Seorang gadis bernama Sabrina adelia, dia cewek tomboy, cuek, suka yang gratisan dan juga ringan lidah, namun terkadang juga memiliki lidah pedas jika di usik, mendadak terbangun di dunia novel kerajaan modern. Novel yang dia buat sendiri. Sabrina adalah seorang penulis terkenal, namun ketika dia merilis novel terbaru, banyak para penggemarnya yang marah. Karena kehidupan pemeran utama wanita yang tragis bernama kayana. Dimana pemeran utama wanita yang lemah, di jodohkan oleh pria tokoh utama, pria terkaya dan dingin bernama Pangeran Xavier Maheswara. Namun pangeran xavier telah memiliki kekasih bernama Aruna Lauren, aruna sang figuran yang seharusnya menjadi pelengkap di puja bagaikan tokoh utama wanita.
Sang pemeran utama wanita juga harus menyamar sebagai pria, karena kehidupan yang terancam. Dengan modal otak encer, dan sedikit nekat, dia merubah alur novel yang di buatnya. Hingga menarik perhatian pangeran xavier sang pemeran utama pria dan membuatnya sangat terobsesi dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Kayana Tinggal Di Istana
Mobil pangeran xavier berhenti di depan lobi bangunan dengan arsitektur modern yang menjulang. Para karyawan langsung membungkuk hormat menyambut kedatangannya. Kayana merasa takjub melihat restaurant milik pangeran xavier yang megah dan mewah. Dia menatap langit-langit tinggi yang di hiasi lampu kristal raksasa, memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan seluas aula kerajaan.
"Ayo duduklah." Pangeran xavier menarik kursi beludru untuk kayana.
"Pangeran, ini kan masih pagi? Memangnya restaurant mu buka pagi-pagi sekali seperti ini?" Tanyanya dengan nada bingung.
Pangeran xavier tersenyum tipis. "Tidak, biasanya bukanya agak siang, ini karena kamu belum sarapan, jadi restaurant ini buka khusus untukmu." Jawabnya dengan nada santai.
Para pelayan menyajikan makanan kesukaan kayana. Kayana yang lapar akhirnya makan dengan lahap. Pangeran xavier tersenyum tipis, melihat kayana yang makan dengan pipi mengembung terlihat sangat menggemaskan.
"Sayang, seperti aku tidak akan terus mengikuti permainan mu, karena semakin hari, kamu semakin nakal. Aku akan mengikat mu dengan rantai kekuasaan ku." Batinnya berbisik penuh rencana.
"Pangeran xavier kenapa menatap ku seperti itu ya? Entah kenapa aku merasa takut dengan tatapan matanya, terkadang aku melihat di matanya seakan-akan penuh rencana yang aku tidak mengerti." batinnya berbisik ngeri.
"Pangeran, aku sudah selesai makannya, aku merasa tidak enak lama-lama meninggalkan sekolah." Ucapnya menatap mata pangeran xavier lekat.
Pangeran xavier menganggukkan kepalanya. "Ayo." Ajaknya dia bangkit dari kursinya.
Kayana langsung bangkit dari kursinya.
Sedangkan di sebuah rumah.
Bunda lita sedang duduk di ruang tamu, dia duduk mematung jemarinya bertaut erat, hingga buku-bukunya memutih. Di ruang tamu yang biasanya hangat, kini seolah menyempit dan menghimpit napasnya. Dia tahu tatapan pangeran xavier kepada kayana.
Pangeran xavier tahu kayana seorang wanita. Selama ini dia membangun dinding rahasia untuk melindungi kayana yang mengincar nyawanya. Namun dia tahu sekarang persembunyian itu telah retak. Kedatangan pangeran xavier dan kata-kata yang diucapkan kepadanya, adalah sebuah peringatan dan perintah.
Dia masih ingat peringatan pangeran xavier untuknya. "Aku tahu, kamu selalu melindunginya, jadi bujuk dia untuk tinggal di istana, aku akan melindunginya. Karena dia calon istriku, dan aku mencintainya." Ucapnya dingin. "Jangan sampai aku memaksa mu dengan melakukannya yang kejam." Sambungnya kembali.
Bunda lita ingat sekali peringatan pangeran xavier, sebelum kayana turun dari kamarnya. "Mau tidak mau, aku harus mengikuti perintahnya pangeran xavier, hanya terlihat di mata pangeran ada obsesi besar melihat kayana, aku takut kayana merasa terkurung, karena kayana sekarang suka kebebasan, tidak seperti dulu yang suka berdiam diri di kamarnya." Gumam bunda dengan tubuh bergetar.
Sedangkan mobil pangeran xavier telah sampai di sekolah noah. Sekolah sepi karena semua orang telah masuk sekolah.
"Terimakasih banyak, aku pergi dulu." Ucapnya dengan nada santai.
"Hmm, pulang aku jemput." Jawab pangeran xavier.
Kayana tidak menjawab, tetapi dia yakin, pangeran xavier seakan-akan mengekangnya, dia yakin pasti ada sesuatunya dan dia akan mencari tahunya.
Dia masuk kedalam sekolahnya. Riuh dari dalam kelas terdengar. Noah masuk kelasnya, arhan mendekatinya. "Noah, kok kamu tidak menjemput ku? Aku telpon tidak diangkat-angkat." Ucapnya dengan wajah cemberutnya.
"Maaf, aku tadi di antar pangeran xavier, dia tiba-tiba ada di rumah ku menjemput ku." Jawaban dengan nada santai.
"Ini kenapa tidak ada gurunya?" Tanya noah bingung.
"Oh, guru sedang rapat, oh iya akan ada anak baru, pindahan dari luar negri. Hanya kita jangan mengganggunya noah, dia itu katanya dingin dan kejam." Bisik arhan pelan.
"Hmm, anak barunya belum datang?" tanyanya dengan nada santainya.
"Belum, tidak tahu kemana, seharusnya dia datang dan memperkenalkan dirinya. Tetapi dia tidak datang dari tadi." Jawab arhan dengan berbisik.
Ponsel kayana berdering tanda panggilan masuk. Dia langsung mengambil ponselnya disaku celananya.
"Bunda lita." Gumamnya bingung..
"Arhan, aku keluar dulu, ada telpon dari bundaku." Ucapnya dengan nada santainya.
"Hmm, pergilah. Kita masih jam kos." Jawabnya tersenyum tipis.
Kayana langsung pergi. Dia mencari tempat untuk menelpon balik bundanya. Dia yakin ada sesuatu yang terjadi.
Kayana naik ke rooftop. Dia melihat rooftop yang sepi. Dia langsung menelpon bundanya.
"Hallo bunda." Sapanya.
"Sayang, bunda ingin bilang kepada mu, bagaimana jika kita ikuti kemauan pangeran xavier?" Tanyanya dengan nada terdengar parau.
Deg..
"Bunda, ada apa? Apa pangeran xavier mengatakan sesuatu?" Tanyanya dengan nada penasarannya.
"Tidak sayang?" Jawabnya terdengar ragu.
"Bunda, jangan berbohong, katakanlah yang sejujurnya, agar aku bisa berhati-hati. Kalau kita tinggal di istana, hidup kita akan terkekang bunda."
"Bunda tau sayang, sayang dengarkan baik-baik. pangeran xavier sudah tahu siapa dirimu, dia tahu kamu tunangannya."Jawabnya dengan nada dingin.
Deg..
"Sayang, pikirkan baik-baik. Jika kita tinggal di istana, orang-orang yang menginginkan nyawa mu tidak berani menyentuh mu." Ucap bunda dengan nada meyakinkan.
Kayana menghela napas. "Aku akan pikirkan bunda." Jawabnya dengan nada pasrah.
"Iya sayang, pikirkanlah baik-baik." Ucap bunda dengan nada perhatian.
Kayana melangkah ke pembatas balkon rooftop. Dia membuka rambut palsunya.
"Apa semua ini sudah tidak di perlukan lagi? Dia telah tahu siapa aku, dia memang hebat." gumamnya merasa resah menatap rambut palsunya.
Di bawah sinar matahari pagi, kayana berdiri di tepi pembatas balkon, dengan rambut perak yang tergerai indah, rambut putih silver nya menari-nari seolah-olah sedang di permainkan angin. Rambut putih keperakannya berkilau menyilaukan, memantulkan cahaya sinar matahari seperti lelehan logam yang mulia yang tertutup angin kencang.
Tanpa kayana sadari ada seorang pria yang berdiri tidak jauh darinya. Dia mendengarkan semua pembicaraan kayana dengan bundanya. Pria itu menatap kayana dengan tatapan penuh ambisi yang berbahaya. Baginya wanita itu bagaikan bidadari yang turun dari kahyangan, dalam diam dia berbisik pada kegelapan dia ingin mengurungnya, dan ingin memilikinya hanya untuknya.
Sedangkan di ruang kerja pangeran xavier. Aruna duduk di sofa pangeran xavier dengan topeng kelembutannya. "Aruna, kenapa kamu tidak sekolah?" Tanyanya dengan nada dingin dan tajam.
"Aku rindu kamu pangeran xavier, lagi pula di sekolah tidak ada pelajaran, gurunya pada rapat, dan biasanya akan di pulangkan cepat." Jawabnya dengan nada lembut.
Pangeran xavier menatap lekat Aruna. Wajah Aruna tersipu malu. "Mami benar, pangeran xavier begitu perhatian, dia tidak mungkin berpaling dariku." Batinnya penuh percaya diri.
"Aruna, aku sibuk pergilah dari sini. Besok-besok jangan datang ke perusahaan ku lagi. Karena menganggu aku yang sedang bekerja." Ucapnya dengan nada dingin.
Deg...
Hati aruna bagaikan terbelah pangeran xavier mengatakan hal yang tidak pernah dia sangka. "Pangeran, kenalan akhir-akhir ini kamu berbeda, kita sepasang kekasih, tetapi kamu menjauhi akhir-akhir ini." Ucapnya dengan nada sedih dan mata berkaca-kaca.
Pangeran xavier menatap aluna tajam. "Aruna, apa aku pernah bilang kamu kekasih ku?" Tanya pangeran xavier dengan nada datar. "Tidak pernah kan aluna, aku hanya bilang kekasih masa kecilku. Apa kamu kekasih masa kecilku Aruna??"
Deg..
lebih baik hukuman ciuman dripda siksaan...hahahahah🤣🤣
lanjut kak....
langsung di basmi aja lah...hihihu...
smngt terus kak...💪💪