NovelToon NovelToon
Se Atap Dengan Mantan Suami

Se Atap Dengan Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mantan
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.

Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Aksa mendorong troli besar dengan langkah santai, mengikuti Jasmine yang berjalan di depannya. Jasmine merasa tidak enak hati. Ia berkali-kali menoleh ke belakang, menatap tangan kekar Aksa yang memegang kendali troli.

"Biar saya saja, Tuan, yang bawa trolinya," ucap Jasmine pelan di balik maskernya. Ia mencoba meraih pegangan troli, namun Aksa menjauhkan tangannya.

"Cepatlah, saya ingin segera pulang," potong Aksa dingin. Matanya menyapu deretan rak tanpa minat.

Baik, Tuan."

Ia mulai mengambil beberapa bahan pokok seperti sayuran organik, daging sapi kualitas premium, dan bumbu dapur. Jasmine bergerak secepat mungkin, tak ingin menyita waktu pria yang biasanya menghitung detik sebagai uang itu.

Namun, saat mereka melewati lorong makanan ringan, Aksa menghentikan langkahnya secara mendadak.

"Beli semua yang dibutuhkan. Camilan juga," perintah Aksa.

"Baik, Tuan," jawab Jasmine lagi tanpa membantah.

Ia mengambil beberapa bungkus camilan secara acak dan memasukkannya ke dalam troli.

Sesampainya di lobi apartemen, Jasmine segera turun dan membuka bagasi mobil. Ia terpaku melihat tumpukan kantong belanjaan yang cukup banyak dan berat.

Jasmine menghela napas panjang. Ia menjinjing kantong-kantong plastik besar itu di kedua tangannya, membuat jemarinya terasa perih karena beban yang berat. Dengan susah payah, ia melangkah menuju lift dan memencet tombol unit penthouse menggunakan sikunya.

Ting!

Pintu lift terbuka. Jasmine melangkah masuk ke dalam apartemen yang luas itu dengan napas yang sedikit tersengal. Tak lama kemudian, pintu depan terbuka lagi Aksa baru saja masuk.

Pria itu berjalan melewati Jasmine begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Aksa langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan bantingan yang cukup keras.

Brak!

"Baguslah kalau dia langsung masuk. Setidaknya aku bisa bernapas lega," gumam Jasmine.

Jasmine mulai mengeluarkan semua bahan makan yang mereka beli tadi, memasukkannya pada kulkas.

Jasmine menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Setelah semua bahan makanan tertata rapi di dalam kulkas dan lemari kabinet.

"Uhh... lelah sekali," gumamnya pelan sambil memijat bahunya yang terasa kaku akibat menjinjing belanjaan berat tadi.

Jasmine mulai menyiapkan peralatan masak. Ia memutuskan untuk memasak menu yang simpel.

Asap tipis mulai mengepul dari panci, membawa aroma gurih yang menggugah selera. Setelah hampir satu jam berkutat di dapur, dua hidangan lezat akhirnya tersaji di atas meja makan. Jasmine menata piring dan sendok dengan rapi, memastikan semuanya terlihat sempurna sebelum ia memanggil sang pemilik rumah.

"Selesai juga," bisiknya lega.

Jasmine menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. Ia melangkah perlahan menuju pintu kayu besar itu dan mengetuknya dua kali dengan pelan.

"Tuan... makan malam sudah siap," ucap Jasmine dengan suara yang sedikit bergetar.

Hening sejenak. Jasmine sempat mengira Aksa tidak akan menjawab, sampai akhirnya terdengar suara berat dari dalam.

"Bawa makanannya ke ruang kerja saya," perintah Aksa singkat tanpa membuka pintu.

"Baik, Tuan," jawabnya patuh.

Jasmine kembali ke dapur, menata nasi dan sup hangat ke atas nampan kayu. Ia juga menambahkan segelas air putih dan buah potong sebagai pencuci mulut. Dengan langkah hati-hati agar nampan tidak goyang, ia berjalan menuju ruang kerja yang terletak di sudut lorong penthouse.

Pintu ruang kerja itu sedikit terbuka. Jasmine mendorongnya pelan dengan bahu dan melihat Aksa sedang duduk di balik meja kerja besarnya, masih dengan kemeja kantor yang berantakan dan kancing atas yang terbuka.

"Permisi, Tuan. Ini makan malamnya," ucap Jasmine pelan sambil meletakkan nampan itu di sisi meja yang kosong.

..."Suapi saya," ucap Aksa pendek....

"Tai tuan, saya harus kembali ke dapur."

"Saya sedang sibuk, Jasmine. Jangan membantah. Cepat."

Ia membuka tutup mangkuk sup yang masih mengepulkan uap panas. Jasmine menyendok sedikit nasi dan kuah sup, lalu meniupnya perlahan sebelum mengarahkannya ke depan mulut Aksa.

Aksa menerima suapan itu tanpa melepaskan pandangannya dari Jasmine.

"kamu sudah makan "

"belum tuan.!"

"Makanlah," ulang Aksa pelan namun tegas.

"Nanti saya akan makan, Tuan. Setelah ini," tolak Jasmine.

Aksa menghentikan gerakannya sejenak. Aksa tiba-tiba merebut sendok dari jemarinya. Lalu ia justru menyendok nasi dan sup yang masih hangat itu. Ia mengarahkannya tepat ke depan bibir Jasmine yang masih tertutup masker.

"Buka mulutmu," perintah Aksa.

"Tapi Tuan, ini makanan Anda. Saya bisa makan di dapur nanti. ...."

"Aku tidak suka mengulang perintah, Jasmine."

Ia membuka mulutnya sedikit, menerima suapan dari tangan Aksa.

Rasa sup yang hangat mengalir di kerongkongannya, namun rasa canggung yang luar biasa jauh lebih mendominasi. Aksa memperhatikan setiap gerak-gerik Jasmine saat mengunyah, seolah sedang menikmati pemandangan yang sudah lama hilang dari hidupnya.

"Enak?" tanya Aksa singkat sambil kembali menyendokkan makanan.

Jasmine hanya mengangguk pelan, tak berani bersuara.

Aksa perlahan mengangkat tangannya. Dengan sangat lembut, ia menggunakan ibu jarinya untuk membersihkan sisa kuah sup di sudut bibir Jasmine.

Jasmine tersentak. Kesadarannya kembali pulih bahwa posisi ini sudah terlalu jauh.

"Terima kasih, Tuan. Saya... saya harus membereskan ini sekarang," ucap Jasmine terbata-bata.

Ia cepat-cepat bangkit dari kursi, tangannya bergerak panik meraih piring dan nampan di atas meja. Jasmine ingin segera lari dari ruangan yang terasa semakin sempit itu. Namun, pergerakan Aksa jauh lebih cepat dan tak terduga.

Grep!

Aksa menyambar pergelangan tangan Jasmine dengan kuat. Sebelum Jasmine sempat memprotes, Aksa menarik lengan wanita itu.

"Aaakh!"

Jasmine kehilangan keseimbangan. Tubuhnya tertarik ke belakang dan detik berikutnya, ia sudah terduduk tepat di atas pangkuan kokoh Aksa.

Nampan di tangan Jasmine hampir saja terjatuh jika Aksa tidak segera melingkarkan satu tangannya yang besar di pinggang Jasmine, mengunci posisi wanita itu agar tidak bisa kabur.

"Tuan! Apa yang Anda lakukan? Lepaskan saya!" seru Jasmine panik.

Aksa justru semakin mempererat pelukannya di pinggang Jasmine. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Jasmine, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang selama tiga tahun ini hanya bisa ia temui dalam mimpi buruknya.

"Diamlah sebentar, Jasmine. Hanya sebentar," bisik Aksa parau.

Aksa sudah kehilangan seluruh kendalinya. Aroma tubuh Jasmine yang begitu ia rindukan selama tiga tahun ini kini begitu dekat, menghirupnya dalam-dalam seolah itu adalah satu-satunya oksigen yang tersisa di dunia. Aksa mulai memberikan ciuman-ciuman kecil di leher Jasmine, membuat wanita itu gemetar hebat.

"Akh ....Tuan! Tidak... tolong jangan lakukan ini," ronta Jasmine.

Ia mengabaikan permohonan wanita itu, terus menelusuri leher jenjang Jasmine dengan bibirnya yang panas, menciptakan jejak-jejak kepemilikan yang samar namun nyata.

"Aksa, stop..." bisik Jasmine parau, suaranya nyaris hilang.

Ciuman Aksa di leher Jasmine tiba-tiba terhenti. Ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap mata Jasmine yang berkaca-kaca dengan tatapan yang penuh dengan obsesi, kerinduan, dan rasa bersalah yang campur aduk. Ia menyentuh dagu Jasmine dengan ibu jarinya, memaksa wanita itu menatap matanya dalam-dalam.

Tanpa peringatan, Aksa mendesakkan bibirnya ke bibir Jasmine, menciumnya dengan rakus dan kasar.

Mmph!

Aksa melumat bibir Jasmine seolah ingin merampas seluruh pasokan udara dan harga diri wanita itu, tidak membiarkan Jasmine memberikan perlawanan sekecil pun.

Tangan Jasmine yang tadi memukul-mukul bahu Aksa kini terkulai lemas, mencengkeram kemeja Aksa dengan kencang. Ia merasa pusing, dunianya seolah berputar.

Aksa perlahan melepaskan tautan bibirnya, namun ia tidak membiarkan Jasmine menjauh. Napas keduanya memburu.

Dengan gerakan yang sangat pelan, Aksa mengangkat tangannya. Ia menghapus jejak basah di bibir Jasmine menggunakan ibu jarinya.

"Mari kita rujuk," ucap Aksa.

"Brengsek!" desis Jasmine tajam.

Ia menghimpun seluruh tenaganya dan mendorong dada Aksa dengan kuat hingga ia berhasil turun dari pangkuan pria itu. Tubuhnya menggigil karena emosi yang meluap-luap.

1
Redmi Nam
Jasmine jangan membangunkan singa tidur..
tuh singanya muaraaah😄😄😄
vita
knp cerita ini jarang update sih kak
Redmi Nam
jangan lama" punya thor🙏
Kaknia
suka jl ceritanya 👍👍😘
sunaryati jarum
Nah gitu jika cinta perjuangkan
sunaryati jarum
Kamu benar Yasmine ,Nak Aksa dengarkan Bara kau jangan mempersulit Yasmine, kasihan
sunaryati jarum
Kau jatuh cinta sama mantanmu
Aidil Kenzie Zie
ngapa nggak ambil kamar yang ada pintu penghubungnya
mini
hah,,, ikut plong aku😍
Kaknia
suka alur ceritanya
Kaknia
bucin Aksa 😂🤭
Kaknia
seruuuuuuu
partini
dihhh felakor
Kaknia
semakin seruuuu ceritax tapi nanggung banget masih penasaran😭
partini
tamat sudah kamu Jasmine
Kaknia
astagaaa semoga Jasmine TDK knp knp 😭
Kaknia
mantap ceritax
Kaknia
semoga Jasmine TDK knp knp dan semoga Aksa pembela terdepanx
Kaknia
Semoga Bisa Bersatu Kembali.......
Suka Ceritax Seruuuuu....
Risa Virgo Always Beau
Jasmine mending kamu bertahan saja kerja sama Aksa di banding kamu di denda seratus juta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!