NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Dhea Dan Gaun Biru

Di tempat lain, di rumah Vino yang sederhana namun hangat, ponsel Vino tiba-tiba berbunyi dengan notifikasi pesan masuk. Ia sedang bermain game di komputernya sambil video call dengan Dhea yang sedang membuat PR di kamarnya.

Vino melirik ponselnya yang tergeletak di samping keyboard, melihat nama grup 'Utara Inti' muncul di layar. Ia mengambil ponselnya dan membaca pesan dari Misca.

Mata Vino langsung membulat. "DHEA! DHEA, LIHAT INI!"

Di layar video call, Dhea yang sedang serius menulis langsung terkejut. "Apa? Apa? Ada apa?"

Vino mengarahkan kamera ponselnya ke layar chat, menunjukkan pesan singkat dari Misca. Dhea membaca pesan itu, dan wajahnya langsung berubah menjadi ekspresi senang yang luar biasa.

"OH MY GOD! DIA MAU DATANG!" teriak Dhea sampai hampir menjatuhkan pulpennya.

"Aku tahu, kan! Aku tahu dia pasti mau datang!" Vino melompat-lompat kecil di kursinya seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru. "Jeka benar! Kalau Misca bilang 'tidak janji', artinya dia sedang pertimbangkan. Dan sekarang dia kirim pesan kayak gini, artinya dia PASTI datang!"

"Cepat kasih tahu Jeka dan Raya!" perintah Dhea dengan semangat.

Vino langsung mengetik dengan cepat di grup chat yang berbeda—grup 'Festival Yuk!' yang beranggotakan dia, Dhea, Jeka, dan Raya. Ia mengirim screenshot pesan Misca dengan caption penuh kemenangan.

Vino: "GUYS! MISI ACCOMPLISHED! "

Tidak sampai satu menit, balasan dari Jeka muncul.

Jeka: "Aku sudah bilang, kan? Misca itu kalau sudah pertimbangkan, pasti jadi. Dia cuma butuh waktu buat mikir secara rasional."

Kemudian balasan dari Raya muncul dengan nada yang lebih lembut dan berhati-hati.

Raya: "Wah, bagus kalau dia mau datang. Aku senang dia mau istirahat sebentar. Tapi... kita jangan ekspektasi terlalu tinggi ya. Mungkin dia cuma mau datang sebentar."

Dhea: "Nggak apa-apa! Yang penting dia MAU datang! Ini sudah prestasi luar biasa untuk standar Misca. Biasanya dia nggak pernah mau ikut acara kayak gini."

Vino: "Bener banget. Ini momen langka, guys. Kita harus bikin malam itu berkesan buat dia. Biar dia tahu kalau kadang-kadang keluar dari zona nyaman itu nggak seburuk yang dia pikirin."

Mereka berempat kemudian mulai merencanakan detail-detail kecil untuk malam Minggu nanti—jam keberangkatan, titik kumpul, stan makanan mana yang harus dikunjungi, dan bagaimana cara membuat Misca merasa nyaman di tengah keramaian festival.

Sementara itu, di kamar Misca yang sunyi, pemuda itu sudah kembali berbaring di tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamar yang tinggi. Ponselnya tergeletak di samping bantalnya, layarnya masih menyala menampilkan grup chat yang mulai ramai dengan pesan-pesan antusias dari teman-temannya.

Ia tidak ikut membalas atau berkomentar. Bukan karena ia tidak peduli, tapi karena ia merasa tidak perlu menambahkan kata-kata yang tidak efisien. Ia sudah membuat keputusan, dan itu sudah cukup.

Tapi ada sedikit rasa—sangat kecil, hampir tidak terasa—ada sedikit rasa lega di dadanya. Rasa lega karena teman-temannya terlihat senang dengan keputusannya. Rasa lega karena ia tahu, setidaknya untuk satu malam, ia bisa sedikit melupakan beban sebagai ketua wilayah dan menjadi remaja biasa yang pergi ke festival bersama teman-temannya.

Hitungan mundur 20 hari terus berlanjut di kepala Misca seperti lonceng yang tak pernah berhenti berdering. Tapi kini ia mencoba mencari celah di tengah persiapan duel yang berat dan ancaman dari wilayah luar. Ia butuh jeda singkat ini bersama orang-orang terdekatnya—orang-orang yang masih melihatnya sebagai Misca, bukan sebagai mesin tempur atau ketua wilayah yang menakutkan.

Besok, ia akan menjadi sosok yang paling tenang di tengah keramaian festival. Sebelum akhirnya kembali fokus menjadi tumpuan kekuatan utama bagi Wilayah Utara.

Misca menutup matanya perlahan, membiarkan kelelahan akhirnya mengalahkan pikiran-pikirannya yang tak pernah berhenti berputar. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, ia tidur dengan sedikit lebih tenang.

Sabtu siang, sebelum acara festival, rumah Dhea dipenuhi dengan suasana yang sangat berbeda dari keseriusan masalah antar wilayah yang biasa mereka hadapi. Raya dan Dhea sedang duduk bersila di karpet kamar Dhea yang penuh dengan poster band-band Korea dan dekorasi lucu lainnya. Di sekeliling mereka, berserakan tumpukan pakaian, sepatu dengan berbagai model, dan berbagai aksesoris—gelang, kalung, ikat rambut, dan lain-lain.

Suasana di antara mereka sangat ceria dan penuh tawa—jauh dari ketegangan masalah antar wilayah di sekolah yang selalu terasa mencekam.

"Jadi, kamu mau pakai yang mana, Ray?" tanya Dhea dengan antusias sambil mengangkat dua pilihan pakaian yang sangat berbeda. Di tangan kirinya, ada dress pendek berwarna dusty pink yang sangat feminin dengan detail renda di bagian bawahnya. Di tangan kanannya, ada celana jins robek-robek dengan jaket kulit hitam yang terlihat jauh lebih kasual dan tomboy.

Raya tampak ragu sambil menggigit bibir bawahnya—kebiasaannya saat sedang berpikir keras. "Aku... tidak yakin, Dhe. Biasanya aku pakai apa yang paling nyaman saja. Tapi ini kan festival pertamaku di sini..."

Ia melirik ke arah tumpukan pakaian dengan ekspresi bingung. Selama ini, Raya memang lebih suka berpakaian simpel dan praktis—kaos, celana jins, dan sepatu kets. Ia tidak terbiasa dengan dunia fashion yang rumit dengan segala pertimbangannya.

Dhea tersenyum usil sambil meletakkan kedua pakaian tadi di atas tempat tidur. Ia lalu duduk lebih dekat dengan Raya, mata berbinar penuh dengan rencana jahil. "Ini bukan cuma festival biasa, Raya," bisiknya dengan nada yang penuh misteri. "Ini adalah kesempatan langka untuk melihat Misca, si manusia kaku itu, dalam suasana santai. Kamu harus tampil beda. Bikin dia... kaget sedikit."

Raya langsung merasa wajahnya memanas mendengar nama Misca disebut dengan nada seperti itu. "Maksudmu, aku harus jadi 'pengalih perhatian' buat dia?" candanya, mencoba menutupi rasa gugupnya dengan berpura-pura santai.

"Tepat sekali!" Dhea bertepuk tangan kecil dengan gembira. "Biar dia bingung dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Misca itu kan terbiasa dengan hal-hal yang pasti dan terukur—semua serba logis dan matematis. Sekarang, kita beri dia kejutan yang bisa bikin dia salah tingkah. Aku penasaran banget gimana reaksinya kalau dia lihat kamu tampil beda dari biasanya!"

Raya menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. Ia mengambil beberapa pakaian dari tumpukan, mencobanya satu per satu di depan cermin besar kamar Dhea. Setelah mencoba berbagai kombinasi yang membuat Dhea terus berkomentar dengan antusias—"Yang ini terlalu formal", "Yang itu terlalu ramai", "Warnanya nggak cocok sama kulitmu"—Raya akhirnya menjatuhkan pilihan pada gaun sederhana berwarna biru muda yang tidak terlalu mencolok tapi tetap terlihat manis.

Gaun itu simpel, dengan potongan A-line yang tidak terlalu ketat dan panjangnya sampai sedikit di atas lutut. Cukup nyaman untuk berjalan-jalan di festival, tapi tetap terlihat feminin dan berbeda dari penampilannya yang biasa.

Raya kemudian mengikat sebagian rambutnya ke belakang dengan jepit rambut kecil, membiarkan beberapa helai rambut jatuh menutup sedikit wajahnya. "Aku cuma mau jadi diriku sendiri, Dhe," ujarnya sambil menatap pantulannya di cermin dengan sedikit ragu. "Aku tidak mau terlihat seperti orang lain hanya untuk menarik perhatian."

Dhea berdiri dan berjalan menghampiri Raya, lalu merangkul pundak sahabat barunya itu dengan tulus. "Itu malah lebih bagus, Ray," katanya dengan lembut namun yakin. "Misca pasti lebih suka melihatmu apa adanya. Dia itu... dia bukan tipe orang yang suka kepalsuan atau kepura-puraan. Dia menghargai keaslian. Jadi, kamu tampil apa adanya, dan biar dia yang bingung sendiri kenapa dia nggak bisa berhenti memperhatikan kamu."

Raya tersenyum, merasa sedikit lebih percaya diri dengan dukungan Dhea. Mereka kemudian melanjutkan sesi persiapan dengan memilih sepatu yang cocok—sandal flat berwarna cokelat yang nyaman untuk berjalan—dan aksesoris minimalis berupa gelang tipis di pergelangan tangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!