Spin Off dari novel Pernikahan Paksa Sang Pewaris. Visual berada di part 14.
Angel dihantui oleh rasa penasaran saat menerima surat dan paket dari seseorang yang misterius. Namun dia tak bisa menemukan petunjuk apapun tentang orang tersebut. Dan akhirnya mau tidak mau Angel mengabaikannya saja.
Hingga suatu malam dia ditolong oleh seorang pria yang dia yakini adalah sosok misterius itu. Benarkah itu adalah pria yang selama ini Angel sebut sebagai peneror dirinya?
Temukan semua jawaban atas pertanyaan dalam benak kalian di sini.
Diusahakan update setiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desi Manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 32 - Malam Penuh Keberuntungan
Ada kalanya takdir akan menyuguhkan kebenaran tak peduli seberapa keras kau menyembunyikan hal itu.
🌷Happy Reading🌷
Malam menjelang. Baik Jeremy, Angel dan Ben sudah bersiap-siap akan tidur. Angel sebagai tamu yang tak diundang ternyata cukup tahu diri karena dia mengambil sebuah bantal dan selimut lalu berjalan menuju sofa.
"Nona tidur di sofa?" tanya Ben sambil mengamati gerak-gerik Angel.
Angel berbalik sebentar lalu tersenyum kecut. "Ya. Aku ini cukup tahu diri sebagai tamu yang tak diundang. Bukan begitu Tuan?" tanya Angel menoleh pada Jeremy.
Jeremy hanya mengedikkan bahu. "Baguslah," jawabnya singkat.
"Bos, kasihan juga kalau dia tidur di sofa." Ben berkata pelan namun masih bisa ditangkap oleh telinga Angel.
"Lalu kau mau apa? Membiarkan dia tidur di sini dengan kita berdua?"
Tempat tidur kamar hotel tempat mereka menginap memang berukuran king size, tapi tetap saja akan aneh rasanya jika dihuni oleh dua orang pria dan seorang wanita. Extra bed hotel pun tak lagi ada yang tersedia karena dipakai oleh para tamu lainnya.
Ben menggeleng pelan. Akan lebih canggung rasanya kalau mereka bertiga tidur di tempat tidur yang sama.
"Kalau aku saja yang tidur di sofa, bagaimana Bos? Biar dia yang tidur di sini."
"Terus aku tidur di mana Ben?"
"Di tempat tidur."
"Berdua bersama dia?" Jeremy melirik Angel lewat ekor matanya.
Ben menggaruk keningnya. "Hehe tak mungkin juga ya Bos. Kalian ini kan bukan pasangan yang sedang berbulan madu."
"Ya. Jadi diam dan tidur saja."
Jeremy menepuk-nepuk bantal empuknya lalu naik ke atas tempat tidur. Dia letakkan bantal guling di tengah sebagai pembatas antara dirinya dan Ben.
"Jangan lewat dari bantal guling," Jeremy memperingatkan.
"Iya Bos." Ben mengangguk singkat. Dia menengok ke arah sofa dengan pandangan tak enak hati. Mungkin sedikit merasa bersalah karena membiarkan wanita untuk tidur di sana.
Kasihan juga dia tidur di sofa. Tapi mau bagaimana lagi? Semua kamar full, extra bed juga tak ada, tak mungkin tidur bertiga juga. Ah sudahlah. Memang sudah nasibnya begitu karena dia keras kepala. Jeremy mengusir perasaan aneh yang muncul dalam benaknya.
Setengah jam lebih telah berlalu. Malam sudah semakin larut. Jam menunjukkan pukul 23:15 namun Ben belum bisa juga memejamkan matanya. Dia hanya berguling ke kanan dan kiri, itu pun dalam ruang lingkup kecil karena takut melewati garis batas.
Ting. Notifikasi ponsel Jeremy berbunyi. Seingat Ben, itu adalah notifikasi email masuk.
"Bos..." panggil Ben pelan.
Jeremy masih tampak tenang dalam tidurnya. Tak sedikit pun dia merasa terganggu.
Ben memutar otaknya. Untung saja dia ingat kalau dia juga memiliki akses email pekerjaan mereka walaupun tidak menempel langsung di ponselnya dan harus dia log in terlebih dahulu. Dan benar tebakan Ben, email itu adalah misi dari klien baru mereka.
"Bos..." panggil Ben sekali lagi. Kali ini tangannya ikut mengguncang bahu Jeremy.
"Eungh..." Jeremy melenguh panjang. Dia mengucek-ngucek kedua matanya dan harus menyesuaikan dengan cahaya kamar yang sedikit temaram karena hanya lampu tidur yang mereka biarkan menyala.
"Apa?" tanya Jeremy dengan wajah garangnya. Walau kamar itu minim cahaya, bisa Ben rasakan aura setan yang menguar dari bosnya.
"Ada email masuk, Bos. Misi dari klien baru. Kali ini kita akan kembali berkelana ke luar negeri." Saking merasa antusias, Ben semakin meninggikan nada suaranya.
"Sssttt. Kecilkan suaramu Ben. Kau sadar tidak ada orang lain di dalam ruangan ini." Jeremy menekan suaranya sambil jari tangannya dia letakkan di atas bibir.
"Ups maaf Bos." Ben melirik ke arah sofa. "Non itu sepertinya sudah tidur nyenyak. Jadi Bos tenang saja." Ben berkata dengan sangat yakin. Dia turun dari ranjang lalu berjalan menuju sofa.
"Nah sudah tidur, Bos. Aman," ujarnya sambil menggerak-gerakkan tangan ke kiri dan ke kanan di dekat wajah Angel. Namun wanita itu tak menampakkan reaksi apa pun.
"Tapi tetap saja Ben. Kita harus selalu berhati-hati saat membicarakan tentang misi."
"Iya Bos, maaf." Ben kembali berjalan ke arah tempat tidur. "Aku terlalu bersemangat karena mendapatkan misi baru dengan bayaran yang menggiurkan. Tapi kita harus segera berangkat ke Kor*a. Ada misi perampokan yang harus kita lakukan di sana."
"Sstt Ben. Sudah kubilang misi itu harus tetap dirahasiakan, tetap berhati-hati saat membicarakannya. Kita ke balkon."
Jeremy turun dari tempat tidur sambil menguap kecil. Rasa kantuknya sudah sedikit memudar tapi tetap saja masih tersisa. Beginilah jadinya kalau sudah tidur nyenyak namun malah dibangunkan.
"Ayo ke balkon," ajak Jeremy sekali lagi saat dilihatnya Ben masih berdiri bak patung di tempatnya.
"Iya Bos." Ben pun mengekor di belakang Jeremy.
Semilir angin malam begitu terasa di balkon. Langsung menusuk kulit, masuk melalui pori-pori. "Duduklah Ben. Biar aku baca sendiri isi emailnya. Kau tenang dulu." Jeremy memberi perintah dengan tenang.
Ben pun duduk di salah satu kursi. Begitu juga dengan Jeremy. Jeremy langsung membuka ponselnya yang tadi sempat di raih dari atas nakas sebelum keluar ke balkon.
"Hmm. Kita diminta untuk melakukan perampokan di museum yang berisikan barang-barang bersejarah dinasti Jose*n. Ini misi yang lumayan membahayakan. Kita bisa dihukum mati kalau sampai kedapatan melakukan perampokan ini."
"Tapi kita hanya disuruh merampok berlian kecil yang ada di sana, Bos. Itu bukanlah benda yang cukup sulit untuk disembunyikan."
Jeremy mendelik. "Berlian kecil kau bilang? Kau tahu tidak sejarah berlian itu seperti apa Ben? Ini bukan tentang ukuran atau pun mahalnya berlian itu. Namun ini tentang nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Berlian itu adalah berlian yang dulunya menempel di mahkota putri terakhir dinasti Jose*n, putri Deokhye. Kisah hidup putri terakhir ini cukup tragis, karena itulah banyak masyarakat Korea yang menaruh simpati bahkan empati yang besar terhadap putri mereka yang satu ini."
Ben meneguk salivanya dengan susah payah. "Berarti kita bisa mati kalau sampai ketahuan?"
"Ya. Dihukum gantung atau diamuk masyarakat Korea." Jeremy masih bisa tetap menjawab dengan tenang sementara Ben sudah bergidik ngeri.
"Kalau begitu kita tolak saja misi kali ini, Bos. Katakan pada klien itu kalau kita masih sayang pada nyawa kita."
"Kau sudah lihat jumlah yang dia tawarkan?"
Ben mengangguk. "500.000 dollar."
"Lalu kau masih mau menolaknya?"
Ben menggeleng. Namun sepersekian detik dia mengangguk. "Kalau misinya terlalu berbahaya, maka lebih baik mundur saja Bos."
"Kau ini memang penakut ya Ben!" Jeremy mencibir. Sudut matanya bisa menangkap tangan Ben yang sedikit gemetar saat memegang ponsel miliknya.
"Aku ini manusia biasa, Bos. Hal yang wajar kalau takut mati. Apa lagi kalau matinya saat menjalankan misi perampokan. Otomatis masuk neraka aku." Ben menautkan jari-jarinya. Membayangkan diamuk massa dan dihukum gantung saja sudah membuat nyalinya menciut.
"Lagi pula kan Bos yang bilang kalau ini berbahaya, lalu mau bagaimana lagi? Ya kita tolak saja."
"Tidak. Haram bagiku untuk menolak misi. Tawaran misi ini adalah rezeki bagi kita. Kalau kita menolak yang ini, belum tentu misi selanjutnya akan datang dengan cepat dan menawarkan jumlah sebesar ini pula."
"Tapi kan Bos... Ini berbahaya."
"Memangnya ada misi kita yang tidak berbahaya?"
Ben tampak berpikir sebentar. Benar juga, semua misi kami memang berbahaya. Namun kemudian dia teringat akan sesuatu.
"Ada Bos. Menyekap nona Angel."
Setelah Ben berkata demikian, terdengar suara tepuk tangan dari belakang mereka. Prok prok prok. "Bagus sekali. Kalian mengakuinya saat aku tidak sedang bertanya. Sungguh malam yang penuh keberuntungan."
Sial! Jeremy memaki dalam hati.
--- TBC ---
Kalau mau author cepat up, bantu like sama komennya please. Tunjukkan dukungan kalian semuanya🤗 100 like per babnya belum dapat. Yuk dibantu menyemangati author yaa. Tidak minta yang muluk-muluk ini😪
Kalau bisa, bantu support channel yout*be author ya guys. Ketikkan saja Dee - David dan Ave Pernikhan Paksa Sang Pewaris. Bantu subscribe please. Kalau chanel berkembang, author akan sering upload after story dari semua pasangan di novel author di sana. Kali saja ada yang syuka. Terima kasih❤
udah tah kek?
salken from me..