bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
salah paham
Malam itu hujan turun deras.
Langit gelap, suara air jatuh tanpa henti membasahi jalanan.
Di depan sebuah rumah sederhana—rumah Bella—sebuah mobil berhenti.
Yoga turun tanpa payung.
Dalam hitungan detik, rambut dan bajunya basah kuyup. Tapi ia tidak peduli.
Matanya hanya tertuju pada satu hal—
pintu rumah Bella.
Yoga berdiri di depan pintu.
Tangannya terangkat… lalu mengetuk.
Tok. Tok. Tok.
“Bella…”
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, lebih keras.
“Bella, tolong buka…”
Di dalam rumah—
Bella berdiri di balik pintu.
Tangannya gemetar.
Ia mendengar suara Yoga.
Jelas. Dekat.
Dan itu membuat dadanya semakin sesak.
Air matanya jatuh tanpa ia sadari.
“Bella, denger aku…”
Suara Yoga terdengar serak.
“Hari ini… itu bukan seperti yang kamu pikir…”
Bella menutup mulutnya, menahan isak.
Ia ingin membuka pintu itu.
Ingin mendengar penjelasan.
Tapi bayangan Aline yang memeluk Yoga… terus berputar di kepalanya.
Di luar—
Yoga masih berdiri di tengah hujan.
“Bella… aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia…”
Suaranya mulai bergetar.
“Dia tiba-tiba datang… aku bahkan nggak tahu…”
Bella bersandar di pintu.
Air matanya makin deras.
Ia tahu Yoga bicara jujur.
Tapi hatinya… masih sakit.
“Bella… tolong buka pintunya…”
Hening.
Hanya suara hujan yang menjawab.
Yoga menunduk.
Air hujan bercampur dengan sesuatu yang lebih hangat di wajahnya.
Untuk pertama kalinya—
suara Yoga pecah.
“Aku salah… aku harusnya lebih tegas dari awal…”
Ia mengusap wajahnya kasar.
“Tapi aku nggak pernah main-main sama kamu…
Di dalam—
Bella menangis semakin keras.
Tapi kakinya… tidak bergerak.
Beberapa menit berlalu.
Yoga masih berdiri.
Masih berharap.
Namun…
pintu itu tetap tertutup.
Akhirnya…
Yoga mundur satu langkah.
Matanya masih menatap pintu itu.
Dengan harapan kecil… yang perlahan padam.
“Yaudah…” suaranya pelan.
“Kalau kamu butuh waktu… aku tunggu.”
Ia berbalik.
Masuk ke mobilnya.
Dan pergi…
dengan rasa kecewa yang berat.
Di dalam rumah—
Bella perlahan turun terduduk di depan pintu.
Menangis tanpa suara.
Terlambat.
KEESOKAN PAGI
Matahari bersinar cerah.
Berbanding terbalik dengan hati Bella.
Semalaman ia tidak tidur.
Wajahnya pucat, matanya sembab.
Dan satu hal terus menghantui pikirannya—
Yoga… di bawah hujan.
“Aku salah…” gumamnya pelan.
Ia berdiri cepat.
Mengambil tas.
Hari ini… ia harus minta maaf.
Tak lama, Bella sampai di rumah besar keluarga Dinata.
Rumah itu… terasa lebih sepi dari biasanya.
Ia mengetuk pintu.
Seorang bibi membuka.
“Non Bella…”
Bella tersenyum tipis.
“Bibi… yang lain pada ke mana?”
“Ny. Ratna dan Non Kania ke salon,” jawab bibi.
“Tuan sudah ke kantor.”
Bella mengangguk pelan.
Lalu bertanya dengan sedikit ragu,
“Yoga… ada?”
Bibi tersenyum kecil.
“Den Yoga ada di kamar. Dari tadi belum keluar…”
Bella menghela napas lega.
“Tapi…”
Bella menoleh.
“Non Aline juga datang tadi.”
Deg.
Jantung Bella seakan berhenti sesaat.
Tanpa menunggu lagi—
Bella langsung berlari ke dalam.
Langkahnya cepat menaiki tangga.
Jantungnya berdebar kencang.
Pikirannya campur aduk.
Sampai di depan kamar Yoga.
Pintu tidak terkunci.
Bella mendorongnya pelan—
Dan…
dunia Bella kembali runtuh.
Di atas tempat tidur—
Yoga dan Aline.
Aline berada di atasnya, sangat dekat.
Posisi mereka…
terlihat sangat tidak pantas.
Mata Bella membesar.
Tubuhnya membeku.
Suara di sekitarnya seperti menghilang.
Yoga yang melihat pintu terbuka langsung kaget.
“BELLA?!”
Ia langsung mendorong Aline menjauh.
“INI NGGAK—”
Namun sudah terlambat.
Bella mundur satu langkah.
Air matanya langsung jatuh.
Semua yang ia lihat…
cukup untuk menghancurkan semuanya.
Bella berbalik.
Dan berlari.
“BELLA TUNGGU!”
Yoga langsung bangkit dari tempat tidur.
Hampir saja mengejar—
Tapi tangannya ditahan.
Aline.
“Lepas!” bentak Yoga marah.
Aline tersenyum tipis.
“Kamu belum selesai sama aku…”
Yoga langsung menepis tangan itu dengan kasar.
“JANGAN SENTUH GUE!”
Suaranya menggema di kamar.
Matanya penuh amarah.
“Lo keterlaluan!”
Yoga mendorong Aline menjauh.
“Lo sengaja, kan?!”
Aline hanya tertawa kecil.
“Kalau dia percaya sama kamu… dia nggak bakal lari.”
Kalimat itu membuat emosi Yoga meledak.
“DIAM!”
Tanpa peduli lagi—
Yoga langsung berlari keluar kamar.
Mengejar Bella.
Namun…
lorong sudah kosong.
Tangga sepi.
Pintu depan… terbuka.
Bella sudah pergi.
Yoga berdiri diam.
Napasnya berat.
Tangannya mengepal kuat.
Untuk kedua kalinya—
ia terlambat.
...----------------...
Siang itu langit berubah gelap lebih cepat dari biasanya.
Awan hitam menggantung berat, seolah menahan sesuatu yang akhirnya tak bisa ditahan lagi.
Hujan turun.
Awalnya rintik…
Lalu semakin deras…
Hingga berubah menjadi hujan lebat yang disertai kilat dan suara petir yang menggetarkan langit.
Di dalam rumah sederhana itu—
Bella duduk diam di lantai, bersandar pada pintu.
Matanya sembab.
Wajahnya pucat.
Tangannya memeluk lututnya sendiri.
Sejak pagi… ia belum benar-benar tenang.
Bayangan itu terus berulang.
Yoga… dan Aline… di kamar itu.
“Kenapa…” gumamnya pelan.
Air matanya jatuh lagi.
Ia mencoba menghapusnya, tapi percuma.
Hatinya terasa seperti diremas.
Tiba-tiba—
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu terdengar keras.
Bella membeku.
Jantungnya langsung berdegup cepat.
“BELLA!”
Suara itu.
Ia kenal.
Sangat kenal.
Yoga.
Bella menutup mulutnya.
Air matanya kembali jatuh.
Di luar—
Yoga berdiri di tengah hujan deras.
Tidak ada payung.
Tidak ada perlindungan.
Bajunya sudah basah kuyup, menempel di tubuhnya.
Rambutnya jatuh berantakan, air menetes dari ujungnya.
Tapi ia tidak peduli.
“BELLA, BUKA PINTUNYA!”
Suaranya keras, hampir tenggelam oleh suara hujan dan petir.
Di dalam—
Bella menutup telinganya.
“Pergi…” bisiknya pelan.
Tapi suaranya sendiri terdengar lemah.
“AKU NGGAK AKAN PERGI!”
Teriakan Yoga kembali terdengar.
“DENGER AKU DULU!”
Bella menggigit bibirnya.
Tangannya gemetar.
Ia ingin membuka pintu itu.
Sangat ingin.
Tapi…
bayangan itu lagi.
Aline.
Dekat.
Terlalu dekat.
“ITU SALAH PAHAM, BELLA!”
Suara Yoga mulai serak.
“Aku nggak ngapa-ngapain!”
Bella menunduk.
Air matanya jatuh ke lantai.
“Dia yang datang… dia yang…”
Suara Yoga terputus sejenak.
Seolah kehabisan napas.
Hujan semakin deras.
Angin berhembus kencang.
Air mulai masuk ke teras rumah Bella.
Yoga akhirnya tidak berdiri lagi.
Ia perlahan duduk di teras.
Air hujan tetap mengenai tubuhnya.
Tidak ada bedanya.
“Aku nggak akan pergi…”
Suaranya lebih pelan sekarang.
Namun justru terasa lebih kuat.
“Aku bakal di sini… sampai kamu buka pintunya.”
Di dalam—
Bella menangis semakin keras.
Namun tetap tanpa suara.
Waktu berjalan.
Menit demi menit.
Jam demi jam.
Yoga tetap di sana.
Duduk.
Basah kuyup.
Kedinginan.
Tapi tidak bergerak.
Ia bersandar pada tembok, menunduk.
Sesekali mengusap wajahnya—
entah itu air hujan… atau air mata.
“Bella…” gumamnya pelan.
“Aku capek kalau kamu terus salah paham…”
Tidak ada jawaban.
“Aku sayang kamu…”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Tanpa rencana.
Tanpa dipikirkan.
Di dalam—
Bella langsung terdiam.
Napasnya tertahan.
Itu pertama kalinya.
Ia mendengar Yoga mengatakan itu.
Dengan jelas.
Tanpa ragu.
Air matanya jatuh lebih deras.
“Kalau aku bisa… aku nggak akan biarin kamu lihat itu…”
Suara Yoga semakin lemah.
Petir menyambar.
Suara menggelegar memenuhi langit.
Waktu terus berjalan.
Langit tetap gelap.
Hujan tidak berhenti.
Jam menunjukkan pukul 7 malam.
Lalu 8 malam.
Lalu…
9 malam.
Yoga masih di sana.
Tidak bergerak jauh.
Hanya diam… termenung.
Sesekali bergumam sendiri.
“Aku nggak akan pergi…”
Ia mengulang lagi.
Seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Di dalam—
Bella perlahan membuka sedikit tirai jendela.
Mengintip.
Dan yang ia lihat…
membuat dadanya semakin sakit.
Yoga masih duduk di sana.
Sendirian.
Basah kuyup.
Diam.
Seperti orang yang kehilangan arah.
Bella menutup tirai lagi.
Menangis.
Ia berjalan kembali ke pintu.
Lalu duduk di belakangnya.
Sangat dekat.
Hanya terpisah oleh satu lapis kayu.
Di luar—
Yoga bersandar tepat di sisi yang sama.
Tanpa sadar.
Dua orang.
Sangat dekat.
Namun terasa sangat jauh.
“Aku di sini…” gumam Yoga pelan.
Bella menutup matanya.
Air matanya jatuh tanpa henti.
Ia ingin membuka pintu itu.
Ingin memeluk Yoga.
Ingin percaya.
Tapi rasa sakit itu…
masih terlalu kuat.
“Aku takut…” bisik Bella lirih.
Namun suara itu tidak sampai keluar.
Malam semakin larut.
Hujan belum berhenti.
Yoga masih bertahan.
Bella masih bertahan.
Dengan luka masing-masing.
Dan di antara mereka—
hanya ada satu pintu.
Yang belum juga terbuka.
"aku gak akan pergi sampai kamu buka pintu dan mendengarkan penjelasan ku sayang"