Seorang gadis penulis muda bernama Nabila Adidaya Ningrum yang mengalami gangguan di setiap menulisnya. Untuk mengatasi masalah tersebut ia pergi mencari tempat sepi nan hening yang tak lain adalah kuburan di belakang rumahnya.
Sementara di satu sisi seseorang laki-laki bernama Demian Putra Wijaya harus mengalami nasib buruk karena meninggal di usia mudanya. Demian sendiri sebelumnya adalah seorang penulis jenius yang cukup terkenal di masa mudanya. Setelah meninggal ia merasa kesepian karena keluarganya tak pernah mengunjunginya. Ia juga tak begitu akrab dengan penghuni yang lainnya dan sebab itu mereka menganggapnya sebagai arwah yang sombong. Darah Nabila mendadak menetes ke nisan milik Demian dan menyebabkan arwahnya bisa terlihat. Mulai dari situlah Demian ingin membantu Nabila dan mencari tahu penyebab dirinya meninggal. Akankah ada kisah cinta timbul diantara mereka? Ikuti kisah mereka selengkapnya disini👇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 "Kenangan Kecil Di Rumah Lama"
Selepas dari penjara, Jaya selaku ayah Demian pamit untuk pergi ke rumah lama dia di Desa. Dengan senang hati, Nabila menawarkan tumpangan padanya. Jaya mengangguk menerimanya. Gadis itu sudah memesan taksi online dan ia duduk di depan. Sementara Jaya duduk dibelakang bersama anaknya, Demian.
Nabila sangat senang melihat Demian bisa bertemu dengan ayahnya kembali. Begitu juga Jaya yang akhirnya bisa melepaskan diri dari hukuman yang bukan dilakukan olehnya. Satu jam perjalanan, Taksi telah membawa mereka bertiga ke depan rumah yang sudah rapuh itu.
Saat turun, Dadang yang lewat bersama ibunya, terkejut melihat siapa yang datang bersama tetangganya itu.
"Jaya, ini si Jaya kan?" tanya Mbok Sur yang terkejut.
Seketika yang dipanggil menoleh dan langsung mengenalinya. "Mbok Sur! Iya ini aku Mbok."
"Ya ampun kamu kemana saja toh? Kasihan anakmu tak ada yang menjenguknya di makam," tuturnya.
"Saya baru saja menyelesaikan urusan saya mbok," jawab Jaya padanya.
"Oalah, sekarang sudah beres?" tanya Mbok Sur memastikan.
"Alhamdulillah sudah. Makasih ya Mbok, sudah sering bersih-bersih di makam," ucapnya sambil memegang kedua tangan si Mbok.
"Jangan berterima kasih padaku, berterima kasih lah pada dek Nabila. Dia yang selalu merawat makam anak bapak." Seketika Jaya melirik kearahnya. Nabila hanya tersenyum mengangguk mengiyakan.
"Jadi.... Nak Nabila juga yang telah merawat anak saya selama ini. Terima kasih banyak ya," ucapnya beralih ke gadis yang berada di belakangnya.
"Sama-sama Pak, saya cuma membantu saja," balas Nabila sedikit mengangguk.
"Yah, menantu ayah sangat baik kan?" goda Demian tiba-tiba membuat Nabila terkejut.
"Hee, Demian.... sapa yang kamu sebut menantu?" Tepuk langsung gadis itu padanya.
"Kamu lah," jawabnya singkat sambil tersenyum menggodanya.
"Nak Nabila bicara sama siapa ya. Buka sama bapak kan?" Tiba-tiba Jaya menoleh ke arahnya karena mendengar Nabila yang tengah ribut sendiri.
"Ah bukan Pak, tadi saya bicara sama angin lewat," sangkalnya.
"Pak Jaya, kami pamit dulu!" ucap Mbok Sur padanya lalu mengajak sang putra yang sedang terbengong.
"Ayo Dang!"
Mbok Sur dan anaknya pergi meninggalkan mereka di sana. Nabila sudah menyelesaikan urusannya, ia juga pamit kepada ayah si arwah tampan.
"Pak Jaya, saya juga pamit pulang dulu!"
"Oh iya Nak Bila, sekali lagi terima kasih!" balasnya.
Nabila mengangguk kembali sambil menampilkan senyumannya. "Sama-sama." Gadis itu kini mulai melangkahkan kakinya pergi. Sementara pak Jaya terus memandangi rumahnya yang penuh dengan kenangan itu. Langkah kakinya mulai membawanya untuk masuk ke dalam.
Nabila yang sudah sedikit jauh mendadak menoleh kembali karena Demian memanggilnya.
"Bila, terima kasih. Maaf aku tak bisa pulang bersamamu, aku ingin....," Nabila langsung mengerti maksud arwah di depannya itu.
"Ya aku tahu, sebaiknya kamu cepat menyusul ayahmu. Jangan biarkan dia menunggumu," ujarnya.
"Baiklah aku pergi dulu," pamit Demian sambil melambaikan tangan padanya.
Nabila mengangguk mengizinkan. Demian yang senang langsung berlari menyusul sang ayah yang sudah masuk ke dalam rumah. Sementara si gadis yang juga merasa senang dan lega itu memilih melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah.
Jaya telah masuk ke dalam rumahnya. Ia memerhatikan isi rumah yang belum berubah samasekali. Yang berubah hanyalah bentuknya karena sudah tak seperti dulu. Rumah kecil nan sederhana itu sekarang sudah rapuh dimakan usia. Selintas ingatan kenangan dahulu muncul di benaknya.
Kenangan indah di mana Demian menghabiskan waktu hidupnya bersama sang ayah sebelum pada akhirnya mereka bertengkar dan menjaga jarak. Dahulu Demian sangatlah dekat dengannya. Mereka selalu bersama setiap waktu. Di sana juga ada ibu dari Demian yang cantik. Mereka bertiga terlihat seperti keluarga yang bahagia. Bermain bersama, saling kejar-kejaran. Berjalan-jalan bersama melewati indahnya suasana desa. Melihat usia Demian sudah mulai beranjak dewasa. Wanita cantik yang berprofesi sebagai penulis sebelumnya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan profesinya.
Namun seiring berjalannya waktu, ibu Demian menjadi sibuk menulis dan tak mempunyai waktu lagi untuk bermain bersama sang anak. Jaya sering mengatakan untuk meluangkan waktunya untuk mereka berdua. Tapi kesempatan itu tak pernah ada hingga ibunya sedikit demi sedikit menjadi jatuh sakit karena kelelahan. Melihat itu sang suami bukannya merawatnya, ia malah memarahinya sang istri yang sakit sebab ulahnya sendiri. Pasangan suami-isteri ini menjadi sering ribut dan membuat Demian sedih.
"Demian, maafkan ayah karena tak merawat ibumu dulu. Seharusnya aku mendukungnya dan mengerti pentingnya menulis untuknya," ucap Jaya sambil menatap langit-langit yang sudah dipenuhi dengan sarang laba-laba itu.
Jaya masih saja menyesal karena setelah kematian istrinya, sang putra menjadi menjauh darinya. Terlebih lagi putranya itu mengikuti mendiang sang istri.
Demian yang berada di dekat sang ayah juga merasa menyesal karena tak menurut padanya. Ia tahu ayahnya tak mendukung dirinya untuk menjadi penulis. Demian bahkan memilih meninggalkan rumah untuk melanjutkan sekolahnya di Singapura yakni di universitas sang ibu dulu. Pemuda tampan itu sangat senang saat dirinya ternyata mendapat beasiswa untuk pergi ke sana.
Mengetahui hal itu, sebagai seorang ayah ia tentu saja merasa senang dan bangga padanya. Terlebih lagi waktu mengetahui sang anak telah berhasil terkenal dengan karya-karyanya. Sangat disayangkan, saat ayahnya hendak meminta maaf dan menyusul ke Singapura, ia malah justru menemukan sang anak sudah tak bernyawa lagi di tempat tinggalnya.
"Nak, seandainya kamu bisa hidup kembali. Ayah berjanji akan selalu menjagamu dan mendukungmu," ucapnya sedikit berharap.
Demian yang mendengarnya menjadi bersedih. Ia berjalan mendekat dan memeluk sang ayah kembali. Jaya mendadak merasakan ada sesuatu yang memeluknya, ia tersenyum senang karena tahu jika itu adalah putranya.
"Aku merasakan kehadiranmu, Nak," ucapnya pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ👻❤️👻ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nabila yang sudah berada di kamarnya, memilih untuk melanjutkan tugas menulisnya. Mengingat karena penghargaan buku tahunan yang sudah semakin dekat. Gadis ini dengan segera membuka laptopnya dan mulai merangkai kata demi kata hingga menjadi sebuah kalimat. Ia sekarang sepertinya tak memerlukan sebuah ide dari arwah tampan itu lagi. Nabila yang sekarang tenyata telah berhasil menulis dengan fokus walau di luar kedua adiknya sedang asyik bermain.
"Oke semangat Bila, kamu pasti bisa!" Teriaknya pelan mendukung dirinya sendiri.
"Temanmu sudah menanti karyamu," lanjutnya.
Nabila terus menyemangati dirinya sendiri. Tinggal penghujung bab yang harus ia selesaikan sekarang. Jari jemarinya tak pernah berhenti menari di atas keyboard. Semua pikirannya menjadi lebih jernih setelah banyaknya masalah yang terjadi. Waktu terus berputar hingga malam datang. Ia bahkan melewatkan makan siangnya tadi. Gadis itu tak akan berhenti sampai karyanya selesai di kerjakan.
Sebuah kalimat terakhir ia akhirnya bisa tuliskan. Nabila sangat lega dirinya bisa menyelesaikan karyanya juga hingga episode terakhir. Gadis yang sudah sedikit tak rapi ini menutup laptopnya dan mulai meregangkan otot-ototnya. Karena perut sudah terasa lapar, ia pun beranjak menuju dapur.
Setelah sampai, Nabila membuka tutup saji yang didalamnya terdapat beberapa lauk yang masih tersisa. Dengan cepat ia mengambil nasi dan lauk-pauk yang ada. Gadis satu ini makan dengan lahap seperti orang tak makan selama seminggu.
Bersambung....👻❤️👻
Pasti sakit lahh wong berdarahh...
ternyata demian gak mau bergaul bukan karena sombong ya, tapi dia sedih karena keluarga nya gak ada yang mau peduli lagi sama dia yang udah meninggal
tapi ko jadi penasaran mati nya itu damian karna apa ya🤔🤔🤔