NovelToon NovelToon
Genius Modern Dinegeri Kuno

Genius Modern Dinegeri Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Ruang Ajaib / Fantasi Wanita
Popularitas:478.3k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Qing Lizi, seorang yatim piatu berprofesi sebagai dokter militer genius yang menguasai banyak hal. Selain cantik, ia juga memiliki dedikasi tinggi pada tugasnya.

Gadis berusia 30 tahun yang gemar akan tantangan, memilih bergabung dengan pasukan militer negara setelah mendapat lisensi kedokterannya.

Saking geniusnya, Qing Lizi sudah meraih gelar dokter specialis diusia dua puluh empat tahun.

Kariernya berjalan mulus, bermacam misi telah ia jalani, hidup mapan, banyak teman, digandrungi puluhan pria.

Sayangnya Qing Lizi tak berumur panjang. Ia harus kehilangan nyawa saat bertugas dinegara berkonflik bersama tentara perdamaian.

Namun bukannya pergi kesurga atau neraka, jiwa Qing Lizi malah pindah keabad kuno, menempati tubuh seorang gadis berusia sepuluh tahun.

Suatu hari, Qing Lizi mendapat anugerah sebuah cicin ajaib yang memberinya banyak keutungan.

Bagaimanakah kisah perjalanan Qing Lizi dikehidupan keduanya ini..?

Apa fungsi cincin ajaib yang melingkar dijari manis Qing Lizi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menteri Hukum Bai Yong

"Ibu, ini-----

Bai Yulin meringis, matanya masih bergetar lemah akibat pengaruh obat bius.

"Jangan banyak bergerak, nanti lukamu bisa terbuka." ucap lembut penuh kasih nyonya Bai.

Bai Yulin menelisik sekitar, menatap wajah-wajah asing yang berdiri lelah tak jauh darinya.

"Setelah lewat tengah hari, berikan satu sendok sirup ini. Untuk makan malam, cukup lima suapan bubur kaldu. Besok baru bisa makan dan minum dengan porsi normal tapi tetap yang lunak-lunak."

Jelas Lizi sembari menunjuk sirup pear yang ada diatas meja.

"Baik, terimakasih nona tabib, terimakasih..!" ucap nyonya Baik haru.

Wajah kaku menteri Bai mengendur, semburat sesal terbit merona.

"Nona tabib, maafkan atas sikapku yang telah meragukanmu. Aku sungguh sangat menyesal..!"

"Tak apa tuan menteri, itu sangat wajar. Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama jika berada diposisimu."

"Kau sungguh bijaksana sekali. Orangtuamu sangat beruntung karena memiliki putri berbakat sepertimu." puji tulus menteri Bai.

Lizi hanya menanggapi ucapan itu dengan senyuman lebar, sementara tabib Tan dan Jiayi meringis sedih seraya melirik Lizi cemas.

Qing Lizi menoleh pada nona muda Bai Rong yang sedang memijit perlahan kaki adiknya.

"Sebelumnya, tolong maafkan atas ketidak sopanan ku. Tapi jika boleh tahu, apa yang terjadi pada nona muda Bai..?"

Semua menegang, lalu serentak menatap Lizi dengan beragam sinaran.

"Aku mohon jangan salah paham. Aku hanya ingin tahu, mungkin saja bisa membantu." jelas Lizi tenang.

Tuan, nyonya, dan kedua anaknya saling melemparkan tatapan penuh pertimbangan.

Sementara para pelayan melirik sedih bercampur takut.

Menteri Bai lagi-lagi dipaksa untuk menghela nafas kasar yang sarat akan beban.

"Putriku mengalami cacat wajah. Ketika usianya sebelas tahun ia terserang demam tinggi, sekujur tubuhnya muncul bintik bernanah. Anehnya yang ditubuh tidak meninggalkan bekas, tapi bagian wajahnya----

Alis Lizi merajut, otaknya berfikir cepat.

"Boleh aku memeriksanya..?"

Bai Rong melirik ayah dan ibunya gugup.

"Tidak ada orang lain, tak apa...!" ucap lembut nyonya Bai mengusap punggung tangan putrinya.

Bai Rong mengguk lemah, lalu membuka cadarnya perlahan.

Lizi, Jiayi dan tabib Tan sedikit kaget. Meski tak seram mengerikan namun sangat tidak sedap dipandang.

Wajah Bai Rong dipenuhi noda hitam, seperti kain motif polkadot. Bahkan ada beberapa kerutan macam luka bakar dibagian pipi, bawah mata, dahi dan leher.

Lizi mendekat, duduk dihadapan Bai Rong. Ia mengamati dengan seksama setiap flek hitam yang tergambar rapat dikulit putih putri semata wayang Bai itu.

"Cacar air, secara bersamaan nona muda menderita Leprosy. Akibatnya terjadi peradangan hingga meninggalkan bekas seperti luka terbakar."

Semua terperangah menatap Qing Lizi dengan beribu keanehan.

Dari ratusan tabib yang datang memeriksa Bai Rong sedari masih diusia sebelas tahun, tak ada satu pun mampu mendiagnosa penyakit gadis itu.

Entah sudah seberapa banyak uang yang menteri Bai habiskan, namun tidak jua membuahkan hasil. Malahan kecacatan putrinya menjadi konsumsi publik hingga menjadikan Bai Rong bahan olokan.

"Apa bisa sembuh..?" tanya harap Bai Rong.

Qing Lizi mengangguk "dua bulan, wajah nona muda akan bersih normal sepertiku."

Ledakan emosi menguar diruangan berukuran 100 x 100 itu.

Air mata mengalir disetiap wajah-wajah lelah yang kembali menemukan harapan.

"Nona tabib, kau sungguh Dewi keberuntungan bagi keluarga Bai. Terimakasih nona, terimakasih..!" ucap nyonya Bai berniat berlutut.

Lizi gegas mencegah "nyonya, jangan pernah melakukannya. Alasan aku diberikan berkah ilmu medis adalah untuk membantu siapa pun yang membutuhkan. Jadi sudah semestinya aku menyembuhkan nona muda."

"Ya Dewa, sungguh sebuah kemuliaan yang agung bagi keluarga Qing karena memiliki keturunan sebaik dirimu nak..!"

Setelah meluapkan semua rasa yang selama bertahun-tahun terpatri pedih menyakitkan, keluarga Bai menjamu Lizi, Jiayi dan Tabib Tan dengan perasaan plong bahagia.

"Lusa aku akan berkunjung kembali untuk mengantarkan obat bagi nona muda, sekaligus memeriksa luka operasi tuan muda."

Tuan, nyonya dan nona Bai mengiyakan.

Kantung uang berisi lima puluh tahil disisipkan ketangan Lizi sebelum ia dan kawan-kawan meninggalkan kediaman Bai.

"Kenapa diberikan kepadaku..?" tanya aneh tabib Tan, kala Lizi menyodorkan kantung uang padanya.

"Karena paman Tan yang memberi tahu soal putra menteri Bai."

"Tapi dirimu yang mengobatinya, jadi kau lebih berhak atas uang itu."

Qing Lizi tak lagi membantah. Ia mengambil dua puluh tahil, lalu sisanya dibagi rata pada tabib Tan dan Jiayi.

"Tidak masalah kan aku kebagian paling besar..?"

"Tentu saja..!" jawab tabib Tan dan Jiayi mendekap riang uang lima belas tahil.

Sesampainya didesa, ketiganya berpisah. Tabib Tan pulang kerumah, Lizi dan Jiayi balik kegubuk darurat.

"Kakak Yoran..!" seru Lizi dan Jiayi.

Su Yoran menyahut, menyambut kedatangan dua remaja cantik itu.

"Maaf ya, aku baru mendengar kabar soal ibu dan dirimu tadi pagi." ucap sesal tak enak hati Yoran.

"Jadi kakak datang hari ini untukku dan ibu..?" tanya menggoda Lizi melirik Qing Jian yang sedang mengasapi daging babi hasil buruannya.

Para orang dewasa terkekeh.

Sedangkan Qing Jian acuh tak acuh, pura-pura tak mendengar.

"Sungguh, aku tidak tahu soal kepulangan pamanmu."

Memang apa yang dikatakan Su Yoran adalah kebenaran. Ia tidak mengetahui kepulangan lelaki pujaan hatinya.

Tadi pagi saat Yoran kepasar untuk membeli sayuran dan bumbu, gadis itu bertemu nyonya kepala desa Gu yang menceritakan semua peristiwa yang terjadi didesa termasuk tragedi pengusiran Qing Jia dan Lizi.

Bibi Gu tak mengatakan perihal Qing Jian, karena wanita paruhbaya itu belum tahu jika salah satu pemuda tertampan didesa Zitan telah kembali dari perbatasan.

Oleh sebab itu, Su Yoran tak lagi menunda. Sesampainya dirumah majikan, ia segera mengurus cuti liburnya.

Setelah berada dirumah darurat selama satu jam, baru Su Yoran tahu jika Qing Jian pulang saat pemuda itu datang bersama Huang Feng sembari memanggul seekor babi hasil buruan.

"Woah, itu menandakan jika paman dan kakak Yoran memang ditakdirkan untuk bersama." ucap Lizi bersorak.

Wajah Yoran memerah bak tomat, Qing Jian langsung mendelik garang.

"Hei, kau harus merubah panggilanmu mulai sekarang." Jiayi menimpali sembari mengerlingkan matanya.

"Yaa, kau benar. Bibi Yoran, sekarang kau juga harus memanggilnya begitu."

"Oke...!"

"Lizi, Jiayi...!" seru Qing Jian melotot sembari berkancah pinggang galak.

Bukannya takut, kedua gadis remaja itu malah terbahak riang, menjulurkan lidah meledek.

Kesemua bersantai ria, sembari menanyai Lizi dan Jiayi soal siapa yang diobati tadi pagi.

Sorenya para wanita memasak.

Saat menjelang makan malam, Su Yoran pamitan pulang.

Nenek Qing menahan, begitu juga Qing Jia, bibi Huang dan Jang.

Karena terus didesak, Su Yoran pun mengalah.

Tepat saat matahari nyaris tenggelam diujung cakrawala, Su Yoran pulang kerumahnya dengan ditemani oleh Qing Jian.

1
@Mita🥰
🥰🥰🥰🥰🥰
Datu Zahra
berjaya dan makmur bersama 🥳🥳🥳🥳
Babe Babe
bakalan ada pesta pernikahan paman Jian 😄😄😄
Rai Gojess
semangat terus update ya thor
Atik Kiswati
lnjt....
Babe Babe
bikin ceritanya makin mantap 👍👍👍👍👍thor 😍😍😍😍😍
Babe Babe
kehangatan keluarga sangat berharga
Babe Babe
memang iyaa kalau sudah di tinggal baru terasa 🤭🤭
Lisna
👍👍🥰🥰🥰🥰
Babe Babe
wah tambah lagi ruang dimensinya dabel Untung 😄😄😄
Babe Babe
mendadak kaya awas di rampok
Babe Babe
liat bini orang mulus kepincut modalin donk Kalau pengen bini cantik ,modalin
Babe Babe
mantap bikin penasaran aja Thor lanjut 👍
Memyr 67
𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝖽𝗂 𝗂𝗇𝖽𝗈𝗇𝖾𝗌𝗂𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝗍𝗎. 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅𝗄𝖺𝗇 𝖻𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗉𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗒𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖾𝗆𝖺𝗍 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇, 𝗄𝖺𝗋𝖾𝗇𝖺 𝗉𝖾𝗃𝖺𝖻𝖺𝗍 𝗄𝗈𝗋𝗎𝗉. 𝗌𝗂𝗄𝖺𝗍 𝗁𝖺𝖻𝗂𝗌 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗄𝗈𝗋𝗎𝗍𝗈𝗋 𝖽𝗂 𝗂𝗇𝖽𝗈𝗇𝖾𝗌𝗂𝖺.
Rhyzca Ayu
Semangaaat n succes slaluu ❤❤
Memyr 67
𝗂𝗇𝗂 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 𝗓𝗁𝖺𝗇𝗀 𝗅𝗂𝗇𝗀 𝗈𝗉𝗅𝖺𝗌 𝗒𝖺?
Delia ATA: oplas sama cangkok kulit beda kak. kalo cangkok kulit itu enggak merubah bentuk wajah
total 1 replies
Babe Babe
nikmat nya hidup liizi
Babe Babe
tidak semuanya karena uang ada yg tidak bisa di oleh uang,
Babe Babe
aku sering baca cerita tentang tokoh Nya Transmigrasi aku GX peduli yg penting ceritanya asyik memang aku hobinya baca sih 🤭
Memyr 67
𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗍𝖺𝖻𝗂𝖻 𝗀𝗈𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝖺𝖽𝖺 𝗒𝗀 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗋𝖾𝗌. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝖽𝖺𝗇 𝗋𝖾𝖺𝖽𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗒𝗀 𝗍𝖺𝗎. 𝗁𝗂𝗁𝗂𝗁𝗂 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!