NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Anin dan Perasaan Tersisih

Suasana malam di rumah terasa begitu sunyi, hanya terdengar suara denting jam saat Harsa baru saja menginjakkan kaki di rumah. Anin bahkan tak menyambutnya meski sudah beberapa kali ia panggil, mengetuk pintu, memberi salam dan memencet bell, tapi istrinya itu tak kunjung turun. Walau tak setiap saaat juga, tapi jika ada sempat Anin pasti selalu menyambutnya dengan senyum antusias dan yang paling membuatnya agak kesal adalah Anin tak mengunci pintu rumah.

“Bisa-bisanya gak dikunci.” Begitu ia menggeleng tak habis pikir saat mendapati pintu rumah tak terkunci. Dengan pelan ia kembali menutup pintu dan menguncinya setelah berhasil masuk.

“Apa dia udah tidur?” gumamnya pelan dengan langkah yang mulai menyusuri ruang tamu menuju area belakang yang langsung mengarahkan pada dapur dan tangga menuju lantai atas di sisi kanan.

Terlebih dulu ia hendak meletakkan belanjaan yang sengaja ia belikan untuk sang istri seperti janjinya tadi. Sekotak martabak manis toping lengkap kesukaan Anin, serta dua bungkus nasi goreng, tak lupa dengan es jeruk segar.

Sudah hampir ia letakkan di meja makan, tetapi urung saat ia lebih memilih menunjukkannya secara langsung. Berharap Anin senang melihatnya pulang dengan membawakan makanan. Seperti biasa, mengingat bagaimana istrinya selalu bersemangat setiap kali ia datang membawa makanan membuat perasaan Harsa menghangat, bibirnya mengulas senyum. Tak sabar ingin segera menemui anak dan istri yang sudah sangat dirindukan. Harsa pun mulai melangkah menaiki tangga.

“Zura,” panggilnya heboh begitu menginjakkan kaki di lantai atas. Dilihatnya Zura tengah sibuk sendiri dengan mainan yang berserakan, tv menyala menampakkan iklan roma kelapa.

“Mama mana?” Ia berjongkok setelah menutup pagar kecil menuju tangga yang sengaja dipasang demi keamanan buah hatinya ini.

“Papa, ba wa a-pa?” Dengan suara cadelnya Zura menghampiri Harsa dengan tatapan berbinar, tak sabar ingin diraih Papanya. Meski belum genap dua tahun, tapi ia sudah lumayan lancar dan jelas menyebutkan kata per kata.

“Bentar ya, Papa belum cuci tangan. Harus bersih-bersih dulu, nanti dimarahin Mama.” Harsa memberi pengertian dan berusaha menghindari Zura yang tampak sudah tak sabar ingin digendong.

“Anin?!” panggil Harsa sembari berdiri dan meletakkan kresek belanjaannya ke meja kabinet agar tak diraih Zura. Anaknya itu terlalu aktif, ia selalu penasaran dan ingin mencoba semua hal yang ia tahu sebagai makanan.

“Mama mana?”

“Di kamar mandi?” tebak Harsa yang masih menanyakan keberadaan sang istri pada Zura yang bahkan mengikuti langkahnya. Bayi itu terus berceloteh, ia berdiri tepat di sisi Harsa, menarik-narik celananya dengan harapan segera digendong.

Yang mana hal itu kian membuat Harsa gemas. Ia pun ingin sekali mendekap buah hatinya, tapi tak ia lakukan karena mengingat dirinya baru saja sampai. Selain itu, Anin juga berulang kali mengingatkan agar tiap dari luar ia tak boleh langsung menyentuh Zura jika belum bersih.

“Yuk, ke Mama dulu.”

Dengan sabar Harsa mengajak Zura melangkah ke dalam kamar untuk mencari keberadaan Anin, tetapi matanya dibuat menyerngit begitu melihat sosok yang baru ke luar dari kamar mandi itu tampak sendu, bahkan mata dan hidung Anin kelihatan merah.

“Kamu kenapa?” Dengan suara lembut Harsa bertanya, tetapi Anin hanya menggeleng denga tersenyum simpul lalu meraih Zura yang berdiri di samping Papanya, tampak tak mau ditinggalkan.

“Gak apa-apa.” Anin menatapnya sekilas lalu mencium gemas pipi anak mereka. Ia kembali berkata, “Sama Mama dulu yuk, Papa bersih-bersih dulu.”

Harsa balas tersenyum saat Anin mulai melangkah ke tempat tidur setelah mengusap lengannya.Tak lupa pula ia melemparkan ekspresi candaan pada Zura yang begitu senang diajak main.

“Jangan bobo dulu dong, Ma. Masih pengen main bareng nih kita,” ujarnya sembari menunjuk Zura dengan berdecak, membuat gerakan tangan layaknya tengah menembak.

“Aman, belum ngantuk juga kok anak kamu ini. Tadi sempat tidur bentar pas abis maghrib.”

Mendengar itu Harsa kembali menunjuk Zura dengan ekspresi menggemaskan lalu segera masuk ke kamar mandi.

Sambil membersihkan diri, Harsa memikirkan Anin yang kelihatan sendu, ia tahu istrinya itu jelas baru saja menangis. Hal yang membuat ia menanyakan penyebabnya sekaligus diterpa rasa bersalah karena baru saja melakukan hal yang apabila diketahui oleh Anin maka akan jelas membuat istrinya marah. Harsa memejamkan mata, menggeleng mengusir penat. Sungguh ia tak ingin ada masalah dalam runah tangganya, tetapi misinya kali ini tentang kemanusiaan sehingga rasanya sulit untuk berhenti ataupun mundur.

“Kayaknya kalau mau aman, gue emang harus jujur daripada diliputi rasa gak tenang gini,” Harsa menatap pantulan dirinya di cermin lalu mulai membasuh wajahnya.

Sementara itu, Anin. Setelah mengasihi Zura yang tampak tak tertarik dan lebih memilih turun dari tempat tidur lalu melangkah ke luar, kembali sibuk dengan mainannya membuat Anin ikut menyusul. Kini ia tengah duduk sambil memerhatikan Zura yang sibuk sendiri menaiki motor mininya dan meminta ia untuk menekan remote.

“Gak bisa jalan kalau mainan Zura gak diberesin dulu,” ujarnya memberi pengertian pada Zura yang marah karena motor-motorannya tak kunjung jalan.

“Ya udah Zura bantu mama pungut mainannya dulu, ayo.” Anin turun dan mulai memasukkan mainan Zura ke dalam boks khusus mainan.

Ruangan berbentuk liter L yang membentang dari depan kamar utama dan satu kamar lagi hingga berbelok ke arah pintu menuju balkon itu memang hampir penuh oleh mainan yang berserakan.

Rumah minimalis dengan konsep industrial modern mereka ini memang hanya terdiri dari tiga kamar, satu kamar di bawah dan dua kamar di atas dengan area yang dijadikan ruang keluarga sekaligus tempat nonton.

“Pinternya, anak siapa sih ini?” puji Anin dengan wajah sumringah. Senang melihat bayi 17 bulannya mau membantu memasukkan mainan ke boks meski hanya beberapa. Membuat pikiran yang sejak tadi kalut dan dipenuhi perasaan tak habis pikir karena selalu menjadi yang tersisihkan oleh keluarganya sendiri jadi sedikit lebih lega.

Sejak tadi ia memang sempat menangis karena memikirkan bagaimana selama ini orang terdekatnya membuatnya sakit hati. Jiwa dan raganya merasa lelah, tidak hanya karena mengurus anak bayinya seorang diri, tapi perasaan sakit yang tiba-tiba menggerogoti setelah melakukan telepon dengan Bapak tadi.

Sambil menatap wajah lugu Zura Anin bertekad bahwa suatu saat jika Zura memiliki adik, maka ia tak akan membuat anak-anaknya merasa tersisih. Anin tak ingin anak-anaknya kelak ada yang merasakan apa yang ia rasakan saat ini.

Anin menoleh ke dalam kamar saat Harsa yang ke luar dari kamar mandi menggunakan handuk yang membungkus pinggang menoleh sambil mengedipkan mata menggodanya. Satu lagi sosok yang ia tunggu kepulangannya sejak tadi, satu-satunya sosok tempat ia bersandar dan berbagi keluh kesah.

“Gak jelas!” cibir Anin yang merasa terhibur atas tingkah laku Harsa.

“Itu di atas meja ada makanan loh, es jeruknya nanti gak dingin lagi kalau kelamaan!” peringat Harsa yang mencondongkan kepala dari pintu hanya untuk memberitahu sang istri. Pria itu sudah mengenakan celana bokser, ia bertelanjang dada sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Apa yang Harsa sampaikan membuat Anin menoleh ke atas meja kabinet yang berada tepat di sudut ruang, depan sudut liter L yang terdapat kamar di sana.

 Usai urusan membereskan mainan selesai, Anin langsung berdiri. Ia hendak ke dapur untuk mengambil sendok dan piring.

“Tunggu sini Aja ya, Ra. Mama mau ke bawah dulu,” ujarnya yang sudah hampir membuka pagar kecil di ujung tangga.

“Mama bentar aja sayang,” ujarnya lagi saat Zura malah menangis ingin ikut, tetapi ia terlalu lelah kalau harus naik turun tangga sambil menggendong, sementara ia hanya mau turun sebentar saja. “Di kamar ada Papa, bentar lagi Papa ke luar temenin Zura, kok.”

Namun Zura malah makin menangis, ia tetap kekeh ingin ikut. Membuat Anin hanya bisa menghela napas pelan. Bayi memang selalu seperti ini, tak ingin jauh dan ditinggalkan, apalagi Zura sudah sangat paham dengan pemikiran jika turun tangga menuju lantai bawah adalah arah ke luar atau pergi. Sehingga pemikiran bahwa ibunya akan pergi mungkin membuatnya tak ingin di tinggalkan.

“Mas, kamu udah selesai belum?!” panggil Anin sambil menggendong Zura. “Tolong pegangin Zura dong, aku mau ke bawah bentar, ambil piring sama sendok.”

Tepat setelah mengatakan itu, terlihat Harsa ke luar kamar dengan tampilan yang sudah sangat segar. Pria yang mengenakan bokser pendek dan kaos oblong itu tersenyum pada Zura.

“Biar aku aja yang ambilin.”

Aroma tubuh Harsa yang kini berdiri tepat di depan Anin dan Zura menguar, aroma favorit yang sangat Anin suka. Apalagi jika sudah menyatu dengan tubuh suaminya itu sudah pasti membuatnya bergejolak dan berdebar, ada perasaan aneh yang tak bisa dijelaskan. Rasanya ingin terus menempel di sisinya.

“Sini sama Papa, kita ke bawah.” Harsa mengarahkan tangan untuk meraih Zura, yang mana membuat bayi itu seketika antusias dna langsung meloncat ke dekapan Papanya.

“Uh, kalau udah sama Papa aja kayak greget gitu,” celetuk Anin, gemas melihat sikap Zura.

“Iya dong, kan Zura kangen sama Papa.”

“Tunggu bentar ya, Mama. Zura yang ambilin piring sama sendok.” Harsa berceloteh layaknya Zura sembari menuruni tangga. Hal yang membuat senyum Anin kian terulas, senang melihat sumber kebahagiaannya tampak begitu kompak.

Setelah kembali dari mengambil piring dan sendok, kini keluarga kecil itu tengah duduk menyantap makanan yang Harsa beli sambil menonton tv. Ada Zura yang sibuk sekali ingin mencoba makanan Mama dan Papanya walau sudah Anin beri biskuit khusus bayi.

“No, gak boleh, ini bukan untuk anak-anak. Zura belum cukup umur!” peringat Anin saat tangan mungil dengan kecepatan kilat itu ingin mengambil nasi goreng yang ia makan setelah martabak manis dan es jeruk tadi berhasil dijauhkan oleh Papanya.

Yang mana lantas membuat bayi itu menangis sambil memanyunkan mulutnya. Harsa yang gemas melihat tingkah buah hatinya langsung mendekap dan ia bawa ke pangkuannya.

“Yang itu nggak boleh, ya. Zura makan yang ini aja.” Harsa membujuk dengan memberikan Zura biskuit yang sudah tak menarik lagi di mata Zura, karena ia lebih tertarik dengan makanan orang dewasa. Ia terus menangis dan menunjuk makanan yang Mamanya pegang.

“Masalahnya ini pedas loh, nak. Zura gak bisa makan.” Sambil mengunyah Anin menirukan gaya orang kepedisan, berharap Zura mau mengerti.

Tak tahan melihat anaknya terus merengek, Harsa lantas ke kamar sambil menggendong Zura. Beberapa saat kemudian ia keluar sambil mendorong tiang ayunan. Ia berniat menidurkan sang anak.

“Kali aja dia ngantuk,” ujarnya membuka suara saat Anin menatapnya dengan ekspresi mengapresiasi apa yang ia lakukan.

Ya, Anin memang selalu dibuat senang dan merasa sangat terbantu dengan Harsa yang selalu berinisiatif meringankan pekerjaannya.

Kini jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Zura sudah tertidur sejak tadi, dan mereka bahkan sudah menghabiskan waktu berduaan cukup lama sambil menonton drama kesukaan Anin sambil berbincang mengenai banyak hal, termasuk Anin yang menceritakan alur drama yang tengah mereka tonton. Mereka masih betah di depan tv, menggelar kasur lantai bermotif karakter lotso berwarna ungu pastel dengan bertuliskan nama Zura di bagian bawahnya.

Denting per dari ayun yang terus bergerak bersamaan dengan percakapan adegan demi adegan dalam tv yang terus berputar Harsa menarik Anin ke dalam dekapannya. Diciumnya ceruk leher Anin dari belakang sembari mengusap penuh sayang rambut hitam istrinya yang ternyata sudah sepanjang ini sejak terakhir dipotong setelah Anin melahirkan putri mereka.

Mengingatkan Harsa pada sosok pramugari yang dulu sempat membuatnya gila jika tak bertemu. Tak Harsa sangka kini gadis yang dulu sering ke rumahnya bersama Maurin itu telah menjadi istrinya dan bahkan telah memberinya Azura.

“Yang ada adegan kissingnya emang gak ada?”

Pertanyaan Harsa disertai dengan tangan yang mulai meraba tak karuan itu membuat Anin melayangkan tepukan, agak kesal karena tangan itu suka bergerilya tidak tahu diri, bahkan tidak tahu waktu. Selalu mencuri kesempatan dalam kesempitan.

“Jangan cari hal yang gak mungkin terjadi, ini tuh genre action, Mas.”

Harsa berdecak dengan semakin menyusupkan wajah ke tengkuk Anin yang masih berbaring membelakanginya. Entah kenapa ia jadi merasa rindu begini, tak seperti biasanya.

“Yang romantis dong, atau yang 18+. Biar kita ikut hanyut ke suasananya.”

Kini Anin yang balik berdecak, malas mendengar ucapan suaminya yang tidak pernah bosan dan lelah kalau menyangkut soal yang mengarah ke hubungan seks. Dasar Harsa! Dia semakin mesum semenjak mereka menikah dan punya anak.

“Hanyut hanyut, air kali ah.”

“Pikiran kamu tuh mesum banget.” Ditoyornya kepala Harsa pelan lalu berujung pada mengusap lembut rambut tebal itu dengan penuh sayang.

“Diem dulu, ih. Jangan gangguin, orang lagi fokus juga. Dikira gak juling apa mata merhatiin pemeran sama subtitlenya secara bersamaan.” Anin mencoba mendorong Harsa untuk menjauh, tangannya tergerak memundurkan adegan yang terlewat karena ia tak membaca subtitle dengan benar. Gangguan Harsa membuat fokusnya terpecah.

“Selesaiin episode ini dulu,” pintanya memohon pengertian agar laki-laki tak terus mengganggu. Yang mana langsung dituruti oleh Harsa.

Harsa terdiam sambil memeluk tubuh yang wanginya selalu berhasil membangkitkan gairah. Sungguh, ia tak berdusta bahwa ia sangat menyayangi istrinya. Pikiran Harsa mulai bercabang. Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak, merasa bersalah karena tidak jujur dan menyembunyikan soal Nessa pada Anin membuat ia sekaligus diterpa perasaan gundah. Namun, saat mengingat bagaimana Anin tak mengunci pintu saat sampai tadi membuat tangannya spontan merebut remote di tangan istrinya itu.

“Ih, kok kamu matiin sih?” protes Anin tak terima karena ia malah mematikan tv tanpa izin.

Namun, Harsa tak memedulikan, sebab ada hal lain yang lebih penting yang harus ia sampaikan.

“Kenapa kamu gak kunci pintu tadi?” sergahnya dengan wajah serius. Khawatir sekaligus kesal karena Anin teledor. Meski lingkungan mereka aman, tapi tetap saja Harsa mencemaskan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi mengingat kejahatan bisa terjadi pada siapa pun.

Anin yang baru menyadari itu pun hanya menghela napas. Karena mengangkat telepon bapak tadi ia sampai lupa mengunci pintu, suasana hatinya tiba-tiba berubah tak karuan.

“Lupa,” jawabnya singkat. Anin menghembuskan napas panjang, perasaannya kembali sendu menyadari betapa tidak dianggapnya ia.

“Kayaknya emang harus pakai smartlock yang ada sistem auto locknya, biar tetap aman kalau kamu sampai kelupaan kayak tadi lagi.”

Namun, Anin yang tak memberi respon apa pun dan hanya diam membuat Harsa menyadari jika memang ada yang salah dengan istrinya ini. Apalagi saat mengingat bagaimana Anin saat keluar dari kamar mandi tadi.

“Kamu kenapa? Ada masalah?” laki-laki itu bertanya penasaran. Meski terkadang tak peka, tapi Harsa jelas tahu kapan istrinya baik-baik saja dan kapan suasana hati Anin tidak baik. Ia hapal, hanya terkadang kebingungan dalam menyikapi.

Anin menghela napas lagi, ia menggeleng. Dadanya terasa berat, tapi entah mengapa ia terlalu malas untuk membahas hal ini meski sangat ingin. Mengadu pada Harsa biasanya hal yang selalu dilakukan.

“Gak ada gimana? Orang kamu kelihatan beda gini,” sergah Harsa sembari menarik Anin menghadap dirinya. Dan benar saja, wajah yang tadi ceria itu tiba-tiba kembali murung. Membuat Harsa semakin yakin jika memang ada sesuatu yang terjadi.

Apa Anin marah karena tahu ia menemui Nessa? Harsa menggeleng mengusir prasangka. Tiba-tiba ia jadi kepikiran dan takut begini. Namun bagaimana Anin tahu? Harsa menghela napas gusar. Melakukan hal secara sembunyi-sembunyi dari pasangan ternyata rasanya seperti melakukan kejahatan besar yang selalu membuat was-was, hati jadi tak tenang begini.

Rasa bersalah yang kian menerpa membuat Harsa menarik Anin ke dalam dekapannya. Ia tak mengatakan apa pun, tetapi perlakuan dan kehangatan ini cukup membuat Anin merasa disayangi.

Wanita itu menelusupkan wajah, sambil tersenyum ia menghirup dalam aroma tubuh yang seketika membuatnya merasa tenang. Matanya jadi memerah karena menyadari satu-satunya yang ia punya memang hanyalah Harsa.

Harsa memang tak pandai menghujaninya dengan kalimat-kalimat manis, tapi perlakuan sederhana ini cukup membuatnya paham jika suaminya secara tak langsung tengah memintanya untuk berbagi keluh-kesah.

“Bapak udah balik.”

“Gak jadi mampir ke sini?” sergah Harsa cepat, di genggamnya bahu sang istri yang matanya sudah memerah karena menyampaikan hal itu. Inikah yang membuat Anin sedih?

Harsa paham, ia tahu bagaimana selama ini Anin selalu membalut luka dan kecewa pada orang tuanya.

Tentang luka Anin yang merasa terbuang.

Tentang istrinya yang memutuskan berhenti bercerita karena merasa orang tuanya tak pernah memahami.

Bahkan saat cekcok dengan saudaranya, ia malah selalu jadi posisi yang disalahkan meski kadang Gauri yang memulai.

Dan Harsa paham, kini Anin kembali kecewa karena saat mertuanya datang, yang dikabari hanya Gauri, Anin lagi-lagi tersisih. Bahkan saat kembali, Bapak malah tak menyempatkan diri untuk kemari menyambangi Anin atay bahkan hanya untuk Zura cucunya.

Harsa memejamkan mata. Perasaan kesal pada sosok Ayah yang tak pernah memahami fungsi dan perannya selalu berhasil membuat emosinya tersulut. Kenapa semua Ayah di sekitarnya tak mau berusaha menjalankan peran dengan baik dan secara adil? Harsa bertanya-tanya dalam hati.

Harsa menggeleng memikirkan anaknya mempunyai dua orang kakek yang prilakunya hampir sama persis. Yang satu lupa peran sebagai Ayah, yang satu lagi tak berlaku adil pada anaknya. Haruskah berperilaku demikian dan membuat anak lain merasa terbuang?

Tangan Harsa tergerak mengusap punggung istrinya. Berusaha menenangkan wanitanya. Sikap ayah yang ia lihat sepanjang masa pertumbuhannya selama ini adalah hal yang paling membuat ia trauma dan tak mau istri dan anaknya merasakan hal yang pernah ia dan almarhum ibunya rasakan. Ya, Harsa adalah saksi nyata bagaimana buruknya sosok laki-laki patriaki dalam menjadi suami sekaligus ayah. Hal yang membuatnya bertekad untuk jadi laki-laki baik, yang cukup hanya pada satu wanita, sayang istri dan anak-anaknya lebih dari apa pun. Dan itu pula hal yang membuat Harsa selalu berusaha jadi Suami dan Ayah yang baik untuk Anin dan Zura, meski kadang masih ada celah yang ia lakukan untuk membuat Anin sakit.

“Udah, biarin aja. Bukannya kamu udah tahu gimana bapak? Seharusnya kamu gak ngarep apa-apa dari beliau.”

Anin mengangguk, apa yang suaminya ucapkan memang benar. Ini bukan yang pertama, harusnya ia lebih tahu diri. Anin ingat, pernah sekali bapak menginap di rumah ini, tapi saat sakit yang dihubungi malah Gauri yang jauh di Semarang sana. Membuat Anin merasa tak dianggap padahal mereka tinggal di rumah yang sama. Pernah juga Anin mengeluh, tapi respon yang didapat begitu nyelekit. Hal yang membuatnya kian sadar bahwa Bapak memang tak terlalu peduli padanya, tak seperti Gauri yang selalu diperhatikan. Bahkan segala hal yang menyangkut mbaknya itu selalu dikhawatirkan oleh Bapak.

“Bapak sama mertua kamu tuh sama aja. Sama-sama dua bapak-bapak yang gak seharusnya jadi bapak.”

Anin menggeleng, yang mana membuat Harsa mengernyit melihat respon istrinya.

“Tapi Bapak beda, Mas. Bapak gak sama kayak Papa.” Kini kening Harsa kian mengkerut, heran melihat Anin yang selalu saja membela Bapak meski sudah diperlakukan tidak adil. Ya, walau sebenarnya Harsa tahu betul jika tidak ada anak yang benar-benar rela Ayahnya dicap buruk oleh orang lain sekalipun itu sebuah kebenaran. Istrinya pun begitu.

“Aku ingat betul dulu Bapak gak gini. Dia sayang aku, tapi entah mengapa sejak menikah aku merasa Bapak jadi orang yang beda. Aku merasa dia lebih sayang ke mbak Uri dan Riga. Dan entah sejak kapan juga aku mulai sadar dan ngerasa tersisih begini.” Anin mengembuskan napas gusar. Kepekaan dan perasaan ini terlalu menyiksa baginya.

Harsa memutar mata malas, tangannya bersiap menyentil kening Anin yang agak mengesalkan di matanya. “Gak usah dibela! Kenyataannya mereka emang sama. Sama-sama gak mau mikirin perasaan anaknya.”

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!