Menikah dengan pria usia matang, jauh di atas usianya bukanlah pilihan Fiona. Gadis 20 tahun tersebut mendadak harus menerima lamaran pria yang merupakan paman dari kekasihnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase
Fiona sudah tidak ambil pusing kalau mertuanya itu kurang suka dengan keberadaannya. Meskipun dia sedang hamil, untuk menghadapi ibu mertuanya itu, ia memilih tidak memasukkan ke dalam hati. Asal sang suami ada di pihaknya, semuanya akan bisa dia hadapi. Sepedas apapun perkataan mertuanya itu, tak akan mampu membuat Fiona berkecil hati dan menjadi galau sendiri.
"Apa yang mama katakan saat aku pergi tadi?" bisik Arga. Pria itu langsung bertanya dengan pelan di telinga sang istri. Karena dari jauh sudah curiga saat Bu Sasmita mendekati Fiona.
"Bukan apa-apa, hanya menanyakan kabar cucunya," jawab Fiona dan balas berbisik.
Melihat kedekatan suami istri tersebut, Bu Sasmita seperti tidak senang. Ia merasa sejak ada Fiona, dunia Arga hanya tertuju pada perempuan itu. Mungkin merasa tersaingi, atau sama sekali tidak dipedulikan oleh sang anak, perasaan iri dan dengki pun mulai tumbuh dan semakin menambah kebenciannya pada sang menantu tersebut.
"Mama akan ke sana, menyapa keluarga yang lain," tidak tahan aksi mesra sang putra yang nempel-nempel dan bisik-bisik tersebut, Bu Sasmita memutuskan untuk pergi dari sana. Daripada hatinya panas melihat kedekatan antara Arga dan Fiona.
Setelah Bu Sasmita pergi, Arga langsung meraih tangan Fiona dengan lembut. Kemudian kembali bertanya, kali ini suaranya jelas dan terang.
"Jujur, apa yang dia katakan padamu tadi?"
Fiona menggeleng, "Jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya."
Arga menghela napas panjang, entah akan sampai kapan Fiona akan diterima oleh keluarga besarnya itu. Tetapi yang terpenting sekarang, dia akan fokus saja pada keluarga kecilnya itu.
Hingga beberapa saat datang seorang bersama MC acara, suasana mulai mencair. Dilanjutkan dengan makan-makan dan beberapa mengobrol, selain obrolan santai, ada juga yang membahas masalah bisnis, mumpung ketemu di acara tersebut.
Menjelang acara selesai, semuanya mulai meninggalkan tempat acara tersebut, beberapa keluarga mengucapkan selamat dan berpamitan. Begitu juga dengan Davin. Ia tak mau absen untuk sekedar menyapa mantan kekasihnya itu.
"Selamat Fiona ... Kamu sekarang pasti merasa bahagia, tapi jangan lupa ... kamu tidak akan bisa bahagia begitu saja," gumam Davin sambil tersenyum penuh arti.
Arga buru-buru mendekat, dia tidak senang Davin menghampiri Fiona.
"Sudah malam, silahkan pulang!" usir Arga tanpa basa-basi.
Davin cuma cengengesan, ia mengangguk paham. Saat ia melewati Arga dan Fiona, dengan sengaja ia menyentuh jemari Fiona. Tanpa sepengetahuan Arga tentunya.
Fiona terhenyak, ia langsung menarik tangannya. Sedangkan Davin, lelaki itu mengulas senyum penuh arti.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak membiarkan keluarga ku datang dalam acara ini." Arga minta maaf karena melihat wajah Fiona yang berubah cemas.
Arga pikir, acara ini membuat Fiona tak nyaman. Karena keluarganya yang memang kurang kondusif dan sejak awal tidak bisa menerima keberadaan Fiona.
"Kenapa minta maaf?"
"Kamu kelihatan tidak nyaman, jangan bohong Fiona."
"Siapa bilang? Aku hanya capek saja," ucap Fiona dah mencoba tersenyum.
(Aku harap seperti itu) Arga mengusap bahu Fiona.
...****************...
Beberapa hari kemudian
Arga berangkat ngantor seperti biasanya, balik lagi ke rumah juga seperti biasanya. Jam 5 dia masih di jalan, sempat melakukan telpon sebelum tiba di rumah. Sekedar bertanya, Fiona minta dibawakan apa. Namun, istrinya bilang tidak ingin apa-apa. Alhasil, setelah dari kantor langsung saja pulang ke kediamannya.
Namun, saat di persimpangan jalan di lampu merah, terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.
"Pak ... Sepertinya ada masalah pada mobilnya," ucap sopir.
"Kenapa? Bukannya tadi pagi tidak apa-apa?" tanya Arga santai sambil melihat email di laptopnya.
"Pak .... serius Pak. Sepertinya ini remnya blong."
Arga langsung menutup laptopnya, ia lipat laptopnya dan menatap sang sopir.
"AWASSS!!" seru Arga dengan suara keras saat melihat ke arah depan.
Yang terpenting semua nya baik2 sajah