NovelToon NovelToon
Sorry, I Love You My Enemy

Sorry, I Love You My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:66
Nilai: 5
Nama Author:

Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.

Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.

kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.

namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.

apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..

perdebatan sengit

Suara di seberang sana terdengar jelas begitu panggilan tersambung.

“Tommy?” suara itu terdengar familiar, tenang, namun menyimpan nada menuntut.

Tommy memejamkan mata sejenak.

“Wilona,” jawabnya singkat.

“Ada apa menelepon malam-malam begini?” tanya tommy datar.

Wilona tidak langsung menjawab. Ia seperti sedang menimbang kata-kata, lalu berkata dengan nada yang sedikit bergetar,

“Aku dengar kamu kembali ke Indonesia. Dan… aku dengar juga kamu mulai dekat lagi dengan Rayya.” jawab wilona dengan suara yang sedikit menggoda.

Rahang Tommy mengeras.

“Aku tanya sekali lagi, Wilona. Apa maksudmu meneleponku?” tanya tommy yang memang sudah tidak mau berhubungan dengan wilona.

Nada suaranya kini tegas, tanpa sisa kehangatan. Ia tidak ingin percakapan ini melebar ke mana-mana.

Wilona tertawa kecil, namun terdengar dipaksakan.

“Kamu tidak bisa meninggalkanku begitu saja, Tom. Kita sudah menjalin hubungan yang… intim. Kamu tidak bisa berpura-pura semuanya selesai hanya karena satu kesalahan.” ucap wilona dengan nada datar.

Tommy langsung duduk tegak di ranjang.

“Satu kesalahan?” ulangnya dingin.

“Kamu ketahuan berselingkuh, Wilona. Bukan sekali. Dan kamu masih berani menyebutnya satu kesalahan?” sahut tommy membalas ucapan wilona.

“Aku khilaf!” bantah Wilona cepat.

“Kamu terlalu sibuk, terlalu dingin. Aku hanya—” ucapan wilona terpotong.

“Cukup,” potong Tommy tajam.

“Jangan memutarbalikkan keadaan.” sambungnya.

Ia menarik napas, berusaha tetap rasional.

“Aku sudah jelas waktu itu. Aku mengakhiri semuanya karena kamu mengkhianati kepercayaanku. Aku tidak ingin ada sangkut paut apa pun lagi denganmu.” lanjutnya.

Nada suara Wilona berubah, lebih keras, lebih mendesak.

“Kamu tidak bisa begitu saja menghapus apa yang sudah terjadi di antara kita!” balas wilona,

“Apa yang terjadi tidak pernah membuatku lupa satu hal,” jawab Tommy mantap.

“Kamu memilih pria lain di belakangku. Dan itu cukup.” sambungnya.

Hening sesaat di ujung sana.

“Aku harap ini terakhir kalinya kamu menghubungiku,” lanjut Tommy.

“Hidupku bukan lagi urusanmu.” sambungnya.

Tanpa menunggu jawaban, Tommy menutup panggilan.

Ia menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu dengan gerakan tegas mengubah mode menjadi silent. Ponsel itu ia letakkan kembali di nakas, seolah ingin memastikan tidak ada lagi gangguan yang bisa merusak ketenangan malamnya.

Tommy menghembuskan napas panjang, lalu bersandar di sandaran kepala ranjang. Pikirannya kembali melayang, kali ini pada dua sosok yang begitu kontras. Wilona, dengan segala kemudahan dan kebebasannya. Sikap yang terlalu longgar, perhatian yang mudah terbagi, dan kesetiaan yang rapuh. Bersamanya, Tommy selalu merasa waspada, seolah harus terus memastikan posisinya tidak tergeser.

Dan Rayya.

Rayya yang selalu menjaga batas. Rayya yang tegas pada prinsipnya. Selama mereka menjalin hubungan dulu, Tommy tidak pernah sekalipun melihat Rayya bermain-main dengan pria lain. Tidak ada drama murahan, tidak ada godaan murahan. Kesetiaan Rayya adalah sesuatu yang dulu ia anggap biasa, hingga ia kehilangan.

“Jauh sekali bedanya…” gumamnya pelan.

Malam itu, Tommy menyadari satu hal dengan sangat jelas. Apa yang ia cari bukan sekadar cinta, melainkan rasa aman yang hanya bisa diberikan oleh seseorang yang memegang nilai hidupnya dengan kuat.

Dan nama itu, sekali lagi, adalah Rayya.

Dengan pikiran yang perlahan tenang, Tommy memejamkan mata. Kali ini, tidurnya datang dengan satu tekad yang semakin menguat, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tidak lagi.

Keesokan harinya, Jumat pagi, suasana perusahaan assyura group berjalan seperti biasa, setidaknya di permukaan. Aktivitas kantor tetap padat, para karyawan lalu-lalang dengan agenda masing-masing. Namun semua orang tahu, hari itu bukan hari kerja biasa. Jam pulang telah diberi kelonggaran hingga pukul tiga sore, karena seluruh jajaran direksi dijadwalkan berangkat menuju Labuan Bajo pukul enam petang.

Rayya datang lebih pagi dari biasanya.

Belum sempat ia menyesap kopi pertamanya, Ari, asisstennya, sudah berdiri di depan pintu ruangannya dengan wajah tegang.

“Bu Rayya, ada laporan darurat dari pabrik di kawasan timur,” ucap Ari pelan.

Rayya menegakkan tubuh. “Masuk. duduk dulu, tarik nafas dulu. baru ceritakan pelan - pelan ada apa” ucap rayya dengan tenang.

Ari meletakkan map di atas meja.

“Terjadi kecelakaan kerja subuh tadi. Seorang operator mesin mengalami luka parah.” ucap ari menjelaskan.

Rayya langsung berdiri.

“bagaimana kondisinya sekarang?” tanya rayya.

“Sudah dilarikan ke rumah sakit. Masih dalam penanganan intensif. Dugaan awal, korban tidak mematuhi standar keselamatan kerja.” jawab ari.

Rayya menghela napas panjang. Luka parah tetaplah serius, dampaknya bisa panjang, baik bagi korban maupun perusahaan.

“Panggil rapat darurat,” perintah Rayya.

“Libatkan pengawas direktur operasional.” sambungnya.

Tidak lama kemudian, ruang rapat terisi oleh beberapa jajaran penting. Devan duduk di seberang meja, ekspresinya serius. Di depannya, laporan kronologis kejadian terbuka rapi.

Devan membuka pembahasan.

“Berdasarkan laporan awal, ini adalah pelanggaran SOP keselamatan kerja. Operator mesin tidak menggunakan alat pelindung sesuai standar.” ucap devan datar.

Rayya menatap layar presentasi, lalu mengangkat pandangan.

“Tapi korban selamat. Kita harus melihat konteks sebelum mengambil kesimpulan.” sahut rayya.

“Selamat tidak berarti ringan,” jawab Devan tenang.

“Luka parah tetap menunjukkan kegagalan pengawasan.” sambungnya.

Nada suaranya tetap datar, profesional.

Rayya menarik napas.

“Saya tidak menyangkal ada pelanggaran. Tapi itu dilakukan oleh individu. Kepala pabrik tidak bisa langsung dituding lalai.” sahut rayya.

Devan menautkan jari-jarinya.

“Pengawasan adalah tanggung jawab kepala pabrik. Jika pelanggaran bisa terjadi di lapangan, berarti sistem tidak ditegakkan secara maksimal.” balas devan.

“Rekam jejak kepala pabrik baik,” sahut Rayya cepat.

“Pelatihan keselamatan rutin dilakukan. Briefing shift juga berjalan. Kita tidak bisa mengorbankan satu orang hanya demi menunjukkan ketegasan.” sambungnya.

Beberapa direksi mulai saling bertukar pandang. Ketegangan perlahan naik.

Devan menoleh pada Rayya.

“Ketegasan bukan pengorbanan. Ini soal pencegahan. Jika kita longgar hari ini, besok bisa lebih parah.” balas devan.

Rayya bersandar ke kursinya, suaranya terdengar lebih dingin.

“Dan jika kita gegabah, kita menciptakan ketidakadilan di internal.” sahut rayya.

Devan terdiam sejenak, lalu berkata,

“Saya merekomendasikan audit operasional menyeluruh. Jika ditemukan celah pengawasan, sanksi harus diberlakukan.” balas devan.

Rayya mengangguk.

“Saya setuju audit. Tapi selama belum ada hasil, tidak ada tindakan personal terhadap kepala pabrik.” sahut rayya.

Hening menyelimuti ruangan.

Akhirnya, salah satu direktur senior memutuskan,

“Baik. Audit dilakukan segera. Perusahaan juga akan menanggung penuh biaya pengobatan korban dan memberikan pendampingan. Soal tanggung jawab struktural menunggu hasil audit.” ucap sang direktur senior.

Keputusan itu mengendurkan sedikit ketegangan.

Rapat ditutup, satu per satu direksi keluar. Rayya membereskan berkasnya, sementara Devan berdiri di dekat pintu.

“Kamu terlalu emosional,” ucap Devan pelan, tanpa nada menuduh ketika ia hendak melewati rayya.

Rayya menatapnya tajam.

“Dan kamu terlalu kaku.” sahut rayya.

Devan menoleh.

“Keselamatan tidak bisa ditawar.” ucap devan datar.

Rayya menjawab singkat,

“Keadilan juga tidak.” balas rayya.

Mereka saling menatap beberapa detik, dua prinsip yang sama-sama kuat, tak ada yang mau mengalah.

Devan akhirnya mengangguk.

“Kita lanjutkan setelah audit.” ucapnya sambil berlalu.

Rayya tidak menjawab. ia sibuk membereskan dokumennya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!