NovelToon NovelToon
GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Duda / Persahabatan / Keluarga / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 5
Nama Author: juskelapa

Sebuah spin off dari novel CINTA WINARSIH
Baca. Karya ini beda. Pasti suka. Lalu, jatuh cinta.
Selamat datang di dunia imajinasi juskelapa.

***

Sebuah keresahan menerpa tiga ayah muda tampan, kala sebutan 'Genk Duda Akut' itu melekat dalam persahabatan mereka. Bagaimana tak resah? Yang duda hanya seorang, kenapa yang lainnya harus turut dipanggil dengan sebutan sama?

Mampukah tiga pria tampan beristri ini mencarikan seorang wanita bagi sahabat mereka tanpa tersandung masalah dengan istri sendiri?

originally story by juskelapa ©2021
Instagram : @juskelapa_
Facebook : Anda Juskelapa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Teror Ucapan Bingkisan

Setelah memarahi tiga orang laki-laki yang mengintimidasinya dengan berbagai pertanyaan, dan pernyataan memojokkan, Musdalifah kembali menunduk di atas kertas. Toni, Langit dan Rio masih berdiri di belakang kursinya.

“Itu isi bingkisannya, nggak berlebihan? Panitia outing mana mungkin ngasi begituan ke pesertanya. Kalo cowonya Wulan yang nerima, bisa curiga.” Langit berbisik di telinga Toni. Namun, Rio dan Musdalifah juga bisa mendengar perkataannya dengan jelas.

“Sarannya Dean emang bingkisan kayak gini?” bisik Rio.

“Enggak spesifik, sih. Cuma pake kata kunci, ‘elegan, eksklusif—”

“Tidak pasaran dan susah dilupakan …,” potong Musdalifah, menoleh ke belakang. Musdalifah menarik napas panjang. “Bisa saya kerja dengan tenang, Bapak-Bapak?” tanya Musdalifah memandang tiga pria di belakangnya bergantian.

“Bisa—bisa.” Rio mengangguk, diikuti oleh Toni dan Langit yang juga mengangguk-angguk seperti mainan anjing di dasbor mobil.

“Oke, kalau begitu … bisa kembali duduk di sofa.” Musdalifah melemparkan tatapannya pada sofa kosong di dekat mereka. Ketiga pria itu menurutinya. Setelah memastikan para laki-laki itu duduk di sofa, “Terima kasih," ucap Musdalifah. Ia kembali memutar duduknya dan menekuni kertas.

“Kok, lo nurut, Ton? Lo atasan di sini,” ucap Langit, mengingatkan sahabatnya.

“Cicilan si Mus banyak.” Toni mengambil ponselnya dan membuka aplikasi pesan. Ia kembali melihat pesan yang dikirimkannya pada Wulan, ternyata belum juga dibalas.

“Oh, pantes …,” sahut Langit.

“Tapi, hasil kerjaan Mbak Ifa, harus kita kasi liat ke Dean. Minta pendapatnya,” tambah Rio.

“Saya masih ada di sini dan sedang berusaha. Mohon bantu saya berkonsentrasi,” sahut Musdalifah, memotong pembicaraan yang terjadi di balik punggungnya.

Ketiga pria itu kembali diam. Beberapa saat hening serta tekun dengan ponselnya masing-masing, ketiga pria itu terkejut karena Musdalifah tiba-tiba berdiri dengan suara kursi yang digeser cepat.

“Gue akhirnya ngerti perasaan Dean,” gumam Langit.

“Ehem!” Musdalifah berdeham, memandang tiga pria yang sedang menatapnya. Dengan selembar kertas di tangan, ia mirip seorang guru TK yang tengah dinantikan dongengnya. “Baik, akan saya bacakan pilihan-pilihannya.”

Sebenarnya, Musdalifah sudah merasa bahwa akhir-akhir ini pekerjaannya menjadi sekretaris kantor, perlahan bergeser merangkap sebagai asisten yang mengurus semua hal. Kalau saja atasannya bukan Toni yang royal, ia mungkin sudah mencampakkan kertas itu.

“Yang pertama …,” ucap Musdalifah.

“Eh, tunggu—tunggu, Dean harus denger ini. Kita telfon dia dulu. Sekalian, biar cepet. Dean oke, langsung tulis di kartu. Gimana?” tanya Langit dengan ponsel di tangannya.

Musdalifah hanya bisa mendengus dan mengembangkan cuping hidungnya. Sepertinya memang susah sekali menyingkirkan pengaruh pengacara cerewet itu, pikirnya.

“Baik, boleh. Silakan,” sahut Musdalifah, pasrah.

“De … an.” Langit setengah berbisik mencari nomor telepon Dean dan langsung menghubunginya dalam mode speaker.

Setelah beberapa kali nada panggilan, suara sahutan terdengar di seberang. “Ada apa, Bapak Langit? Kangen gue?”

“Sebelum lo ngomong soal yang enggak-enggak, dengan ini gue memberitahukan kalau percakapan ini dilakukan dalam mode speaker ya …,” ujar Langit.

“Lagi pada ngumpul? Gimana? Udah jadi ngirim bingkisan ke Wulan? Toni mana?” tanya Dean di seberang.

“Belom, De … on process—”

“Lama banget. Lelet. Pantes lo gampang ditikung!” potong Dean.

Musdalifah memegang dadanya. Tempat di mana jantungnya yang berdetak, tak menyetujui hinaan Dean pada atasannya.

“Oke, lo nyimak dulu ya … jangan berisik. Ini Mbak Ifa yang bacain langsung.” Kali ini, Rio yang maju dan berbicara dengan Dean.

“Ha? Apa? Ifa?” Dean diam sesaat. Kemudian, “Oh … si Mus. Kirain siapa, Ifa …. Bilang si Mus, kek. Oke—oke, ngomong aja. Gue juga agak sibuk, jadi gue nyimak.” Terdengar suara ‘kresek-kresek’ pelan di seberang. Sepertinya Dean meletakkan ponselnya.

Musdalifah memejamkan mata sesaat. Belum semenit menelepon, ia sudah tak bisa menghitung berapa kosa kata yang dilontarkan Dean.

Tapi, mendengar Dean sibuk dan hanya menyimak, Musdalifah merasa sedikit lega. Namun, tetap saja, ia lebih lega jika panggilan itu diakhiri. Sekarang ia tak merasa sebagai seorang guru TK lagi. Kemunculan Dean melalui pesawat telepon, membuat situasinya berubah. Ia merasa menjadi peserta ajang pencarian bakat, yang sedang menunggu penilaian seorang juri nyinyir.

“Ucapan yang pertama, ‘Setiap pertemuan pasti ada hikmah. Begitu juga dengan perpisahan—”

“Skip—skip! Apa, tuh? Kayak mau ngasi papan bunga orang meninggal aja. Next …,” pinta Dean dari seberang telepon.

Musdalifah kembali memejamkan matanya sesaat, lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. “Baik, yang selanjutnya …, ‘Sebuah perjuangan tidak akan ada artinya—”

“Ha? Perjuangan? Kayak mau perang aja. Negara kita udah merdeka. Berjuang—berjuang. Ckck, nggak penting berjuang. Berani dan jangan plin-plan. Itu yang penting.” Dean kembali menyela ucapan Musdalifah.

Toni menyimak dengan wajah serius. Langit dan Rio sudah mati-matian menahan tawa. Mereka berebut menggunakan punggung Toni yang duduk di tengah, untuk menyembunyikan wajah.

Sedangkan Musdalifah, merapatkan giginya dengan raut kesal.

“Oke—oke, langsung saya bacain yang berikutnya.” Musdalifah mencoret dua baris kata-kata yang tadi sudah dicerca oleh Dean. “Ya, ampun. Dulu waktu diterima kerja, aku nggak ada dikasi tau bakal ada tugas kayak gini …,” gumam Musdalifah dengan suara nyaris tak terdengar.

Langit dan Rio masih terkikik-kikik. “Next!” pekik Musdalifah. Seketika kedua pria itu menegakkan tubuh dan duduk memandangnya. Ucapan yang ditulisnya, hanya tersisa satu lagi.

Musdalifah cemas kalau Dean akan kembali menolak apa yang dituliskannya. Musdalifah merasa, ia memang harus selalu menggunakan taktik dalam menghadapi Dean. Pengacara itu sangat licin, pikirnya.

“Berikutnya … ehem! ‘Ketika tangan tak mampu berjabat. Ketika mulut tak dapat mengucap—”

“Ton—Ton! Kayaknya lo perlu sekretaris lulusan luar negeri, deh. Mau gue kasi rekomendasi?” Dean memekik dari seberang telepon. Rio dan Langit kembali tertawa terbahak-bahak di balik punggung Toni.

“Masih ada yang berikutnya, Mus?” tanya Toni, dengan wajah was-was. Sepertinya ia juga tak rela jika harus mengganti sekretarisnya.

“Oke, berikutnya …, ‘Kenangan dan kebersamaan yang terjalin, pasti akan membentuk tim yang solid.’ Masih berhubungan dengan outing, kan?” Musdalifah mengangkat alisnya memandang ponsel Langit di atas meja.

“Yap. Bagus. Tambahkan di belakangnya, ‘serta sulit untuk dilupakan’ . Oke, jadwal konsultasi lo udah berakhir, Toni. Mau nambah lagi, harus hubungi Ryan untuk janji temu berikutnya. Gue baru kedatangan klien jadwal berikutnya. Bye, Toni sayang, Langit dan Rio sayang …. Oh, iya, untuk sekretaris lo … not bad-lah.” Dean menutup teleponnya.

Musdalifah seketika langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi. Baru kali ini ia berhadapan dengan orang yang sangat sulit mengakui kelebihan orang lain. Padahal ia merasa sudah bekerja maksimal. Tapi yang didapatnya hanya kata, ‘not bad’ dari pengacara cerewet itu.

“Mus! Mus!” panggil Toni. “Kamu pingsan?” tanya Toni.

“Saya terharu, Pak. Berasa lulus sidang skripsi,” sahut Mus.

“Buruan tulis, biar langsung dianter. Minta satpam aja yang anter. Tapi jangan pake seragam,” pinta Toni.

“Saya permisi sebentar, Pak." Musdalifah meletakkan kertas dan pulpennya di atas meja Toni.

"Ke mana?"

"Mau bikin minum. Kayaknya sekarang, saya yang perlu minum green tea.” Musdalifah pergi berlalu dari ruangan atasannya.

To Be Continued

1
Paramita Waluyo
😂😂😂😂
Paramita Waluyo
🤣🤣🤣🤣
Paramita Waluyo
🤣🤣🤣🤣🤣
Paramita Waluyo
kakkk juss aku nyesel baru baca ini skrg. Ngakak terusss, sambil mutar sp*tify My Waynya Frank biar menjiwai 🤣🤣🤣
reti
sempet2nya narsis coba..
aaaampuuun dah dean..
hahahahahahahahaha
Ahmad Ibrahim
kekel bcanya🤣🤣
Ardiansyah Gg
ya ampun... aku ngakak abis l🤣🤣🤣🤣 rasain🤭
Ardiansyah Gg
gitu dong bu Win... sekali" suaminya harus di kasih efek kejut🤣
Ardiansyah Gg
pening Njuss... sampe blingsatan🤣🤣🤣
Eni Gustini
.
jumirah slavina
pelajaran berkembang biak ya Pa'De

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jessica
Seru karya karya nya gk bisa cm sekali baca novel karya Beliau ini
Jessica
dasar musdalifaaah🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Reni
Baguusss bangeettt, buruan baca guys
Susi Andriani
aman pak de,,aman😄😄😄
Susi Andriani
aduh,,,
Lailatus
Gak ada yg d baca jadi baca dean lg aja deh 🤣
Asisthaning Nirwana
hai mbk jussssss......aku kembali lagi lhooooo.....tiba2 bgt kangen tini, lha kok jadi kangen mas dean sampai ke siniiii....hbs ini meluncur ke mas dul
sukensri hardiati
makasiiih....👍🙏💪/Rose//Heart//Ok/
sukensri hardiati
p De emang anak ragilnya b. Win.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!