Bianca menyukai Devano sejak kelas 8 dan akhirnya menyatakan perasaannya saat mereka di kelas 11 lewat surat cinta.
Meski menerima surat cinta Bianca, Devano tidak pernah memberikan jawaban yang pasti tentang perasaannya.
Bianca di-bully habis-habisan oleh Nindi, fans berat Devano di SMA Dharma Bangsa. Apalagi saat Nindi menemukan surat cinta Bianca untuk Devano.
Devano tidak memberikan tanggapan apapun saat Bianca mengalami pembullyan sebelum kelulusan mereka. Ketidakperdulian Devano menciptakan rasa benci di hati Bianca yang membuatnya belajar melupakan Devano.
Tapi seolah alam menolak keinginan Bianca untuk melupakan Devano. Mereka dipertemukan kembali setelah 4 tahun dan Bianca harus menjadi anak magang di perusahaan milik keluarga Devano. Sikap Devano tidak berubah bahkan menjadi-jadi di mata Bianca. Dan setelah 3 bulan berlalu, Bianca memutuskan untuk melepaskan Devano dan menghapus semua tentang Devano dalam hidupnya.
Apakah Bianca dan Devano benar-benar tidak berjodoh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Hanya Untuk Kenangan
Devano bergabung dengan teman-temannya dan seperti tadi melakukan tos dan salam anak-anak basket.
Bangku kosong yang tersisa hanya di ujung sisi lain bukan dekar panggung. Posisinya bersebarangan dengan Mia dan Della.
“Lagu ini dipersembahkan untuk para sahabat yang akan melanjutkan studinya jauh dari Jakarta baik di luar kota ataupun luar negeri.” Bianca memberi sedikit pengantat sebelum menyanyikan lagu ketiganya.
“Selamat Jalan Kekasih dari Chrisye.” Lanjut Bianca.
“Devano !” Joshua berdiri lalu berteriak. “So sweet banget Bianca nyanyiin buat elo.” Gidanya.
Perkataan Joshua spontan membuat teman-temannya heboh dan ricuh, tidak terkecuali Mia dan Della yang ikut menggoda Devano.
Devano hanya menoleh sekilas tanpa ekspresi sementara Bianca mulai merasakan panas di wajahnya.
“Bro and sis,” Bianca bicara depan mic. “Yang mau melanjutkan studi ke luar negeri bukan Devano doang loh. Ada Arya, Ernest dan siapa pun yang akan lanjut di luar Jakarta.”
Bianca tersenyum manis menanggapi gurauan teman-temannya. Dia berusaha menutupi gemuruh hatinya, apalagi mengingat kejadian Devano menciumnya waktu itu.
Tiba-tiba Leo dan Ernest bangun dari tempat duduk dan mendekati Devano lalu memegang lengannya kiri dan kanan.
“Bi, biarin Devano yang mengiringi pakai keyboard . Jago nih dia main piano.” Ernest buka suara.
“Apaan sih kalian ?” Raut wajah Devano berubah kesal.
“Ayolah Van, sekali ini aja tampil di depan kita. Anggap ini kenang-kenangan masa terakhir remaja kita.”
“Devan ! Devan ! Devan !”
Entah siapa yang memulainya, teman-teman yang lain mulai membuka suara meminta Devano memenuhi permintaan Ernest dan Leo.
“Nggak mau !” Tolak Devano keras. Posisinya sudah berdiri karena dipaksa bangun oleh Ernest dan Leo.
“Devano, please …” Mia yang duduk di seberangnya mengatupkan kedua jemarinya memohon. “Sekali aja. Sekali aja tampil bareng Bianca.”
Sementara Bianca makin merasakan hawa panas di sekitar wajahnya. Mas Heri dan teman-temannya ikut senyum-senyum sambil menunggu.
Arya sempat melemparkan pandangan ke Bianca kemudian ke Devano. Ada sedikit rasa sakit dalam hati kecilnya, namun ingat janjinya sendiri. Arya bangun dan mendekati posisi Devano, Leo dan Ernest. Dia berbisik pada Devano yang membuat cowok itu mengerutkan dahinya.
Arya mengejapkan matanya sambil mengangguk pada Devano. Sahabatnya itu menarik nafas panjang dan akhirnya melepaskan pegangan Ernest dan Leo. Dia merapikan kaosnya yang ketarik dan sedikit ragu berjalan menuju panggung.
Arya mendorong terus supaya Devano tidak berbalik kembali. Tindakan Devano langsung mendapat tepukan tangan dan sorskan dari teman-temannya. Bahkan beberapa pengunjung cafe ikut bertepuk tangan.
Dan di sinilah Devano sekarang, duduk depan keyboard. Mas Heri dan pemusik lainnya turun dari panggung, menyisakan Bianca dan Devano.
Bianca menarik nafas panjang, Ada rasa tidak nyanan di hatinya, namun dia berusaha bersikap profesional sebagai penyayi di cafe Kak Juan.
Bianca mendekati Devano yang sedang menyetel keyboardnya. Berdiskusi sejenak tentang lagu dan tangga nada yang sesuai dengan suara Bianca.
“Enjoy this song !” Ucap Bianca sambil tersenyum.
Resah rintik hujan yang tak henti menemani
Sunyinya malam ini sejak dirimu jauh dari pelukan
Selamat jalan kekasih, kejarlah cita-cita
Jangan kau ragu tuk melangkah demi masa depan dan segala kemungkinan
Jangan kau hiraukan airmata yang jatuh membasahiku
Harusnya kau mengerrti sunggug beaar artimu bagi diriku
Selamat jalan kekasih, kejarlah cita-cita
Jangan kau ragu tuk melangkah
Suatu hari nanti kita kan bersama lagi
Bersama lagi… Kita berdua
Lagu yang dinyanyikan Bianca dengan merdu membuat teman-temannya terbawa suasana karenamengingat sebentar lagi sebagian dari mereka akan terpisah-pisah.
Di panggung, Bianca dan Devano sempat terdiam dan saling menatap. Momen yang tidak terlewatkan oleh Arya langsung diabadikan dengan kamera handphonenya dan tidak lupa mengirimkan foto itu ke mama Angela
“Wah dimana ini Ar ? Tante mau ke sana dong.” Balas mama Agela yang rupanya sedang online.
“Cafe Pelangi, Tan. Tapi jangan nyusul deh nanti malah ambyar 😜😜”
“😭😭 Padahal lihat yang live lebih seru.”
Arya hanya tersenyum membaca pesan dari mama Angela yang begitu bersemangat menyatukan Devano dan Bianca. Baru kali ini Arya melihat mama Angela begitu bersemangat menanggapi gadis yang menyukai Devano. Sebelumnya malah ada yang sempat mengirimkan sogokan berupa bingkisan atau makanan, tapi semuanya tidak ditanggapi mama Angela. Namun baru beberapa kali bertemu Bianca, mama Angela begitu semangat. Bahkan selalu mengingatkan supaya Devano tidak perlu memikirkan perjodohannya dengan Arini, adik Arya. Mama Angela kembali menegaskan masalah tersebut dalam pertemuan dua keluarga itu minggu lalu
“Jangan jadikan beban permintaan Opa Ruby soal perjodohanmu dengan Arini, Van. Papa sama mama sendiri memberikan kebebasan kok sama kamu untuk memilih.” Tutur mama Agela.
“Cuma tetap papa dan mama harus dilibatkan jadi juri.” Lanjut mama Angela.
“Memangnya lagi lomba Tan ?” Goda Arya.
“Kayak kompetisi gitu loh,” mama Angela tertawa kecil. “Perlu juri yang menyeleksi.”
Papa Harry dan papa Himawan hanya geleng-geleng kepala sementara mama Deasy mengangguk setuju dengan pendapat mama Angela
“Tante dan Om juga tidak setuju dengan yang namanya perjodohan, Van.” Timpal mama Deasy.
“Ikuti kata hatimu jika memang ada seseorang yang kamu suka. Jangan sampai terlepas hanya karena kamu merasa wajib menuruti permintaan opa Ruby supaya jadi cucu yang berbakti.” Lanjut mama Angela.
Kembali ke suasana cafe. Ternyata Ernest dan Leo memperhatikan juga kondisi Bianca dan Devano yang sama-sama terpaku saling memandang
“Bi, kita mau nyannyi juga boleh nggak ?” Leo membuyakan lamunan kedua mahluk di panggung itu.
“Eehh… boleh… boleh banget.” Bianca manjadi gugup karena kedapatan sedang bertatapan dengan Devano.
“Arya !” Ernest memanggil Arya dengan lambaian tangannya.
Arya pun mengangguk dan bergerak menuju panggung.
“Gue ikutan juga.” Joshua nggak mau ketinggalan naik ke atas panggung juga.
Bianca menyerahkan mic pada Leo dan hendak meninggalkan panggung tapi dicegah oleh Arya.
“Elo tetap di sini. Tuh berdiri dekat Devano.” Arya menunjuk ke Devano yang langsung mendapat penolakan dari Bianca.
“Gue di sini aja.”
“Udah sana jadi penggembira atau backing vokal.”
Arya sedikit mendorong Bianca hingga ke dekat Devano yang masih duduk depan keyboard.
Ternyata kelima sekawan itu punya keahlian main musik juga selain populer karena wajah dan jago main basket.
Ernest bermain drum, Arya memegang gitar, dan Leo penyanyinya. Hanya Joshua yang jadi penggembira. Namun kelakuannya yang jauh dari kata malu itu membuatnya bertahan di panggung.
Arya berbisik pada 3 temannya, dan Leo mendekati mic yang terpasang pada Devano.
“Lagu ini elo yang nyanyi.” Tutur Leo. Dia sendiri mengambil alat musik bass yang ada di panggung.
“No !” Tolak Devano tegas. “Gue kagak mau nyanyi.”
“Please !” Keemparnya kompak menatap Devano dengan wajah memelas sambil mengatupkan kedua tangan mereka di dada.
Bianca yang kebingungan bolak balik menatap Devano dan keempat temannya bergantian. Dilihatnya Devano mendengus kesal.
“Lagu apa ?” Tanya Devano
“Pergi untuk Kembali -nya Ello.” Jawab Leo dan Ernest kompak.
“What ?” Devano melotot.
“Sebagai jawaban lagu yang tadi Bianca nyanyiin dong Bro.” Joshua mengedipkan matanya sambil tersenyum menggoda ke arah Bianca.
Gadis itu langsung kaget dan tersenyum tipis.
Devano sempat mengomel sendiri namun akhirnya diiyakan juga.
Walaupun langit pada malam itu
Bermandikan cahaya bintang
Bulan pun bersinar betapa indahnya
Namun menambah kepedihan
Ku akan pergi meninggalkan dirimu
Menyusuri liku hidupku
Janganlah kau bimbang dan janganlah kau ragu
Berikanlah senyuman padaku
Selamat tinggal kasih sampai kita jumpa lagi
Aku pergi takkan lama
Hanya sekejap saja, ku akan kembali lagi
Asal kan kau tetap menanti
Suara Devano yang baru kali ini terdengar di tempat umum membuat cewek-cewek alumni SMA Dharma Bangsa yang ada di situ terkesiap dan meleleh.
Mia yang sibuk merekam semua dengan handphonenya ikut terpesona.
“Keren ! Keren ! Nggak nyangka Devano punya suara bagus gitu.” Puji Della
“Sstttt !” Mia meletakkan telunjuknya di bibir Della dan gerakan kepalanya menunjuk ke handphone yang dipegangnya.
“Upppsss sorry.” Della berbisik sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Teman-teman mereka langsung berdiri dan memberi tepuk tangan, ada yang bersuit-suit ria dan bersorak saat Devano menyelesaikan lagunya.
Bianca yang ada di sampingnya juga memberikan aplaus untuk Devano.
“Keren banget !” Pujinya spontan dengan senyuman lebar
Devano hanya diam saja dan menoleh menatap Bianca yang memperlihatkan senyuman manisnya. Jempolnya teracung ke arah Devano.
“Lagi ! Lagi ! Lagi !”
Kaum wanita baik dari bangku kelompok mantan anak SMA Dharma Bangsa maupun pengunjung cafe bersorak meminta Devano menyanyikan lagu kembali. Devano menggeleng dan bangun dari bangkunya.
“Van, kasihan penggemar elo.” Leo menaikturunkan alisnya. Devano menggeleng kembali.
“Kapan lagi Dev kita bisa tampil bareng begini ? Bentar lagi kuliah aja kita pisah-pisah.” Bujuk Ernest.
“Ayolah Bro !” Joshua buka suara.
Devano menarik nafas dsn hendak menggeleng kembali namun terhenti saat lengannya disentuh. Dia menoleh dan mendapati Bianca sedang menyentuh tangannya dengan ujung jarinya.
“Kita duet sebagai penutup. Pertama dan terakhir. Hanya untuk kenangan masa putih abu-abu kita.” Tutur Bianca dengan sedikit bergetar.
Entah keberanian darimana Bianca berani menyentuh Devano meski hanya lengan. Bahkan dengan beraninya dia mengajak Devano berduet.
Devano menatap Bianca lekat. Gadis itu jadi salah tingkah dan merasa malu namun dengan sekuat tenaga dia menutupinya dengan senyum. Bianca pun mengangguk mengajak Devano.
Devano menarik nafas panjang. Leo meletakkan bass yang tadi dimainkannha lalu menghampiri Devano dan menepuk bahunya.
“Elo fokus menyanyi aja, gue yang main keyboard.”
”Wah keren, Leo.” Bianca mengacungkan jempolnya ke arah Leo. “Bisa nyanyi, bass, keyboard sama apa lagi nih. Ternyata kalian memang cowok-cowok keren dengan multi talent ya.”
“Udah sana diskusi sama Devano mau duet apaan.” Leo memutar bahu Bianca supaya menghadap Devano dan mendekatinya.
Dan sinilah mereka, meluapkan segala rasa menutup kenangan indah masa putih abu-abu lewat syair dan lagu.
“Hai Bro and Sis, sebagai lagu terakhir dari kami berdua buat malam ini, saya dan Devano akan membawakan lagu lawas dari KLA PROjECT judulnya TENTANG KITA Please enjoy this song !” Bianca memberikan pengantar sebelum mereka mulai menyanyi dan langsung disambut dengan tepukan tangan riuh.
Devano
Hari-hari nan berdebu
Bersama dirimu yakin kuhadapi
Bianca
Sambil merajut berdua
Anyaman benang angan yang kau tawarkan
Devano
Sekian lama tuk mengerti
Dirimu jadi misteri yang kian terselami
Sekian jauh menilai
Kadar cinta tergali milikmu sejati
Bianca
Sejuta asa yang sempat kutitipkan di dalam sinar matamu
Duet
Pribadi nan sederhana
Menjanjikan keteduhan kasih nan murni
Ternyata t’lah menjadi kebahagiaan sejati
Hati yang tiada terperi
Mari genggam jemari memadu dua hati
Saling memiliki
Kembali, kembalilah kini
Segala asa berseri (Devano)
Benahi, benahilah kini
Kepekaan nurani (Bianca)
Kembali, kembalilah kini
Segala asa berseri
Berjanji, berjanjilah kini
Tetap setia sampai s’lama-lamanya
Tetap setia sampai s’lama-lamanya
Lagu pun selesai dinyanyikan dan kembali mendapat sambutan hangat dari para pengunjung cafe.
Tanpa sadar tangan Bianca dan Devano saling menggenggam. Kejadian ini terekam dalam handphone Mia dan jadi perhatian keenam sahabat keduanya. Devano dan Bianca saling memandang dengan senyuman hanya terpancar di wajah Bianca.
Arya, Leo segera mengambil tempat di sisi sebelah Bianca sedangkan Ernest dan Joshua di sebelah Devano. Berenam mereka saling bergandengan dan memberi hormat kepada para penonton.
“Hanya untuk kenangan Bi, jangan baper ! Devano hanya terbawa suasana, jangan berharap lebih !”Batin Bianca saat merasakan hangatnya genggaman tangan Devano.