Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Abhi," panggil Ara dengan hati-hati saat kakinya melangkah masuk kedalam kamar rumah sakit.
Sepasang mata hitam yang tadinya sedang menatap langit dari jendela kamar itu menoleh dengan cepat.
Senyumannya mengembang seketika, membuat siapa saja melihatnya akan ikut tersenyum juga.
"Oh? Ara!" pekik Abhi semangat.
Dengan senyuman mengembang, Ara mendekati Abhi dan terduduk di kursi sebelah ranjang.
"Ara, senang melihatmu lagi. Aku pikir aku takkan bertemu denganmu lagi," ucap Abhi pelan sambil menggenggam jemari Ara dan menggoyang-goyangnnya seperti anak kecil.
Ara tertawa pelan mendapati tingkah sahabatnya yang kekanak-kanakkan, berbeda sekali sebelum kejadian ini menimpanya.
"Umm..aku juga. Bagaimana keadaanmu?" tanya Ara sembari duduk dipinggir ranjang, membiarkan Abhi yang masih menggenggam dan bermain dengan tangannya manja.
"Lebih baik," jawabnya singkat.
Gadis itu tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Abhi yang untungnya di respon dengan baik. Abhi memeluk tubuhnya sembari tersenyum.
"Ekhem."
Sebuah deheman membuat Ara sedikit berjingkat kaget dan membuat Abhi langsung merubah posisinya menjadi tegap. Meskipun tangannya masih bertengger manis di lengan Ara.
"Eh, Kak Biyan? Sejak kapan kau disini?" tanya Abhi sembari menunjukkan senyuman meledek. Oh tentu saja ia menyadari kehadiran kakak-nya sedari tadi, Abhi hanya berpura-pura tak tahu saja.
Sedangkan Biyan memutar matanya malas, sudah paham dengan kelakuan adik kesayangan sekaligus menyebalkannya ini.
"Sudah belum mesra-mesraannya?" sindir Biyan sambil menatap Ara yang sedikit salah tingkah.
"Maaf, Biyan. Aku terlalu rindu Abhi jadi aku—"
"Melupakanku? Dasar," dengus Biyan agak jengkel.
"Isshh! kekanak-kanakkan sekali, sih," ledek Abhi pelan tapi dapat ditangkap telinga tajam Biyan.
"Berisik!"
"Biyan, pelankan suaramu. Jangan membentaknya," tegur Ara agak kesal karena kekasihnya ini baru saja membentak adiknya sendiri yang belum sepenuhnya sembuh.
Biyan hanya berdecak malas dan menghempaskan tubuhnya di sofa, saat ia kembali melihat pemandangan sang adik yang tengah bermanja-manja ria pada gadis manisnya ini. Sejujurnya ia tidak suka jika 'miliknya' disentuh orang, membuat dadanya panas. Apalagi beberapa kali matanya memergoki tangan nakal Abhi yang menggerayangi lengan dan punggung gadis itu.
Sebenarnya itu terlihat normal tapi memang Biyan yang cemburuan hingga ia tertipu penglihatannya sendiri. Bahkan meski ia terang-terangan menatap Abhi memberi peringatan, tapi adiknya itu malah malas tahu.
"Aku akan keluar sebentar membeli minuman. Kau ingin sesuatu, Abhi?" tanya Ara.
Abhi meletakkan telunjuknya didagu, seolah-olah sedang berfikir keras. "Kopi?"
Ara sedikit mengernyit kemudian ia melirik Biyan yang masih memasang tampang datar untuk meminta pendapat.
"Air putih saja untuknya," kata Biyan santai dan langsung membuat Abhi merengut kesal.
"Lalu kau ingin apa?"
Perlahan Biyan mendekati Ara dan langsung menarik pinggang gadis hingga kini ia berdiri dengan tubuhnya yang merapat sempurna dengan Biyan. Pipi Ara memanas seketika. Padahal Biyan sering memperlakukannya seperti ini tapi entah kenapa pipinya selalu saja memerah. Memalukan!
Cup~~
Biyan mengecup sekilas bibir soft pink itu dengan gemas kemudian berbisik ditelinga Ara. "Apapun yang kau belikan, pasti aku suka," ucapnya sambil melirik kearah Abhi yang sedang kaget.
"Eh..umm, oke. Aku segera kembali," kata Ara gugup kemudian melepaskan dirinya dan berlari kecil meninggalkan kamar tersebut.
Dan kini tinggallah dua bersaudara yang saling menatap dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Meh, ingin pamer, huh?" Abhi membuka suaranya dengan nada menyindir. Sedangkan Biyan hanya tersenyum miring sambil mengedikkan bahunya cuek.
"Baru pacaran, kan? Belum menikah, kan?" Tanya Abhi lagi.
Biyan menaikkan sebelah alisnya seolah berkata 'apa maksudmu ?'
Tapi Abhi hanya menunjukkan senyuman kotaknya, membuat Biyan semakin tidak mengerti. Apa tinggal terlalu lama dirumah sakit membuat otak adiknya ini sedikit bergeser ya?
"Kau menyukai gadisku?" tanya Biyan penuh selidik.
"Bisa iya..bisa juga tidak. Kak Biyan ingin yang mana?" goda Abhi sambil terkikik.
"Mungkin dulu kau menyukainya tapi aku takkan menyerahkannya padamu meski kau adikku," tegas Biyan penuh penekanan.
"Woah! Sensitif sekali sih~. Lagipula kalau melakukan sesuatu tanpa perjuangan itu kurang mengasyikan, kak."
Perempatan siku-siku sudah muncul menghiasi kepala Biyan. Adiknya ini memang tahu bagaimana membuat dirinya kesal. Benar-benar!
"Hey, Abhinara!"
"Haishh! Biyan! Kan sudah kubilang jangan membentaknya!" balas Ara yang baru saja kembali membuat Biyan menoleh kaget.
Biyan langsung menoleh horor. "A-aku tidak—"
"Ara, kak Biyan baru saja memarahiku!" adu Abhi dengan mata yang berkaca-kaca. Membuat Ara langsung meletakkan bawaannya dan berjalan menghampiri Abhi untuk menenangkannya.
"Sudah, jangan menangis. kakakmu kan memang begitu," bujuk Ara sambil mengelus puncak kepala Abhi lembut.
"Peluk~~~" Pinta Abhi manja dan mendapat kekehan geli dari Ara tapi ia langsung memeluk tubuh kurus Abhi dengan sayang. Mungkin seperti ini rasanya memiliki adik?
Sementara Biyan?
Pemuda yang mati-matian menahan rasa cemburunya terpaksa hanya bisa menggeram kesal dan mengumpat dalam hati. Demi apa! Rasanya ia ingin sekali menjedotkan kepalanya kedinding sekarang juga! Ah..atau..bagiamana jika ia melempar Abhi dari jendela kamar ini saja?
Arghhhh!
Ini menyebalkan! Menyebalkan! Kenapa sifat resek adiknya harus kumat disaat begini sih?!
(Didalam mobil)
Setelah mereka—hanya Abhi dan Ara saja sih—bercanda cukup lama tadi. Akhirnya Ara mengajak Biyan pulang karena hari sudah sore.
Dan disinilah mereka, didalam mobil kesayangan Biyan dengan suasana yang benar-benar mencekam karena suasana hati Biyan yang nampak memburuk.
Ara sendiri bingung kenapa Biyan mendiamkannya sedari mereka keluar rumah sakit tadi. Apa ia melakukan sesuatu yang membuatnya marah?
"Biyan, kau marah?" tanya Ara hati-hati.
"Tidak."
"Bohong."
"Tidak."
"Bohong!"
"Terserah!"
"Jadi kau benar marah?"
Biyan hanya diam, mengabaikan gadis itu dan sibuk fokus menyetir.
Sementara Ara hanya memutar matanya jengah. Mulai lagi ekspresi datar dan sifat dinginnya itu. Ara kembali berfikir, kira-kira apa yang membuat Biyan marah dan mendiamkannya seperti ini?
Hingga beberapa saat kemudian mata hitam itu membelalak sempurna saat ia menyadari sesuatu.
Mungkinkah—
"Biyan, apa kau—cemburu?"
CIIIIITTTTT..!
Sontak saja Biyan langsung menginjak Rem dan membuat mobilnya berhenti mendadak. Berterima kasihlah pada seatbelt yang menahan tubuh mungil Ada agar tidak terjungkal mencium kaca depan.
"Yak! Kenapa berhenti tiba-tiba?!" pekik Ara kesal.
Jantungnya tadi hampir melompat keluar. Astaga!
Biyan langsung menoleh dan menatap tajam gadisnya. Tentu saja Ara yang diperhatikan seperti itu menjadi menciut.
"Ya..aku cemburu! Dan kau baru menyadarinya? Hah!"
"Ya Ampun, Biyan. Kau beneran cemburu? Pada adikmu sendiri?! Dasar Gila!" kata Ara tak percaya.
Bagaimana mungkin ia bisa cemburu pada adiknya sendiri ?
Seharusnya Biyan sadar kalau Ada hanya ingin membantu Abhi melewati masa-masa sulitnya.
"Lalu kenapa? Toh aku juga manusia..wajar saja jika aku tidak suka ketika 'milikku' disentuh."
"Abhi, berhenti bersikap kekanak-kanakkan. Bahkan ketika kau belum datangpun, Abhi selalu menempel padaku. Jadi ini wajar," jelas Ara.
"Wajar bagimu, tapi bagiku tidak."
Pada akhirnya Ara hanya menghela napas saja.
***
"Sialan! mentang-mentang sudah punya kekasih..jadi dia mengabaikan sahabat tampannya ini. Awas kau besok!" gerutu seorang pemuda tampan sambil terus melangkahkan kakinya entah kemana. Namanya Ares.
Ini hari minggu, yang berarti libur dan Ares ingin menghabiskan hari liburnya ini dengan bermain PS sepuasnya dirumah Ara. Tapi saat ia datang, sang kakak dengan santainya bilang Ara sedang berkencan dengan kekasihnya. Siapa lagi kalau bukan Abhi ( Biyan).
Sehabis dari rumah Ara tadi, Ares malas kembali ke apartemennya. Jujur saja ia kesepian, seluruh keluarganya berada diJepang. Jadi kalau hari libur begini biasanya dihabiskan Ares bersama Ara. Tapi itu dulu, tolong garis bawahi.
Maka dari itu, kini ia sedang berjalan-jalan tak tentu arah. Ia hanya mengikuti langkah kakinya saja. Beberapa kali ia menghela nafas panjang frustasi.
Tapi kemudian sudut matanya menangkap siluet yang sangat dikenalinya itu sedang duduk disebuah cafe sambil mendengarkan sebuah lagu menggunakan headset dengan mata tertutup.
Cantik.
Satu kata untuk menggambarkan keadaan orang tersebut. Jadi dengan langkah semangat 45, Ares berjalan menuju cafe tersebut. Dan jangan lupakan senyuman lebar hingga matanya menekuk imut itu tengah tersungging. Membuat beberapa gadis yang menatapanya memekik tertahan.
Kring!
Bunyi dentingan lonceng saat Ares membuka pintu cafe tersebut. Dengan perlahan, kakinya berjalan menuju sosok tersebut yang sepertinya masih asyik dengan dunianya sendiri. Bahkan ia tak sadar kini Ares sudah duduk dengan manis dihadapannya.
Ares memperhatikan setiap lekukan diwajah yang menurutnya melebihi kata manis. Apalagi kulit tubuhnya yang terlihat pucat bagaikan mayat. Ares jadi membayangkan jika ia menciumi setiap lekuk tubuh itu, warna merah yang dihasilkan pasti terlihat indah.
Damn!! Kendalikan otakmu!
Perlahan sosok itu membuka matanya, mungkin untuk memastikan pada orang-orang yang memperhatikannya bahwa ia tak tidur.
"Ya Tuhan!" Pekiknya kaget saat ia baru saja sadar ada seseorang dengan wajah familiar tengah menatapnya.
"Halo, kak Eve. kita ketemu lagi," sapa Ares ramah sambil tersenyum.
"Kau..anu..maaf aku lupa namamu...sejak kapan kau duduk disini?!" tanya Eve tajam.
"Astaga..tega sekali sih melupakan namaku. Padahal aku selalu mengingat namamu. Dan aku sudah Sejak 15 menit yang lalu mungkin," jawab Ares santai.
"Hah?! Dasar penguntit."
"Namaku Antares bukan penguntit. Lagian aku tak sengaja melihatmu disini tahu," bela Ares.
Tiba-tiba saja seorang pelayan datang untuk membawakan pesanan Ares yang memang sudah memesan saat ia masuk tadi serta Eve.
Kopi hitam untuk Ares dan milkshake strawbery untuk Eve.
Ares ingin tertawa sekarang mengetahui selera Eve yang ternyata memberikan kesan manis serta imut yang lebih mencolok.
"Kalau ingin tertawa, ya tertawa saja bocah."
"Hehehe..tidak kok, kak. Kakak tidak suka kopi?" Tanya Ares penasaran.
"Tidak," jawabnya singkat padat dan jelas.
"Umm, kak sedang apa disini sendirian?"
"Menurutmu?"
"Aku tidak tahu, makanya bertanya padamu," jawab Ares tak mau ngalah.
Eve menarik nafas panjang. "Bersantai, dasar bocah cerewet."
"Aku bukan bocah."
Eve memutar matanya malas dan mendengus. "Perlu kuambilkan cermin?"
Kemudian ia melirik ponselnya yang tengah berdering diatas mejanya itu dnegan santai.
Bos is calling.
Klik.
"Apa?"
"...."
"Humm..5 menit lagi aku tiba"
Klik.
"Eh, kakak sudah mau pergi?"
Eve hanya mengangguk-anggukan kepala cuek sambil membereskan beberapa bawaannya.
"Maaf, Ares. Ada urusan mendadak," ucap Eve kemudian berjalan melewati Ares. Sedetik kemudian Ares menahan tangan Eve dan membuat gadis berkulit pucat itu berbalik bingung.
"Apa?"
"Umm..bisahkah...kita bertemu lagi, kak?" tanya Ares.
Eve terlihat berfikir sebentar, membuat Ares jadi harap-harap cemas.
"Mungkin"
Ares hampir saja melompat senang jika ia tak mengingat ini ditempat umum, jadi dengan cepat ia merogoh bulpen di tasnya lalu meraih tangan Eve dan membaliknya hingga telapak tangannya yang menghadap keatas.
Dengan cepat Ares menuliskan nomor ponselnya disana.
"Hubungi aku jika kau butuh teman atau mungkin lebih?" Kata Ares sambil terkekeh pelan.
***
2 buah mobil mewah berhenti disebuah rumah berukuran besar. Pemilik kedua mobil tersebut keluar dengan santainya.
"Ini tempatnya?" tanya Dean memastikan.
"Ya, ini adalah alamat yang diberikan seniorku beberapa hari yang lalu. Dan aku sudah meminta seseorang untuk memeriksa tentang rumah ini."
"Umm..jadi..apa rencananya?" timpal Neo.
"Seperti biasa," jawab Biyan datar.
Tapi tidak dengan Nei yang sudah berbinar-binar. "Jadi aku boleh melakukan apapun?"
"Boleh..asal jangan sentuh orang-orang yang sudah kukatakan padamu itu, kak."
"Eyy..tenang saja!"
Brum..!
Sebuah mobil jenis ferarri putih itu berhenti tepat disamping mobil Dean.
"Darimana saja kau Eve?" tanya Neo penasaran.
"Jalan-jalan" Jawab Eve datar.
"Kau sudah siap, kak?" tanya Biyan memastikan.
Eve hanya menatap mereka malas kemudian melepas jaketnya dan melemparkannya kedalam mobilnya itu. "Seperti biasanya kan?"
"Biyan, apa perlu melakukan ini? Sebaiknya kita bernego dulu," saran Dean karena sejujurnya ia tak terlalu suka dengan kekerasan.
"Tentu perlu kak dan nego hanya akan menjadi sia-sia."
Tring..!
Suara pesan masuk. Dengan malas Dean mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi pesan. Dahinya sedikit mengerut hingga kemudian ekspresinya berubah marah. Ia menggenggam ponselnya itu dengan kuat dan sesekali mengumpat.
"Brengsek! Lupakan ucapanku! Ayo kita masuk!" titah Dean marah kemudian melangkah pertama diikuti Eve dan juga Alfa.
Sementara Biyan hanya menyeringai.
Well...memancing amarah Dean itu mudah. Cukup usik miliknya dan kau akan berakhir disisi—Nya sesegera mungkin.
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!