NovelToon NovelToon
Darah Pocong Perawan

Darah Pocong Perawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Hantu / Mata Batin / Iblis
Popularitas:505
Nilai: 5
Nama Author: Celoteh Pena

Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keraguan

Sekitar pukul 10 malam, Yitno pun pamit pulang. Disepanjang perjalanan pulang itu Yitno terus berfikir dengan perasaan bimbang. Apakah benar jika ia mengikuti pesugihan itu kehidupannya akan berubah? Pertanyaan itu menjadi tanda tanya besar di dalam benaknya.

Tak dapat dipungkiri jika ia pun memang ingin sekali ada perubahan dalam hidupnya, terutama dapat menikah dan memiliki istri, membangun sebuah keluarga seperti orang-orang pada umumnya. Ia lelah dengan hinaan dan cemooh warga padanya, ditambah usianya tak lagi muda.

Tapi disisi lain ia masih ragu apakah pesugihan itu benar-benar dapat membawanya pada cita-cita sederhananya itu, tanpa ada resiko atau penyesalan dikemudian hari. Ia berjalan menyusuri jalanan desa menuju rumahnya sembari terus termenung memikirkan hal itu.

Di kejauhan Yitno melihat beberapa pemuda nongkrong tepat di depan pos ronda yang berada tak jauh dari rumahnya.

"Mas..." Tegur para pemuda desa yang sedang nongkrong di gardu pos ronda.

"Ronda to? apa cuma kumpul-kumpul aja?" Tanya Yitno

"Nongkrong aja mas, gabut dari pada di rumah ngapain, mas Yitno dari mana kok bawa senter?"

"Ngeliat burung di alas, siapa tau ada" jawab Yitno berbohong

"Weh..ngeri amat mas sendirian pergi ke alas. Kok nggak bawa alat pikatnya mas?"

"Nggak, cuma mau ngeliat tidurnya burung itu dimana, kalau ketemu kan besok tinggal di suluh. Pasti tidur situ lagi."

"Iya juga ya, oh iya mas udah denger berita belum?"

"Berita apa?" Tanya Yitno penasaran

"Tadi isya' anaknya lek Tarman kecelakaan di depan Indomaret."

"Hah! Yang bener kamu? Si Lastri?"

"Iya si Lastri, emangnya anaknya Tarman siapa lagi? Anaknya kan cuma satu itu."

"Teros..teros..gimana keadaannya?"

"Ya di bawa ke Rumah Sakit lah mas.."

"Padahal Minggu lalu aku masih kerja gali sumur di rumahnya."

"Lah emang rumahnya belum ada sumur to mas?"

"Belum, sebelahnya kan rumah embahnya. Jadi pake sumur itu. Mungkin cekcok jadi buat sumur sendiri lek Tarman dari pada ribut. Jadi ini masih di rumah sakit?"

"Iya mas.."

Setelah berbincang sesaat dengan pemuda pemuda kampungnya itu, Yitno pun beranjak pulang. Sesampainya di rumah ia membuat kopi dan ia bawa masuk ke dalam kamarnya. Ia kembali termenung sembari merokok dan minum kopi di dalam kamarnya.

Ia membuka dompet lusuhnya, ia menghitung uangnya tinggal empat puluh lima ribu. Ia menarik nafas berat penuh keluh sembari menatap kesal dompet terkutuknya itu. Yitno sangat bingung, sudah seminggu ia menganggur dan tak kunjung kerjaan yang ia dapatkan. Ia lalu merebahkan diri di kasurnya dan mulai mengingat-ingat kembali ucapan kakek tua itu.

"Ya mau aja sih, tapi apa ada gadis yang meninggal di waktu Selasa Kliwon atau Jum'at Kliwon? Aneh aja syaratnya Mbah itu." Batin Yitno dalam hati

Yitno terus termenung dan menghayal menjadi orang kaya dan tampan bak seorang CEO, seperti cerita halu di novel sebelah yang peminatnya emak-emak berdaster motif bunga-bunga 50 ribuan. Ia berbaring dengan kedua telapak tangannya memangku tengkuk kepala bagian belakang sembari menatap langit langit kamarnya yang tanpa plafon terhias sawang.

kamarnya sangat sederhana tanpa daun pintu, hanya tertutup gorden berwarna merah usang dan jadul. Kamar itu tak ada isinya, hanya lemari kayu tua dengan separuh kacanya yang sudah pecah. Jendelanya pun tanpa daun hanya di tutup handuk dekil berbintik jamur.

Ia berbaring di Kasur kapuk yang tergeletak diatas sebuah lantai yang di lapisi tikar sobek. Dan sebuah tutup kaleng roti kongguan yang ia gunakan sebagai asbak menjadi penghias kamarnya. Itulah gambaran keadaan kamarnya.Tak sadar Yitno terlelap dalam tidur...

_Pagi hari..

"Yit! Yit! bangun!" Ucap ibunya sembari mengguncang-nggucangkan pundaknya berusaha membangunkan.

"Apa to Mak? Masih Ngantuk aku Mak, orang nganggur juga gak ada kerjaan ngapain sih bangunin aku!" Gerutu Yitno dengan mata masih terpejam

"Oh! dasar bujang cungkruk! mau nganggur mau nggak itu ya harus bangun pagi! anaknya lek Tarman meninggal! cepet mandi ayo kita layat kesana"

"Hah! Anaknya lek Tarman? Lastri Mak?" Sontak Yitno bangun dan terkejut.

"Iya.. semalem ninggalnya di rumah sakit, jam setengah dua belas, ninggal karna kecelakaan. Kejadiannya isya terus kritis, teros ningal di Rumah Sakit'"

"Inalillahi, iya Mak aku denger dia kecelakaan dari bujang bujang pengangguran yang nongkrong gitaran kurang kerjaan di pos ronda tadi malem."

"Kamu Yo pengangguran..! Tua, wuelek lagi..!!"

"Apaan sih mamak ini,"

"Udah buruan mandi sana!"

Setelah mandi, Yitno dan ibunya berjalan menuju rumah duka kediaman lek Tarman, tampak banyak warga yang sudah berkumpul dan jenazah sedang di mandikan. Ibu Yitno langsung masuk ke dalam rumah, sedang ia sendiri memilih berkumpul bersama warga pelayat lainnya.

Keriuhan para warga yang bercerita dan berbincang. Ada salah satu warga bertutur..

"Ini Jum'at Kliwon kan"

"Lah emang ngopo to lek, meninggal di hari Jum'at kan ya bagus"

"Yo apik, hmm.. kasian ya Tarman anaknya ya cuma satu-satunya itu."

"Gimana to lek kronologi kecelakaannya?"

"Almarhumah si Lastri nyebrang mau ke Indomaret bawa motor, katanya sih disuruh ibunya beli pulsa token listrik. Terus di tabrak dari arah kulon. Yang nabrak mana masih bocah lagi, masih Esempe kayaknya. Ugal ugalan bawa motor"

"Anak laki yang nabrak lek?"

"Iya,"

"Hufftt udah ajalnya mau gimana lagi. Hmm si Lastri Umur berapa sih lek?"

"Satu SMA, mungkin 16 tahunan lah umurnya"

Yitno yang mendengar perbincangan warga itu pun jantungnya berdegup kencang..

"Ini Jum'at Kliwon? Lastri masih gadis? cantik lagi. Tu-tunggu dulu.. tapi dia kan ninggal kecelakaan. Hancur gak badannya?" Batin Yitno

Yitno pun mulai menyelidiki keadaan mayat si Lastri dengan bertanya pada warga yang sedang berbincang tersebut.

"Eghhmm.. maaf lek, keadaan Lastri pas kecelakaan itu parah banget ya? Kok sampe meninggal?" Tanya Yitno hati-hati

"Oh kamu to Yit? Kirain siapa tadi gondrong pecian..hehe. keadaan Lastri gak papa Yit. Blas gak ada yang luka cuma lecet dikit di sikut tangannya. Yang fatal itu di bagian kepala. Kebentur aspal kayaknya tapi gak berdarah atau pecah gitu. Mungkin itulah faktor kematiannya.

"Oh gitu ya lek, gegar otak mungkin ya lek"

"Nah itu, iya kayaknya."

Sepulang dari melayat Yitno tampak begitu gelisah. Ia bimbang dengan apa yang sedang di pikirkannya..

"Nggak..nggak..!!! Kasianlah, masak kafannya ku ambil sih?" Batinnya

Yitno begitu gusar, seakan fikirannya sedang berperang, ia termenung di dalam kamarnya. Menimang serta mengulas tindakan apa yang harus ia pilih.

"Tapi hidupku gini-gini aja, gak ada perubahan. Apa yang bisa buat aku bisa kaya? Gak ada hal yang bisa buat aku bisa jadi kaya. Pendidikan ku gak tinggi, gak ada modal, gak ada warisan, cuma ini kesempatanku dan jalan satu satunya.." pikirnya

Hati, fikiran, batin serta logikanya bergumul di dalam kepalanya. Ia benar-benar bingung dan ragu. Ia lalu beranjak berdiri dan pindah tempat lamunan. Yitno duduk di pintu belakang rumah bersandar kusen pintu, menatap sumur, ia melihat cangkul yang tergeletak.

Entah setan apa yang merasuki fikirannya, ia lekas beranjak berdiri dan berjalan menghampiri cangkul itu dan mengasah ujung mata cangkul tersebut..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!