Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.
Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15_PANIK YANG TAK DIAKUI
Pagi itu Nayla terbangun dengan kepala berat.
Bukan berat karena mimpi buruk, tapi karena tubuhnya terasa seperti ditindih sesuatu. Tenggorokannya kering, kepalanya berdenyut, dan saat ia mencoba bangun, pandangannya sempat berputar.
“Kenapa sih…” gumamnya lirih.
Ia menutup mata sejenak, menunggu dunia kembali stabil. Biasanya ia akan memaksa diri bangun, mandi, lalu berangkat ke sekolah seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi kali ini berbeda. Bahkan untuk duduk saja, Nayla harus mengumpulkan tenaga.
Ia meraih ponsel di meja samping ranjang. Jam menunjukkan pukul enam lewat dua puluh.
Terlambat.
Nayla menghela napas. “Satu hari aja…”
Ia bangkit pelan, lalu berjalan ke kamar mandi. Begitu air menyentuh wajahnya, rasa pusing malah bertambah. Lututnya melemas, dan ia harus berpegangan pada wastafel agar tidak jatuh.
Saat kembali ke kamar, Nayla duduk di tepi ranjang. Napasnya pendek. Dadanya terasa sesak.
Ia menatap seragam sekolah yang tergantung rapi.
Tidak hari ini.
***
Di lantai bawah, Azka sedang bersiap berangkat. Dasi sudah rapi, sepatu mengilap. Segalanya seperti biasa, sampai ia menyadari satu hal.
Rumah terlalu sunyi.
Biasanya, Nayla sudah turun lebih dulu. Entah hanya lewat sebentar atau duduk di meja makan dengan wajah setengah mengantuk. Hari ini tidak ada suara langkah. Tidak ada suara pintu kamar terbuka.
Azka melirik jam.
Terlambat.
Ia meneguk air, lalu berhenti di tengah gerakan. Alisnya berkerut.
“Nayla?” panggilnya singkat.
Tidak ada jawaban.
Azka berdiri. Entah kenapa, perasaan tidak enak merayap pelan di dadanya. Ia menaiki tangga dengan langkah cepat, berhenti di depan kamar Nayla.
Pintu tertutup.
Azka mengetuk sekali. “Nayla.”
Hening.
Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. “Nayla, buka.”
Masih tidak ada jawaban. Jantung Azka berdetak lebih cepat. Ia membuka pintu tanpa menunggu izin.
Nayla duduk di ranjang, punggung bersandar pada kepala tempat tidur. Wajahnya pucat, keringat tipis membasahi pelipisnya. Matanya setengah terpejam.
Azka langsung masuk.
“Kamu kenapa?” tanyanya, nada suaranya lebih tinggi dari biasanya.
Nayla membuka mata perlahan. “Pusing…”
Azka mendekat. “Sejak kapan?”
“Dari subuh,” jawab Nayla pelan.
Azka mengulurkan tangan, menempelkan punggung tangannya ke dahi Nayla.
Panas. Terlalu panas.
Rahang Azka mengeras. “Kamu demam.”
“Sedikit aja,” Nayla mencoba tersenyum. “Nanti juga—”
“Diam,” potong Azka.
Ia meraih termometer dari laci, entah sejak kapan ia tahu benda itu ada di sana. Beberapa menit kemudian, angka di layar membuat napasnya tertahan.
“38,9,” gumamnya.
Nayla mengerjap. “Masih bisa sekolah…”
“Jangan bodoh,” bentak Azka tanpa sadar.
Nayla terdiam.
Azka mengusap wajahnya kasar. “Kamu nggak ke mana-mana hari ini.”
“Aku nggak mau bikin masalah—”
“Masalah apa?” Azka menatapnya tajam. “Sekolah bisa nunggu. Badan lo nggak.”
Nada suaranya keras, tapi tangannya gemetar saat ia menyimpan termometer.
Nayla memperhatikan itu. Tapi ia terlalu lelah untuk berkomentar.
Azka berdiri mendadak. “Tunggu.”
Ia keluar kamar, meninggalkan Nayla yang kembali bersandar, napasnya berat.
***
Di dapur, Azka menuang air hangat ke dalam gelas dengan gerakan terburu-buru. Ia mengambil obat penurun panas dari lemari. Tangannya sampai menjatuhkan satu strip ke lantai.
“Kenapa sih…” gumamnya kesal pada dirinya sendiri.
Ia memungut obat itu, lalu berhenti sejenak. Sejak kapan ia tahu persis obat apa yang harus diminum Nayla? Azka menggeleng kecil, lalu kembali ke kamar.
“Minum,” katanya sambil menyerahkan gelas.
Nayla menatapnya, lalu obat di tangannya. “Kamu nggak sekolah?”
“Belum,” jawab Azka singkat.
“Kamu bakal telat.”
Azka mendengus. “Bukan prioritas.”
Nayla menelan obat itu dengan susah payah. Tenggorokannya terasa perih.
Azka duduk di kursi dekat ranjang, jaraknya terlalu dekat untuk ukuran mereka. Ia menatap Nayla dengan sorot mata yang sulit dibaca.
“Kamu kenapa nggak bilang dari tadi?” tanyanya lebih pelan.
Nayla mengangkat bahu lemah. “Kupikir cuma capek.”
“Kamu selalu mikir semua hal bisa kamu tanggung sendiri,” ucap Azka kesal.
Nayla tersenyum tipis. “Bukannya kamu suka begitu?”
Azka terdiam.
Ia mengalihkan pandangan. “Istirahat.”
Nayla memejamkan mata, tapi tidak langsung tidur. Suasana hening. Terlalu hening.
“Azka,” panggil Nayla pelan.
“Kenapa?”
“Kamu panik, ya?”
Azka menoleh tajam. “Nggak.”
Kebohongan itu buruk.
Nayla tersenyum kecil. “Kamu jatuhin obat.”
Azka mendengus. “Kebetulan.”
Nayla tertawa pelan, lalu terbatuk. Azka langsung berdiri.
“Minum lagi,” katanya sambil mengangkat gelas.
Gerakannya cepat. Terlalu cepat.
Nayla menatapnya. “Kamu nggak usah segitunya.”
Azka menahan napas. “Lo sakit.”
“Itu nggak berarti kamu harus—”
“Gue tanggung jawab,” potong Azka.
Kalimat itu keluar tanpa ia rencanakan.
Nayla terdiam. “Tanggung jawab sebagai apa?”
Azka membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Matanya mengeras.
“Sebagai orang yang ada di rumah ini,” jawabnya akhirnya.
***
Siang menjelang.
Azka membatalkan keberangkatannya ke sekolah. Ia mengirim pesan singkat ke Devan dengan alasan singkat. Ponselnya terus bergetar, tapi ia mengabaikannya.
Fokusnya satu.
Nayla.
Ia mengganti kompres di dahi Nayla setiap beberapa waktu. Memastikan selimutnya tidak terlalu tebal. Menegur Nayla setiap kali gadis itu mencoba bangun sendiri.
“Jangan keras kepala,” kata Azka untuk kesekian kalinya.
Nayla mengerang lemah. “Kamu lebih keras kepala.”
Azka mendengus. Tapi ia tidak membantah.
Saat Nayla akhirnya tertidur, Azka duduk di tepi ranjang, menatap wajah pucat itu lama. Ada rasa aneh di dadanya.
Takut.
Rasa yang tidak pernah ia izinkan tumbuh.
Ia teringat luka di lengan Nayla. Teringat tubuh Nayla yang selalu dipaksa kuat. Teringat bagaimana Nayla selalu berkata tidak apa-apa, padahal jelas tidak.
“Kenapa lo selalu begini…” gumamnya pelan.
Azka menyadari sesuatu yang membuatnya semakin tidak nyaman. Jika hari itu ia tidak naik ke kamar Nayla, jika ia memilih bersikap biasa saja seperti sebelumnya, ia bahkan tidak tahu seberapa buruk kondisi Nayla.
Dan pikiran itu membuat dadanya sesak.
***
Menjelang sore, Nayla terbangun dengan demam yang sedikit turun. Ia membuka mata dan melihat Azka masih ada di sana, tertidur setengah duduk di kursi. Kepalanya sedikit terangguk, lengan terlipat.
Nayla menatapnya lama.
Wajah Azka terlihat berbeda saat tidur. Tidak setegang biasanya. Tidak setajam biasanya. Untuk sesaat, Nayla lupa semua luka dan kata-kata tajam.
Ia menggerakkan tangan perlahan, tapi gerakan kecil itu membuat Azka langsung terbangun.
“Kamu kenapa?” tanyanya cepat.
Nayla tersenyum lemah. “Nggak apa-apa.”
Azka menempelkan tangannya ke dahi Nayla lagi. “Masih hangat.”
“Kamu nggak sekolah?”
Azka menggeleng. “Nggak penting.”
Nayla menatapnya. “Terima kasih.”
Azka menyingkirkan tangannya. “Tidur.”
Nada suaranya kembali dingin. Tapi Nayla tahu, itu hanya tameng.