- Berawal dari benci -
Akhh!
"Lo, kalau jalan pakai mata! "
"Maaf, kak "
"Ck, cewek gendut kaya lo mending pergi deh dari sini! "
" Baik ka! "
"Gendut amat sih! "
- berakhir di pelaminan -
"Apa nikah sama dia?, what! "
" Dewa bangun! "
" Akh, mama dewa ngga bisa nikah sama dia! "
" Harus bisa! "
- love 100 kg -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 32 Rumah tangga
"Ma, kenapa belum tidur? " Tanya aura sembari menaruh bobotnya di sofa bersisian. Oleh sang mama yang, fokus menatap layar televisi yang menampilkan saluran televisi. Namun pandangannya kosong, rianti menoleh ke arah aura. "Papa kamu, loh ra dari. Kemarin belum pulang!.. Mama sudah hubungi katanya lusa baru pulang! " Jelas rianti di kedua maniknya berbalut kerinduan. Sang suami,
Aura, sangat tahu perasaan sang mama ia langsung melingkarkan tangan besarnya. Ke bahu sang mama. "Sudahlah, ma jangan hiraukan papa baik-baik saja!. Nanti juga pulang mama jangan kebanyakan kecapean mama kan ada riwayat asma! " Kata aura mengingat kan sembari, mengusap lembut bahu rianti. "Ya sayang, mama tahu tapi.. Mama merindukan papa kalian lah!. Dari kemarin loh! " Cakap rianti aura bisa melihat manik sang mama, terlihat merindukan sosok lelaki yang sudah Lebih dari Tujuh belas tahun meminang rumah tangga bersamanya.
"Ma, ka kok belum tidur? " Tanya aira yang muncul dari pintu kamarnya, membuat Rianti dan Aura menoleh ke arah. Aira gadis yang rambutnya di gerai memakai baju pres body,
"Nak, ngapain kamu dandan pakai baju seperti itu? " Tanya bu rianti ada sebuah kekhawatiran di maniknya. Melihat anaknya yang seperti bukan dari, kalangan anak baik-baik. Aira mengguyar rambutnya kebelakang " Aku, ada acara makan malam sama teman-teman ku ma!.. Inez lagi ulang tahun, makanya aku dandan seperti ini " Ungkap aira sembari duduk di sebelah sang kaka, Aura menghela napas panjang " Tapi, dek! Ngga pakai baju yang kurang bahan gini juga dong! " Nasihat aura saat melihat lekuk tubuh sang adik, Terlihat jelas di balik dress pres body berwarna putih ada blik-blik nya.
" Kaka, itu bilang aja iri kan?. Kalau aku cantik tubuh ku bagus! . Makanya kaka melarang aku! " Sentak aira bangkit dari duduknya ia menatap tajam, sang kaka rianti menghela napas berat. "Nak!, apa yang kaka mu katakan benar!. Kaka mu hanya takut kamu kenapa-kenapa dia begitu peduli dengan mu! " Jelas rianti, membuat aira menatap sinis keduanya "bilang, aja mama emang lebih sayang sama ka aura kan?. " Sinis aira memohok hati sekali,
"Aira!, " Sentak Aura membuat aira menghela napas kasar. "Kaka mau, cermah kan aku untuk pakai baju lebar kaya kaka? " Cemooh aira membuat rianti mengelus dadanya, " Aira!, hentikan kamu tidak boleh menghina Kaka mu!. Dia kaka mu! " Celetuk rianti menengahi keduanya namun aira tidak peduli, " Ma!, aku anak mama dan aku berhak atas diriku! " Cakap aira lalu berlalu begitu saja. "Aira!, kaka dan mama hanya khawatir sama kamu! " Teriak aura namun gadis cantik, berbadan gitar Spanyol. Itu acuh dengan perkataan sang kaka. "Aira! "
"Mama tenang, aira cuman pergi ke rumah temannya kok! " Aura, mengusap lembut bahu rianti. Membuat rianti menatapnya penuh haru, "terimakasih nak!, Apa yang aira katakan jangan. Di masukan ke hati! " Ujar rianti
"Ya, ma mana mungkin aura seperti itu! "
"Mama sayang aura! "
"Aura pun!, "
Sementara itu, di rumah dewa ia sangat senang karena kehangatan mulai. Terasa kembali saat sang papa pulang dari luar kota, ia sangat bahagia sekali.
"Pa, ini kopinya mama sengaja buatkan kopi kesukaan papa. " Hana menaruh secangkir kopi dan cake di atas meja kaca yang, di tengah-tengah sofa. " Terimakasih, ma! "
"Sama-sama! "
Dewa, menaruh bobot tubuhnya di sebelah sang mama memperhatikan lelaki yang. Beraura sangat dingin, tersebut yang dimana lelaki cinta pertama dan terakhir sang mama.
"Pa, aku mau tanya kenapa papa dari kemarin tidak pulang-pulang?. " Tanya dewa membuat lelaki tersebut, menoleh ke Arahnya hana langsung menepuk, paha sang anak " Hei!, papa mu kan kerja sayang! " Kata hana
Lelaki tersebut tersenyum, dingin maniknya menatap lekat hana. Yang menatapnya penuh arti, "ya sayang, maafkan papa ya tidak tepat janji tapi apa yang papa lakukan demi. Kebahagiaan kalian berdua! " Kata Dafa dengan suara berat, Dewa hanya mengangguk kan kepalanya. " Gimana sekolah, kamu? Apakah kamu masih ingin menjadi dokter? " Tanya dafa membuat dewa terdiam sejenak. "Alhamdulillah, mas dewa anaknya sangat pintar di Wariskan papa nya!. Mama yakin dewa, akan menjadi dokter! " Sahut hana langsung mengambil peran, ia menepuk pundak dewa,
" Ya jelas, kan anak saya!. Dewa papa harap kamu bisa hujutkan mimpi papa dulu!.. Kamu harapan kami! " Ujar lelaki tersebut sembari, beranjak dari sofa, "Mama ke kamar dulu ya nak! " Hana pun berlalu. Masuk ke kamar dewa hanya menghela napas kasar, Kata-kata sang papa membuatnya. Stres setengah mati,
Ia segera, mengirim beberapa pesan ke irsyad. Namun hanya ceklis satu berwarna abu-abu, yang nongol " Si irsyad kenapa sih, ngga online? " Cebiknya.
Sementara itu, seorang lelaki tampan sedaritadi tidak berhenti. Menggambar sketsa bangunan rumah, ia menghela napas berat kala melihat. Gelas kaca yang biasa diisi penuh kini habis, irsyad dengan malas mengambil Gelas kaca miliknya. Lalu berjalan ke dapur,
"Daniel, kamu harus tahu kalau anak kita. Harusnya ikut dengan ku, kita ke london bersama Tinggal bahagia! "
" Tidak!, alisya kamu harus tahu kalau irsyad lebih bahagia disini! "
"You failed as a father, dan aku tidak mau anak kita jadi korban irsyad. Hanya ada satu disini! "
" He's my son as well! "
" I know! "
Irsyad, menghela nafas mendengarnya "mom, dad pleaseee!. Jangan bertengkar! Irsyad lelah! " Irsyad mendekati kedua mama papa nya tersebut. "Sayang, besok kita ke london sama mama okay! " Cakap alisya mama irsyad membuat irsyad, menggeleng " Kasih irsyad, waktu sampai irsyad lulus sekolah mom!. Mom sudah janji kan?, " Sahut irsyad santai
"Ya sayang, kalau itu yang kamu inginkan mom and dad, akan Menagih janji kamu kalau nantinya. Kamu sudah lulus " Ujar Alisya sembari menaruh tangannya di bahu sang suami, "i'm so sorry daniel! "
"Of course baby! "Irsyad tersenyum, penuh arti melihat hubungan sang papa mama. Yang kadang suka bertengkar namun, mereka akan berbaik kembali.