Seperti surga, menatap sepasang mata mu penuh keindahan. Andai saja berdua tanpa ikatan bukanlah dosa ingin rasanya menghabiskan waktu sepanjang hari berdua saja dengan mu.
Daffa berdecak kesal, bisa-bisanya dia kecolongan, Kanza adik semata wayangnya mendapat kiriman puisi di kertas merah jambu bergambar hati.
Ingin rasanya dia mencongkel kedua mata yang telah lancang mengirimi Kanza puisi.
Itu terjadi beberapa tahun lalu dimasa kuliah, tapi Kini dialah yang ingin berkirim puisi semacam itu saat sepasang mata indah bak surga mampu menggetarkan relung hatinya.
selamat mbaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Langit malam yang gelap terlihat semakin gelap oleh mendung dan curahan air hujan yang mengguyur bumi. Sesekali terdengar deru guntur yang di sertai sambaran petir yang mengelegar. Membuat bulu kuduk meremang seolah mendengar kemurkaan tuhan pada semesta alam.
Seperti kemurkaan seorang lelaki yang memukuli wanita tak berdaya dengan membabi buta, kalap dan nyaris kehilangan kendali.
Wanita dengan tubuh kurus ringkih meringkuk disudut ruang sempit dan pengap. Sementara tak jauh dari tubuhnya meringkuk, seorang lelaki duduk di tepi ranjang tengah menyulut sebatang rokok dengan mancis lalu menghisapnya dalam.
"Aku sudah bilang jangan membantahku! tapi kau memang wanita keras kepala tak tau diri!" Hardik lelaki itu dengan suara keras. Tak ada jawaban hanya isak tangis yang nyaris tak terdengar, tenggelam oleh derasnya suara hujan.
lelaki dengan garis wajah keras dan terlihat tampan itu menatap tajam pada tubuh yang yang meringkuk di sudut kamar itu dengan tatapan datar.
"Aisyah kemari kau!"
Wanita yang di panggil Aisyah itu terlihat berusaha bangkit, lalu perlahan mendekati lelaki yang tengah menatapnya penuh nafsu.
"Mendekat," ucapnya berubah lembut. Aisyah menurut kini tubuhnya sudah begitu dekat.
"Aku suamimu kau lupa?" Aisyah menggeleng.
"Bagus," ucapnya seraya menyeka darah di sudut bibir Aisyah akibat tamparannya tadi.
"Layani aku," ucapnya semakin lembut. Aisya tercekat, kalimat itu yang sedari tadi di ucapkan Burhan suaminya. Minta di layani, tapi Aisyah menolak sebab dia sedang dalam masa haid.
"Aku belum bisa mas..." suara Aisyah terdengar lirih menolak secara halus permintaan Burhan. Dengan bola mata liar dia menatap wajah cantik Aisyah, bibirnya menyeringai.
"Dengar aku bisa saja melakukannya walau kau tidak mau! tapi malam ini aku ingin di layani, kau dengar!" hardiknya seraya mencenkram pundak Aisyah kuat.
"Tapi aku masih haid mas."
"Aku tau, bukankah darahnya tak banyak lagi. Jangan banyak alasan, tuhan mu pasti tau kenapa kau melakukan itu. Atau kau mau aku tidur di sini dengan pelacur hah!" Aisyah menggeleng tegas. Tentu saja dia tak ingin suaminya berzinah, Naudzubillah min dzaalik.
"Lalu apa lagi yang kau tunggu, layani aku," ucapnya kembali berubah lembut, membelai rambut hitam Aisyah seolah penuh kasih sayang.
"Maaf mas," ucap Aisyah lirih.
Burhan mendengus kesal, kalau saja dia bisa tidur dengan pe lacur dia sudah membawanya kerumah ini, tapi sialnya walau sangat bernafsu dengan pe la cur juniornya tak mau berdiri saat berhubungan.
Burhan menyerah Aisyah tak akan mau melanggar larangan walau dia memukulinya sampai mati, tapi bukan Burhan kalau dia tak punya cara menaklukkan istrinya.
"Minum!" Burhan memberi Aisyah pil berwarna putih dan segelas air.
"Apa ini mas?" Tanya Aisyah seraya menerima pil dan air.
"Obat biar lukamu cepat sembuh, kalau sudah sembuh jangan lupa melayaniku," ujar Burhan sembari duduk di samping Aisyah. Dengan ekor matanya dia melilihat Aisyah meminum pil pemberian burhan tanpa curiga.
Sejurus kemudian Aisyah yang sedari tadi diam, kini mulai telihat gelisah. Duduknya tak tenang, napasnya memburu, keringat terlihat membasahi wajah cantiknya.
"Kemari," panggil Burhan lembut, matanya liar memindai setiap inci tubuh mulus istrinya.
"Boleh aku buka bajumu?" Tanya Burhan dengan jantung berdegup kencang, sebab kini Aisyahlah yang tengah melepas satu demi satu kancing bajunya. Tangan mungilnya kini sudah mendarat di dada bidang Burhan, menyapu lembut bulu halus yang ada di sana, Burhan mendesah.
Tapi beberapa detik kemudian desahan Burhan menghilang oleh bibir mungil Aisyah yang tengah merasai bibir Burhan dengan begitu panas dan ganas.
Burhan terkekeh senang saat dengan kasar Aisyah mendorong tubuhnya ketempat tidur lalu menindihnya dan menyerangnya seperti binatang yang menerkam mangsanya, kelaparan. Aisyah benar-benar kehilangan akal dan nalar. pil putih yang di berikan burhan tadi membuatnya bernafsu kata "Layani aku" dari Burhan membuat jantungnya berdesir kencang memacu aliran darahnya di atas normal, mengirim siknal ke jaringan otaknya untuk segera melayani Burhan memuaskan nafsunya dan menuntaskan hasratnya.
Desah kenikmatan keluar bersahutan, berlomba mencuri start menuju finish. Malam ini Burhan sungguh terpuaskan, segala fantasinya terpenuhi oleh istrinya.
Burhan sudah terkulai bermandi keringat, tapi Aisyah belum juga berhenti, efek dari obat belum sepenuhnya hilang. Tubuh mulus yang berkilauan bak mutiara itu kembali membangkitkan hasratnya walau dia harus menunggu juniornya benar-banar bangun. Dan adegan tadi terulang lagi, Burhan benar-benar puas!
***
"Mbak Aisyah beneran jatuh?" Tanya Nurhasana. Guru pesantren tempatnya bekerja.
"Iya buk," sahut Aisyah berusaha menghindari tatapan curiga Nurhasanah.
Bagaimana tak curiga bila tukang masak di pesantren tempat dia mengajar sering kali datang dengan wajah lebam. Dan alasannya selalu sama, jatuh.
"Bukan karena di aniaya seseorang kan mbak?" Tanya Nurhasanah berharap jawaban yang sebenarnya keluar dari bibir Aisyah.
"Bukanlah buk, saya gak punya musuh buk, siapa yang mau menganiaya saya," jawab Aisyah dibarengi tawa kecil.
Nurhasanah menghela napas berat. Selalu seperti ini Aisyah tak mengakui perbuatan suaminya. Siapa saja pasti menduga hal yang sama saat melihat wajah lebam Aisyah. Nurhasanah belum melihat tubuh mulus di balik baju longgarnya yang juga bernasip serupa dengan wajahnya penuh lebam.
"Ya siapa tau mbak, kalau memang iya, kita kan bisa melapor biar mbak dapat ke adilan."
"Cuma jatuh kok buk."
Nurhasanah menyerah, dia tak mungkin memaksa Aisyah berterus terang. Dia cuma berharap Aisyah akan meminta tolong bila merasa terancam bukan cuma diam.
"Mbak nanti kalau saya melahirkan, mungkin menantu ibu Kila yang gantiin saya."
"Istri tuan Daffa buk?"
"Yang saya dengar begitu, tapi untuk pastinya saya belum tau mbak."
"Moga lahirannya lancar ya buk," ucap Aisyah sembari memetik sayuran. Aisyah berkerja membantu tukang masak di dapur umum di pesantren milik Kila. Sudah tiga tahun ini dia bekerja di sana, semenjak anak perempuannya melanjutkan sekolah di pesantren ini.
"Aamin semoga mbak," sahut Nurhasanah dengan senyum.
Aisyah menyisihkan beberapa cemilan jatah sarapan pagi nya di dalam bungkus nasi. Biasanya saat jam makan siang anak perempuannya datang ke dapur untuk makan siang bersama.
"Nda." suara renyan Susan seketika memenuhi dapur umum. Gadis cantik berkulit putih itu bergelayut manja di samping Aisyah. Mata bulatnya terlihat murung seketika, saat melihat wajah lebam bundanya.
"Nda lagi? apa ayah tak punya hati!" sentak Susan sengit, ayahnya selalu saja melayangkan tangannya tanpa belas kasih pada bundanya.
"Sttt, kecilkan suaramu nak," ujar Aisyah pelan. Dia tak mau ada yang mendengar ucapan Susan.
"Salah apa lagi bunda? apa bunda tak bisa melawan? kelakuan ayah sudah mirip binatang nda!"
"Susan, kau bicara apa? dia ayah mu."
"Lebih bagus gak punya ayah nda, dari pada punya ayah tapi gak punya hati!" ucapnya sengit, hatinya sakit setiap kali melihat luka di tubuh bundanya. Tak melihatpun dia bisa tau bagaimana ayahnya menghajar bundanya. Dulu sebelum dia tinggal di pesantren. Ayahnya akan mengunci dirinya di lemari setiap akan memululi bundanya.
"Sudah, bunda sangat lapar sedari pagi belum makan, ayo makan," ucap Aisyah mengalihkan pembicaraan, lalu membuka nasih yang sudah dia sisihkan tadi. Mendengar bundanya belum makan sedari pagi Susan pun mengalah. Memilih menemani bundanya makan sebelum melanjutkan amarahnya terhadap ayahnya.
.
Happy reading.
Hay readers tinggalin dukungan ya 🥰🥰🙏🙏
sukses sll 😇😇😇