Sequel CBOP.
Menceritakan tentang kehidupan Anabella setelah menjanda. Dia disukai oleh 2 orang pria. Jadi di sini Anabella harus memilih antara Johan, Faris atau tetap menjanda?
Ya, semenjak Arkan meninggal. Lauren bagai teman bagi Anabella. Tapi untuk Isabella, sekeras apapun Lauren dan Anabella membujuk Isabella untuk ikut dengan mereka. Dia tak pernah mau tinggal bersama Anabella. Isabella justru menuduh Anabella adalah wanita pembawa sial. Bagi Isabella, semua orang yang dekat dengan Anabella akan mati tak bersisa.
Faktanya bukan seperti itu. Sebenarnya banyak masalah lain. Tentang kejanggalan kematian Arkan dan tersangka yang sesungguhnya.
***
"Aku menginginkanmu. Menginginkan semua yang ada pada dirimu Ana. Tak perduli kau janda, aku akan tetap menyukaimu." Faris.
"Anabella, hanya kau seorang wanita yang ku kagumi. Andai waktu dapat terulang kembali. Mungkin kita sudah menikah. Maaf atas kekhilafanku." Johan.
Harap bijak dalam membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Terang
Anabella membolak-balikkan benda kotak persegi tersebut. "Ini apa sih?" gumamnya lagi. Matanya sambil melirik Devan yang asik bermain baju Anabella. Dikeluarkan dari tasnya dan dihamburkan kemana-mana sama Devan. Lalu tak sengaja ada yang mengenai wajahnya. "Hehe," tawa Devan nyaring saat baju Anabella menutupi wajahnya sendiri.
"Ah Devan, lucu banget sih sayang." ujar Anabella sambil menyingkirkan baju itu dari Devan.
"Devan nonton TV aja yuk?" ajak Anabella sambil menyalakan TV nya. Devan langsung diam dan menatap TV itu dengan begitu fokus.
Anabella kembali duduk di karpet, dia membuka kotak kecil itu. Dan matanya berbinar saat menemukan banyak memori di bulan kematian Arkan. Anabella mencoba mengingat-ingatnya. "Inikan memori yang pernah ku sembunyikan." ucapnya lagi.
Anabella semakin penasaran dengan isinya. Ini adalah barang bukti barunya. Semoga ada titik terang dibalik semua ini.
Anabella memasukkan satu persatu memori rekaman CCTV itu secara bergantian di Handphone satunya. Dia menyaksikan secara seksama dan mendetail. Menunggu begitu lama, tapi tanggalnya beda. Akhirnya Anabella harus cari satu persatu sesuai tanggal dimana Arkan sebelum kecelakaan.
Karena ini memakan waktu yang cukup lama. Akhirnya Anabella meminta Lauren untuk menjaga Devan. Mengawasinya yang lebih penting. Takut kalau apa-apa dimainin bocah balita tersebut.
"Tolong ya Bi, jagakan Devan. Anabella sedang ada kepentingan." katanya.
"Iya Bel, emangnya mau diapain benda itu?" tanya Lauren penasaran.
"Anabella mau cari sesuatu Bi. Nanti kalau ketemu, Anabel janji mau ngasih tahu bibi." balasnya.
"Iya, Bibi tunggu." Kepo sudah si Lauren ini. Dia sangat penasaran apa yang sedang dilakukan oleh keponakan satu-satunya ini.
Anabella terus mencarinya. Satu persatu sudah ia lihat. Untuk malam ini sepertinya Anabella tak bekerja dulu. Dia lebih fokus mencari tersangka penyebab kematian almarhum suaminya.
Lama bergulat, sampai waktu sudah malam Anabella masih fokus menonton. Tinggal 2 kartu yang belum ia tonton. Ia berharap di salah satunya ada sebuah bukti.
Malam ini Anabella rela begadang. Ini sudah pukul 1 dini hari. Namun matanya masih terbuka dan terus menyaksikan satu persatu video tersebut.
"Aku harus menemukannya." Ini adalah kartu kedua, sisa 1 kartu lagi yang belum ia tonton.
"Hoaaam," Anabella menguap berkali-kali. Dan matanya langsung membola saat melihat sebuah bayangan memasuki kawasan rumahnya. Dari perawakannya sangat mirip dengan pelaku yang memutuskan rem mobil Anabella. Bedanya wanita ini memakai jeans warna denim. Bukan jeans hitam yang di kasus Anabella. Rambut terikat ke atas dan memakai masker hitam.
Di dalam rekaman video itu, terlihat sekali kalau wanita itu tengah celingukan, menoleh ke kanan dan ke kiri. Terlihat waktu sudah sangat larut. Hampir pukul 3 wanita itu masuk ke halaman rumah Anabella.
Terlihat ada raut wajah ragu-ragu, namun dengan pasti dia bertiarap dan merangkak masuk ke bawah mobilnya Arkan. Cukup lama dan wanita itu keluar dengan membawa kabel. Entah kabel apa, kelihatannya dia sangat bahagia.
Klik.
Anabella mematikan video itu. Dia menangis dalam diam. Dia melirik di sebelah kanan kirinya ada Devan dan kedua bibinya.
"Ya Tuhan, siapa wanita itu? Jahat banget sih? Kenapa dia ingin membunuh suamiku? Apa salah suamiku padanya? Hiks," Anabella meringkuk. Dia menutupi wajahnya dan menangis tergugu. Anabella tak rela suaminya dicelakai seperti ini. Dia harus secepatnya bisa menemukan tersangkanya.
Anabella heran, kenapa sampai sekarang polisi itu tak pernah mengabarinya? Ada apa sebenarnya? Apakah orang itu susah dicari?
Tak perduli ini dini hari. Anabella segera mengusap air matanya dan dia berjalan menjauh dari bibi dan anaknya. Setelah menemukan tempat yang sunyi. Anabella menyentuh tombol warna hijau. Yang dimana nomor itu adalah nomor kantor polisi.
"Halo kantor polisi. Saya Anabella, mau melaporkan kasus penemuan terbaru. Ini tentang kematian suami saya," ujar Anabella dengan tegas. Meskipun dia tengah sedih, tapi ditangisi seperti apapun suaminya tak akan hidup lagi. Jadi sekarang ini, dia akan menyerahkan kasus ini pada pihak yang berwajib.
"Boleh saya melihat barang buktinya? Atau besok pagi jam 8 silahkan datang ke kantor kami."
"Saya sudah berada di luar kota Pak. Saya belum bisa ke Jakarta. Tapi saya bisa mengirimkannya via wa atau tele." kata Anabella. Dan polusi itu menyetujuinya.
"Baik, tapi kalau ada sesuatu tolong segera beri laporan. Saya akan meninjaunya besok pagi." balas Polisi itu. Mereka sudah tahu dimana Anabella tinggal.
Anabella baru babad di sini, jadi uangnya masih terpakai. Tapi Anabella janji, secepatnya dia akan pulang ke Jakarta. Untuk pengembangan kasus kematian suaminya dan ingin tahu siapa yang membunuhnya juga tega mencelakainya namun gagal.
Ah, Anabella jadi teringat pada Faris. Dia masih selamat dan baik-baik saja seperti ini karena Faris telah memaksanya untuk mengantarkannya kerja. Coba kalau tidak? Anabella tak tahu lagi gimana nasibnya.
"Makasih Faris. Semoga kebaikanmu dibalas oleh Tuhan." doanya.
Kemudian Anabella menuju ke tempat tidurnya. Dia perlu istirahat, sebab besok dia harus melanjutkan pekerjaannya. Masih banyak orderan yang belum ia selesaikan. Sebelum menutup matanya. Anabella berharap, semoga tersangkanya cepat ditangkap. Supaya Arkan tenang di alam kuburnya.
***
Pagi-pagi sekali Anabella bangun. Dia menatap layar ponselnya, tapi belum ada kabar dari pihak kepolisian. Mungkin belum ditangani oleh mereka. Atau masih menunggu waktu. Entahlah, yang jelas untuk sementara ini Anabella sudah memasrahkannya ke pihak yang berwenang dan untuk dia, dia harus semangat bekerja. Terus bekerja supaya modal balik agar dia bisa segera pulang ke Jakarta. Kalau sekarang dia pulang, Anabella takut akan ketemu Johan. Setidaknya nunggu beberapa bulan, supaya Johan lupa dengan mereka.
"Kamu kenapa Nak? Dari kemarin melamun terus." tanya Lauren sambil menyiapkan teh hangat untuk Anabella.
"Bibi tahu gak? Ternyata suamiku mati dengan cara yang tak wajar."
Mendengar itu, Lauren menelan ludahnya kepayahan. Tangannya gemetaran dan langsung meletakkan teh hangat itu di lantai. Maklum belum ada meja atau kursi. Mereka bekerja dengan lesehan, begitu juga dengan Anabella.
"Apa? Jadi Arkan dibunuh?" kata Lauren sambil mengepalkan tangannya.
Anabella mengangguk mengiyakan. "Iya Bi. Hiks, apa salah Anabel Bi? Kenapa orang-orang menjahati Anabel?" Tangis Anabella pecah.
Lauren tak tega. Dia segera memeluk Anabella dengan eratnya. Lauren memejamkan matanya. Entah kenapa, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang.
"Sabar ya Nak. Bibi yakin kamu bisa melewati semua ini."
'Begitu lama, kenapa baru ketahuan sekarang?' batin Lauren.
"Makasih Bi. Kali ini Anabel gak akan biarkan penjahat itu lolos." kata Anabella dengan yakin.
"Pelakunya sama gak?" tanya Lauren penasaran.
"Dari bajunya beda Bi. Tapi dari wajah juga belum terlihat jelas. Anabella seperti mengenalnya."
Lagi-lagi Lauren berusaha menelan ludahnya. Kenapa jantungnya terus berdetak mendengar berita seperti ini? Ada apa sebenarnya? Apa Lauren mulai mengidap penyakit jantung seperti yang Anabella alami selama ini?
Bersambung...
Episode selanjutnya.
Oma Venesa
mjl