Liora dipaksa menikah dengan Kaedric Volther, pria yang dikenal kejam dan berbahaya. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Kaedric meninggal dunia. Liora mengira rencana pernikahan itu akan dibatalkan dan ia bisa kembali menjalani hidupnya seperti biasa.
Namun keputusan keluarga Volther berubah. Untuk menjaga kepentingan keluarga, Liora justru harus menikah dengan ayah Kaedric, Maelric Volther, seorang pria berkuasa yang jauh lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"Untung dia tidak ikut masuk," gerutu Ronan sambil mondar-mandir di kamarnya. Kamar itu berantakan luar biasa, tidak mengherankan kalau ia tersandung sesuatu setiap saat. Kakaknya memang tidak pernah punya kepedulian terhadap kerapian.
"Aku juga tidak suka ini." Zevran berbaring santai di atas ranjang Ronan, hal yang tidak akan pernah Liora lakukan tanpa mendisinfeksi tempat itu terlebih dahulu. Ia memilih duduk di kursi kulit hitam di sudut ruangan, setelah menyingkirkan tumpukan baju yang tergeletak di sana. "Sepertinya tugasnya bukan melindungimu, tapi mengawasimu."
"Itu juga yang aku pikirkan pertama kali mendengarnya." Liora berhenti sejenak. "Atau mungkin... dia sudah curiga? Mungkin dia tahu soal percobaan malam itu?"
Ia mengucapkannya keras-keras, tapi langsung menyadari sendiri bahwa itu tidak masuk akal. Kalau Maelric tahu, ia tidak akan memperlakukannya seperti sekarang. Ia pasti sudah bertindak jauh lebih keras.
Atau tidak bertindak sama sekali, karena Liora sudah tidak akan ada.
"Tidak mungkin," kata Zevran.
"Kalau dia tahu, kamu sudah datang ke sini dalam kondisi yang berbeda." Ronan berhenti melangkah dan menatap Liora serius. "Tapi tenang saja, tidak lama lagi semuanya akan beres. Pernikahan ini tinggal menunggu waktu untuk jadi kenangan buruk."
Ronan tiba-tiba berhenti bicara. Suara langkah kaki terdengar mendekat dari luar.
Pintu terbuka.
Ayah mereka masuk.
"Seharusnya begitu sampai di sini, anakku yang pertama dikunjungi adalah ayahnya," katanya sambil menatap Liora. Tapi ekspresinya tidak menunjukkan kemarahan hanya kerinduan yang ia sembunyikan dengan buruk.
"Seharusnya tidak dijual," gumam Ronan nyaris tidak terdengar.
Sang ayah memilih tidak menanggapinya.
Liora bangkit dan masuk ke dalam pelukan ayahnya. Di antara semua anggota keluarganya, hanya ayahnya yang memeluknya tanpa ragu-ragu, tidak seperti kakak-kakaknya yang tampak khawatir akan menyakitinya. Padahal kalau mereka mau melihat dengan benar, Liora memakai celana pendek dan kaus tipis berali, tidak ada satu pun memar yang tersembunyi.
Liora melepaskan diri lebih cepat dari yang diinginkan ayahnya. Ia tidak ingin ayahnya mengira amarahnya sudah mereda. Belum, dan mungkin tidak akan pernah sepenuhnya.
"Kebetulan aku juga ingin menemuimu," kata ayahnya. "Bagaimana keadaanmu, Stroberi?"
"Aku hanya dapat izin satu jam, jadi sebentar lagi harus kembali."
"Apa?!" Ronan langsung meledak. Matanya menyala. "Bukan cukup sudah dia mengambilmu, sekarang dia bahkan mengatur berapa lama kami boleh bersamamu? Biar aku yang bicara langsung dengannya--"
Ia melangkah ke pintu, tapi sang ayah lebih cepat menahannya.
"Ini bukan urusanmu," tegur ayahnya kepada Ronan. Lalu ia berpaling ke Liora dengan nada yang lebih lembut. "Dan kamu akan tinggal sampai malam. Maelric biar aku yang urus, aku akan bilang ini idenya, jadi tidak ada alasan baginya untuk menyalahkanmu."
Liora mengangguk, tapi perutnya tidak terasa tenang.
Ayahnya keluar, menutup pintu lebih keras dari yang seharusnya. Liora langsung berdiri.
Ia sudah membuat kesalahan dengan menyebut soal batas waktu itu. Seharusnya ia diam. Sekarang ayahnya akan menelepon Maelric, dan Maelric pasti tahu Liora yang mengadu.
"Liora, mau ke mana--" salah satu kakaknya memanggil, tapi Liora sudah berlari ke luar.
"Ayah!" Ia menyusul di tangga. Beruntung ayahnya belum mengangkat telepon.
Sang ayah berbalik.
"Tolong jangan hubungi dia soal ini. Aku tidak seharusnya bilang tadi." Liora menatapnya. "Aku tidak mau membuat masalah di awal pernikahan ini. Kalau kamu telepon Maelric, dia akan tahu aku yang mengadukannya."
Ayahnya mengangkat tangannya dan mengusap pipi Liora pelan.
"Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan bilang ini murni keinginanku sebagai ayah yang rindu anaknya. Maelric pasti mengerti, tidak ada suami yang wajar yang akan berdebat dengan mertuanya soal hal seperti ini." Senyum tipis muncul di wajah ayahnya. "Kamu tetap di sini sampai malam."
Ia mencium kening Liora, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
**
Liora tidak ingat kapan terakhir kali ia makan dengan nafsu seperti ini.
Meski sering mengeluh soal keluarganya, baru sekarang ia sadar betapa ia merindukannya. Beberapa hari saja tidak bersama mereka terasa seperti berminggu-minggu.
"Kamu tahu koleksi tas favoritmu minggu depan sudah rilis?" Raphael berkata sambil menatapnya dengan ekspresi yang terlalu santai untuk benar-benar santai.
Liora menatapnya. Tentu saja ia tidak lupa peluncuran koleksi terbaru Gucci. Banyak orang menganggap brand itu terlalu overrated, tapi Liora tidak pernah bisa berhenti mencintainya.
"Kemungkinan besar aku tidak akan bisa ke sana."
"Aku kebetulan ada waktu luang. Kita bisa terbang ke sana bersama, aku rasa Maelric tidak akan keberatan."
Liora hampir tersedak. Raphael jarang sekali mengajak pergi berdua, apalagi ke luar negeri.
"Menjilat," komentar Ronan datar.
"Kamu terbang ke tempatnya keesokan hari setelah pernikahan dan itu masih pagi-pagi sekali, jadi lebih baik diam." Raphael berbalik ke Liora. "Jadi, kita pergi?"
Liora tertawa kecil. "Koleksinya diluncurkan di Firenze, bukan Milan."
Raphael tampak sedikit kaku. Ia orang yang selalu berusaha tahu segalanya, dan salah fakta di depan adiknya sendiri jelas bukan hal yang ia sukai.
"Kalau begitu kita ke Firenze."
Freya muncul dari arah dapur, tapi kali ini tanpa membawa makanan. Ia langsung berjalan menuju Liora.
"Pengawal Nyonya meminta untuk segera bersiap. Tuan Maelric ingin kalian kembali."
Liora menghela napas. Aneh juga bahwa Maelric menghubungi Bastian, bukan langsung ke ponselnya.
"Suruh dia tunggu di mobil. Aku menyusul."
Freya mengangguk dan pergi.
"Aku tidak suka cara dia memperlakukanmu," kata Ronan, nada suaranya berubah lebih serius. "Ini tidak wajar."
"Jangan lebay," jawab sang ayah dari ujung meja.
Liora berdiri. Ayahnya ikut berdiri dan menghampirinya.
"Jangan lupa telepon ayah sebelum tidur malam ini. Ada yang ingin kita bicarakan."
Liora mengangguk, tapi ada sesuatu dalam cara ayahnya mengatakannya, nada yang terlalu hati-hati, pilihan kata yang terlalu dijaga, yang membuat dadanya terasa berat.
Firasat buruk itu datang tanpa peringatan, dan Liora tidak bisa mengusirnya.