NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4 - Ketenangan Dan Pertemuan Dengan Orang Baru

-~-Di Pagi Yang Terlalu Tenang

Kabut pagi masih menggantung ketika kereta kuda meninggalkan gerbang kota. Roda berderit pelan di atas batu basah habis terkena hujan di hari kemarin. Arthur duduk di dalam kereta, menatap keluar tanpa benar-benar melihat.

Hendry duduk berhadapan dengannya, dan Hendry kemudian ingin menceritakan segala hal tentang dia dan yang ia punya kepada Arthur walaupun ada beberapa hal yang harus disembunyikan, dan memang begitu seharusnya.

Setalah beberapa jam meninggalkan kota Fireloren, Hendry menceritakan tentang dirinya kepada Arthur seperti kisah Hendry yang mendapatkan posisi kepala pelayan di usia 29 tahun ketika kakek dari Arthur, Morenvile mempercayakan kepengurusan para pelayan kepada Hendry dan menggantikan posisi kepala pelayan sebelumnya yang memutuskan keluar tanpa alasan yang jelas, setelah semua cerita yang sudah di ceritakan oleh Hendry, terjadilah keheningan.

Mereka bukan sedang berada di suasana yang canggung tapi Arthur mengerti bagaimana kisah dari Hendry yang terlihat kuat namun menyimpan banyak hal yang membuat dia ingin berpikir keluar dari keluarga Moren namun ia masih mengingat kebaikan-kebaikan yang telah mereka berikan kepada Hendry.

Setelah itu, untuk mencairkan suasana.

“Ada jalan yang tidak tercatat di peta, tuan muda” ucap Hendry akhirnya.

“Dan tempat yang akan kita tuju ada di ujungnya.”

Arthur mengangguk.

“Ayahku bilang jika ia pernah ke sana... Sekali.”

Hendry menatap jendela.

“Lebih dari sekali.”

-~-Di Jalan Yang Menghilang

Kereta berhenti di depan jalan tanah sempit. Tidak ada penanda. Tidak ada batu batas. Seolah jalan itu sengaja dilupakan. Mereka turun. Arthur memanggul ransel dan sebuah pedang yang diberikan ibunya dan pernah digunakan Ayah Arthur Moren selama pelatihannya.

Hendry membawa pedang tua terbungkus kain yang selama ini hanya tergantung sebagai hiasan di dinding rumah.

Arthur meliriknya.

“Kau tak pernah membawa benda itu.”

“Karena sebelumnya belum perlu, tuan muda” jawab Hendry singkat.

Mereka Sampai Di Hutan Sunyi

Pepohonan tinggi menutup langit. Cahaya hanya turun sebagai garis-garis tipis. Suara burung jarang terlalu jarang.

Arthur berjalan di depan. Hendry mengikuti, langkahnya selalu setengah detik di belakang.

Seolah itu kebiasaan lama.

“Kau mengenal hutan ini?” tanya Arthur.

Hendry tidak langsung menjawab.

“Aku mengenal rasa diamnya.”

Arthur berhenti.

“Banyak orang bersembunyi di sini dulu, ketika era kekacauan” lanjut Hendry.

“Bukan karena mereka bersalah... Tapi karena mereka tak punya tempat lain lagi.”

Arthur menatap tanah.

Seperti ayahnya.

-~-Mereka Terus Berjalan Hingga Melihat Bekas Perkemahan

Mereka tiba di sebuah lapangan kecil. Abu lama tertanam di tanah. Sisa fondasi batu runtuh tapi sengaja dibiarkan. Arthur berlutut, menyentuh salah satu batu.

“Ini… Apakah rumah?” tanyanya.

“Tempat singgah...” kata Hendry.

“Di sinilah Moren berbagi roti dan minuman, bukan janji.”

Arthur menggenggam batu itu erat.

“Dan apakah di sinilah mereka melakukannya?”

Hendry menggeleng perlahan.

“Tidak... Di sinilah mereka belajar memanfaatkan kebaikan.”

-~-Malam Pertama Di Wilayah Asing Namun Membekas

Api unggun kecil menyala. Arthur duduk dekat api, Hendry berjaga sedikit menjauh. Bayangan Hendry memanjang terlihat lebih tinggi, lebih berat.

Arthur akhirnya bicara.

“Aku kemrin bertemu dengan orang yang... Tidak aku kemarin bertemu dengan Borein, dan dia bilang aku tak boleh sepenuhnya percaya padamu.”

Hendry tidak tersentak. Tidak marah.

“Dan engkau?” tanyanya.

Arthur menatap api.

“Aku percaya pada apa yang kau lakukan Hendry... Bukan pada apa yang kau katakan.”

Hendry menutup mata sejenak.

“Itu jawaban yang mirip Moren katakan.”

-~-Sebuah Pedang dan Janji

Hendry membuka kain pembungkus pedang tua. Bilahnya sedikit kusam, tapi tidak retak. Ada ukiran samar di gagangnya lambang keluarga Arthur (Fireloren).

Arthur terkejut.

“Itu... Apakah milik ayah?”

“Bukan...” jawab Hendry pelan.

“Itu milik ayah ayahmu (Kakek).”

Arthur terdiam.

“Aku tidak bersumpah pada Moren,” lanjut Hendry.

“Aku bersumpah pada garis yang hampir punah.”

Ia menyerahkan pedang itu.

“Tapi kau belum siap memegangnya, untuk saat ini.”

Arthur menerima dengan hati-hati. Beratnya terasa berbeda bukan berat besi, tapi seperti tanggung jawab yang sangat besar (Anak sulung wajar).

-~-Mendekati Tempat Lama Di Tempat Asing

Fajar menyingsing saat mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi. Beberapa reruntuhan batu putih dan hitam bertuliskan aksara AIVIA berdiri setengah terkubur tanah dan lumut.

Tidak ada papan nama.

Tidak ada bendera.

Arthur merasa napasnya berat.

“Ini tempat apa?” tanyanya, meski ia sudah tahu.

Hendry berdiri di sampingnya.

“Tempat di mana keluargamu pernah memilih manusia… sebelum kekuasaan.”

Arthur menatap reruntuhan itu lama.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa:

Ia tidak sedang pulang

Ia sedang dipanggil ke rumah sebenarnya atau tempat asalnya.

Senja di Lembah

Hari ketiga di lembah itu berakhir tanpa suara kemenangan. Tidak ada sorakan, tidak ada kepuasan. Hanya napas Arthur yang terengah karena melakukan latihan yang sangat sulit, dan Hendry yang duduk di atas batu dengan tangan sedikit gemetar bukan karena dingin.

Arthur memperhatikan itu.

“Kau lelah, Hendry” kata Arthur pelan.

Hendry tersenyum, tipis. Dan tertawa.

“Tubuh selalu jujur lebih dulu hahahsha.”

Arthur khawatir, tapi ia tahu rasa khawatir saja tidak ada gunanya. Kemudian dari balik pepohonan, langkah kaki lain muncul. Bukan langkah Hendry, tapi langkah yang lebih ringan, lebih mantap. Seorang pria muda berdiri di tepi cahaya. Rambut hitamnya diikat sederhana, pakaiannya bersih tapi tanpa hiasan. Tatapannya tenang, namun tajam seperti orang yang terbiasa melihat bahaya tanpa bereaksi berlebihan.

“Tuan Hendry, dan Tuan Arthur.” katanya sambil menunduk hormat.

“Maaf saya sedikit terlambat.”

Hendry menghela napas lega reaksi yang tidak ia sadari telah lama ia tahan.

“Toxen, sudah lama ya...” ucapnya.

“Kau tidak terlambat, bahkan datang tepat waktu.”

Arthur menoleh.

“Siapa dia?”

Hendry memandang Arthur, lama.

“Orang yang akan berdiri di belakangmu serta mendukungmu… ketika aku tak lagi bisa.”

Toxen menatap Arthur, lalu berlutut satu lutut.

“Aku tidak datang untuk menggantikan siapa pun, Tuan muda.”

katanya tenang.

“Aku datang untuk melanjutkan hal yang memang harus dilanjutkan.”

Arthur tidak tahu kenapa dadanya terasa berat mendengar itu.

-~-Pelajaran yang Tidak Ditulis

Saat Pagi Seperti Biasa Dengan Latihan

Arthur mengira latihan akan dimulai dengan pedang.

Ia salah.

“Duduk, tuan muda” kata Hendry.

Arthur duduk di tanah lembab.

“Tutup mata mu.”

Arthur menurut.

“Sekarang dengarkan...”

Ia mendengar angin. Daun bergoyang~~. Suara aliran air dari sungai.

Nafasnya sendiri. Lalu langkah kaki lain yang datang.

“Bangun...”

Arthur membuka mata. Di depannya berdiri seorang pria tua, punggungnya lurus meski rambutnya memutih sepenuhnya. Wajahnya penuh garis waktu, namun matanya… hidup. Terlalu hidup untuk seseorang seusianya.

“Asean, seorang pria tua yang tidak perlu diragukan.” ucap Hendry dengan hormat yang berbeda dari biasanya.

Arthur terkejut.

“Siapa dia…?”

“Orang yang mengajarkan ayahmu cara bertahan ketika dunia memutuskan menekan” jawab Hendry.

Asean menatap Arthur lama.

“Kau tidak mirip Moren sama sekali, dan nama mu Arthur ya?” katanya akhirnya.

“Itu baik.” Kata Asean

Arthur tidak tahu apakah itu pujian atau tidak.

Latihan SEDERHANA dari Asean

Asean tidak mengajarkan gerakan indah.

Ia mengajarkan jatuh.

Arthur dijatuhkan berulang kali oleh tongkat kayu, oleh dorongan bahu, oleh kelelahan sendiri.

“Bangkit terlalu cepat adalah kesalahan,” kata Asean saat Arthur mencoba berdiri tergesa-gesa.

“Musuhmu menunggu saat itu.”

Hendry mengawasi dari kejauhan, ditemani Toxen.

“Kau mengajarkannya seperti Moren,” kata Hendry.

Asean mendengus.

“Tidak. Moren belajar untuk melindungi orang lain. Anak ini…”

Ia melirik Arthur yang terengah-engah.

“…hmmm tapi dia harus belajar melindungi dirinya sendiri terlebih dahulu.”

Hendry menunduk.

“Dunia tidak memberi Moren kesempatan itu.”

Asean diam.

“Itulah sebabnya dunia mencoba memakannya.”

Di malam hari, Toxen mengambil alih banyak hal yang dulu dilakukan Hendry menjaga perimeter, menyiapkan rencana perjalanan nantinya, memeriksa jalur aman, menyiapkan makanan dan persiapan latihan Arthur selama disini.

Arthur memperhatikan bagaimana Hendry kini lebih sering duduk. Diam. Menatap api.

“Toxen, bisakah kamu kesini” kata Arthur suatu malam.

“Apakah kau sudah mengenal keluargaku dari lama?”

Toxen menggeleng.

“Aku hanya mengenal Hendry dari lama.”

Arthur terdiam.

“Itu sudah cukup, Toxen” lanjut Toxen.

“Jika dia mempercayai seseorang… aku tidak perlu alasan lain lagi.” ucap Arthur sambil tersenyum

Arthur merasa, untuk pertama kalinya, ia tidak sendirian menghadapi masa depan yang belum ia pahami.

Pesan Di Tengah Malam

Pada malam kelima, seekor burung kecil hinggap di dahan dekat api unggun. Bukan burung hutan biasa ada pita hitam di kakinya.

Hendry langsung berdiri.

Ia membaca pesan itu tanpa suara. Tangannya bergetar.

Asean mendekat.

“Norvist?”

Hendry mengangguk perlahan.

Arthur berdiri.

“Ada apa?”

Hendry melipat kertas itu dengan hati-hati, seolah melipat luka lama.

“Lingkaran itu bergerak,” katanya akhirnya.

“Dan salah satu dari enam… sudah terlihat jika ia kembali menuju ke tempat lama.”

Arthur mengingat Borein. Tatapan ragu itu. Suara yang tidak sepenuhnya bermusuhan.

“Siapa itu Hendry?” tanya Arthur.

Hendry menatap api.

“Yang paling pendiam.”

Asean menutup mata.

“hmm pasti dia, Ervin.” gumamnya.

“Dia tidak pernah bergerak tanpa tujuan.”

Toxen menggenggam gagang pedangnya.

“Norvist tidak menulis detail,” lanjut Hendry.

“Itu bukan caranya. Jika dia menulis singkat…”

Ia menatap Arthur.

“…itu berarti waktumu hampir habis.”

Arthur mengepalkan tangannya.

“Menuju ulang tahunku ke-18, Master” katanya pelan.

Asean menatapnya tajam.

“Dan dunia selalu menyukai angka itu.” (aku tidak suka angka ini).

Malam itu, Arthur tidak tidur. Ia duduk di tepi reruntuhan, menatap langit yang sama dengan yang pernah dilihat Moren atau Bahkan Seluruh leluhurnya bertahun-tahun lalu.

Ia sadar satu hal:

Latihan ini bukan untuk menjadikannya pahlawan.

Bukan untuk mengembalikan kejayaan. Latihan ini adalah persiapan agar ketika kebaikan kembali dimanfaatkan, ia tahu kapan harus tetap baik… dan kapan harus berhenti.

1
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🍾⃝ͩʀᴇᷞᴛͧ༄⃞⃟⚡☘𝓡𝓳
sukses selalu untuk semua karyanya kak
DavidTri: terimakasih kak🌞
total 1 replies
Vanillastrawberry
kritis banget tuan muda Arthur
Zan Apexion
Nice story 👍
DavidTri: Terima kasih 👋🏻
total 1 replies
Zan Apexion
Sedikit saran Thor, lupa tanda baca 'titik' setelah kata hentakan. letaknya di paragraf awal.
DavidTri: benar, lupa naruh titik di akhirannya, btw terima kasih
total 1 replies
DavidTri
21 nama yang sangat ...🗿
DavidTri
Episode 6 - 13 udah ada di draft😄 tinggal nunggu Minggu depan biar jadi jadwal up 1-2/Minggu🥳 Btw boleh baca Novel terbaru ku, Judulnya: Welcome To SERIAL KILLER
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥
DavidTri: btw kenapa cover nya masih ngadep belakang dah🗿 padahal udah diganti si Arthur hadap ke depan ngelihat orang ganteng/cantik😀
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!