NovelToon NovelToon
Belenggu Gairah Semalam

Belenggu Gairah Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia / Pernikahan Kilat / One Night Stand / CEO / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Sebuah jebakan kotor dari mantan kekasih memaksa Jenara, wanita karier yang mandiri dan gila kerja, untuk melepas keperawanannya dalam pelukan Gilbert, seorang pria yang baru dikenalnya. Insiden semalam itu mengguncang hidup keduanya.
Dilema besar muncul ketika Jenara mendapati dirinya hamil. Kabar ini seharusnya menjadi kebahagiaan bagi Gilbert, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak remaja, ia didiagnosis mengidap Oligosperma setelah berjuang melawan demam tinggi. Diagnosis itu membuatnya yakin bahwa ia tidak mungkin bisa memiliki keturunan.
Meskipun Gilbert meragukan kehamilan itu, ia merasa bertanggung jawab dan menikahi Jenara demi nama baik. Apalagi Gilbert lah yang mengambil keperawanan Jenara di malam itu. Dalam pernikahan tanpa cinta yang dilandasi keraguan dan paksaan, Gilbert harus menghadapi kebenaran pahit, apakah ini benar-benar darah dagingnya atau Jenara menumbalkan dirinya demi menutupi kehamilan diluar nikah. Apalagi Gilbert menjalani pernikahan yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TILU PULUH DUA

​Setibanya di rumah setelah dari rumah sakit, Jenara tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia melangkah cepat, meski kakinya masih terasa sedikit gemetar menuju lantai atas. Pintu kamar utama ditutupnya dengan bunyi dentuman yang cukup keras, seolah ingin memberitahu seluruh penghuni rumah bahwa suasana hatinya sedang berada di titik nadir.

​Jenara langsung merebahkan diri, meringkuk di tengah kasur yang luas itu seperti anak kecil yang sedang merajuk. Bibirnya mengerucut tajam, matanya menatap jendela dengan tatapan kosong yang penuh kekesalan. Sepanjang perjalanan pulang tadi, ia hanya memandang ke luar, menolak menoleh sedikit pun pada Gilbert yang duduk di sampingnya. Pikirannya dipenuhi oleh rasa tidak terima atas "perintah" dokter yang diamini mentah-mentah oleh suaminya.

​Di lantai bawah, Gilbert baru saja selesai memarkirkan mobilnya. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum menghadapi badai yang ia tahu sedang menunggu di kamar. Sebelum naik, ia melipir ke arah dapur. Di sana ada Ibu Nurul yang sedang sibuk membereskan bahan makanan dan sayuran segar ke dalam kulkas.

​"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Ibu Nurul ramah, sedikit terkejut melihat majikannya ada di dapur.

​"Ah, tidak, Bu. Lanjutkan saja pekerjaannya. Saya ingin membuatkan susu untuk istri saya," jawab Gilbert tenang.

​Ibu Nurul tersenyum simpul, menyadari betapa perhatiannya sang tuan sekarang. Gilbert dengan telaten mengambil gelas kaca, lalu mulai memasukkan tiga sendok takar susu khusus kehamilan sesuai petunjuk di dusnya. Ia mengaduknya perlahan, memastikan suhu airnya pas, tidak terlalu panas dan tidak dingin sebelum membawanya naik ke lantai atas.

​Gilbert mendorong pintu kamar dengan siku. Ia melihat punggung Jenara yang membelakanginya. "Jen, ini susunya. Diminum dulu selagi hangat," ucap Gilbert lembut.

​Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyesakkan.

​Gilbert meletakkan gelas itu di meja nakas, lalu duduk di pinggiran ranjang. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap bahu Jenara, namun wanita itu langsung menepisnya dengan kasar.

​"Jenara, aku bukan malaikat yang bisa membaca pikiran. Katakan padaku, apa yang membuatmu kesal seperti ini?" tanya Gilbert, mencoba menahan sabar.

​Jenara tetap diam, malah semakin menenggelamkan wajahnya ke bantal. Gilbert menarik napas dalam, kesabarannya mulai menipis. "Oke, kalau kamu tetap tidak mau bicara dan lebih memilih diam seperti ini, aku akan pergi sekarang. Aku punya banyak pekerjaan di kantor yang tertunda."

​Mendengar kata 'pergi', Jenara mendadak bangkit dan duduk tegak. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena amarah yang meluap.

​"PERGI SAJA! AKU MEMBENCIMU, GILBERT! AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU!" teriak Jenara histeris.

​Gilbert mendengus kasar, ia mengusap wajahnya dengan frustrasi. Sangat sulit memahami labirin emosi wanita hamil di depannya ini. "Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini, Jen? Pusing kepalaku jadinya. Kalau ada yang salah, ngomong! Bukan diam seperti patung lalu berteriak tidak jelas!"

​"Nggak tahu!" Jenara melipat kedua tangannya di depan dada, wajahnya sungguh terlihat ingin menelan Gilbert hidup-hidup.

​Gilbert memilih untuk mengalah. Ia mengambil kembali gelas susu itu dan menyodorkannya ke depan wajah Jenara. "Minum dulu susunya. Habiskan. Nanti lanjutkan lagi kesal dan marahnya. Jangan biarkan anak kita ikut merasakan emosi negatifmu ini."

​Tanpa membantah, Jenara menyambar gelas itu. Glek, glek, glek. Hanya dalam tiga tegukan besar, susu itu langsung tandas. Ia mengembalikan gelas kosong itu kepada Gilbert dengan kasar, lalu kembali memasang wajah suram.

​"Ya Tuhan..." desah Gilbert. Ia meletakkan gelas kosong itu dan kembali menatap Jenara. "Bisa kita bicara baik-baik? Katakan, apa yang membuatmu sesensitif ini, hmm?"

​Tanpa aba-aba, Gilbert memajukan wajahnya dan mengecup bibir Jenara yang masih monyong itu dengan singkat.

​"Ighh! Menyebalkan! Kamu ya!" Jenara melempar bantal yang ada di dekatnya, tepat mengenai dada Gilbert. "Mending kamu pukul aku deh, daripada tebak-tebakan begini! Aku bukan dukun atau cenayang, Jenara!"

​"Aku nggak mau dibatasi dalam pekerjaan!" Jenara akhirnya meledak, suaranya berapi-api. "Perusahaan itu hasil usaha aku sendiri, Gilbert! Jauh sebelum aku ketemu kamu, jauh sebelum aku terjebak dalam pernikahan ini! Kamu nggak berhak memutus rutinitasku sepihak hanya karena omongan dokter!"

​"Oh," ucap Gilbert singkat, tanpa ekspresi sedikit pun.

​Jawaban pendek itu justru menjadi bensin bagi api kemarahan Jenara. "KAMU BILANG 'OH'? HANYA 'OH'? Keterlaluan kamu! Kamu anggap ini sepele? Kamu pikir aku ini pajangan di rumah ini? Aku punya tanggung jawab pada ribuan karyawan, Gilbert!"

​Jenara terus mengomel, mengeluarkan semua unek-unek dan kekesalannya. Umpatan-umpatan kasar sesekali keluar dari bibirnya yang mungil. Sementara itu, Gilbert hanya diam. Ia mendengarkan dengan seksama, matanya menatap Jenara tanpa berkedip, membiarkan istrinya memuntahkan semua beban yang ada di kepalanya.

​Setelah beberapa menit Jenara terengah-engah karena kehabisan kata-kata, Gilbert bertanya dengan tenang, "Sudah? Sudah semua dikelurkan?"

​Jenara tak menjawab. Ada sedikit kelegaan di dadanya, tapi ia masih merasa ganjalan karena Gilbert tampak terlalu tenang.

​Tiba-tiba, Gilbert menarik tubuh Jenara ke dalam pelukannya. Ia mendekap kepala Jenara di dadanya yang bidang. "Aku tidak melarangmu bekerja, Jen. Aku tidak berniat menghancurkan apa yang sudah kamu bangun. Aku hanya mengingatkan, jangan terlalu keras. Sekarang kamu punya suami. Setidaknya cerita jika ada masalah, jangan menjadi beban sendiri. Aku akan berusaha membantumu sekuat tenaga, bukan untuk mengambil alih, tapi untuk melindungimu."

​Jenara terdiam dalam dekapan itu. Detak jantung Gilbert yang teratur perlahan meredakan badai di hatinya. Gengsinya masih ada, tapi rasa aman itu mulai menang.

​Di belahan kota yang lain, suasana di kediaman Althaf tak kalah tegang. Sejak pulang sekolah, Raina terus-menerus merajuk. Meja makannya masih utuh, bubur kesukaannya bahkan sudah mendingin. Ia mengacak-acak mainan di ruang tengah, melempar boneka barbie-nya ke sudut ruangan dengan kasar.

​Samudra, kakaknya, mencoba menghibur namun justru dibentak. Raina benar-benar berubah menjadi sosok bocah tantrum yang sulit diatur. Alena, ibunya, hanya bisa mendesah kasar. Ia merasa lelah secara fisik, namun ia juga merasa sedih melihat tingkah anak perempuannya itu.

​"Aku ingin ketemu Om Gilbert, Mama!" teriak Raina sembari menghentakkan kakinya ke lantai.

​"Sabar sayang, Om Gilbert sedang sibuk," bujuk Alena lembut.

​"BOHONG! Om Gilbert nggak pernah main ke sini lagi! Apa aku sudah tidak jadi kesayangan Om Gilbert? Apa Om Gilbert lupa sama aku, Mama? Apa karena Tante Jenara itu, Om Gilbert nggak suka lagi sama Raina?"

​Pertanyaan-pertanyaan polos namun menyakitkan itu membuat Alena tertegun. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya, bingung harus melakukan apa. Ia tahu betapa dekatnya Raina dengan Gilbert sejak bayi. Namun, situasi sudah berubah. Gilbert bukan lagi pria lajang yang bisa ia panggil kapan saja.

​"Sini sayang, dengerin Mama," Alena menarik Raina ke pangkuannya, meski bocah itu sedikit memberontak. "Nanti kita tunggu Papa pulang, ya? Kalau Papa izinkan, kita main ke rumah Om Gilbert dan Tante Jenara. Tapi janji, Raina nggak boleh nakal di sana. Harus sopan sama Tante Jenara. Oke?"

​Raina terisak, menyembunyikan wajahnya di dada ibunya. "Janji, Mama... tapi Raina kangen Om Gilbert. Raina takut Om Gilbert diambil orang jahat."

​Alena hanya bisa mengusap punggung anaknya, sembari dalam hati merasa khawatir. Kehadiran Raina yang sangat terobsesi pada Gilbert bisa jadi akan menjadi kerikil tajam dalam hubungan Jenara dan Gilbert yang baru saja mulai mencair.

1
Renjana Senja
marahnya bisa dinego ternyata. kupikir marah ya marah aja gitu. ternyata bisa dinego.😂
Renjana Senja
gerah apa dingin sebenernya, Gilbert? kok dia pakai selimut, ente masuk selimut juga?
Renjana Senja
saling bertukar nafas tuh gimana rasanya. spill Gilbert, Jenara.
Three Flowers
iya, cepetan mandi... bahaya soalnya 🤣
Three Flowers
sama2 korban, sih... tapi jadinya mereka malah berjodoh🤣
☠🤎3Gˢ⍣⃟ₛ
kepedean sekali kalian berdua mau menghancurkan keluarga Althaf kau pikir semudah itu big mistake you know that 😏🤨
@dadan_kusuma89
Hilya, sejatinya kau sedang menyiksa dirimu sendiri. Justru hidupmu lah yang sebenarnya tidak pernah tenang akibat pikiran jahatmu itu.
@dadan_kusuma89
Hilya, pada dasarnya semua pria memang memiliki otak cabul. Namun ada yang remnya pakem dan ada yang tidak. Bahkan ada yang nggak punya rem. Namun, kebetulan Althaf remnya pakem 😁
MARDONI
Jenara kelihatan kuat di luar 😭🔥 tapi kalimat terakhir itu bikin aku sadar… dia takut. Takut banget. Aku ikut deg-degan nunggu reaksi Gilbert
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
wahhh, naikan gaji alexa, jenara
MARDONI
LANGSUNG DEG 😭🔥 Headline-nya aja udah bikin jantung copot. Jenara dan Albani??? Ini tuh nggak main-main.
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
butuh karena jebakanmu kan? kalo tidak, jenara gak akan sudi
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
Jangan bilang itu obat terlarang? perangsang kah?
Cahaya Tulip
waah Albani.. bakal ada CLBK kah ini? eh blm smpat cinta y.. tp jelas bakal bikin gil cemburu berat ini, jangan sampai dia tahu ya jen, kamu cari masalah aja sm babang gil😅
Miu Nuha.
tapi hati kecilny tetep aja was2 ya kan 🤭🤭
,, pokokny kalian berdua akn terus dihantui malam penuh ehem itu dn membuat kalian gk bisa tenang /Grin/
Miu Nuha.
terhina gk tuh bang /Chuckle/
minimal tertantang bang, kamu ice king dia ice queen,, ayo lawan! jangan kasih kendor /Determined/
Renjana Senja
Raina ini tuh umur berapa? kok kek nya obses terus. apa dia cemburu perhatian Gilbert diambil sama Jenara?
Renjana Senja
nah bener itu Raina. kamu harus segera sembuh biar ketemu sama Tante Jenara.
Renjana Senja
nah gimana tuh jawabannya Gilbert? bingung nggak diberondong sama pertanyaan itu?
Blueberry Solenne
Ah reader's kecewa kakak Thor, masa di gantung😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!