Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Kini Devano mendatangi sebuah klub yang biasa ia kunjungi bersama Indra dan Bayu.
Udara malam yang dingin di pinggiran kota seolah membeku saat ban mobil sport hitam itu berhenti mendecit di depan lobi klub. Pintu terbuka, dan Devano melangkah keluar. Jaket kulit hitamnya berkilat terkena cahaya neon, senada dengan tatapan matanya yang tajam dan tak terbaca.
Ia berjalan melewati penjaga keamanan tanpa suara, langkah kakinya mantap, membelah kerumunan orang yang menari di lantai dansa. Tujuannya hanya satu: meja VIP tempat dua sahabat lamanya berada. Devano ingin merayakan kepulangannya, namun takdir punya rencana lain.
Dentuman musik tekno dan kelap-kelip lampu neon memenuhi ruangan klub malam eksklusif di pinggiran kota tersebut. Di sebuah sudut VIP yang remang, Indra dan Bayu tampak menikmati malam dengan minuman mahal dan gelak tawa bersama beberapa wanita di sekeliling mereka. Sudah hampir setahun mereka tidak bertemu dengan Devano sejak kelulusan dan keberangkatan sahabat mereka itu ke London.
Namun, di balik tawa itu, tersimpan sebuah kebenaran yang jauh lebih gelap daripada malam di luar sana—sebuah pengakuan yang selama ini terpendam.
Bayu menyesap wiskinya, membiarkan cairan hangat itu membakar tenggorokannya. Senyum kemenangan terukir di wajahnya. "Gue puas banget, Dra. Liat tuh cewek bar-bar akhirnya hancur karena ulah orang yang paling dia cintai."
Indra meletakkan gelasnya dengan denting yang cukup keras di atas meja marmer. Sorot matanya menunjukkan kegelisahan yang sudah lama ia simpan. "Gue nggak habis pikir, Bay. Apa sih yang sebenarnya buat lo benci banget sama Sheila? Sampai lo tega menghasut Devano buat jadiin dia bahan taruhan?"
Senyum Bayu menghilang. Ekspresinya berubah sedingin es. "Gue benci selalu kalah dari Devano," desisnya. "Dan gue benci karena gue yang lebih dulu suka sama Sheila, tapi kenapa harus Devano yang selalu dapet semuanya?"
Flashback
Pikiran Bayu melesat kembali ke masa SMA, ke sebuah sore yang cerah di taman sekolah. Di sana, ia melihat Sheila—gadis yang selalu menjadi pusat dunianya.
"Wah, wah! Sepertinya ada pencuri mangga di sini," ledek Bayu saat melihat Sheila bertengger di dahan pohon dengan lincah.
Sheila tersentak, wajahnya yang panik justru terlihat menggemaskan di mata Bayu. "Hah? Bayu! Kamu ngapain di sini? Please, jangan bilang siapa-siapa ya!" mohon Sheila dari atas dahan. Wajahnya tampak panik sekaligus lucu.
"Bilang jangan ya?" ucap Bayu setengah bercanda, menikmati ekspresi takut gadis itu.
"Ya jangan, dong! Aku nggak bisa tahan, mangga ini manggil-manggil aku buat dimakan, apalagi sudah pada kuning kayak gini kulitnya," balas Sheila sambil mengacungkan sebuah mangga matang. "aku kasih nih satu buat kamu!"
"Oke, boleh. Tapi sebagai gantinya, gue mau mengajak lo dinner nanti malam," tawar Bayu langsung pada intinya. Jantungnya berdegup kencang, berharap ini adalah awal dari hubungan mereka.
"Ha-h? Dinner? Yang bener saja," gumam Sheila bingung.
"Oke, kalau lo nggak mau, gue bilang sama guru BK kalau lo mencuri mangga lagi," ancam Bayu, masih dengan nada bercanda namun penuh harap.
"Iya deh, iya, aku mau!" putus Sheila akhirnya.
Malam pun tiba Sheila sudah bersiap dengan gaun sederhana berwarna biru langit yang membuat kecantikan alaminya semakin terpancar.
"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Bunda Rini yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.
"Sheila mau makan malam sama teman sekolah, Bun! Sheila izin pamit sebentar ya," pamit Sheila sambil merapikan tas kecilnya.
"Kalau begitu pulangnya jangan malam-malam ya, Sayang," pesan Bunda Rini lembut.
Sheila melangkah keluar rumah dengan ceria, menghampiri Bayu yang sudah menunggu di atas motornya. Bayu membawa Sheila ke sebuah kedai makan pinggir jalan yang cukup estetis. Sepanjang makan malam, Bayu terus memperhatikan Sheila dengan tatapan penuh pemujaan.
"Sheil... sebenarnya gue ajak lo ke sini bukan cuma karena urusan mangga itu," ucap Bayu membuka percakapan. Suaranya terdengar sedikit gugup.
Sheila yang sedang menikmati jus jeruknya mendongak. "Terus karena apa, Bay?"
"Gue... gue suka sama lo. Sudah dari lama, sejak pertama kali kita masuk SMA. Gue mau kita lebih dari sekadar teman. Lo mau nggak jadi pacar gue?" tanya Bayu dengan mata penuh harap.
Senyum di wajah Sheila perlahan memudar. Ia meletakkan gelasnya dengan pelan, menatap Bayu dengan rasa bersalah.
"Bayu... maaf," lirih Sheila. Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong bagi Bayu. "Aku nggak bisa. Aku menghargai perasaan kamu, tapi... tapi aku sudah suka sama orang lain."
Jantung Bayu serasa berhenti berdetak. "Siapa, Sheil? Siapa cowok itu?"
"Devano," jawab Sheila singkat namun pasti. "Aku sudah lama suka sama dia. Dan sebenarnya, malam ini aku juga berjanji untuk bertemu dengannya setelah dari sini."
Mendengar nama sahabatnya sendiri disebut, hati Bayu serasa diremas hebat. Rasa malu, sakit hati, dan iri bercampur menjadi satu.
Flashback off
Kembali ke hiruk pikuk klub, Bayu mengepalkan tangannya di atas meja. "Gue nggak akan pernah biarkan Devano bahagia dengan sesuatu yang pernah gue inginkan, Dra. Makanya gue hasut dia. Gue mau Devano sendiri yang menghancurkan satu-satunya orang yang tulus mencintainya."
"Licik lo, Bay," gumam Indra, hampir tidak percaya.
Tepat saat itu, di balik sofa VIP yang gelap, sesosok pria berdiri mematung. Devano.
Ia baru saja tiba, masih mengenakan jaket hitam yang kontras dengan cahaya neon di sekitarnya. Niatnya untuk memberikan kejutan kepulangannya kepada dua sahabatnya menguap, digantikan oleh kenyataan pahit yang menghantam telinganya.
Setiap kata yang diucapkan Bayu seperti racun yang meresap ke dalam nadinya. Rahang Devano mengeras, buku-buku jarinya memutih karena kepalan tangan yang begitu kuat. Ia merasa seperti orang bodoh yang telah diperalat untuk menghancurkan hidup wanita yang—setelah setahun di London—ia sadari adalah dunianya.
Kilat di mata Devano bukan lagi sekadar amarah; itu adalah janji kehancuran bagi siapa pun yang telah mengkhianatinya.
Prok! Prok! Prok!
"Wah, hebat sekali, Bay. Orang yang gue percayai lebih dari diri gue sendiri, ternyata dialah racun sesungguhnya," suara Devano terdengar rendah, tenang, namun sangat mematikan.
Bayu dan Indra tersentak hingga hampir menjatuhkan gelas mereka. Wajah Bayu yang tadi penuh kemenangan seketika pucat pasi melihat sosok Devano yang seharusnya masih berada di rumah sakit, kini berdiri tepat di hadapannya dengan aura membunuh.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Bayu untuk membela diri, Devano menerjang maju. Sebuah pukulan mentah menghantam rahang Bayu dengan kekuatan penuh.
BUGH!
Tubuh Bayu tersungkur ke atas meja kaca, menghancurkan botol-botol minuman mahal di sana. "Ini untuk pengkhianatan lo! Gue anggap lo saudara, tapi lo jadikan hidup gue bahan eksperimen dendam lo!" raung Devano.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/