana menjadi gelap.
Saat aku membuka mata, sepertinya aku berada di tempat lain. Tempat yang dominan warna hijau. Tempat remang-remang, yang perlahan menjadi terang dan semakin terang lagi.
Singgasana? Apa aku sedang ada di istana? Dimana lagi ini? Oiya, tadi aku sedang mencari Mia.
"Miaa......, apa kamu di sini?" tanyaku saat kulihat banyak anak laki-laki bermain di depan singgasana itu.
"Hai anak muda, apa yang kamu lakukan di sini? Ini bukan tempatmu, kembalilah." ucap seorang wanita dengan pakaian khas jawa berwarna hujau, dan mahkota berbentuk ular di kepalanya.
"Maaf, saya juga tidak tau. Kenapa saya berada di sini. Saya sedang mencari Mia, adek saya."
"Mia? Perempuan? Di sini tidak ada anak perempuan. Hanya anak laki-laki yang bermain di sini. Pergilah, cepat. Sebelum Nyi Ratu datang."
"Saya tidak akan pulang sebelum membawa Mia."
"Sudah saya bilang, Mia tidak ada di sini."
Lalu saat menoleh ke belakang, aku melihat anak yang sedang menangis. Menunduk sambil berjongkok, di pokok ruangan.
"Itu Mia, itu adek perempuanku." kataku sambil menunjuk anak yang memakai topi persis seperti yang tadi kupilihkan untuk Mia.
"Miaaaaa......." teriakku yang akan menghampirinya, namun kegelapan kembali datang.
"Key, ada apa? Ayo bangun, Key." ucap mama yang sedang memangku kepalaku di atas pasir.
"Mia, aku melihat Mia. Aku akan menjemputnya. Kasian dia, dia menangis sendirian. Huaaaaaaa,..... MIAAAAAA." tangisku mulai pecah.
"Tenang, Key. Papa dan yang lain sedang mencari Mia. Kita berdoa saja, agar Mia bisa kembali dengan selamat. Kamu jangan membuat tambah mama kawatir. Saat kita kehilangan Mia, kamu malah pingsan."
"Aku pingsan? Tapi aku benar-benar ketemu Mia."
"Key, ini minum dulu air kelapanya." papa datang dengan membawa satu buah kelapa di tangannya.
"Pa, Key liat Mia. Key mau tolongin Mia. Mia ketakutan. Mia sendirian." ucapku masih sambil menangis.
"Key, papa tahu. Kamu sayang sekali sama Mia. Tapi cobalah kamu menenangkan dirimu dulu. Kami sedang mencari, jadi kamu jangan membuat pikiran kami terpecah oleh sikap kekanakanmu. Untuk saat ini, kita fokus pada pencarian Mia. Kamu duduk di sini dulu dengan mama. Gak usah mikir yang tidak-tidak."
" Tapi, pa. Key benar-benar melihatnya. Key mau menolong Mia."
"Key, ikuti perintah papa. Jangan membantah. Itu sudah cukup kamu lakukan untuk menolong Mia. Agar papa dan yang lainnya bisa lebih fokus dalam pencarian", jelas mama sambil membelai rambutku.
"Mia, hikss.... Maafkan kakak. Kakak akan terus berusaha menolongmu, apapun yang terjadi." gumamku lirih.
Bella, aku harus memanggilnya. Darimana saja dia. Tidak menampakkan batang hidungnya.
"Bell, Bellaaaa. Kamu dimana?" gumamku dalam hati.
"Ada apa, Key?" tanyanya yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
"Ehmm, maa. Aku ke gazebo dulu ya." pamitku agar mama tidak cemas memikirkanku, apalagi kalau sampai tau aku berbicara sendiri.
"Ohh, yadah. Kamu istirahat dulu, mama akan ikut cari Mia lagi." sahut mama sambil mengusap air mata yang jatuh terus menerus.
"Kamu dari mana. Mia hilang, bukannya bantuin malah gak muncul sama sekali." ucapku dengan wajah kesal di hadapan Bella.
"Tuh kan. Mulai mikir buruk sama saya lagi. Menurutmu, siapa tadi yang masukkin kamu ke alam gaib buat mencari Mia." jawab Bella dengan mengacungkan jari telunjuk pucatnya ke arahku.