NovelToon NovelToon
ASTRALAKSANA

ASTRALAKSANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: Im Astiyy_12

Sedikit tentang Arderos, geng motor dengan 172 kepala di dalamnya. Geng yang menjunjung tinggi solidaritas, pertemanan, dan persaudaraan di atas segalanya. Sama seperti slogan mereka yang berbunyi "Life in solidarity, solidarity for life." Kuat dan tangguh itulah mereka. Selain itu makna logo Arderos juga tak kalah keren dari slogannya.

• Sayap, yang memiliki simbol kebebasan, kekuatan, dan kecepatan. Bisa juga mewakili perlindungan atau penjagaan.
• Pedang, simbol kekuatan, keberanian, dan ketegasan.

Semua elemen itu saling melengkapi, dan tak akan lengkap jika salah satunya hilang. Sama halnya dengan Arderos yang tidak akan lengkap jika tak bersama.

"Solidaritas tanpa syarat, persaudaraan tanpa batas!"

"Riding bebas, tapi jangan kebablasan!"

Dengan lima pilar utama yang menjadikan pondasi itu kokoh. Guna mempertahankan rumah mereka dari segala macam badai.

Akankah lima pilar itu bisa bertahan hingga akhir tanpa luka atau kehilangan?.

~novel yang ku pindah dari wp ke sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nenek?

THE ETERNALLY; our home

Happy reading....

...Let's fly together....

.......

........

.........

........

.......

...~The Eternally; our home~...

"Kenapa semua orang ninggalin gue? " lirihnya, dia berjongkok di depan gundukan tanah yang sudah di tumbuhi rerumputan hijau.

Netra hitam legam miliknya mulai menggembun, tangannya terangkat mengelus batu nisan dengan nama 'Fatma'.

"Nek, Astra capek... Astra pengen nyerah, tapi kalo Astra nyerah... Astra nggak bisa wujudin mimpi Nenek buat jadi Jaksa... "

Setelah pulang' sekolah tadi dia menyempatkan diri untuk berkunjung ke makam neneknya, nenek dari pihak ibu. Nenek yang merawatnya sedari kecil.

Satu buket bunga sedap malam Astra taruh di atas makam neneknya, bunga favorit beliau sebelum tiada.

Astra menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya. Dia menatap batu nisan neneknya, dengan sendu.

"Sekarang Astra harus apa, Nek ?" bisiknya, suaranya tercekat di tenggorokan.

Astra terdiam sejenak, pikirannya kembali ke masa dimana Neneknya masih hidup. Yang selalu mengomelinya saat pulang terlambat, lupa makan, lupa belajar, dan sekarang dia merindukan momen itu.

"Nenek pernah bilang, hidup adalah sebuah petualangan," kata Astra, "Dan dalam petualangan Astra, terlalu banyak tanjakan..." nadanya kembali tercekat tak mampu melanjutkan kata-katanya.

Astra berdiri tegak, menghapus air mata dari wajahnya. Dia menatap ke depan, "Nenek doain Astra ya dari sana, semoga Astra bisa wujudin mimpi Nenek."

Astra berjalan keluar dari pemakaman, langkah kakinya membawa dia ke tempat yang tidak terlalu jauh dari sana. Dia berhenti di depan sebuah rumah kayu sederhana, tempat dimana dia menghabiskan masa kecilnya bersama sang nenek.

Dia membuka gembok rumah itu lantas masuk kedalamnya, disambut dengan aroma khas rumah tua, lalu sebuah bingkai foto yang terpajang cukup besar di ruang tamu, ya, itu adalah foto Astra kecil dan neneknya. Mereka tertawa bersama dalam foto itu.

Astra mengelus bingkai foto dengan debu yang cukup tebal, dia memang sudah jarang berkunjung ke sana semenjak Nenek nya tiada.

Tangannya bergerak mengambil sebuah abum foto yang tergeletak di bawah televisi.

Astra membuka album itu dengan hati-hati, kenangan lama kembali masuk kedalam otak nya. Setiap lembarnya memiliki kisah dan kenangan tersendiri.

Saat hendak menutup album itu dia menemukan sebuah catatan yang ditulis oleh neneknya. Sepertinya sudah tersimpan di sana cukup lama.

Untuk cucuku Astra.

Maaf, nenek nggak bisa temenin Astra sampai dewasa.

Tetap menjadi lelaki baik, suka menolong dan terus sedekah.

Jangan pernah menanamkan kebencian dalam hati kamu, maafkan ayah dan ibumu. Dan berjuanglah untuk impianmu. Kamu kuat, kamu berani, dan kamu bisa mewujudkan apa pun yang kamu inginkan. Nenek percaya kamu bisa, Astra.

Dari Nenek Ama kesayangan Astra.

Begitulah kira-kira isi surat dari kertas yang sudah mulai menguning.

Tanpa terasa air matanya kembali menggenang di matanya, tapi kali ini dia tidak menangis. Dia tersenyum,

Neneknya selalu menjadi garda terdepan untuknya dalam keadaan apapun. Angin lembut dari jendela yang dia buka membelai wajahnya.

Rasa hangat pelukan sang Nenek seolah terbang bersama angin, menyampaikan bahwa beliau akan selalu ada si sisinya, menemani setiap langkah yang dia ambil.

...★★★...

"Wooo... Satu, dua, satu, dua, satu, sua, tiga... "

Astra mengerutkan keningnya aneh, kakinya baru saja menapak di lantai markas Arderos. Namun suara bising dari alat pemutar musik terdengar hingga ruang tengah markas.

Dia melangkah mencari sumber kegaduhan, yang berpusat pada halaman samping markas Arderos.

"Woy, Bumi kaki lo kurang lemes."

"Jaya, yang pas dong sama musiknya,"

"Arka, bagus. Yang lain perhatiin gue! "

Apa-apaan ini? Kenapa anggota nya cosplay menjadi ibu-ibu senam semua.

Astra menatap pemuda yang berdiri paling depan, dia membawa tongkat pendek entah apa itu dia tidak tau. Dengan topi neon yang biasa di gunakan olahraga, pemuda itu dengan percaya dirinya melatih mereka semua.

"Astra, ayo gabung," panggil Satya, pemuda yang berdiri di baris paling depan.

Astra menggeleng, menakutkan menurutnya. Atensinya terarah pada pemuda yang berdiri dengan ogah-ogahan di paling pojok.

"Bumi! Yang niat dong! Biar sehat, terus nanti bisa pacaran lagi noh sama rumus-rumus fisika lo." ujar Satya yang melihat gerakan Bumi ogah-ogahan.

"Yang penting gue gerak."

"Udah Sat, capek gue," keluh Jaya ingin beranak dari sana, namun langsung di hentikan oleh Satya. "Lo bergerak dari tempat, rahasia Lo gue bongkar." ancamnya, membuat Jaya menggunakan niatnya, dan kembali ke tempatnya semula.

Jika rahasianya di bongkar hancur sudah harga dirinya, begitu juga dengan yang lain. Si Bang Sat ini sangat pandai mempermainkan orang, contohnya noh si batu es agar rahasianya tetap aman dia mau-mau aja di ajak senam aerobik.

Waktu tak menjadi halangan, mereka menyelesaikan senam pada pukul 04.30 sore. Tak masalah yang penting olahraga katanya, sedangkan Astra menonton merek dari kursi yang ada di sana.

Sesekali tertawa karena teman-temannnya kena omel oleh Satya, tentunya kecuali si bungsu kesayangan mereka.

"Udah Sat, capek gue." ujar Arka.

"Oke lanjut Minggu depan." katanya langsung menyetujui, tentunya membuat Jaya menggerutu sebal.

"Cih! Giliran si bokem aja langsung di iya in," dengan sewot Jaya langsung duduk di samping Astra.

"Abis dari mana lo Tra?"

"Rumah Nenek."

"Bagi gue minum, gue udah nggak kuat." ujar Satya mendekat kearah mereka berdua dengan lemas.

Astra melemparkan satu botol air mineral yang memang ada di sana. "Capek banget gue,"

"Lo yang maksa kita olahraga ya kocak! " balas Jaya melemparkan handuk ke wajah Satya.

"Jangan salahin gue, noh kalo berani salahin tu anak yang kaga mau berhenti." tunjuk Satya pada Arka yang masih berada di tempat senam tadi dengan Bumi.

Kalau sudah begini mau bagaimana lagi, si bocah kematian itu tak akan mau di salahkan.

Astra menarik sedikit sudut bibirnya, "Dapet ilmu dari mana lo?"

Satya menoleh ke arah Astra yang duduk di kursi belakangnya, sedangkan dia lesehan di lantai. "Dari ibu-ibu komplek lah, gue seneng ikut kalo Minggu pagi di lapangan. "

"Gue mau join dong," ucap Arka tiba-tiba membuat mereka terjengat kaget.

"Lu bisa nggak si nggak usah ngagetin anak tuyul! " gemas Jaya, meraup wajah Arka.

"Tra, masa gue di bilang anak tuyul," adunya, lalu bersembunyi di balik punggung lebar ketuanya.

"Cepuan Lo Ar," goda Jaya lagi.

"Diem lo, kadal buntung!"

"Lo anak tuyul! "

"Stopp! Sekali lagi kalian bersuara, gue kasih lo berdua ke si Milly! " ancam Astra.

Bumi yang baru saja kembali setelah membersihkan tubuhnya, menatap mereka semuanya yang tiba-tiba menjadi kalem.

"Tumben nggak berisik?"

"Kita tuh nggak berisik, cuma membuat gaduh doang." balas Satya tak terima di katai berisik.

Bumi menggedikan bahunya acuh, "Apa bedanya bambang! "

"Beda kata hahah, " timpal Jaya tak membuat mereka tertawa sama sekali.

"Ah, udah lah gue mau tidur aja lah! Di sini gue di kacangin mulu!" dengan langka yang dia hentak-hentakan Jaya masuk kedalam markas.

Mereka berempat tertawa dengan puas setelah berhasil mengerjai Jaya si duta emosian, kegiatan mereka jika GabUt ya seperti itu. Tak jail maka bukan Arderos.

...~To be continued~ ...

...Jangan lupa untuk bahagia💞...

Komen juga jangan lupa.

1
KHAI SENPAI
sok cantik 😭
Nischaaa_
lu belum muncul lu bukan ubi kan??!
Nischaaa_: biasa ... trauma
total 2 replies
Nischaaa_
Gue kira Taehyun ternyata Soobin tohhh😭
ChocoMint!: samaaa aku jugaaaa😭
total 3 replies
Nischaaa_
astaga ... Sagara dan Aksara. Dua nama itu ....
Nischaaa_
INI NYELEKIT NYA YANG LANGSUNG BIKIN SEMUA BADAN GUE MERINDING ANJING😭
Nischaaa_: ohh enggak-enggak, aku cuma iya sedikit ... hehe, tapi aku memaklumi jika sudah lulus kontrak
total 6 replies
Nischaaa_
suka banget narasi kamu 😭
ChocoMint!: terimakasih, aku seneng dengernya 😭💞
total 1 replies
Nischaaa_
namanya agak sulit dibaca yah ...
ChocoMint!: kalo sering di baca pasti nanti terbiasa, mudah kok😊🙄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!