Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 Permintaan Tidak Masuk Akal
Aluna duduk di meja rias yang baru saja selesai mandi. Rutinitas malam setiap hari seperti biasa Aluna tidak lupa memakai pelembab pada wajahnya agar terlihat fresh saat bangun tidur.
Tok-tok-tok.
Aluna melihat dari cermin ke arah pintu yang terbuka dan ternyata Jiya berdiri di sana dengan tersenyum.
"Assalamualaikum!" sapa Jiya.
"Walaikum salam," sahut Aluna tetap melanjutkan aktivitasnya dan Jiya memasuki kamar itu.
"Kakak membuatkan kamu teh!" ucap Jiya.
"Sejak kapan aku menyukai teh," sahut Aluna.
"Kakak pikir apa yang kamu sukai sudah berubah. Ya sudah Kakak akan meminumnya jika kamu memang tidak menyukainya," ucap Jiya duduk di pinggir ranjang dan sementara Aluna masih tetap pada tempatnya.
"Kamu masih marah pada Kakak tentang pernikahan Kakak dan Firman?" tanya Jiya memastikan adiknya itu.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk melupakan semua itu," jawab Aluna secara jujur.
"Kamu sangat mengenal Kakak. Kakak sejak dulu hanyalah wanita yang menurut dan tidak seperti kamu. Kakak tidak memiliki keberanian untuk menolak perintah dan keinginan Abi. Bukan kesalahan Kakak jika Firman menyukai Kakak dan Firman minta restu kepada Abi meyakinkan Abi dan Umi. Kakak juga saat itu memikirkan perasaan kamu, tetapi Kakak tidak punya pilihan lain," ucap Jiya.
Aluna melihat ke arah Jiya dengan Jiya memperlihatkan wajah sedihnya yang dipenuhi dengan rasa bersalah.
"Jadi sebenarnya. Kakak ingin menyimpulkan bahwa semua ini adalah kesalahan Abi dan Umi. Mereka yang menyakiti Aluna dan tidak peduli bagaimana perasaan Aluna?" tanyanya.
"Terserah, jika kamu memikirkan apa? Tetapi sebagai orang tua hanya menginginkan anaknya bahagia," ucap Jiya.
Jiya menggenggam kedua tangan Aluna dengan menatap Aluna. Dari tatapan matanya memang terlihat Jiya merasa bersalah pada adiknya.
"Kakak sangat menyayangi kamu dan Kakak juga tahu kamu mengetahui hal itu. Kakak bukanlah wanita sempurna, Kakak banyak kekurangan dan ketika menjadi istri. Kakak juga memiliki kekurangan yang begitu banyak. Aluna Kakak tidak ingin mengecewakan kamu dan kakak tahu kamu sangat mencintai Firman," ucap Jiya.
"Untuk apa lagi Kakak harus membicarakan semua ini. Apa ini masih berguna?" tanya Aluna.
"Firman memang menyukai Kakak. Tetapi dia juga berterus terang masih memiliki perasaan kepada kamu," ucap Jiya.
"Lalu apa semua itu berarti?" tanya Aluna.
"Tidak ada yang terlambat. Kakak hanya akan bahagia jika adik kakak bahagia," ucap Jiya.
"Apa maksud Kakak sebenarnya?" tanya Aluna sepertinya ada sesuatu hal yang besar yang ingin disampaikan Jiya kepadanya.
"Aluna menikahlah dengan Firman," ucap Jiya berterus terang membuat Aluna benar-benar kaget dengan mata melotot dan langsung melepaskan tangannya dari Jiya.
"Kakak mengatakan apa?" pekik Aluna sampai berdiri dari tempat duduknya.
"Kakak tahu kamu sangat menderita dan Kakak hanya ingin kamu menikah dengan laki-laki yang kamu cintai," ucap Jiya.
"Apa Kakak gila! Bagaimana mungkin Kakak menyuruhku menikah dengan suami Kakak sendiri?" tanya Aluna benar-benar merasa tidak masuk akal.
"Kakak tidak bisa memberi keturunan kepada Firman. Kakak tahu jika kalian berdua saling mencintai. Kakak tidak apa-apa. Jika kalian berdua menikah. Asalkan kalian bahagia," ucap Jiya dengan air mata yang jatuh.
"Kakak benar-benar gila. Ini sama sekali tidak masuk akal. Sungguh aneh! Aku tidak percaya semua ini. Sekarang menyuruhku menikah dengan Firman dan sebelumnya kalian telah bersenang-senang di atas penderitaanku. Hidupku bukan permainan dan aku tidak menginginkan semua ini!" tegas Aluna dengan permintaan sang kakak benar-benar tidak masuk di otaknya.
*****
Jiya, Aluna, Abi, Umi dan Firman berada di ruang tamu, suasana terlihat begitu sangat menegangkan.
"Aku dan Firman sudah sepakat semua ini. Aku rela jika Firman harus menikah kembali karena aku tidak bisa memberikan keturunan kepadanya," ucap Jiya dengan menunduk ikhlas suaminya untuk berbagi.
"Tetapi aku tidak bisa percaya kepada wanita manapun selain Aluna. Jika Firman memang ingin berpoligami. Maka dia hanya aku izinkan berpoligami jika dengan Aluna!" tegas Jiya.
"Tapi aku tidak setuju!" sahut Aluna bukan gadis bodoh yang tidak menginginkan menikah dengan suami kakaknya.
"Kalian sudah menikah dan jangan melibatkanku dalam pernikahan kalian. Aku tidak peduli sejauh apa dan bagaimana urusan rumah tangga kalian. Aku tidak akan menikah dengan Firman dan tidak akan menjadi istri keduanya!" tegas Aluna menolak secara mentah-mentah.
"Aluna....."
"Abi ingin memaksaku untuk menikah dengan Firman!" Aluna memotong pembicaraan Abraham.
"Bukankah dulu Abi tidak merestui hubungan kami. Abi merasa bahwa Firman tidak akan bisa membimbingku dan tidak akan bisa menjadi suami untukku. Lalu ketika dengan Kak Jiya Abi setuju begitu saja karena Abi berpikir bahwa ilmu agama kak Jiya mampu menjadi keberkahan dalam rumah tangga mereka berdua dan saling melengkapi?"
"Abi terlalu merendahkan Aluna dan tidak pernah memikirkan perasaan Aluna. Aluna menegaskan sekali lagi tidak akan menikah dengan siapapun. Jika ingin berpoligami dan maka carilah wanita lain sebagai istrinya dan bukan aku!" tegas Aluna tetap pada pendiriannya dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
Aluna meninggalkan ruang tamu tersebut karena merasa tidak ada faedahnya atas pembicaraannya di sana.
"Aluna!" Jiya memanggil sang adik dan diabaikan adiknya.
Mata Jiya melihat kearah Firman, "kamu kejarlah Aluna dan bicara baik-baik kepadanya. Aku yakin Aluna sebenarnya hanya marah kepada kamu," ucap Jiya kepada suaminya itu membuat Firman mengganggukan kepala dan langsung pergi.
"Jiya apa kamu sungguh yakin dengan keputusan kamu? mengizinkan suami berpoligami bukanlah hal yang mudah, tidak mudah untuk ikhlas dalam semua itu?" ucap Wulan.
"Insyallah Jiya ikhlas. Jiya tidak boleh egois karena tidak bisa memberikan keturunan kepada suami Jiya," ucap Jiya dengan menunduk.
Sementara Firman sedang mengejar Aluna dan bahkan mengejar sampai keluar rumah dengan Aluna terus berjalan di jalanan yang sepi.
"Aluna tunggu!" Firman berhasil menahan tangan Aluna.
"Lepaskan!" tegas Aluna benar-benar sangat muak dengan Firman.
"Aluna. Aku tahu sebenarnya kamu masih mencintaiku dan kamu masih marah kepadaku. Aluna ini sudah menjadi takdir dan bagaimanapun kita berdua berjodoh!" tegas Firman.
"Hentikan semua omong kosong itu yang membuat telingaku sakit. Cinta, bagaimana mungkin seorang pengecut sepertimu mengatakan cinta. Kau telah menyuruhku untuk meninggalkan pernikahanku dan berjanji kepadaku akan hidup bersamaku. Aku seperti orang gila menunggumu di Bandara dan kau tidak peduli sama sekali!" tegas Aluna.
"Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak pernah berjanji apapun kepadamu. Seperti yang aku katakan jika aku tidak bisa membantah kedua orang tuamu aku juga tidak bisa membawamu pergi begitu saja!" tegas Jiya.
"Hentikan!" tegas Aluna.
"Aku sudah tidak ingin mendengar omong kosong apapun tentang kalian berdua. Bagiku kalian berdua adalah pasangan yang sangat menjijikkan!"
"Setelah pengkhianatan yang kalian lakukan dan sekarang memintaku untuk menjadi istrimu. Aku tidak segila itu dan aku masih waras!" tegas Aluna.
"Aluna sepertinya ada kesalahpahaman yang harus kita bahas," ucap Firman.
"Sudah tidak perlu lagi kita membahas kesalahpahaman apapun itu. Semua sudah menjadi masa lalu dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikah denganmu. Kamu adalah orang yang paling jahat yang pernah aku temuin!" tegas Aluna kemudian langsung berlalu dari hadapan Firman.
"Aluna tunggu!" Firman ternyata tidak menyerah sampai situ saja dan mengejar Aluna.
Bersambung......