Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Siuman
Pagi itu Alyssa terbangun dengan perasaan asing.
Ditatapnya samping ranjang yang telah kosong, tidak ada kehadiran Brayen lagi disana, setelah bangkit dari pembaringannya Alyssa memilih duduk ditepi ranjang dan memeluk kedua lututnya.
Kepalanya ia sandarkan keatas lutut sementara matanya menatap jendela kamar dimana ia bisa melihat pemandangan diluar sana.
"Sekarang aku harus memulai dari mana." Lirih Alyssa bingung menghadapi kehidupan barunya.
Ditengah kebimbangannya tiba tiba saja pintu kamar terbuka dengan perlahan dan mengalihkan perhatian wanita itu.
Brayen masuk dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Bersiaplah,” ucap Brayen singkat.
Alyssa mengerutkan dahinya.
“Bersiap untuk apa?”
“Kita keluar sebentar.”
“Sekarang?” Alyssa melirik jam, ini masih terlalu pagi bahkan ia belum mandi dan berganti pakaian.
“yang benar saja kak, aku belum...”
“Percaya saja padaku,” potong Brayen, nadanya tegas namun tidak dingin.
Kata itu membuat Alyssa terdiam. Ia mengangguk pelan, meski hatinya dipenuhi tanda tanya.
...
Mobil melaju membelah pagi yang masih berkabut. Alyssa menatap keluar jendela, sementara Brayen berada disampingnya, tatapan laki laki itu lurus kedepan seolah tengah fokus pada jalanan dihadapan mereka.
“kak…” Alyssa membuka suara.
“Sebenarnya kita mau kemana, apa kita akan pulang kerumah kakak...”
“Kamu tidak perlu menebak,” jawab Brayen tanpa menoleh.
“Aku hanya ingin kamu melihatnya sendiri.” Brayen begitu misterius bahkan ia tidak mau mengatakannya.
Alyssa jadi semakin penasaran sebenarnya kemana mereka akan pergi.
Tiba tiba saja perasaan Alyssa tidak enak, ia takut Brayen akan melakukan hal yang tidak tidak dan melenyapkan dirinya.
Bukan tanpa alasan dia berpikir seperti itu karena sebelumnya Brayen tidak setuju menikah dengannya.
Jantung Alyssa berdebar dengan kencang ketika mobil berhenti di depan sebuah rumah sakit dimana ibunya tengah dirawat saat ini.
" kenapa kita ke sini, apa terjadi sesuatu pada ibuku?” suara Alyssa bergetar, ia sungguh takut sekarang.
Takut jika Brayen membawanya hanya untuk bertemu dengan mayat ibunya, ia sungguh tidak siap... Jika itu benar benar terjadi.
Brayen menoleh. Tatapannya serius seolah olah tidak sedang bercanda saat ini.
"Ada sesuatu yang harus kamu lihat."
Setelah mereka turun Alyssa mendorong kursi roda suaminya melewati lorong demi lorong hingga akhirnya mereka tiba didepan pintu kamar ibunya.
"Kak... " Lirih Alyssa pelan seakan akan tidak siap menerima kenyataan yang mungkin akan menggoncang jiwanya.
Matanya sudah berkaca kaca, Brayen yang melihat Alyssa sudah hampir menangis pun langsung mengulurkan tangannya dan mengusap punggung tangan Alyssa dengan perlahan.
"Tidak apa, semua akan baik baik saja." Ucap Brayen berusaha meyakinkan Alyssa.
Dengan penuh keraguan Alyssa mendorong pintu kamar dihadapannya dan ketika ia melihat ranjang ibunya, ia terkejut. Matanya melebar seolah olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sang ibu, kini sudah terbangun dengan senyum lembut yang ia arahkan kepada dirinya.
“Alyssa…” panggil suara ibunya lemah.
Tanpa banyak bicara Alyssa langsung berlari dan berhambur memeluk ibunya.
Air matanya jatuh, bukan karena sedih melainkan karena lega ibunya sudah benar benar terbangun dari tidur panjangnya.
"Ibu...ini benar benar ibu." Lirihnya kembali menatap ibunya untuk memastikan, Manda tersenyum, ia ikut menitihkan air mata dan membalas pelukan Alyssa.
"Ini ibu nak, maafkan ibu sudah membuatmu khawatir dan menanggung semuanya sendiri... Ibu" belum sempat Manda melanjutkan kata katanya Alyssa sudah lebih dulu menggelengkan kepalanya dan meletakkan jari telunjuknya kedepan bibir Manda.
"Tidak Bu, jangan meminta maaf. Ini semua musibah, dan Alyssa tau ibu juga tidak ingin berada di posisi seperti saat ini." Manda mengangguk, ia kembali memeluk Alyssa meluapkan rasa rindunya kepada anak perempuan yang sudah lama tidak dilihatnya.
“Ibu dengar kamu sudah menikah,” bisik sang ibu lirih membuat Alyssa menjauhkan tubuhnya dan menatap ibunya dalam.
"Dari mana ibu tau?"
Manda hanya tersenyum, ia beralih menatap Brayen yang kini tidak jauh darinya. Alyssa mengikuti arah pandangan ibunya.
"Kak...." Panggil Alyssa pelan seolah meminta penjelasan dari Brayen.
"Sebenarnya ibumu sudah sadar sejak subuh, dokter menghubungiku jadi aku langsung pergi menemuinya tanpa memberitahumu lebih dulu."
"Kenapa???"
"Karena aku ingin memberikan kejutan padamu selain itu aku juga tidak tega membangunkan mu, kamu terlihat kelelahan." Alyssa terdiam alasan yang Brayen berikan terlalu sempurna hingga ia tidak bisa marah kepadanya.
Tatapan Alyssa beralih kepada ibunya ia takut ibunya menyalahkan dirinya karena menikah tanpa persetujuan darinya.
"Maafkan Alyssa Bu, Alyssa menikah tanpa meminta restu kepada ibu terlebih dahulu."
Manda menggelengkan kepalanya, ia sungguh tidak menyalahkan putrinya.
"Tidak Alyssa ibu mengerti, Brayen sudah menjelaskan semuanya." pikiran Manda menerawang jauh mengingat kejadian saat pertama kali ia bertemu dengan menantunya.