NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 | OBSIDIAN DI GALERI SENI

“Kau gila? Buat apa aku melakukannya?” Julian melotot pada Lauren, membanting laporan ke meja. Kacamata tanpa bingkainya melorot, kemejanya sudah kusut masai.

Lauren mengesah pelan, menggeser duduk mendekat pada suaminya. “Kau harus memikirkannya secara rasional,” katanya memulai. “Summer masuk penjara sebelum benar-benar menamatkan kuliahnya. Memangnya kau mau memberikannya posisi di perusahaanmu? Kau mau putrimu kerja rendahan karena statusnya sebagai mantan narapidana? Memberinya restoran adalah pilihan paling bijak. Kau tahu sendiri kemampuan memasaknya mengesankan, nyaris lulus dari studi kulinernya dengan nilai mengagumkan. Dia bisa kembali membangun hidupnya perlahan dengan mengelola restoran.”

Kendati berbicara dengan nada halus yang sugestif, sejatinya Lauren sedang mengumpat berkali-kali dalam hati. Ia benar-benar telah dibekuk di bawah kaki Summer, melakukan segala hal yang diinginkannya. Harga dirinya telah melesak ke titik yang paling rendah, dipermainkan oleh seorang gadis yang selama ini dia anggap sebagai lalat pengganggu.

“Kau pikir dengan membuka restoran membuat dia dipandang seperti dulu? Hidupnya, reputasinya, bahkan kesan yang orang-orang lihat darinya sudah hampir tidak bisa diselamatkan lagi. Karena ulahnya sendiri, dia menjadi seperti itu. Jadi, biarkan dia menanggung—”

“Hei, tidakkah kau berpikir kau sudah keterlaluan?” Lauren memotong cepat ucapan Julian. Kedua alisnya berkerut tajam selagi melayangkan tatapan sengit pada pria itu.

“Tidak ada seorang pun perempuan yang ingin mengalami hal menjijikkan seperti itu,” lanjut Lauren. “Dia hanya mencoba melindungi diri … dalam keadaan yang sangat terdesak, kehormatannya dipertaruhkan. Dia tidak punya pilihan lain. Putrimu hampir mengalami mimpi paling buruk, Julian. Teganya kau berkata seperti itu. Apa kau pernah sekali saja membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika percobaan pemerkosaan itu berhasil? Dia akan hidup dalam neraka yang lebih menakutkan dari ini, martabatnya akan dipandang lebih hina dari serangga!”

Napas Lauren memburu seiring nada tinggi yang melecut-lecut keluar dari bibirnya, dadanya menggemuruhkan panas. Saat menemukan Julian dengan ekspresi terkejut, barulah Lauren menyadari jika ia sudah menyemburkan apa yang selama ini bersemayam di benaknya.

Lauren membuang muka.

Ah, benar. Tindakan spontannya pasti efek samping yang timbul karena ia tertekan. “Empati” menjadi salah satu istilah terlarang dalam kamus hidup Lauren Dane. Tidak ada gunanya mengasihani orang lain. Sudah lama Lauren bertekad untuk hidup sebagai iblis, jika itu artinya ia bisa bertahan hidup, jika itu artinya masa depan putranya terjamin.

Setahun belakangan, Kian sudah dipercaya untuk menempati posisi manajer proyek setelah Julian mengakui kemampuannya. Tinggal sedikit lagi, Kian akan ditunjuk sebagai penerus papa tirinya. Lauren tidak bisa bersikap lembek sebelum putranya menempati posisi puncak di perusahaan.

Dengusan Julian membuyarkan pemikiran yang berkecamuk di kepala Lauren. Pria itu membuat gerakan memutar pada pelipisnya menggunakan telunjuk dan jari tengah seolah memberi tanda ia sedang dipusingkan oleh masalah ini.

“Para perempuan di rumah ini cerewet dan merepotkan sekali.” Julian mengusap kasar wajahnya. “Baiklah, aku akan memberinya restoran, tapi kau yang harus bertanggung jawab untuk memantaunya.” Setelah berkata begitu, Julian berderap keluar dari kamar sembari menggerutu.

Sepeninggal suaminya, giliran Lauren yang mendengus. Sepertinya ia juga harus segera mencari bukti tentangnya dan Airlangga yang ada di tangan Summer, atau gadis itu akan semakin menginjak-injak harga dirinya.

...****...

Summer turun dari mobil sembari memperbaiki topi bisbol hitamnya. Embusan angin malam terasa dingin membelai kulit wajahnya hingga ia sedikit bergidik. Satu meter dari mobil yang mengantarnya, Summer melirik malas seseorang yang masih berada di belakang kemudi, baru saja menurunkan kaca mobil sedikit, sehingga Summer bisa melihat sepasang iris amber yang menatapnya.

“Aku akan menunggumu di sini. Awas saja kalau kau berani membuat masalah,” Kian berucap tajam.

“Kau tidak punya kerjaan? Cepat enyah dari sini, kau merusak suasana hatiku.”

“Kau yang merusak pemandangan. Cepat masuk sana, aku nyaris katarak melihatmu lama-lama.” Kian menjulurkan tangannya pada sela kaca mobil, lantas mengibaskannya untuk mengusir Summer.

Bibir Summer komat-kamit menyumpahi Kian tanpa suara sebelum ia berbalik dan melangkah menuju galeri seni, tempat diadakan pameran lukisan malam ini. Begitu masuk, ia segera disuguhi riuh rendah para pengunjung yang mengobrol di depan lukisan-lukisan yang tergantung atau diletakkan dengan apik di atas etalase kaca dan kayu dengan pencahayaan hangat.

Summer memandang berkeliling sebentar, sebelum bergabung dengan para pengunjung untuk melihat-lihat lukisan. Malam ini ia memang berencana membeli beberapa yang cocok untuk restorannya yang tiga bulan lagi siap dibuka.

Summer baru mengamati sebuah lukisan di mana seorang wanita menari di tengah kobaran api, ketika suara di belakangnya membuatnya mengalihkan atensi.

“Selamat datang, Pak. Suatu kehormatan bisa menyambut Pak Archilles di galeri kami.”

Sepatah nama yang diucapkan oleh pria awal empat puluhan yang sepertinya direktur galeri seni ini, membuat Summer terkesiap. Tanpa sadar, wajahnya menegang dan fokusnya pada lukisan berjudul Lady Mallory sepenuhnya buyar.

Suara sepatu yang beradu dengan lantai dalam irama teratur terdengar semakin dekat, membawa Summer mematung. Tiba-tiba ia diliputi kekhawatiran pada sesuatu yang bahkan belum ia mulai. Summer perlu memejamkan matanya, memberanikan diri untuk menoleh dengan gerakan lambat. Saat itulah ia menemukan seorang pria berpostur tinggi dalam balutan setelan hitam yang sudah berdiri beberapa meter di sampingnya, sedang mengamati lukisan rumah kecil yang dikepung badai.

Rambut hitam pria itu ditata rapi. Meskipun sedang melihat lukisan, matanya yang dibingkai alis tebal menyorot tajam dan serius seolah sedang berhadapan dengan sesuatu yang harus ia kalahkan. Hidungnya yang tinggi dan ramping terlihat indah dari samping—

Deg.

Summer menahan napas saat objek yang tengah ia nilai mendadak menoleh ke arahnya. Mata mereka berserobok, mengalirkan sesuatu yang terasa ganjil dalam hati Summer. Ia merasa seperti tengah berada di tubir jurang, sekali saja sapuan tipis angin menerpanya, tak pelak ia akan jatuh terguling.

Dan Summer bersumpah, ia belum pernah melihat mata sekelam obsidian macam itu sebelumnya.

“Lukisan yang Bapak cari ada di sebelah sini. Mari saya antar.”

Akhirnya sensasi yang terasa dingin menyengat itu terputus saat Direktur Galeri mengulurkan tangan sebagai tanda agar pria itu mengikutinya. Summer segera memalingkan wajah, kembali menyapukan pandangannya pada Lady Mallory yang mengangkat satu tangannya dengan luwes layaknya penari andal. Meskipun ia terlihat sedang menilai lukisan itu dengan cermat, sejatinya Summer sedang mengatur napasnya yang memburu.

Aroma cendana bercampur vetiver yang menyelinap lembut di hidung Summer ketika pria itu melewatinya, seolah menciptakan endapan yang tidak hilang meskipun ia telah berjalan menjauh. Entah berapa lama Summer terdiam, tiba-tiba ia tersentak seolah baru saja tersambar petir.

“Sial, sial.” Summer memukul kepalanya dengan kepalan tangan. Ia menunduk dan menemukan kakinya yang terbungkus ripped jeans dan convers hitam. Atasan jangan ditanya lagi, kaus polos yang dibalut kemeja flanel tanpa kancing sebagai luaran. Tambahkan topi bisbol kesayangannya. Kesimpulan penampilannya malam ini: Tidak menarik dan terkesan seperti begundal.

Tujuannya datang ke galeri murni untuk melihat-lihat lukisan. Kalau saja ia bisa meramal satu jam ke depan, akan ia pastikan pakaian yang ia kenakan sekarang sudah menjadi abu di tong sampah belakang rumah.

Bagaimanapun ia menyesalinya, malam ini, Summer telah resmi memberikan kesan pertama yang terlampau jauh dari ekspektasinya pada pria itu.

Pada Archilles Meridian, suami Allura Sanders.

...****...

1
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!