Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemerasan di hutan bambu
Lalu tiba-tiba di dalam pikiran Shang Zhi bergema suara ibu nya yang mengatakan, "nak..terus lah melihat kedepan..jangan biarkan dendam membuta kan mu..ibu selalu ada untuk mu"
Pagi hari di Paviliun Kayu Layu dimulai dengan suara kicauan burung purba yang menghuni hutan di belakang asrama. Bagi Shang Zhi, ini adalah suasana yang sudah lama ia rindukan—kesunyian yang memungkinkan indranya menajam. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Yuan Han terbangun dengan panik karena menyadari bahwa mereka tidak memiliki persediaan makanan selain beberapa buah liar yang mereka petik kemarin.
"Zhi, perutku sudah melakukan protes besar! Instruktur bilang kita bisa mendapatkan poin kontribusi jika membantu di Hutan Bambu Hijau untuk memanen rebung energi," keluh yuan Han sambil memegangi perutnya yang bulat.
Shang Zhi mengangguk. "Mari kita pergi. Sekalian aku ingin melihat bagaimana struktur energi di hutan itu."
Hutan Bambu Hijau terletak tidak jauh dari paviliun mereka. Bambu-bambu di sana bukan bambu biasa batangnya berwarna hijau zamrud dan mengeluarkan uap energi spiritual tipis. Murid luar biasanya ditugaskan untuk memotong rebung yang sudah matang untuk dijadikan bahan makanan bagi para murid dalam.
Saat mereka tiba, suasana sudah ramai. Namun, ada satu kelompok yang tampak mendominasi area paling subur. Di sana, Guan He berdiri dengan perban melilit lengannya akibat kejadian kemarin. Di sampingnya, berdiri seorang murid senior yang auranya jauh lebih berat, mengenakan jubah dengan sulaman perak di pergelangan tangannya.
"Itu Duan Feng," bisik Yuan Han dengan gemetar. "Dia adalah salah satu dari lima murid luar terkuat. Kudengar dia sudah menyentuh ranah Formation Qi tahap awal!"
Guan He melihat Shang Zhi dan matanya berkilat penuh dendam. Ia berbisik pada Duan Feng, yang kemudian menoleh dan menatap Shang Zhi dengan pandangan merendahkan.
"Jadi ini bocah yang memukulmu, Guan He? Kelihatannya dia bahkan tidak punya cukup daging di tulangnya," ucap Duan Feng dengan suara bariton yang menggema.
Duan Feng melangkah maju, menghalangi jalan Shang Zhi menuju area panen. "Anak baru, di sini ada aturan tidak tertulis. Setengah dari hasil panenmu harus diserahkan kepadaku sebagai biaya sewa lahan hutan."
Shang Zhi berhenti tepat tiga langkah di depan Duan Feng. Matanya tenang, namun ada aura tak terlihat yang mulai menyebar. "Hutan ini milik Sekte Tian Long, bukan milik pribadimu. Aku tidak akan menyerahkan apa pun."
Tawa meremehkan meledak dari kelompok murid senior. Duan Feng tersenyum dingin. "Keberanianmu patut dipuji, tapi di dunia ini, keberanian tanpa kekuatan adalah kebodohan. Karena kau telah melukai anak buahku, hari ini kau tidak hanya akan menyerahkan rebungmu, tapi juga martabatmu."
Duan Feng tiba-tiba bergerak. Kecepatannya jauh melampaui Guan He. Ia meluncurkan serangan "Telapak Angin Puyuh". Udara di sekitar tangannya berputar hebat, menciptakan tekanan yang mampu mematahkan batang bambu di sekitarnya.
Shang Zhi menyadari bahwa kali ini ia tidak bisa hanya menggunakan kekuatan fisik. Ia mulai menarik sedikit energi dari Mutiara Kehidupan di dadanya. Ia tidak membiarkan energi itu meledak keluar, melainkan mengalirkannya ke ujung-ujung jarinya.
Klang!
Saat telapak tangan Duan Feng menghantam lengan Shang Zhi, suara yang terdengar bukanlah benturan daging, melainkan seperti dua bongkah logam yang beradu. Shang Zhi menggunakan teknik "Tangan Baja" yang ia modifikasi dengan energi kuno.
Duan Feng terkejut. Ia merasa tangannya menghantam dinding gunung yang tak tergoyahkan. Sebelum ia sempat menarik serangannya, Shang Zhi melangkah maju, memperpendek jarak.
"Kau terlalu banyak mengandalkan Qi yang tidak stabil," ucap Shang Zhi pelan, hanya bisa didengar oleh Duan Feng.
Shang Zhi memukul ulu hati Duan Feng dengan satu ketukan jari. Itu terlihat lemah, namun serangan itu menghantam titik simpul Qi Duan Feng, membuat aliran energinya kacau seketika.
Duan Feng terhuyung mundur, wajahnya memucat. Ia mencoba memanggil energinya kembali, namun tubuhnya terasa lumpuh selama beberapa detik. Seluruh murid yang menyaksikan kejadian itu terdiam dalam keheningan total. Murid peringkat lima besar luar sekte baru saja dipukul mundur oleh seorang anak baru berperingkat "bakat menengah".
"Pergi," ucap Shang Zhi tanpa emosi. "Jangan biarkan aku melihatmu melakukan pemerasan lagi di area ini."
Guan He dan yang lainnya tidak berani bergerak. Duan Feng, sambil menahan rasa malu dan sakit yang luar biasa, memberi isyarat kepada pengikutnya untuk mundur. "Ini belum berakhir, Shang Zhi! Kau akan segera tahu bahwa menyinggung faksi kami adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu!"
Setelah mereka pergi, Yuan Han melompat kegirangan. "Zhi! Kau luar biasa! Kau benar-benar memukul mundur Duan Feng!"
Shang Zhi hanya menghela napas. Ia menatap tangannya yang sedikit bergetar. Tubuh fana ini masih terlalu lemah untuk menampung teknik kaisar, bahkan yang paling dasar sekalipun. Ia tahu bahwa tindakannya hari ini akan segera sampai ke telinga Lu Feng dan para petinggi sekte.
"Mari kita selesaikan panen ini, dan segera pergi dari sini," ucap Shang Zhi. "Kita butuh poin kontribusi untuk membeli obat-obatan. Tantangan yang sebenarnya akan datang sebentar lagi."
Di balik kerimbunan bambu, seorang tetua dengan jubah abu-abu memperhatikan kejadian itu sejak awal. Ia mengelus janggutnya dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. "Bocah itu... gerakannya sangat efisien, hampir seperti seorang veteran perang yang telah hidup ratusan tahun. Siapa sebenarnya dia?"
Shang Zhi dapat menyadari keberadaan tetua itu namun dia berpura pura tak mengetahui hal itu demi menjaga rahasianya supaya tak terbongkar, Shang Zhi dan Yuan han pun segera menyelesaikan tugas mereka dan segera pergi menukarkan nya dengan poin kontribusi.
saat dalam perjalanan Shang Zhi melihat gerombolan murid sekte sedang melihat pertengkaran yang terjadi antara seorang pria dan wanita, ternyata pria dan wanita itu adalah sepasang kekasih mereka bertengkar karna sang wanita lebih memilih untuk menjalin kasih dengan senior yang berada di sekte dalam, " hei kau pikir kau pantas buat ku, mungkin dulu aku buta karna mau menerima cintamu" ucapan wanita itu dengan sombong, wanita itu langsung pergi dan meninggalkan pria itu sendiri.
Mengingat kejadian itu tiba-tiba Shang Zhi langsung teringat kepada Yun Xi, meskipun hubungan Meraka hanya sebatas teman,tapi entah kenapa Shang Zhi takut jika hal yang di lihat nya tadi akan terjadi padanya.
Sesampainya mereka ke tempat penukaran koin, mereka mendapatkan koin yang sangat banyak karna mereka telah berkerja keras mendapatkan lebih banyak rebung untuk di tukarkan. "wah..Zhi..kalau begini terus kita bisa kaya ni.." ucap Yuan Han sambil memperhatikan Kanton koin yang penuh.
Shang Zhi dan Yuan Han pun bergegas kembali ke kamar mereka untuk ber istirahat,Malam itu berita tentang murid baru dari Paviliun Kayu Layu yang mempermalukan Duan Feng menyebar ke seluruh wilayah luar sekte. Nama Shang Zhi bukan lagi sekadar nama pengemis, melainkan sebuah misteri yang mulai ditakuti.
...Bersambung.......